Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Anoreksia Nervosa

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 37 kali

Anoreksia nervosa merupakan suatu masalah kesehatan jiwa yang mana pengidapnya terobsesi untuk memiliki tubuh kurus dan sangat takut jika mereka terlihat gemuk. Saking takutnya, mereka bahkan selalu menganggap tubuhnya masih kurang kurus atau masih gemuk meski kenyataannya tidak seperti itu.

Usia 16-17 tahun merupakan usia yang dianggap rawan bagi gangguan ini untuk mulai muncul. Mayoritas pengidap anoreksia berasal dari kalangan remaja putri dan wanita dewasa.

Untuk membuat tubuh mereka tetap sekurus mungkin, pengidap anoreksia akan berusaha keras membatasi porsi makan seminimal mungkin, menggunakan obat-obatan (seperti pencahar dan penekan nafsu makan), serta berolahraga secara berlebihan.

Beberapa dari mereka bahkan akan berusaha memuntahkan kembali makanan yang telah dikonsumsi, sebuah ciri khas gangguan makan yang dinamakan bulimia nervosa. Namun, bila pada bulimia penderitanya rata-rata mempunyai berat normal atau lebih, penderita anoreksia memiliki berat badan yang kurang.

Gejala anoreksia nervosa dan masalah psikologis lain yang terkait

Mereka yang mengidap anoreksia dapat dikenali dari gejala berikut ini:

  • Penurunan berat badan secara signifikan dan tampak sangat kurus.
  • Selalu memerhatikan bentuk tubuh di depan cermin.
  • Menimbang tubuh hampir tiap saat.
  • Sering memuntahkan kembali makanan yang sudah dimakan.
  • Suka berbohong jika ditanya apakah mereka sudah makan.
  • Sangat memperhitungkan jumlah kalori, lemak, dan gula pada makanan.
  • Sering berolahraga secara berlebihan.Suka minum obat-obatan pencahar dan penekan nafsu makan.Mudah tersinggung
  • Mengalami masalah kesehatan sebagai akibat dari anoreksia itu sendiri, misalnya kelelahan, dehidrasi, tekanan darah rendah, pusing, rambut rontok, dan kulit kering.

Anoreksia juga dapat terkait dengan masalah kejiwaan lainnya seperti depresi, merasa rendah diri, kecemasan, penyalahgunaan alkohol, dan perlukaan terhadap diri sendiri

Penyebab anoreksia nervosa

Penyebab anoreksia nervosa secara pasti masih belum jelas. Sebagian besar spesialis percaya bahwa gangguan tersebut berasal dari gabungan sejumlah faktor, seperti faktor psikologis, lingkungan, serta genetika atau biologis.

Diagnosis anoreksia nervosa

Penyakit anoreksia nervosa rata-rata bisa dikenali dari fisik penderitanya yang tampak sangat kurus. Namun dokter tetap harus menanyakan pola makan mereka untuk memastikan kekurusan tersebut akibat gangguan makan dan bukan penyakit lain.

Selain itu, kemungkinan dokter juga akan melakukan pemeriksaan pada rambut, kulit, tekanan darah, kondisi paru-paru dan jantung. Bahkan pemeriksaan rontgen dan darah akan dilakukan jika diperlukan.

Dukung pengidap anoreksia untuk mau mendapatkan pertolongan

Ada sebagian kecil penderita anorexia nervosa yang tidak menyadari bahwa mereka menderita kondisi tersebut, namun sebagian besar tahu dan tidak mau berobat karena takut hingga akhirnya mereka menyembunyikan masalah ini dalam waktu yang sangat lama. Oleh sebab itu penting bagi kita sebagai orang luar untuk mengenali kondisi ini bilamana ada keluarga atau teman yang mengalaminya.

Jika Anda memiliki keluarga atau teman yang mengidap anoreksia, lakukanlah pendekatan secara halus lalu membujuk agar mereka mau mendapatkan pertolongan medis. Membujuk pengidap anoreksia agar mau berobat tidaklah mudah. Biasanya mereka akan menganggap bahwa apa yang telah mereka lakukan merupakan hal yang benar dan akan menolak mengakui bahwa diri mereka sebenarnya bermasalah.

Karena itulah kesabaran serta dukungan secara terus-menerus berperan sangat penting bagi kesembuhan penderita anoreksia. Jangan pernah mengkritik atau membuat mereka merasa tertekan karena hal tersebut hanya akan memperburuk situasi. Sampaikanlah bahwa bujukan dan dukungan Anda tersebut semata-mata karena mengkhawatirkan kesehatan mereka.

Sekilas mengenai pengobatan anoreksia

Anoreksia nervosa harus ditangani sedini mungkin agar peluang sembuhnya semakin besar. Tujuan pengobatan anoreksia adalah untuk mengubah pandangan mereka tentang berat badan yang sehat dan memperbaiki pola makan mereka.

Sebagian besar kasus anoreksia ditangani dengan rawat jalan dan segelintir kasus lainnya, misalnya kasus pengidap anoreksia parah, ditangani dengan perawatan rumah sakit. Selain untuk menyadarkan pengidap bahwa pola hidup yang mereka jalani tersebut adalah salah, penanganan ini bertujuan agar mereka dapat memperoleh berat badan ideal kembali secara aman.

Hal-hal yang mencakup penanganan anoreksia meliputi terapi psikologi dan saran-saran yang berkaitan dengan makanan dan nutrisi. Agar pengobatan dapat dilakukan dengan tepat, dokter harus menyesuaikan dengan keadaan fisik, psikologi, dan juga keadaan sosial si pengidap anoreksia.

Pengobatan anoreksia tidak dapat dilakukan secara instan. Untuk pulih sepenuhnya, bisa membutuhkan waktu beberapa tahun. Saat menjalani pengobatan bukan hal yang tidak mungkin bagi pasien anoreksia untuk kambuh dan kembali pada pola makan tidak sehatnya.

Komplikasi yang mungkin terjadi

Anoreksia bisa menimbulkan masalah-masalah kesehatan lainnya yang cukup serius jika tidak berhasil diobati dalam jangka waktu yang lama. Beberapa komplikasi anoreksia nervosa adalah:

  • Kerontokan rambut
  • Denyut jantung tidak teratur
  • Penurunan tekanan darah dan tingkat pernapasan
  • Gagal jantung
  • Kerusakan otak
  • Menstruasi tidak lancar
  • Anemia
  • Gagal ginjal
  • Kemandulan
  • Ketidakseimbangan cairan elektrolit
  • Osteoporosis
  • Konstipasi
  • Kematian akibat kurang gizi atau bunuh diri

Pencegahan anoreksia nervosa

Anoreksia nervosa memang tidak bisa dicegah sepenuhnya. Namun melalui pendidikan orang tua terhadap anak-anak sejak dini di dalam keluarga, bisa berpengaruh besar untuk menekan risiko terjadinya kondisi ini ketika mereka beranjak remaja dan dewasa. Pendidikan yang dimaksud adalah dengan mengajarkan dan menerapkan pola makan sehat secara tegas. Selain itu anak juga perlu diajarkan wawasan yang tepat mengenai imej bentuk tubuh yang ideal.

Apabila di dalam keluarga kita ada yang mulai menunjukkan tanda-tanda ke arah anoreksia, segera periksakan ke dokter untuk mencegah kondisi ini bertambah buruk.

Karena pengidap anoreksia sangat terobsesi untuk menurunkan berat badan mereka serendah mungkin, maka gejala utama dari kondisi ini adalah penurunan berat badan di bawah batas sehat.

Sebagai upaya dalam memenuhi obsesi mereka terhadap tubuh yang sangat kurus, pengidap anoreksia akan melakukan berbagai hal, di antaranya dengan membatasi porsi makanan, memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan, dan berbohong jika ditanya apakah mereka sudah makan.

Penderita anoreksia umumnya selalu memakai baju yang longgar dan rutin melakukan pengukuran, penimbangan, atau pengamatan tubuh mereka di depan cermin. Selain itu, mereka akan sering melakukan olahraga secara berlebihan dan minum obat-obatan penekan nafsu makan atau pun pencahar. Dapat pula penderita mengonsumsi obat-obatan diuretik (pembuang cairan tubuh) dan enema (pemicu pengosongan usus).

Ketidakpuasan akan berat tubuh menjadikan pengidap anoreksia kurang memiliki kepercayaan diri. Mereka merasa bahwa harga diri mereka dipengaruhi oleh berat badan. Akibatnya ketidakpercayaan diri ini membuat mereka mengucilkan diri dan tidak lagi tertarik untuk bersosialisasi dengan orang lain. Karena itu tidak sedikit pengidap anoreksia yang pada akhirnya memiliki masalah dalam hubungannya dengan orang lain, terutama dalam keluarga, pertemanan, pendidikan, maupun pekerjaan.

Dari gejala-gejala tersebut, terlihat jelas bahwa penyakit anoreksia adalah masalah psikologi. Anoreksia juga menimbulkan masalah kesehatan fisik.

Masalah fisik yang muncul

Masalah fisik yang dirasakan pengidap anoreksia disebabkan oleh sedikitnya asupan makanan, terutama dalam jangka waktu yang panjang. Beberapa masalah tersebut adalah:

  • Kelelahan
  • Anemia
  • Sakit kepala dan pusing
  • Kembung
  • Konstipasi
  • Insomnia
  • Napas bau dan masalah gigi akibat sering memuntahkan makanan
  • Pembengkakan pada lengan dan kaki
  • Jari tangan dan kaki menjadi kebiru-biruan akibat buruknya sirkulasi
  • Demam
  • Rambut rontok
  • Kulit kering atau berwarna kekuningan
  • Masalah pada pertumbuhan fisik dan pubertas pada anak-anak dan remaja
  • Insomnia
  • Detak jantung tidak teratur atau aritmia
  • Tidak tahan terhadap suhu dingin
  • Dehidrasi
  • Tekanan darah rendah
  • Tumbuhnya rambut halus di sekujur tubuh
  • Kuku yang mudah patah
  • Sakit perut
  • Gangguan menstruasi pada wanita.
  • Pingsan

Penyebab pasti anoreksia nervosa masih belum jelas. Sebagian besar spesialis percaya gangguan tersebut muncul dari gabungan sejumlah faktor, seperti faktor psikologis, lingkungan, serta genetika atau biologis.

Secara psikologis, ketakutan dan kekhawatiran terhadap tubuh gemuk, telah memunculkan obsesi dan dorongan kuat pada diri pengidap anoreksia untuk menguruskan badan. Mereka menganggap bentuk tubuh yang sempurna adalah tubuh yang kurus. Namun karena selalu adanya rasa tidak puas di dalam diri mereka, pada akhirnya hal itu membuat mereka melakukan diet berlebihan dan terperangkap di dalam anoreksia. Selain itu, pengidap anoreksia juga lebih tertutup secara emosi dan mudah depresi atau stres.

Pengaruh lingkungan terhadap anoreksia nervosa

Pola pikir yang terbentuk akibat pengaruh lingkungan dapat memicu anoreksia, contohnya adalah iklan di media massa. Pada zaman sekarang ini tubuh kurus dianggap sebagai syarat mutlak kecantikan. Pemikiran tersebut kemudian diperkuat dan disebarluaskan oleh iklan, sehingga tidak sedikit masyarakat yang terpengaruh, terutama remaja.

Alasan kenapa pengidap anoreksia kebanyakan dari kalangan remaja adalah banyaknya perubahan tubuh, perubahan hormon dan masa-masa stres atau cemas. Pada masa ini, kepercayaan diri remaja sangat rendah sehingga mereka sering bimbang dan mudah dipengaruhi. Selain akibat pengaruh hormon, ejekan dan tekanan yang dialami seorang remaja di sekolah juga dapat memicu terjadinya anoreksia.

Sementara itu, anoreksia nervosa juga bisa muncul akibat tuntutan profesi dan peristiwa yang mengecewakan, misalnya seperti putus hubungan. Contoh-contoh profesi yang rawan terhadap anoreksia adalah atlet, model, penari, aktris, dan aktor.

Anoreksia akibat faktor keturunan dan biologis

Seseorang yang memiliki riwayat keluarga pengidap gangguan makan, depresi, atau pecandu obat-obatan terlarang, diyakini memiliki risiko lebih besar untuk mengidap anoreksia.

Selain faktor keturunan atau genetika, anoreksia diduga bisa terjadi akibat adanya perubahan pada kadar hormon dan fungsi otak juga. Perubahan tersebut mungkin saja memengaruhi bagian otak yang mengendalikan nafsu makan atau memicu perasaan bersalah dan khawatir akibat banyak makan.

Dalam mendiagnosis anoreksia, pertama-tama dokter akan menanyakan dahulu mengenai pola makan dan berat badan pasien, misalnya seberapa jauh dia mengkhawatirkan berat badannya dan apakah sering memuntahkan kembali makanan yang telah dikonsumsinya.

Setelah itu dokter juga akan mengumpulkan data tentang berat badan pasien, terutama jika pasien mengalami penurunan berat badan yang signifikan.

Untuk menentukan berat badan sehat, dokter akan menghitung body mass index atau indeks massa tubuh (IMT). IMT adalah penghitungan berat badan yang mengacu kepada rasio berat dan tinggi seseorang. Manfaat penghitungan IMT ini adalah untuk mengetahui apakah seseorang mengalami kelebihan, kekurangan atau berat badan yang sehat.

Rumus yang dipakai dalam penghitungan IMT adalah berat tubuh dalam kilogram dibagi dengan tinggi tubuh dalam satuan meter kuadrat (m²). Sebagai contoh jika berat badan pasien 66 kilogram dan tingginya adalah 1,65 meter, maka perhitungannya adalah 66/1,65×1,65 = 24,24 kg/m²

IMT yang normal bagi orang Asia dewasa adalah 18.5-22.9 (kg/m2), sedangkan IMT yang normal bagi anak-anak dan remaja tergantung pada usia mereka. Pada orang dewasa, kondisi anoreksia dapat dicurigai apabila IMT berada di bawah 17.

Untuk mendiagnosis anoreksia nervosa memang tidak membutuhkan tes laboratorium secara spesifik. Namun jika dokter mencurigai penurunan berat badan drastis pasien bukan disebabkan oleh anoreksia melainkan oleh penyakit lain, maka tes darah dan pemeriksaan rontgen mungkin akan dilakukan untuk memastikannya.

Selain itu, tes laboratorium juga akan dilakukan untuk melihat adanya kerusakan organ akibat penurunan berat badan. Seseorang rentan terkena masalah pada jantung jika mengidap anoreksia, di antaranya adalah tekanan darah rendah, aritmia, penyakit katup jantung, penumpukan cairan atau edema (pada tangan, kaki, dan wajah), dan gagal jantung. Untuk memastikan hal tersebut, dokter akan melakukan pemeriksaan tekanan darah, denyut nadi, pemeriksaan tangan dan kaki, serta, elektrokardiogram.

Dokter juga dapat meminta pasien melakukan gerakan fisik sederhana untuk melihat apakah kekuatan otot-otot pasien terganggu akibat anoreksia. Contoh-contoh tes gerakan fisik tersebut adalah berjongkok, berdiri, dan bergeser ketika duduk.

Adakalanya pengobatan harus dilakukan secara paksa jika kondisi anoreksia sudah memasuki tahap berbahaya dan mengancam nyawa pengidap. Dalam kasus seperti ini, sebaiknya keluarga segera membawa pengidap ke rumah sakit agar cepat-cepat ditangani.

Pengobatan anoreksia nervosa biasanya dilakukan dengan cara mengombinasikan terapi psikologi dengan pemulihan berat badan yang diawasi. Sangat penting untuk melakukan pengobatan sedini mungkin, terlebih jika pasien sudah kehilangan sejumlah besar berat badannya. Selain itu, penanganan secepatnya dapat menurunkan risiko terjadinya komplikasi.

Penanganan Medis untuk Kegawatdaruratan dan Dampak Fisik

Apabila tingkat keparahan anoreksia nervosa sudah sangat parah dengan gejala malanutrisi yang bisa mengarah kepada kematian, maka penanganan di rumah sakit perlu dilakukan. Pada kasus ini pasien akan diberikan cairan infus atau dipasangi selang nasogastrik untuk menyalurkan makanan lewat hidung. Perawatan di rumah sakit ditujukan untuk menangani dehidrasi, gangguan detak jantung, dan ketidakseimbangan elektrolit.

Penanganan oleh rumah sakit juga diperlukan apabila pasien mengalami tanda-tanda depresi berat yang mengarah kepada upaya bunuh diri. Karena itu penting bagi keluarga untuk selalu memantau kondisi psikologis penderita anoreksia agar hal ini bisa dicegah.

Menaikkan berat badan secara berkala dan aman

Sebagai bagian dari rencana pengobatan, dokter akan menyertakan saran-saran mengenai bagaimana menaikkan berat badan pasien secara aman. Dokter juga akan terus memantau kesehatan fisik pasien. Bagi pasien anak-anak dan remaja, tinggi badan mereka akan diperiksa secara berkala untuk memastikan mereka tumbuh secara normal.

Menaikkan berat badan secara normal harus dilakukan secara bertahap. Sebagai langkah pertama, ahli terapi biasanya akan meminta pasien untuk berusaha makan secara teratur, meski dalam porsi yang sedikit. Terapi ini dianggap berhasil setelah pola makan pasien kembali normal dengan asupan gizi yang cukup, termasuk vitamin dan mineral. Diharapkan melalui terapi ini, pasien bisa kembali menaikkan berat badan sebanyak setengah hingga satu kilogram per minggu.

Penanganan anoreksia melalui aspek psikologis

Sejumlah pengobatan psikologis bisa diterapkan untuk mengobati anoreksia. Biasanya pengobatan akan berlangsung selama setengah tahun hingga satu tahun, atau bahkan lebih lama tergantung kepada kondisi pengidap atau tingkat keparahan anoreksia.

Salah satu contoh metode penanganan anoreksia melalui aspek psikologis adalah melalui terapi perilaku untuk mengubah pola pikir negatif. Perilaku seseorang biasanya merupakan buah dari pola pikirnya. Begitu pula sebaliknya, tingkah laku dapat membentuk pola pikir juga. Banyak hal-hal tidak realistis yang diyakini sebagai sesuatu yang benar oleh pengidap anoreksia. Misalnya mereka merasa harga diri mereka tergantung pada berat badan mereka. Mereka sangat takut diejek atau tidak dihargai lagi oleh orang lain karena dianggap gemuk.

Oleh karena itu, melalui terapi perilaku kognitif, ahli terapi akan berusaha membantu pasien mengubah pemikiran negatif mengenai makanan dan penampilan menjadi suatu pola pemikiran yang positif dan realistis, sehingga diharapkan perilaku menyimpang pasien dapat hilang.

Metode penanganan kedua adalah melalui terapi kognitif analitik dengan menelusuri masa lalu pasien. Terapi ini didasarkan kepada teori yang menyatakan bahwa masalah kesehatan mental termasuk anoreksia disebabkan oleh pola pikir dan tingkah laku tidak sehat yang dibentuk sejak pasien masih kanak-kanak atau remaja.

Terapi kognitif analitik melibatkan tiga tahapan proses. Tahap pertama adalah reformulasi. Pada tahap reformulasi, biasanya spesialis terapi akan mencari tahu pengalaman pasien pada masa lalu yang mungkin bisa menjadi alasan kenapa pola-pola yang tidak sehat tersebut bisa berkembang. Tahap kedua adalah pengenalan. Seorang ahli terapi akan membantu pasien melihat dan memahami bagaimana pola-pola yang tidak sehat tersebut berkontribusi terhadap anoreksia. Tahap ketiga atau tahap terakhir adalah revisi. Pada tahap ini, sejumlah perubahan yang dapat menghentikan pola-pola yang tidak sehat tersebut diidentifikasi, dikaji, kemudian diterapkan.

Metode penanganan ketiga adalah dengan terapi interpersonal untuk mengkaji lingkungan penderita.Terapi ini mendasarkan teori kepada hubungan lingkungan dengan anoreksia yang mana lingkungan dan orang di sekitar memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk keadaan psikologis pengidap. Teori tersebut menyimpulkan bahwa kepercayaan diri yang rendah serta rasa cemas yang dialami pengidap timbul dari interaksinya dengan orang-orang di sekitar.

Selama terapi ini, ahli terapi akan berusaha menelaah hal-hal negatif yang berkaitan dengan hubungan interpersonal pasien dan mencari tahu cara mengatasi hal-hal negatif tersebut.

Peran keluarga sebagai bagian dari pengobatan anoreksia

Peran keluarga sangat penting bagi kesembuhan pengidap anoreksia karena biasanya keluarga adalah pihak yang paling merasakan dampak anoreksia itu sendiri. Selain harus berusaha memahami kondisi yang sedang dialami pengidap, keluarga juga dapat bekerja sama dengan dokter dalam membantu mempercepat proses kesembuhan.

Penanganan anoreksia dengan menggunakan obat-obatan

Jika anoreksia hanya diatasi dengan mengonsumsi obat-obatan, biasanya hasilnya tidak akan efektif. Penggunaan obat-obatan baru akan terasa efektif jika dikombinasikan dengan terapi lain. Obat-obatan juga digunakan untuk menangani masalah-masalah psikologis yang terkait dengan anoreksia, seperti depresi dan gangguan obsesif kompulsif.

Obat-obatan yang mungkin diberikan antara lain antidepresan, antipsikotik, dan penstabil mood. Contoh obat-obatan yang biasa diberikan antara lain olanzapine dan selective serotonin reuptake inhabitors (SSRIs).

SSRIs merupakan antidepresan. Obat ini dapat membantu meredakan depresi dan rasa cemas terkait anoreksia. Biasanya dokter akan memberikan obat ini jika berat badan pasien telah kembali normal. Pemberian SSRIs kepada pasien dengan berat badan di bawah normal dikhawatirkan akan menimbulkan efek samping buruk. Sedangkan olanzapine merupakan obat yang biasanya diberikan kepada pengidap anoreksia yang tidak merespons kepada metode pengobatan lainnya. Obat ini dapat membantu meredakan rasa cemas yang berkaitan dengan pola makan atau berat badan.

Pengobatan anoreksia tidak dapat dilakukan secara instan. Untuk pulih sepenuhnya, pengidap bisa membutuhkan waktu beberapa tahun karena seiring menjalani pengobatan pun, beberapa dari mereka masih mengalami gangguan makan.

Beberapa masalah kesehatan atau bahkan kematian dapat terjadi jika anoreksia tidak segera ditangani. Komplikasi muncul akibat kurangnya nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh, dalam hal ini dari asupan makanan.

Selain anoreksia nervosa, terdapat kondisi serupa yang disebut dengan bulimia nervosa. Beberapa penderita anoreksia lanjut mengalami bulimia. Pengidap bulimia biasanya makan sebanyak-banyaknya sebelum mereka mengeluarkannya kembali dengan cara dimuntahkan atau mengonsumsi obat pencahar.

Contoh-contoh komplikasi yang dapat muncul akibat anoreksia di antaranya adalah anemia, ketidakseimbangan cairan elektrolit, konstipasi, penurunan tekanan darah dan tingkat pernapasan, detak jantung tidak teratur, dan bahkan gagal jantung. Pengidap anoreksia juga terancam menderita kerusakan pada hati, ginjal, dan otak.

Pada anak-anak dan remaja, anoreksia dapat menghambat perkembangan fisik. Pada orang dewasa, khususnya wanita, kondisi ini dapat menyebabkan osteoporosis, gangguan menstruasi, dan kemandulan. Sedangkan pada pria dewasa, anoreksia dapat menyebabkan impoten dan disfungsi ereksi.

Seorang wanita hamil yang mengidap anoreksia berisiko mengalami keguguran, melahirkan bayi prematur, melahirkan bayi berbobot rendah, dan terkadang proses melahirkannya harus dibantu dengan operasi cesar. Oleh sebab itu pasien wanita anoreksia perlu dipantau secara berkala oleh dokter sejak masa kehamilan maupun setelah melahirkan. Apabila sudah sembuh pun, pengawasan harus dilakukan kembali apabila wanita tersebut hamil kembali karena potensi anoreksia untuk kambuh cukup besar.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT