Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Ankylosing Spondylitis

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 38 kali

Ankylosing spondylitis adalah penyakit kronis yang menyebabkan tulang belakang mengalami peradangan. Penyakit ini juga bisa membuat ruas tulang belakang melebur sehingga penderita sulit bergerak dan menjadi bungkuk. Jika ankylosing spondylitis sampai menyerang tulang rusuk, penderitanya akan mengalami kesulitan bernapas.

Fakta mengungkap bahwa ankylosing spondylitis lebih sering terjadi pada laki-laki dibanding perempuan, yaitu tiga banding satu. Penyakit ini bisa terjadi di segala usia, tapi umumnya mulai berkembang pada masa remaja atau dewasa awal (sekitar usia 20 tahunan).

Gejala ankylosing spondylitis berkembang selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Terkadang, gejalanya juga datang dan pergi, membaik dan memburuk, dan muncul dalam rentang waktu tertentu. Untuk menghindari komplikasi, penyakit ini harus ditangani dengan metode pengobatan yang tepat.

Gejala Ankylosing Spondylitis

Kemunculan ankylosing spondylitis biasanya ditandai dengan rasa nyeri atau kaku di leher, punggung bawah, tulang rawan di antara tulang dada dan tulang rusuk, serta nyeri di panggul. Kondisi ini umumnya dirasakan pada waktu bangun tidur atau setelah berdiam dalam suatu posisi selama sekian waktu.

Ankylosing spondylitis juga bisa disertai dengan gejala atau kondisi lainnya, seperti:

  • Kelelahan. Penderita ankylosing spondylitis akan merasa mudah lelah dan seperti kehilangan energi untuk beraktivitas.
  • Enthesis. Peradangan yang terjadi di tempat melekatnya ligamen dan tendon dengan tulang.
  • Arthritis. Pada ankylosing spondylitis dapat juga terjadi peradangan sendi pada bagian tubuh lain, seperti pada sendi panggul dan lutut.

Penyebab Ankylosing Spondylitis

Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan ankylosing spondylitis. Gen HLA-B27 diduga memiliki peranan, karena 90% penderita memiliki gen tersebut. Namun, sebagian besar dari orang yang memiliki gen ini tidak mengalami ankylosing spondylitis.

Diagnosis Ankylosing Spondylitis

Diagnosis awal ankylosing spondylitis dibuat berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Untuk menegakkan diagnosis, dapat dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti:

  • Pemeriksaan darah. Dilakukan untuk memeriksa tanda-tanda peradangan yang terjadi di bagian tubuh tertentu. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya peradangan, pasien dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter ortopedi (dokter spesialis tulang dan sendi).
  • Pemindaian. Dilakukan untuk memeriksa kondisi tulang belakang dan tulang panggul pasien. Pemindaian dilakukan dengan foto Rontgen, MRI, atau USG.
  • Pemeriksaan genetik. Dilakukan untuk memeriksa apakah pasien memiliki gen HLA-B27, atau memiliki kelainan genetik lain.

Pengobatan Ankylosing Spondylitis

Tidak ada penanganan khusus untuk mengobati ankylosing spondylitis. Penanganan dan tindakan yang diberikan bertujuan untuk mengurangi rasa sakit, memperbaiki kelainan pada postur tubuh, mencegah kecacatan, dan memampukan pasien untuk kembali beraktivitas secara normal. Bentuk penanganan tersebut antara lain dengan:

  • Olahraga. Dilakukan untuk membantu mengurangi otot-otot yang kaku dan memperkuat otot di sekitar sendi. Olahraga juga membantu mengurangi risiko kecacatan. Olahraga terbaik untuk penderita penyakit ini adalah berenang.
  • Fisioterapi. Dilakukan untuk mengembalikan fungsi tubuh secara normal dan mengurangi risiko cacat permanen karena penyakit ankylosing spondylitis.
  • Obat-obatan.Untuk meredakan rasa sakit dan kekakuan sendi. Obat-obat yang bisa digunakan antara lain:
    • Obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID) untuk tahap awal, seperti ibuprofen atau naproxen.
    • Obat antirematik modifikasi penyakit (DMARD), seperti methotrexate, apabila pengobatan dengan NSAID saja tidak cukup.
    • Obat antidepresan duloxetine untuk mengatasi nyeri punggung yang kronis.
    • Suntikan kortikosteroid di bagian sendi atau tendon yang bermasalah.
  • Operasi. Dilakukan sebagai pilihan terakhir jika pasien mengalami kerusakan sendi yang cukup parah. Operasi bertujuan untuk mengganti sendi yang rusak dengan sendi tiruan di bagian tubuh tertentu, seperti panggul dan lutut.

Komplikasi Ankylosing Spondylitis

Pada kasus ankylosing spondylitis yang parah, pembentukan tulang baru sebagai bagian dari proses penyembuhan akibat radang, menyebabkan ruas tulang belakang menjadi saling menyatu, kaku, dan tidak fleksibel lagi. Jika hal ini terjadi pada tulang rusuk, pengembangan paru dan fungsi pernapasan akan terganggu. Beberapa komplikasi lain yang mungkin ditimbulkan adalah:

  • Patah (fraktur) tulang belakang. Hal ini menyebabkan tulang belakang semakin lemah, pembungkukan yang terjadi semakin parah, serta gangguan pada sumsum dan saraf tulang belakang.
  • Radang mata. Kondisi ini menyebabkan mata menjadi sakit, pandangan kabur, dan sangat sensitif terhadap cahaya. Dengan kondisi ini, penderita tentu akan kesulitan untuk melakukan aktivitas normal.
  • Gangguan jantung. Biasanya berupa peradangan atau gangguan lain pada bagian aorta. Aorta yang mengalami peradangan bisa melebar dan menyebabkan kerja jantung menjadi terganggu.
  • Aktivitas terganggu. Penderita tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari seperti dalam kondisi sehat. Selain itu, pola hidup mereka pun akan berubah, misalnya terpaksa harus bekerja paruh waktu dari rumah.
  • Amyloidosis. Merupakan kondisi dimana protein amiloid yang seharusnya diproduksi di sumsum tulang belakang justru tumbuh di beberapa organ lain, seperti jantung, hati, dan ginjal.
  • Sindrom cauda equin Terjadi ketika saraf di dasar tulang belakang tertekan. Kondisi ini menimbulkan rasa sakit di bokong dan panggul, tungkai terasa lemas, sulit berjalan, dan gangguan sistem urine.

Meminimalkan Tingkat Keparahan Ankylosing Spondylitis

Beberapa cara berikut ini bisa diterapkan oleh penderita ankylosing spondylitis agar gejalanya tidak menjadi semakin parah, di antaranya:

  • Berhenti merokok serta jangan mengunyah tembakau.
  • Tidur tanpa bantal atau hindari menggunakan bantal yang terlalu tebal. Penggunaan bantal yang terlalu tebal bisa menyebabkan kerusakan tulang belakang semakin parah.
  • Hindari membungkuk. Gunakanlah kursi, meja, dan perabot lainnya yang lebih tinggi agar badan tidak menekuk.
  • Kurangi olahraga berat agar penderita terhindar dari cedera.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT