Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Kanker Prostat

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Kanker prostat adalah pertumbuhan sel-sel secara tidak terkendali dalam kelenjar prostat. Prostat adalah kelenjar kecil di panggul pria yang merupakan bagian dari sistem reproduksi. Prostat berada di bawah kandung kemih di depan rektum. Kelenjar prostat mengelilingi uretra, yaitu saluran yang membawa urine dari kandung kemih ke penis.

Prostat membantu menghasilkan cairan yang menyuburkan dan melindungi sperma. Ketika terjadi ejakulasi, prostat mengeluarkan cairan ini menuju uretra. Cairan yang dikeluarkan akan mengalir bersama dengan sperma sebagai air mani.

Ada kanker prostat yang bersifat agresif dan mampu menyebar dengan cepat. Tapi pada umumnya, kanker prostat tumbuh secara perlahan dan tidak menyebar.

Menurut data WHO, kanker prostat adalah kasus kanker paling umum urutan kedua pada pria. Diperkirakan sekitar 1,1 juta pria di seluruh dunia didiagnosis menderita kanker prostat dan terdapat 307 ribu kasus kematian pada tahun 2012. Di Indonesia sendiri, kanker prostat menempati urutan ke-5 sebagai jenis kanker terbanyak, dengan jumlah penderita sebesar 971 orang pada tahun 2011. Pria usia 70 hingga 79 tahun merupakan kelompok terbanyak yang menderita penyakit ini.

Gejala Kanker Prostat

Kanker prostat mungkin saja tidak menimbulkan gejala apa pun pada tahap awal. Gejala kanker prostat akan muncul ketika prostat terlalu besar atau membengkak dan mulai memengaruhi uretra. Beberapa tanda dan gejala yang muncul ketika ini terjadi adalah:

  • Lebih sering buang air kecil, terutama saat malam hari
  • Merasa nyeri atau panas pada penis saat buang air kecil atau ejakulasi
  • Merasa kandung kemih selalu penuh
  • Darah dalam urine atau air mani
  • Tekanan saat mengeluarkan urine berkurang

Biasanya, tanda maupun gejala kanker prostat akan muncul ketika kanker sudah menyebar keluar dari prostat. Tapi gejala-gejala di atas tidak selalu disebabkan oleh kanker prostat. Kondisi di atas bisa saja disebabkan oleh infeksi saluran kencing.

Hingga kini, penyebab munculnya kanker prostat masih belum diketahui. Tapi faktor keturunan atau genetik dan usia seseorang bisa meningkatkan risiko munculnya kanker prostat.

Diagnosis Kanker Prostat

Ada banyak tes dan pemeriksaan untuk menentukan diagnosis kanker prostat. Tes yang paling umum untuk mendeteksi kanker prostat adalah:

  • Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan colok dubur. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa ukuran kelenjar prostat.
  • Tes darah. Tes darah ini lebih dikenal dengan istilah tes PSA (prostate-specific antigen atau antigen khusus prostat). Tapi tes ini tidak hanya spesifik untuk mendeteksi kanker prostat karena kadar PSA juga bisa naik akibat kondisi lain seperti infeksi saluran kencing atau radang pada prostat.
  • Biopsi. Sampel jaringan prostat akan diambil untuk diperiksa di laboratorium.

Disarankan agar pria berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan skrining kanker prostat pada usia 40 tahun, 45 tahun, atau 50 tahun. Skrining yang dilakukan adalah dengan tes darah menggunakan antigen khusus prostat. Pemeriksaan colok dubur juga akan dilakukan sebagai bagian dari skrining.

Pengobatan Kanker Prostat

Makin awal kanker prostat didiagnosis, makin besar peluang pasien untuk sembuh total. Tapi jika kanker masih dalam tahap sangat awal dan tidak menyebabkan gejala apa pun, pasien bisa memilih untuk mewaspadainya saja. Pengobatan kanker prostat adalah melalui operasi pengangkatan prostat dan radioterapi.

Namun jika kanker terdeteksi ketika sudah menyebar, misalnya ke tulang, maka kanker tersebut tidak bisa disembuhkan. Pengobatan yang dilakukan hanya sebatas untuk memperpanjang usia dan juga meredakan gejala yang muncul.

Pada tahap awal, kanker prostat umumnya tidak menimbulkan gejala apa pun. Tapi ketika pembengkakan prostat telah memengaruhi uretra atau kanker mulai menyebar, berikut ini adalah beberapa gejala yang biasanya muncul:

  • Lebih sering buang air kecil, terutama saat malam hari
  • Merasa nyeri atau butuh waktu lama saat buang air kecil
  • Terdapat darah dalam air kencing atau air mani
  • Tekanan air kencing berkurang
  • Air kencing keluar saat batuk atau tertawa
  • Tidak mampu kencing sambil berdiri
  • Disfungsi ereksi

Prostat pria umumnya akan bertambah besar seiring bertambahnya usia. Gejala-gejala di atas perlu diwaspadai, meski tidak selalu berarti Anda mengidap kanker prostat. Berikut ini adalah gejala kanker prostat ketika sudah memasuki tahapan yang lebih parah:

  • Penurunan berat badan
  • Kehilangan selera makan
  • Rasa sakit pada tulang terutama punggung bagian bawah, paha dan pinggul
  • Mual dan muntah
  • Konstipasi
  • Merasa sakit atau kaku pada bagian panggul, punggung bawah, paha atas, atau pada tulang di sekitarnya
  • Kelemahan atau kelumpuhan pada tubuh bagian bawah

Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Prostat

Penyebab kanker prostat yang pasti hingga kini masih belum diketahui. Tapi pada tingkat dasar, kanker prostat disebabkan oleh perubahan pada DNA sel prostat normal. Tapi, kanker prostat memengaruhi terutama pria yang berusia lanjut. Sekitar delapan dari sepuluh kasus diderita oleh pria berusia di atas 65 tahun.

Selain usia, berikut ini adalah beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terkena kanker prostat:

  • Riwayat kesehatan keluarga. Jika ada keluarga laki-laki yang menderita kanker prostat atau wanita yang menderita kanker payudara, risiko Anda untuk terkena kanker prostat akan meningkat.
  • Makanan. Mengonsumsi makanan yang mengandung kalsium tinggi terlalu sering juga bisa meningkatkan risiko terkena kanker prostat.
  • Obesitas. Kelebihan berat badan meningkatkan risiko seorang laki-laki terkena kanker prostat.
  • Ras. Kanker prostat lebih berisiko untuk menimpa pria yang berasal dari ras Afrika-Amerika dan Karibia.
  • Lokasi. Kasus kanker prostat lebih banyak ditemui di belahan Amerika Utara, Eropa Barat Laut, Australia dan Kepulauan Karibia.
  • Perubahan gen. Beberapa perubahan gen yang diwariskan bisa meningkatkan rsiko terkena kanker prostat.
  • Beberapa jenis makanan. Pria yang sering mengonsumsi daging merah atau produk susu tinggi lemak akan memiliki risiko terkena kanker prostat sedikit lebih tinggi daripada pria yang hanya sedikit mengonsumsi kedua jenis makanan tersebut.
  • Paparan bahan kimiawi.
  • Peradangan prostat. Beberapa studi menyebutkan bahwa peradangan prostat berhubungan dengan meningkatnya risiko kanker prostat.
  • Merokok.
  • Penyakit menular seksual, seperti gonorea atau klamidia mungkin bisa meningkatkan risiko terkenan kanker jenis
  • Vasektomi. Pria yang menjalani prosedur vasektomi memiliki risiko kanker prostat lebih tinggi.

Terdapat beberapa tes dan juga pemeriksaan yang harus dijalani untuk mendiagnosis kanker prostat, yaitu:

Pemeriksaan colok dubur

Pada prosedur ini, dokter akan memasukkan jari yang sudah dibungkus sarung tangan dan diolesi pelumas ke dalam rektum untuk memeriksa kelenjar prostat yang posisinya di sebelah rektum. Jika dokter menemukan ketidaknormalan pada tekstur, bentuk, maupun ukuran kelenjar prostat Anda, mungkin Anda memerlukan tes lanjutan lainnya.

Tes PSA (prostate-specific antigen atau antigen khusus prostat)

Kelenjar prostat menghasilkan protein yang disebut dengan PSA. Kadar PSA dalam darah semua pria cukup sedikit, tapi kadar PSA akan bertambah seiring bertambahnya usia seorang pria.

Tes darah PSA berfungsi mengukur kadar PSA dalam darah. Tes PSA tidak spesifik untuk mendeteksi kanker prostat, karena kondisi lain seperti peradangan pada prostat juga menyebabkan meningkatnya PSA dalam darah. Selain itu, ada sebagian penderita kanker prostat yang tidak mengalami peningkatan kadar PSA. Hanya sekitar 45% penderita kanker prostat memiliki kadar PSA yang tinggi.

Uji ultrasound transrektal (TRUS)

Pada uji ini, sebuah alat kecil akan diberi pelumas dan ditempatkan pada anus pasien. Alat kecil ini akan memancarkan gelombang suara pada prostat dan merekam gema dari gelombang suara tersebut. Gema akan diproses sehingga menjadi citra prostat pasien.

Biopsi

Prosedur biopsi adalah pengambilan sampel jaringan prostat untuk diteliti lebih jauh apakah terdapat sel kanker. Ini adalah langkah yang paling bisa diandalkan dalam mendiagnosis kanker prostat.

Selain prosedur-prosedur di atas, dokter juga bisa melakukan uji pencitraan (pencitran tulang, CT scan, dan MRI) untuk mengevaluasi penyebaran sel kanker pada organ tubuh lainnya.

Pasien dapat dicurigai mengidap kanker prostat jika hasil pemeriksaan mengindikasikan adanya ASAP (Atypical small acinar proliferation) pada sel prostat. ASAP adalah kondisi di mana sel prostat diduga dapat berkembang menjadi kanker saat diteliti dengan mikroskop.

Pasien juga dapat dicurigai terkena kanker prostat jika hasil pemeriksaan sel prostat mengindikasikan PIA (Proliferative inflammatory atrophy). PIA adalah kondisi di mana sel prostat terlihat lebih kecil dari ukuran normal dan ada tanda-tanda peradangan pada area prostat.

Tahapan Kanker Prostat

Untuk menentukan cara penanganan yang tepat terhadap kanker prostat, dokter perlu mengetahui pada tahap berapakah kanker yang diderita. Dengan demikian, pengobatan yang tepat bisa diberikan. Berikut ini adalah tahapan kanker prostat:

  • Stadium I. Pada tahap ini, kanker masih sangat kecil dan belum menyebar ke luar kelenjar prostat.
  • Stadium II. Pada tahap ini, kanker lebih besar dan belum menyebar ke luar kelenjar prostat.
  • Stadium III. Kanker sudah menyebar ke luar dari kelenjar prostat, tapi masih berada di jaringan sekitarnya, misalnya uretra.
  • Stadium IV. Kanker sudah menyebar lebih jauh, misalnya ke kandung kemih, rektum, atau pun tulang.

Menentukan tahapan kanker prostat sangat penting karena berkaitan dengan pilihan pengobatan yang tepat untuk menangani kanker yang diderita.

Pemeriksaan kadar PSA untuk memastikan diagnosis kanker prostat masih menjadi perdebatan dan juga kontroversi. Kadar PSA dalam darah bisa meningkat karena berbagai penyebab, baik itu kanker maupun penyebab yang tidak bersifat kanker, seperti inflamasi dan pembengkakan kelenjar prostat.

Ketika tingkat PSA seseorang tinggi, dia akan perlu menjalani proses pemeriksaan biopsi kelenjar prostat untuk mengonfirmasi diagnosis kanker prostat. Ini berarti, ada kemungkinan orang itu menjalani biopsi yang umumnya menyakitkan dan tidak nyaman, dan hasilnya ternyata bukan kanker prostat.

Selain itu, pendeteksian kanker melalui kadar PSA juga menjadi kontroversi. Karena ada sebagian kasus kanker prostat yang masih berada di tahap sangat awal dengan perkembangannya minimal, membuat penderitanya tidak perlu menjalani pengobatan. Pengobatan kanker prostat dianggap lebih berisiko pada kasus-kasus tersebut dibandingkan jika dibiarkan, karena postensi efek samping pengobatannya yang sangat besar, contohnya kehilangan kendali untuk buang air kecil.

Menurut studi, memang terdapat penurunan sebesar 20 persen pada kematian akibat kanker prostat yang melakukan pemeriksaan dini. Tapi, hanya satu orang lebih yang bisa diselamatkan dari 48 orang yang menerima penanganan kanker prostat. Oleh karena itu, penganjuran untuk melakukan pemeriksaan kanker prostat masih menjadi perdebatan.

Jika ingin melakukan pemeriksaan dini, disarankan agar pria berisiko tinggi berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan skrining kanker prostat dengan tes PSA dan pemeriksaan colok dubur. Konsultasi ini sebaiknya dilakukan pada:

  • Usia 50 tahun bagi pria yang memiliki risiko kecil mengidap kanker prostat.
  • Usia 45 tahun bagi pria yang berisiko tinggi terkena kanker prostat.
  • Usia 40 tahun bagi pria yang sangat berisiko mengidap kanker prostat.

Bagi penderita kanker prostat, mungkin akan membingungkan dalam memilih prosedur pengobatan terbaik yang bisa dilakukan. Tiap pengobatan yang dilakukan memiliki risiko dan juga keuntungan masing-masing. Pengobatan kanker prostat tergantung kepada beberapa faktor:

  • Stadium kanker
  • Ukuran kanker
  • Usia dan harapan hidup pasien
  • Seberapa luas penyebaran kanker yang telah terjadi
  • Kondisi kesehatan pasien

Untuk penderita kanker prostat pada stadium awal, mereka bisa memilih untuk menunggu dan mengawasi perkembangan kanker. Ada beberapa kasus kanker prostat yang tidak memerlukan pengobatan sama sekali, dan ini perlu dipertimbangkan karena ada efek samping pengobatan yang tergolong signifikan.

Apabila memilih untuk mengawasi kanker prostat, maka selama masa pengawasan, informasi tambahan bisa dikumpulkan untuk membantu menentukan pengobatan yang tepat.

Pengawasan prostat ini mengharuskan Anda menjalani tes PSA dan juga prosedur biopsi secara teratur. Hal ini dilakukan untuk memastikan sedini mungkin apakah ada pertumbuhan sel kanker. Rangkaian prosedur ini dilakukan untuk menentukan pengobatan sesuai dengan tahapan kanker yang diderita, terlebih ketika kanker prostat sudah menyebar keluar dari kelenjar prostat. Berikut ini adalah beberapa cara penanganan kanker prostat yang dianjurkan:

Operasi Kanker Prostat

Berikut ini adalah beberapa cara dan juga prosedur operasi yang bisa dilakukan untuk mengatasi kanker prostat.

TURP atau trans-urethral resection

TURP adalah prosedur operasi dalam memotong bagian dari kelenjar prostat. TURP dilakukan dengan cara anastesi umum atau anastesi tulang belakang, agar Anda tidak merasakan rasa sakit selama pembedahan berlangsung. Tujuan dari operasi adalah meringankan atau menghilangkan gejala buang air kecil yang terganggu akibat kanker prostat

Dokter bedah akan memasukkan kawat besi dengan bagian melingkar di ujungnya ke dalam uretra menuju prostat. Arus listrik digunakan untuk memanaskan bagian melingkar yang berfungsi untuk memotong kanker prostat.

Prostatektomi radikal

Prostatektomi radikal adalah prosedur operasi untuk mengangkat kelenjar prostat dan jaringan di sekitarnya. Prostatektomi radikal bisa menyembuhkan kanker prostat pada pria jika kanker belum menyebar keluar dari kelenjar prostat. Tapi terdapat kemungkinan kecil bahwa tidak semua sel-sel kanker bisa terangkat. Ada kemungkinan sel kanker akan kembali pasca operasi.

Beberapa potensi komplikasi dari prosedur prostatektomi radikal adalah:

  • Inkontinensia urine, yaitu ketidakmampuan mengendalikan buang air kecil.
  • Disfungsi ereksi. Lebih dikenal dengan istilah impotensi. Ketidakmampuan dalam mencapai dan mempertahankan ereksi.
  • Tidak bisa lagi ejakulasi sehingga tidak bisa memiliki anak melalui hubungan intim.

Kryoterapi

Kryoterapi terkadang dilakukan untuk menangani kanker prostat stadium awal. Namun, kebanyakan dokter tidak akan memilih penanganan ini sebagai langkah awal pengobatan.

Pada prosedur ini, dokter akan menggunakan embusan suhu sangat dingin untuk membekukan dan membunuh sel kanker prostat. Beberapa efek samping dari tindakan ini adalah:

  • Kebanyakan pasien akan mengalami darah bercampur pada urine selama sehari hingga dua hari setelah tindakan kryoterapi.
  • Kryoterapi berpengaruh pada anus dan kandung kemih, yang membuat munculnya rasa nyeri, rasa perih, dan seringnya muncul dorongan untuk buang air kecil.
  • Disfungsi ereksi atau impotensi, karena kryoterapi berisiko merusak saraf di sekitar prostat yang mengontrol ereksi.
  • Kesulitan mengontrol buang air kecil.

Radioterapi

Radioterapi menggunakan energi radiasi untuk membunuh sel kanker pada kasus di mana kanker belum menyebar keluar dari prostat. Radioterapi juga bisa digunakan pasca operasi untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa. Selain itu, radioterapi juga dilakukan untuk meredakan gejala atau rasa sakit dan memperlambat tingkat perkembangan kanker pada kasus kanker yang sudah lanjut.

Pasien tidak perlu menjalani rawat inap untuk prosedur radioterapi. Berikut ini adalah beberapa efek samping radioterapi pada kanker prostat:

  • Rambut kemaluan rontok
  • Merasa kelelahan
  • Merasa tidak nyaman di sekitar anus dan rektum
  • Peradangan pada kandung kemih
  • Ketidakmampuan untuk ereksi
  • Inkontinensia urine
  • Masalah dengan buang air besar, seperti diaredan perdarahan

Kemoterapi

Pada langkah penanganan ini, penderita akan diresepkan obat anti-kanker oleh dokter. Tindakan ini sangat tepat jika kondisi kanker sudah menyebar ke organ-organ di luar kelenjar prostat. Beberapa efek samping dari kemoterapi adalah:

  • Rambut rontok.
  • Sariawan.
  • Mual dan muntah.
  • Diare.
  • Meningkatnya risiko infeksi, karena berkurangnya jumlah sel darah putih.
  • Mudah memar atau berdarah.
  • Kelelahan.

Terapi Hormon

Terapi hormon biasanya digabungkan dengan prosedur radioterapi. Terapi hormon yang dilakukan sebelum radioterapi bertujuan meningkatkan kesuksesan pengobatan. Sedangkan terapi hormon yang diberikan setelah radioterapi dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan kembalinya sel-sel kanker.

Selain fungsi di atas, terapi hormon juga bisa digunakan untuk memperlambat perkembangan kanker prostat stadium akhir dan meredakan gejala atau pun rasa sakit yang muncul.

Efek samping dari terapi hormon pada kanker prostat adalah:

  • Kehilangan gairah seksual
  • Disfungsi ereksi atau impotensi
  • Penambahan berat badan
  • Pembengkakan dada
  • Hot flush atau kondisi di mana tubuh tiba-tiba merasa kepanasan yang bisa menyebabkan berkeringat berlebih dan tubuh menggigil.
  • Berkeringat

Tablet steroid bisa digunakan jika terapi hormon tidak lagi berhasil karena kanker bersifat resistan terhadap hormon. Steroid bisa digunakan untuk menyusutkan tumor dan menghambat pertumbuhan tumor.

Vaksinasi Kanker

Dokter bisa memberikan vaksin kanker bagi penderita kanker prostat. Vaksin kanker ini bekerja dengan mendorong sistem kekebalan tubuh untuk menyerang sel-sel kanker prostat.

Vaksin kanker untuk tiap pasien bisa berbeda-beda, karena vaksin ini dibuat berdasarkan sel darah putih pasien. Namun, vaksin ini dikonsumsi bukan untuk mencegah kanker berkembang, namun memperpanjang usia hidup penderita beberapa bulan.

Pengobatan pada tulang

Jika kanker prostat menyebar ke bagian tubuh lainnya, maka kemungkinan besar akan menyebar ke tulang terlebih dahulu. Penyebaran ke tulang akan membuat penderita merasa nyeri, terjadi keretakan tulang, atau kadar kalsium tinggi dalam darah.

Tindakan ini bertujuan untuk mencegah atau memperlambat penyebaran kanker ke tulang. Ada beberapa langkah yang biasa dilakukan dokter untuk prosedur pengobatan pada bagian tulang, yaitu:

  • Memberikan obat-obatan seperti bisphosphonates dan denosumab, untuk menghambat penyebaran kanker.
  • Pemberian kortikosteroid atau obat pereda rasa sakit untuk meredakan nyeri pada tulang.
  • Terapi radiasi eksternal yang berfungsi meredakan rasa nyeri tulang.
  • Obat radioaktif. Ini adalah obat yang mengandung elemen radioaktif yang berfungsi untuk membunuh sel-sel kanker.

Mengobati Kanker Stadium Akhir

Apabila kanker prostat sudah memasuki stadium akhir, maka kondisi ini tidak lagi bisa disembuhkan. Pengobatan yang dilakukan hanya untuk memperlambat perkembangan, memperpanjang usia, dan meredakan gejala yang ada.

Untuk mengatasi kanker prostat stadium akhir, pengobatan yang bisa dilakukan adalah radioterapi, terapi hormon, kemoterapi.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT