Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Alergi Susu

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 37 kali

Alergi susu adalah sebuah bentuk respons alami dari sistem kekebalan tubuh terhadap susu dan produk lain yang memiliki kandungan susu di dalamnya. Reaksi tubuh yang tidak normal ini adalah salah satu jenis alergi makanan yang paling banyak dialami oleh anak-anak, khususnya ketika mereka mulai mengonsumsi susu sapi.

Selain susu sapi, susu yang berasal dari kambing, domba, dan hewan menyusui lainnya juga dapat menyebabkan reaksi alergi susu. Reaksi alergi biasanya muncul beberapa menit hingga beberapa jam setelah zat alergen (susu) dikonsumsi. Reaksi alergi tersebut dapat berupa muntah, napas yang berbunyi (mengi), ruam gatal, dan gangguan pencernaan.

Penyebab Alergi Susu

Alergi susu berbeda dengan intoleransi protein susu dan intoleransi laktosa. Intoleransi atau ketidakmampuan tubuh menerima suatu zat tidak berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh serta memiliki gejala dan pengobatan yang berbeda dengan alergi susu.

Alergi susu adalah sejenis alergi makanan yang disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh penderita yang menganggap suatu kandungan pada protein, dalam hal ini adalah susu, sebagai zat yang berbahaya. Peringatan ini kemudian memicu sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi immunoglobulin E untuk menetralkan alergen tersebut. Proses ini menghasilkan pelepasan histamin dan zat kimia lain di dalam tubuh yang kemudian menyebabkan munculnya gejala-gejala alergi susu tertentu.

Dua kandungan utama pada protein susu yang menjadi penyebab alergi susu adalah kasein dan whey. Kasein ditemukan pada bagian susu yang padat, dikenal juga dengan nama dadih. Whey ditemukan pada bagian susu yang cair yang tetap ada meski ketika susu mengental.

Dua protein ini mungkin sulit dihindari karena ditemukan juga pada makanan olahan susu lain. Penderita alergi susu juga cenderung memiliki alergi pada susu dari hewan menyusui lain, namun tidak selalu memiliki alergi pada susu kedelai (soybean).

Beberapa faktor lain juga mungkin memicu alergi susu pada seseorang, yaitu:

  • Alergi pada makanan lain yang biasanya mulai berkembang sesudah alergi susu muncul.
  • Adanya riwayat alergi di keluarga, misalnya hay fever atau rhinitis, asma, dan eksim.
  • Anak-anak lebih umum menderita reaksi alergi yang biasanya akan membaik setelah sistem pencernaan berkembang seiring anak bertumbuh dewasa.
  • Anak yang menderita dermatitis atopik, yaitu peradangan kulit kronis.

Gejala Alergi Susu

Reaksi alergi susu berbeda-beda bagi tiap orang, namun umumnya muncul satu jam setelah penderita minum susu. Berikut adalah gejala alergi susu lain yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dirasakan oleh penderitanya.

  • Kram perut
  • Hidung berair (ingusan)
  • Mata berair
  • Diare
  • Kotoran yang lebih cair (mencret) dan kemungkinan mengandung darah
  • Ruam gatal di sekitar mulut
  • Munculnya kolik pada bayi (yang biasanya ditandai dengan menangis tanpa henti)

Selain muntah dan reaksi-reaksi alergi lain yang telah disebutkan di atas, alergi susu juga bisa menyebabkan suatu reaksi yang lebih serius, yaitu anafilaksis. Anafilaksis adalah suatu reaksi alergi parah yang dapat menyebabkan kematian. Susu adalah makanan ketiga setelah kacang dan kacang pohon (mede, hazelnut, dll) yang dapat menyebabkan reaksi anafilaksis.

Anafilaksis menyebabkan saluran udara menyempit dan menghambat pernapasan. Reaksi ini harus segera ditangani di rumah sakit. Beberapa gejala anafilaksis yang patut diwaspadai, yaitu:

  • Terhalangnya saluran udara, termasuk tenggorokan tersumbat yang menyebabkan gangguan pernapasan
  • Turunnya tekanan darah secara signifikan yang menyebabkan syok
  • Wajah memerah dan gatal-gatal pada sekujur tubuh

Sangat penting untuk segera menemui atau memberi tahu dokter jika Anda atau anak mengalami reaksi alergi makanan walaupun reaksinya tergolong ringan. Dokter akan melakukan serangkaian tes untuk mengonfirmasi diagnosis kondisi ini dan menentukan langkah pencegahan dan pengobatan yang sesuai.

Diagnosis Alergi Susu

Penderita alergi susu mungkin harus menghentikan konsumsi obat antihistamin selama 5-7 hari sebelum melakukan kunjungan ke dokter. Tanyakanlah hal ini serta persiapan lain yang diperlukan ketika membuat jadwal pertemuan untuk mempermudah proses diagnosis.

Pada pemeriksaan awal, dokter mungkin akan menanyakan tentang gejala yang dirasakan dan apakah pasien memiliki buku catatan harian berisi daftar makanan yang pernah dikonsumsi. Dokter juga akan bertanya apakah pasien pernah mencoba menghilangkan susu dari pilihan atau diet makanan yang dikonsumsinya, kemudian menambahkannya lagi untuk melihat reaksi yang dihasilkan tubuh.

Setelah itu, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik. Apabila diperlukan, dokter juga mungkin akan merekomendasikan tes lanjutan, seperti:

  • Tes darah guna mengukur jumlah antibodi immunoglobulin E yang dihasilkan oleh tubuh.
  • Tes kulit. Dalam tes ini, dokter akan membuat tusukan kecil pada permukaan kulit pasien. Setelah itu, sejumlah kecil protein susu diletakkan pada area kulit tersebut. Sebuah benjolan gatal kecil akan muncul di area kulit yang terpapar protein susu jika pasien benar memiliki alergi susu.

Baik tes darah atau tes kulit, walaupun dilakukan oleh spesialis alergi, tidak selalu memberikan hasil yang akurat sehingga dokter dapat merekomendasikan tes lain yang melibatkan mulut atau tantangan makan. Pasien diminta untuk mengonsumsi beberapa pilihan makanan untuk melihat jika terdapat reaksi alergi. Jumlah alergen, dalam hal ini adalah protein susu, akan ditingkatkan secara bertahap untuk memastikan reaksi alergi susu. Namun jika ternyata gejala disebabkan oleh kondisi lain selain alergi makanan, dokter dapat meminta pasien untuk melakukan pemeriksaan penunjang tambahan untuk mengesampingkan gangguan kesehatan lain.

Pengobatan Alergi Susu

Alergi susu umumnya menghilang seiring pertambahan usia anak, namun ada juga yang terus memiliki alergi hingga mereka dewasa. Menghindari alergen (sumber alergi) adalah tindakan pengobatan alergi yang terbaik, dalam hal ini adalah susu atau protein susu.

Hal ini terkadang sulit dilakukan karena susu merupakan bahan makanan yang banyak digunakan untuk mengolah makanan lain, misalnya makanan yang dipanggang dan yoghurt. Tanyakan kepada dokter, makanan apa saja yang harus dihindari karena beberapa pemilik alergi susu masih dapat mengonsumsi susu dengan jenis tertentu seperti yoghurt dengan aman.

Sedangkan dalam hal obat-obatan, antihistamin merupakan obat yang bisa digunakan untuk meredakan gejala dari reaksi alergi dan mengurangi ketidaknyamanan. Namun reaksi alergi yang lebih serius, yaitu anafilaksis, harus segera mendapat suntikan adrenalin (epinephrine). Penderita juga sebaiknya dibawa ke rumah sakit untuk berjaga-jaga terjadinya reaksi susulan. Penderita kemudian akan dibekali obat, alat suntik epinephrine, dan tata cara penyuntikan jika sewaktu-waktu serangan terulang kembali. Anda dapat membawa dan menggunakan obat antihistamin dan suntikan epinephrine bersamaan untuk berjaga-jaga. Perlu diingat bahwa antihistamin bukanlah obat pengganti suntikan epinephrine, melainkan sebagai obat tambahan jika terjadi reaksi anafilaksis.

Pencegahan Alergi Susu

Mencegah alergi susu dilakukan dengan cara menghindari susu dan produk-produk yang mengandung susu maupun protein susu. Bacalah label produk dengan teliti sebelum membeli, mengonsumsi, atau menggunakannya, terutama ketika sedang makan di luar rumah. Tanyakan kepada juru masak mengenai bahan-bahan dan detail pengolahan makanan sebelum memesan atau memakannya. Waspadai juga produk yang mencantumkan label nondairy dan milk-freekarena kemungkinan masih memiliki kandungan protein susu. Beberapa produk yang memiliki kandungan susu, antara lain:

  • Mentega
  • Yoghurt
  • Pudding
  • Es krim
  • Keju dan bahan yang mengandung keju
  • Bahan yang memiliki lact di dalam namanya, seperti laktosa dan laktat
  • Bubuk protein
  • Perisa mentega buatan
  • Perisa keju buatan
  • Permen, cokelat batangan maupun cair, karamel
  • Whey dan whey hydrolysate
  • Kasein, kalsium kasein, kasein hydrolysate, magnesium kasein, kalium kasien dan natrium kasein.
  • Hidrosolate

Gunakanlah gelang identitas yang menunjukkan kalau Anda seorang dengan kondisi kesehatan khusus, atau pemilik alergi makanan untuk menginformasikan orang lain jika terjadi situasi darurat medis.

Untuk ibu menyusui, memberikan ASI selama 4-6 bulan pertama, selain merupakan sumber nutrisi yang paling baik, diduga dapat membantu mencegah alergi susu pada bayi. Namun jika bayi Anda terbukti memiliki alergi susu, maka Anda harus menyingkirkan produk dengan kandungan susu pada pilihan makanan sehari-hari Anda agar zat susu tidak masuk melalui ASI kepada anak. Pada anak-anak yang lebih dewasa dan memiliki alergi susu, kombinasi ASI dan susu formula hipoalergenik dapat mencegah munculnya reaksi alergi. Segera temui dokter jika Anda menduga anak mengalami reaksi alergi setelah dia menyusu.

Susu formula hipoalergenik tertentu tidak berbasis susu, melainkan asam amino sehingga tidak menyebabkan reaksi alergi. Konsultasikan dengan dokter tentang produk ini sebelum menggunakannya sebagai susu pengganti.

Alternatif lainnya adalah menggunakan susu berbasis protein kedelai dan susu beras (rice milk), namun perlu diperhatikan juga mengenai penggunaannya karena sebagian anak yang memiliki alergi susu juga memiliki alergi kedelai.

Dokter juga dapat membantu penderita alergi susu untuk memiliki pilihan atau diet makanan yang kaya akan nutrisi dan seimbang bagi tubuh. Anda mungkin harus mengonsumsi vitamin dan suplemen untuk menggantikan nutrisi yang terdapat di dalam susu, seperti vitamin D dan riboflavin.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT