Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Kanker Lambung

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Kanker lambung adalah jenis kanker yang menggerogoti lambung, yaitu organ pencernaan berbentuk kantong di tengah rongga perut manusia. Penyakit ini dapat diidap oleh orang-orang pada segala usia, meski sebagian besar penderitanya berusia 55 tahun ke atas.

Jenis kanker lambung yang paling umum terjadi adalah adenocarcinoma, yaitu kondisi ketika kanker menyerang sel-sel pada lapisan dalam lambung yang memproduksi cairan seperti lendir (mukus). Selain adenocarcinoma, ada juga beberapa jenis kanker lambung lainnya meski jarang didapati pada penderita penyakit ini. Di antara jenis-jenis tersebut:

  • Tumor stroma gastrointestina (GIST), yaitu kanker yang menyerang jaringan ikat atau otot-otot dinding perut.
  • Limfoma lambung, yaitu kanker yang menyerang jaringan limfatik atau jaringan yang membantu melawan infeksi.
  • Carcinoid, yaitu kanker yang menyerang sel-sel penghasil hormon di dalam lambung.

Gejala kanker lambung

Berikut ini beberapa gejala yang dapat dirasakan penderita kanker lambung pada tahap awal:

  • Kembung dan sering bersendawa
  • Perut terasa mulas atau sakit
  • Nyeri pada tulang dada
  • Cepat kenyang saat makan
  • Mual
  • Muntah
  • Sulit menelan makanan
  • Gangguan pencernaan yang sering kumat
  • Merasa lelah.

Beberapa gejala kanker lambung pada tahap yang lebih parah adalah:

  • Muntah darah
  • Anemia
  • Sakit kuning
  • Hilang nafsu makan
  • Tinja berwarna hitam atau terdapat darah pada tinja
  • Tubuh terasa lelah
  • Penurunan berat badan
  • Pembengkakan pada perut karena penumpukan cairan

Gejala kanker lambung pada tahap awal biasanya sulit dikenali karena hampir sama dengan masalah pada lambung lainnya, misalnya tukak lambung. Karena itu diperlukan pemeriksaan dokter untuk memastikan diagnosis. Segera periksakan diri Anda jika merasakan gejala-gejala di atas.

Penyebab kanker lambung

Penyebab kanker lambung masih belum dapat diketahui secara pasti. Namun secara umum, kanker terjadi ketika sel-sel pada bagian tertentu di lambung berkembang secara tidak terkendali. Akibat pertumbuhan berlebihan tersebut, sel-sel yang tadinya memiliki sifat normal untuk membantu tubuh berfungsi dengan baik, justru menjadi terakumulasi menjadi tumor. Jika dibiarkan tanpa pengobatan, tumor dapat menjalar ke bagian tubuh lain melalui sistem limfatik.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker lambung adalah:

  • Merokok. Zat-zat berbahaya yang terdapat di dalam asap rokok dapat terhirup dan dapat merusak sel-sel di dinding lambung. Karena itu seorang perokok akan memiliki risiko dua kali lipat terkena kanker lambung dibandingkan mereka yang tidak merokok.
  • Makanan. Terlalu banyak mengonsumsi daging asap, garam, ikan asin, acar, serta makanan yang mengandung aflatoksin (racun dari jamur). Kondisi ini diperburuk dengan kurangnya mengonsumsi buah-buahan dan sayuran.
  • Berusia 55 tahun ke atas dan berjenis kelamin laki-laki. Risiko terkena penyakit kanker lambung pada pria dua kali lipat dibanding wanita.
  • Infeksi bakteri pylori. Bakteri ini merupakan penyebab penyakit lambung seperti gangguan pencernaan, tukak lambung, dan radang pada lapisan lambung.
  • Menderita infeksi lambung dalam waktu lama.
  • Menderita anemia pernisiosa. Kondisi ini terjadi ketika seseorang kekurangan vitamin B12.
  • Menderita kondisi yang menyebabkan munculnya polip di dalam lambung.
  • Memiliki kerabat dekat berpenyakit kanker lambung.
  • Pernah menjalani operasi pada lambung.
  • Menderita jenis kanker lainnya. Penderita kanker limfoma atau kanker sel darah putih, kanker kerongkongan atau kanker esofagus, kanker usus, kanker prostat, kanker serviks, dan kanker paru-paru memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker lambung.

Tahapan perkembangan kanker lambung

Ada empat tahapan yang menentukan tingkat keparahan penyakit kanker lambung, di antaranya:

  • Stadium 1. Kanker berada pada jaringan di dalam lambung dan menyebar ke kelenjar getah bening sekitarnya.
  • Stadium 2. Kanker tumbuh dalam lapisan otot dinding lambung dan menyebar semakin banyak ke kelenjar getah bening.
  • Stadium 3. Seluruh lapisan lambung sudah digerogoti kanker atau banyak pertumbuhan kanker kecil yang menyebar luas ke kelenjar getah bening.
  • Stadium 4. Penyebaran kanker lambung pada tahap ini sudah semakin parah dan mencapai organ tubuh yang jauh.

Penentuan tingkat keparahan kanker lambung bisa dilakukan melalui diagnosis. Hal ini berguna dalam membantu dokter untuk memberikan pengobatan yang tepat.

Diagnosis kanker lambung

Untuk mengetahui apakah seorang pasien menderita kanker lambung, dokter terlebih dahulu akan menanyakan gejala-gejala yang dirasakannya. Selain itu, dokter juga akan menanyakan apakah pasien menderita suatu kondisi tertentu yang dapat memperbesar risiko terkena kanker lambung atau apakah dia memiliki keluarga dekat penderita kanker usus besar.

Setelah penjelasan pasien didapat, dokter dapat melakukan pemeriksaan sederhana dengan cara mengecek perut pasien untuk melihat adanya pembengkakan sekitar lambung.

Untuk memastikan apakah seseorang terkena kanker lambung, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, seperti:

  • Pemeriksaan tinja untuk keberadaan darah.
  • Tes darah.
  • Endoskopi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memasukkan alat khusus berukuran kecil seperti selang ke dalam lambung melalui kerongkongan. Alat yang dilengkapi kamera ini dapat membantu dokter melihat adanya kanker. Melalui pemeriksaan endoskopi, dokter juga dapat mengambil sampel jaringan lambung (biopsi) untuk kemudian diteliti di laboratorium.
  • X-ray. Pada kasus kanker lambung, pengecekan sinar-X akan dikombinasikan dengan cairan yang mengandung zat barium. Zat yang harus ditelan oleh pasien ini akan membantu sinar-X menghasilkan gambar pada monitor. Selama 6 jam sebelum melakukan prosedur pemeriksaan ini, pasien tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi makanan atau minuman, dan pemeriksaan biasanya berlangsung selama 15 menit. Efek samping yang mungkin dirasakan pasien setelah melakukan pemeriksaan ini adalah mual dan konstipasi.
  • CT scan. Pemeriksaan ini dapat membantu dokter mengetahui seberapa jauh perkembangan kanker, apakah kanker hanya terdapat di dalam lambung atau sudah menyebar ke organ-organ lainnya. Pemindaian yang menggunakan rangkaian sinar-X dan bantuan komputer ini dapat menghasilkan gambar tubuh secara rinci.
  • Bedah laparoskopi. Prosedur pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memasukkan alat berkamera yang disebut laparoskop melalui irisan kecil yang dibuat oleh dokter pada bagian perut paling bawah. Tentunya dalam prosedur ini pasien harus dibius terlebih dahulu. Bedah laparoskopi bertujuan melihat keadaan lambung secara lebih rinci. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat mengetahui apakah kanker lambung telah menyebar, terutama ke bagian peritoneum atau lapisan rongga perut.
  • USG. Pemeriksaan dengan menggunakan gelombang ultrasound ini bertujuan melihat apakah kanker lambung telah menyerang organ hati.

Pengobatan kanker lambung

Metode pengobatan yang digunakan pada kasus kanker lambung bergantung pada tingkat keparahan penyakit tersebut dan kondisi kesehatan pasien secara umum. Diperkirakan sekitar 20 sampai 30 persen pasien kanker lambung bisa diobati hingga sembuh. Berikut ini adalah tiga jenis pengobatan utama pada kasus kanker usus besar.

Radioterapi

Tujuan radioterapi adalah untuk membunuh sel-sel kanker. Pada radioterapi, metode pengobatan dilakukan dengan menggunakan pancaran energi radiasi. Biasanya metode radioterapi diterapkan pada kasus kanker lambung stadium tinggi dengan gejala pendarahan.

Sebelum operasi, radioterapi bisa dilakukan untuk memperkecil ukuran tumor lambung sehingga lebih mudah diangkat. Sedangkan radioterapi yang dilakukan setelahnya bertujuan membunuh sel-sel kanker yang mungkin masih tersisa, sekaligus mencegah kanker berkembang kembali.

Meski begitu, ada beberapa efek samping dari penggunaan radioterapi yang juga harus diperhatikan, diantaranya:

  • Iritasi atau warna kehitaman pada kulit di sekitar area yang diobati.
  • Diare.
  • Lelah.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Gangguan pencernaan.

Radioterapi harus dilakukan secara rutin tiap minggu. Dalam satu minggu, biasanya ada lima kali sesi pengobatan selama lima hari dan masing-masing sesi berlangsung selama beberapa menit. Batas waktu pengobatan radioterapi tergantung pada tujuan dan tingkat keparahan. Sebagai contoh, untuk meredakan gejala pada kasus kanker lambung stadium tinggi umumnya berlangsung hingga dua minggu. Sedangkan untuk mencegah kanker datang kembali, umumnya berlangsung hingga lima minggu.

Kemoterapi

Kemoterapi adalah pengobatan untuk membunuh sel-sel kanker melalui pemberian sejumlah obat-obatan. Contohnya adalah obat sitostatika (cytotoxic) yang mampu menghentikan penyebaran sel kanker. Obat-obatan kemoterapi dapat berbentuk tablet, infus, atau kombinasi keduanya.

Pada kanker lambung, kemoterapi yang dilakukan sebelum operasi biasanya bertujuan untuk menyusutkan tumor. Sedangkan kemoterapi yang dilakukan setelah operasi bertujuan untuk mencegah kanker kambuh kembali. Untuk kanker lambung stadium lanjut yang tidak bisa dioperasi, kemoterapi dapat membantu menghambat perkembangan kanker dan meredakan gejala yang dirasakan.

Sama seperti radioterapi, waktu pelaksanaan kemoterapi dibagi menjadi beberapa sesi. Ada yang hanya berlangsung selama tiga minggu atau beberapa bulan dengan pemberian dosis tertentu secara konstan.

Beberapa efek samping kemoterapi adalah:

  • Mual.
  • Muntah.
  • Diare.
  • Perubahan pada kulit, seperti menjadi merah, bengkak, dan rasa geli di telapak tangan atau kaki.
  • Badan terasa lelah.
  • Anemia.
  • Penurunanan berat badan.
  • Rambut rontok.
  • Kerusakan saraf.

Biasanya efek samping ini akan hilang setelah pengobatan kemoterapi berakhir. Efek samping kemoterapi pada tiap pasien kanker lambung bisa berbeda-beda tergantung dari reaksi pasien itu sendiri terhadap pengobatan, jumlah sesi pengobatan yang dilakukan, dan jenis obat kemoterapi yang diberikan.

Pemberian Obat-obatan dengan Target Tertentu.

Terapi pemberian obat-obatan ini bertujuan untuk menghilangkan kelainan-kelainan tertentu di dalam sel kanker. Beberapa contoh obat yang biasanya digunakan adalah:

  • Imatinib, Sunitinib, dan Regorafenib untuk mengobati kanker lambung yang bernama tumor saluran cerna (gastrointestinal stomal tumor).
  • Trastuzumab untuk membunuh sel-sel kanker lambung yang memproduksi terlalu banyak HER2 (human epidermal growth factor receptor 2).
  • Ramucirumab untuk mengobati kanker lambung stadium lanjut yang tidak bereaksi terhadap pengobatan lain.

Operasi

Jenis operasi penanganan kanker lambung yang dilakukan tergantung dari tingkat keparahan penyebaran kanker itu sendiri. Misalnya apabila kanker yang terdiagnosis masih dalam tahap awal dan baru berkembang di dinding lambung, maka prosedur yang disebut reseksi endoskopi bisa dilakukan.

Melalui prosedur ini dokter tidak perlu membedah pasien dan cukup memasukkan alat endoskop ke lambung melalui mulut dan kerongkongan. Dengan alat khusus yang dilengkapi kamera ini, dokter dapat mengangkat kanker dari lapisan lambung dan menyisakan jaringan yang masih sehat.

Prosedur operasi yang masih termasuk dalam pengobatan kanker lambung stadium rendah adalah gastrektomi parsial. Namun, dalam prosedur ini, dokter akan melakukan pembedahan pada perut pasien untuk mengangkat bagian lambung yang terinfeksi kanker. Gastrektomi parsial umumnya dilakukan jika kanker masih berada di lambung bagian bawah dan belum menyebar ke bagian tengah dan atas.

Lebih jauh dari gastrektomi parsial adalah gastrektomi total. Prosedur ini dilakukan jika kanker telah menyebar ke lambung bagian tengah dan atas. Pada kasus ini dokter akan terpaksa mengangkat seluruh lambung pasien dan langsung menghubungkan usus halus dengan ujung saluran kerongkongan.

Pengangkatan kelenjar getah bening yang diduga telah digerogoti oleh kanker juga akan dilakukan. Prosedur ini juga berguna untuk mencegah kanker kambuh lagi.

Selain itu, kanker juga dapat menyebar lebih luas dari perut hingga tidak memungkinkan untuk dilakukan operasi lagi. Jika hal ini terjadi dan saluran cerna menjadi terhambat, dokter akan menawarkan beberapa pilihan, yaitu pemasangan selang yang langsung mengarah ke lambung, operasi bypass yang menyambungkan saluran dari lambung ke usus halus, dan gastrektomi parsial atau total untuk menghilangkan sumbatan dan meredakan gejala yang dirasakan.

Risiko operasi

Sama seperti metode pengobatan kanker lambung lainnya, operasi juga dapat menyebabkan risiko. Beberapa di antaranya adalah:

  • Pendarahan.
  • Gangguan pencernaan.
  • Infeksi.

Pada kasus kanker lambung yang tidak dapat disembuhkan, pengobatan biasanya hanya difokuskan untuk membuat pasien senyaman mungkin dengan mengurangi gejala yang dirasakannya.

Pencegahan kanker lambung

Agar terhindar dari kanker lambung, lakukan beberapa langkah sehat berikut ini.

  • Tidak merokok.
  • Menerapkan pola makan sehat, misalnya dengan mengonsumsi makanan segar yang kaya serat dan vitamin. Hindari makanan asin dan olahan.
  • Menjaga berat badan.
  • Jika menggunakan aspirin atau obat-obatan antiinflamasi non-steroid, bicarakan dengan dokter untuk mengetahui pengaruhnya pada lambung.

Peluang sembuh penderita kanker lambung

Peluang sembuh dari penyakit kanker lambung tergantung dari beberapa faktor, misalnya kondisi kesehatan pasien secara umum, usia pasien, dan setinggi apa tingkat keparahan atau seberapa jauh kanker lambung telah menyebar saat pertama kali terdiagnosis.

Karena gejala kanker lambung hampir sama dengan beberapa masalah lambung lainnya, maka umumnya penderita tidak menyadari hingga kanker lambung sudah berada pada stadium tinggi ketika terdiagnosis. Menurut penelitian, sebanyak lima belas persen penderita kanker lambung masih dapat hidup setidaknya lima tahun ke depan setelah diagnosis dan sekitar sebelas persen yang terdiagnosis masih dapat hidup setidaknya sepuluh tahun ke depan.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT