Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Kanker Hati

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 24 kali

Kanker hati adalah kanker yang bermula dari organ hati atau liver. Ada dua klasifikasi kanker hati berdasarkan lokasi pertumbuhan atau penyebarannya (metastasis), yaitu kanker hati primer dan sekunder. Kanker hati primer adalah kanker yang berawal di organ hati dan termasuk jenis kanker yang berpotensi fatal. Kanker hati sekunder bermula dari bagian tubuh lain kemudian menyebar dan tumbuh di organ hati.

Salah satu jenis kanker hati yang paling umum adalah hepatocellular carcinoma (HCC)/hepatoma yang merupakan kanker hati primer yang berkembang dari sel hati utama yang bernama hepatosit. HCC terjadi sekitar 75% dari keseluruhan kanker hati primer. Kanker ini dapat merupakan komplikasi dari penyakit hepatitis (peradangan pada organ hati) dan kondisi sirosis (jaringan hati normal digantikan oleh jaringan parut).

Kanker hati sekunder umumnya dinamakan menurut organ asal lokasi sel kanker awal berkembang, seperti kanker kolon metastasis, yang bermula di usus besar kemudian menyebar ke hati. Kanker hati sekunder lebih sering terjadi dibandingkan kanker hati primer. Selain penyebaran dari kanker di usus besar, kanker hati sekunder juga banyak berasal dari penyebaran kanker payudara, paru, pankreas, lambung, ovarium, dan kulit (melanoma).

Banyak Terjadi di Negara-negara Berkembang

Di dunia, kanker hati adalah kanker paling umum kelima di antara laki-laki dan kesembilan di antara wanita. Kanker ini adalah penyebab paling umum kedua atas kematian akibat kanker di seluruh dunia, setelah kanker paru.

Sekitar 83 persen kasus kanker hati di dunia terjadi di negara-negara yang masih berkembang. Penyebab tingginya kasus kanker hati di negara-negara yang masih berkembang adalah tingginya kasus hepatitis B dan C di negara-negara tersebut, termasuk di Indonesia. Sedangkan di negara-negara yang sudah maju seperti negara-negara di Eropa, penyebab utama kanker hati adalah konsumsi alkohol yang tinggi dan obesitas yang meningkat.

Di Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar 18.000 kasus baru kanker hati setiap tahunnya, berdasarkan data pada tahun 2012. Angka ini diperkirakan akan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penderita hepatitis B dan C yang saat ini mencapai 30 juta jiwa.

Fungsi Penting Organ Hati

Dengan ratusan fungsi yang dijalankan, hati menjadi salah satu organ yang paling kompleks dalam tubuh manusia. Kanker hati dikategorikan sebagai penyakit serius akibat terhambatnya fungsi-fungsi hati tersebut, bahkan benar-benar menghentikannya. Berikut ini adalah beberapa fungsi terpenting dari hati:

  • Menghilangkan racun dari tubuh
  • Mencerna protein dan lemak
  • Memproduksi cairan penghancur lemak (empedu) yang membantu pencernaan
  • Membantu mengontrol penggumpalan darah

Mengenali Gejala Kanker Hati

Gejala penyakit ini biasanya berbentuk umum atau kurang spesifik seperti misalnya kelelahan dan mual. Banyak orang yang baru merasakan gejala secara jelas setelah kanker mencapai stadium lanjut. Gejala kanker hati meliputi:

  • Kelelahan
  • Penurunan berat badan tanpa sebab
  • Mual-mual
  • Muntah
  • Sakit kuning (kulit dan bagian putih mata yang menguning akibat meningkatnya kadar bilirubin dalam tubuh manusia)

Penyebab Kanker Hati

Penyebab pasti kanker hati masih belum diketahui, tetapi penyakit ini diperkirakan berkaitan dengan kerusakan jaringan sel-sel hati, seperti penyakit hati sirosis. Penyakit sirosis dapat disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B atau hepatitis C.

Penderita hepatitis B atau C mengalami peradangan hati yang berisiko memicu kerusakan serta timbulnya jaringan parut di organ hati. Kondisi ini kemudian dapat berkembang menjadi kanker hati.

Beberapa kebiasaan atau gaya hidup yang tidak sehat dapat menjadi faktor risiko kanker hati. Salah satunya adalah penyalahgunaan alkohol. Mengonsumsi minuman keras lebih dari jumlah yang direkomendasikan dapat menyebabkan kerusakan hati permanen dan meningkatkan risiko kanker hati. Selain itu, obesitas dipercaya juga dapat meningkatkan risiko kanker hati karena berkaitan erat dengan penyakit perlemakan hati non alkoholik (Non Alcoholic Fatty Liver Disease = NAFLD).

Diagnosis Kanker Hati Sedini Mungkin

Jika dokter umum mencurigai atau mendiagnosis Anda telah terkena kanker hati, Anda akan dirujuk ke rumah sakit spesialis untuk pemeriksaan lebih lanjut. Semakin cepat penyakit ini terdiagnosis, semakin efektif penanganan yang diberikan.

Pada kenyataannya hanya 1 dari 5 orang yang dapat bertahan hidup, setidaknya setahun setelah didiagnosis mengidap kanker hati. Dan hanya 1 dari 20 pengidap yang dapat bertahan hidup setidaknya lima tahun. Hal ini dikarenakan sebanyak 9 dari 10 penderita baru didiagnosis ketika kanker sudah ada pada stadium lanjut. Pada kebanyakan pengidap, kanker telah berkembang terlalu parah untuk disembuhkan.

Maka agar kanker hati dapat terdiagnosis lebih dini, orang-orang yang berisiko tinggi mengidap penyakit tersebut disarankan untuk memeriksakan diri secara rutin dan teratur. Kelompok orang yang berisiko tinggi ini adalah mereka yang positif terinfeksi hepatitis B dan C serta yang pernah mengidap sirosis. Manfaat dari pemeriksaan rutin adalah untuk mendiagnosis kanker hati pada stadium awal, yaitu saat pengobatan untuk kepulihan total lebih memungkinkan.

Pengobatan Kanker Hati

Stadium kanker menentukan jenis penanganan apa yang akan diberikan pada penderita. Jika kanker yang terdiagnosis sudah terlanjur pada kondisi stadium lanjut, perawatan hanya ditujukan untuk mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan pasien selama sisa hidupnya. Tapi lain halnya jika kanker bisa terdiagnosis sebelum berkembang lebih parah, maka kondisi tersebut lebih memungkinkan untuk ditangani.

Setidaknya ada tiga cara dalam mengobati kanker hati. Yang pertama adalah ablasi frekuensi radio, yaitu penggunaan sebuah perangkat listrik yang khusus digunakan untuk menghancurkan sel-sel kanker yang ada di organ hati. Kedua adalah operasi reseksi, yaitu proses pengangkatan bagian-bagian tertentu dari organ hati yang terinfeksi. Yang ketiga adalah transplantasi hati, yaitu mengganti organ hati penderita dengan organ hati dari pendonor.

Mencegah Kanker Hati dengan Hidup Sehat

Risiko kanker hati dapat dikurangi dengan menghindari risiko terinfeksi hepatitis B dan C dengan mendapatkan vaksinasi dan melakukan hubungan seksual secara aman. Tidak kalah penting, terapkan gaya hidup sehat seperti mengatur pola makan dan olahraga teratur agar tubuh terhindar dari obesitas.

Selain itu, hindari konsumsi minuman keras berlebihan dan rokok. Jika Anda ingin menindik atau menato tubuh, pastikan untuk melakukannya di tempat yang memiliki tingkat kesterilan yang terjamin.

Umumnya pengidap kanker hati stadium awal tidak merasakan gejala yang berarti. Gejala baru akan terlihat jelas pada stadium lanjut. Meski demikian beberapa gejala berikut ini dapat diwaspadai sebagai gejala kanker hati:

  • Merasa sangat lelah dan lemas
  • Sakit perut
  • Gatal-gatal
  • Organ hati membengkak
  • Merasa mual dan muntah
  • Ascites atau penumpukan cairan di dalam perut. Perut terlihat membengkak.
  • Tungkai membengkak karena penumpukan cairan.
  • Turunnya berat badan tanpa sebab
  • Kulit dan bagian putih mata yang menguning
  • Urine berwarna gelap
  • Tinja berwarna putih seperti kapur

Gejala-gejala di atas memang bersifat umum dan tidak selalu menjadi penanda kanker hati, tapi tetap lebih baik untuk melakukan pemeriksaan. Cobalah berkonsultasi kepada dokter jika Anda mengalami satu atau beberapa gejala di atas termasuk orang yang pernah mengidap sirosis atau terinfeksi hepatitis.

Penyebab dan bagaimana terjadinya perubahan pada sel-sel dalam kanker hati masih belum bisa dipastikan. Walau demikian, risiko kanker hati sepertinya meningkat seiring dengan kerusakan pada organ hati, seperti penyakit sirosis. Tetapi, tidak semua kasus sirosis akan berujung pada kanker hati.

Kaitan sirosis dengan kanker hati

Kanker hati berkaitan erat dengan sirosis, dimana terjadi pembentukan jaringan parut pada organ hati. Pada keadaan sirosis, jaringan hati yang normal digantikan oleh jaringan parut sehingga hati menjadi mengeras. Akibat sirosis, fungsi hati mulai menurun. Perlu diingat bahwa tidak semua penderita sirosis akan mengalami kanker hati.

Di negara yang masih berkembang seperti Indonesia, sirosis umumnya disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B dan C. Selain itu sirosis juga bisa disebabkan oleh penyakit perlemakan hati non alkoholik, konsumsi alkohol yang berlebihan, dan penyakit autoimun.

Infeksi virus hepatitis B

Hepatitis B adalah virus yang menyebar melalui darah yang terkontaminasi. Selain itu virus ini juga menyebar lewat cairan tubuh lain seperti air liur, air mani, dan cairan vagina. Sebagian pengidap hepatitis B menderita gejala yang sama dengan yang diidap penderita kanker hati dan berisiko mengalami luka parut yang meluas pada organ hati. Luka parut adalah jaringan hati yang terbentuk ketika jaringan yang normal dan lunak menjalani proses luka.

Faktor etnis diduga berpengaruh pada potensi risiko pengidap infeksi hepatitis B berkembang menjadi kanker hati. Orang Asia yang terinfeksi hepatitis B memiliki risiko lebih tinggi di atas rata-rata terkena kanker hati, terlepas dari entah mereka juga menderita sirosis hati atau tidak. Lain halnya dengan penderita hepatitis B beretnis lain, risiko mereka untuk terkena kanker hati hanya naik jika mereka juga menderita sirosis atau penyakit hati yang lain seperti hepatitis C. Kombinasi merokok dan mengidap hepatitis B membuat risiko terkena kanker hati menjadi lebih tinggi.

Infeksi hepatitis C

Dalam jangka panjang, pengidap hepatitis C dapat mengalami peradangan dan kerusakan pada hati. Jika Anda adalah pengidap hepatitis C, jauhkan diri Anda dari rokok. Pengidap hepatitis C yang merokok lebih berisiko terkena kanker hati di kemudian hari.

Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat hepatitis C tertinggi di Asia Tenggara. Salah satu metode penyebaran hepatitis C di Indonesia adalah penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi.

Penyakit perlemakan hati non alkoholik

Penyebab pasti penyakit perlemakan hati non alkoholik (non-alcoholic fatty liver disease) masih belum bisa dijelaskan dengan pasti. Namun penyakit ini kerap diasosiasikan dengan obesitas dan diabetes tipe 2.

Perlemakan hati non-alkoholik merupakan kondisi yang umum dan tidak menyebabkan gejala yang jelas pada kebanyakan penderitanya. Lemak yang menumpuk dalam jaringan hati menyebabkan terjadinya penyakit ini.

Namun pada beberapa orang, penumpukan lemak dalam kadar tinggi dapat menyebabkan peradangan hati. Lama kelamaan peradangan ini akan menimbulkan jaringan parut pada hati.

Akibat buruk minuman keras

Lain dari organ tubuh lainnya, hati merupakan suatu organ dengan ketahanan yang kuat. Hal ini disebabkan karena sel-sel hati mampu beregenerasi setelah mengalami cedera.

Setiap kali Anda mengonsumsi minuman keras, organ yang kuat dan lunak ini akan menyaring zat berbahaya dalam alkohol dari darah Anda. Penyaringan ini membuat beberapa sel hati akan mati.

Sel hati memang mampu beregenerasi membuat sel baru. Namun betapa kuatnya pun organ ini, konsumsi minuman keras yang berlebihan dan dalam jangka panjang dapat merusak hati secara permanen. Jika Anda terus menerus mengonsumsi minuman keras berlebihan selama bertahun-tahun, hati Anda akan kehilangan kemampuan untuk beregenerasi.

Faktor dari Risiko Lain

Kanker hati juga dipicu oleh beberapa faktor lain berikut ini:

Hepatitis autoimun

Kondisi genetik yang jarang terjadi ini muncul saat sistem imun atau ketahanan alami tubuh yang biasanya melawan infeksi justru menyerang sel-sel hati yang sehat. Risiko pengidap hepatitis autoimun terhadap kanker hati lebih kecil dibandingkan penderita sirosis atau gangguan hati lain.

Sirosis bilier primer

Penyebab dasar sirosis bilier primer masih belum diketahui dengan pasti. Penyakit ini menyerang saluran empedu, yaitu jaringan pipa yang berfungsi mengalirkan empedu ke sistem pencernaan. Kerusakan saluran empedu kemudian menimbulkan penumpukan empedu di dalam hati. Penumpukan ini merusak organ tersebut dan menyebabkan sirosis. Sekitar 5% pengidap sirosis saluran empedu stadium lanjut diperkirakan akan menderita kanker hati di masa yang akan datang.

Hemokromatosis

Sekitar sepuluh persen pengidap sirosis akibat hemokromatosis menderita kanker hati. Hemokromatosis adalah kondisi genetis saat tubuh menyimpan terlalu banyak zat besi yang diserap dari makanan. Zat besi yang menumpuk akhirnya mencapai kadar yang meracuni dan merusak organ hati.

Orang-orang yang lebih berisiko mengidap kanker hati perlu menjalani pemeriksaan secara berkala. Sampaikan gejala-gejala yang Anda rasakan dan kapan Anda mulai merasakannya pada dokter. Jika dirasa membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, dokter akan merujuk Anda kepada seorang dokter spesialis.

Sejumlah pemeriksaan penunjang mungkin diperlukan, salah satunya untuk memastikan apakah benar terdapat sel kanker di dalam organ hati serta apakah sel kanker tersebut berasal dari organ tubuh lain (kanker hati sekunder) atau kanker hati primer. Selain itu pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar gumpalan kanker di hati dan seberapa besar area penyebarannya. Hal ini diperlukan untuk mengetahui pada stadium berapa pasien berada. Dengan demikian dokter akan mendapatkan gambaran mengenai kondisi dan fungsi organ hati, pengaruhnya pada kesehatan pasien, serta untuk memutuskan penanganan yang tepat.

Umumnya, Anda akan menjalani pemeriksaan sebagai berikut:

Pemantauan untuk Deteksi Kanker Hati secara Intensif

Jika Anda termasuk kelompok orang yang berisiko tinggi mengidap kanker hati seperti penderita sirosis, disarankan untuk melakukan pemeriksaan berkala setiap enam bulan sekali.

Pemeriksaan biasanya melalui dua tahap, yaitu tes darah dan ultrasonografi (USG). Tes darah berfungsi untuk mendeteksi ada atau tidak adanya protein di dalam darah yang disebut alfa fitoprotein (AFP). Lebih dari setengah penderita kanker hati primer memproduksi protein ini dalam darah mereka. Selain itu, ultrasonografi atau USG dilakukan untuk mengetahui kelainan pada organ hati.

Pemeriksaan Penunjang Lebih Lanjut

Selain USG dan deteksi AFP melalui tes darah, dokter dapat menggunakan berbagai pemeriksaan penunjang lainnya untuk diagnosis kanker hati, yaitu:

  • MRI (Magnetic Resonance Imaging). Pengambilan tampilan organ hati Anda menggunakan medan magnet dan gelombang radio.
  • CT scan. Organ hati Anda akan difoto dengan sinar X khusus.
  • Biopsi. Contoh jaringan hati Anda akan diambil dengan sebuah jarum. Contoh ini kemudian akan diuji di laboratorium untuk mendeteksi sel-sel bersifat kanker.
  • Laparoskopi. Dijalankan dengan membuat sebuah goresan kecil pada perut sehingga sebuah kamera fleksibel bernama endoskopi dapat dimasukkan untuk memeriksa hati Anda. Tes dijalankan dengan pembiusan total.

Meski demikian, Anda mungkin tidak perlu menggunakan semua jenis tes untuk memastikan diagnosis tersebut.

Tahap-tahap Perkembangan Kanker Hati

Sistem peringkat Barcelona Clinic Liver Cancer (BCLC) membagi lima tahap perkembangan kanker hati sebagai berikut:

Stadium o: pasien masih dalam kondisi sehat serta hatinya berfungsi dengan baik, namun terdapat tumor berdiameter kurang dari 2 cm.

Stadium A: pasien dalam kondisi sehat dan hatinya berfungsi normal. Tapi telah tumbuh sebuah tumor berdiameter kurang dari 5 cm, atau terdapat tiga tumor atau lebih dengan diameter kurang dari 3 cm.

Stadium B: terdapat beberapa tumor dalam hati, namun belum berpengaruh pada fungsi hatinya.

Stadium C: kanker telah mulai menyebar ke dalam pembuluh darah, ke dalam nodus getah bening sekitarnya atau bagian tubuh yang lain. Tubuh sang pengidap tidak begitu sehat dan fungsi hatinya tidak bekerja dengan begitu baik.

Stadium D: pengidap mulai menunjukkan gejala tahap akhir penyakit hati, seperti penumpukan cairan dalam perut. Hati telah kehilangan sebagian besar kemampuan fungsionalnya.

Pengidap kanker hati akan ditangani dengan jenis pengobatan yang sesuai dengan stadium kanker masing-masing. Terdapat tiga cara utama yang dapat dilakukan untuk menangani kanker hati:

  • Reseksi (operasi): mengambil bagian organ hati yang terkena kanker.
  • Transplantasi hati: operasi untuk mengganti organ dengan hati yang baru.
  • Radiofrequency ablation/RFA (pengangkatan dengan frekuensi radio): menggunakan panas untuk membunuh sel-sel bersifat kanker.

Pasien dapat sembuh total jika saat didiagnosis kanker, kanker yang dia derita berada pada stadium A. Namun penyembuhan total tidak dapat dilakukan jika kanker dideteksi berada pada stadium B atau C. Sedangkan pada stadium D, perawatan hanya akan berfokus pada meringankan rasa sakit dan ketidaknyamanan.

Pengangkatan kanker hati melalui pembedahan (operasi)

Bedah reseksi dilakukan dengan mengangkat sel-sel bersifat kanker melalui operasi. Pada umumnya dibutuhkan waktu 3-4 bulan untuk memulihkan organ Anda setelah operasi. Namun Anda sudah diizinkan meninggalkan rumah sakit dalam waktu 6-12 hari setelah operasi.

Namun seperti semua prosedur medis, bedah reseksi juga memiliki risiko. Pada sebagian pasien, operasi reseksi hati menimbulkan komplikasi seperti infeksi, pendarahan, dan trombosis vena dalam. Diperkirakan dari 30 orang yang menjalani operasi reseksi hati, terdapat 1 orang yang meninggal setelah atau saat operasi. Ini dikarenakan reseksi hati terkadang dapat menyebabkan komplikasi mematikan seperti serangan jantung.

Transplantasi dengan donor hati

Transplantasi dapat dilakukan menggunakan organ dari orang yang sudah meninggal maupun pendonor yang masih hidup. Masing-masing cara memiliki kelebihan dan kekurangan.

Transplantasi dari orang yang meninggal akan menghadapi kondisi sebagai berikut:

  • Dapat memakan waktu cukup lama untuk menunggu donor yang cocok.
  • Hasilnya lebih baik dibanding dari pendonor yang masih hidup.

Sedangkan transplantasi dari pendonor yang masih hidup akan dihadapi pada kondisi berikut:

  • Tidak perlu menunggu terlalu lama.
  • Tingkat komplikasi prosedur yang lebih tinggi.
  • Hasilnya cenderung tidak sebaik jika menggunakan hati dari seseorang yang sudah meninggal.

Selain itu, transplantasi hati hanya tepat dilakukan untuk kasus tertentu. Prosedur ini biasanya cocok jika tumor berdiameter kurang dari 5 cm. Namun tidak akan bermanfaat jika Anda mengidap beberapa tumor atau satu tumor yang berdiameter lebih dari 5 cm. Transplantasi hati dapat direkomendasikan untuk pengidap dengan tiga atau beberapa tumor dengan diameter kurang dari 3 cm. Prosedur ini juga direkomendasikan pada pengidap tumor yang sangat tidak responsif terhadap pengobatan hingga tidak menunjukkan tanda-tanda perkembangan tumor hingga enam bulan kemudian.

Membunuh Sel Kanker dengan Frekuensi Radio

RFA atau Radiofrequency Ablation membunuh sel-sel kanker dan menyusutkan ukuran tumor dengan proses pemanasan yang menggunakan aliran listrik.

Ablasi/pengangkatan dengan frekuensi radio dapat direkomendasikan sebagai langkah alternatif selain operasi untuk menangani kasus dengan satu atau beberapa tumor berdiameter kurang dari 5 cm.

Setelah menjalani prosedur, Anda dapat merasa tidak nyaman dan mengalami gejala menyerupai flu, seperti menggigil atau sakit otot selama beberapa hari. Walau jarang, komplikasi yang mungkin terjadi adalah pendarahan, infeksi, luka bakar kecil, atau kerusakan di sekitar organ.

Pengobatan Kemoterapi

Jenis kemoterapi yang direkomendasikan untuk menangani kanker hati stadium B dan C disebut kemoembolisasi (transcatheter arterial chemoembolization/TACE). Perawatan ini tidak menyembuhkan, melainkan hanya meredakan rasa sakit dan memperpanjang usia harapan hidup. Namun prosedur ini tidak direkomendasikan untuk menangani kanker hati Stadium D karena dapat memperburuk kondisi.

Kemoembolisasi dapat dijalankan saat pengidap sedang menunggu organ untuk transplantasi hati. Prosedur ini membantu mencegah penyebaran kanker ke sekitar hati saat penderita menanti hati cangkok.Kemoembolisasi dijalani dengan kombinasi dua teknik:

Membantu memperlambat pertumbuhan tumor dengan menyuntikkan gel atau butiran plastik kecil ke dalam pembuluh darah yang mengaliri tumor

Obat-obatan kemoterapi yang disuntikkan langsung ke hati Anda. Proses ini menghindarkan pasien dari efek samping yang sering dikaitkan dengan ‘kemoterapi tradisional’ seperti rambut rontok dan kelelahan.

Sekitar sebulan setelah menjalani kemoembolisasi, respons tubuh terhadapnya akan dievaluasi dengan CT scan.

Sekitar 30% pasien yang menjalani kemoembolisasi mengalami efek samping yang dikenal sebagai sindrom pasca-kemoembolisasi dengan gejala mual, muntah, sakit pada perut, demam, dan kehilangan nafsu makan. Efek samping ini dapat hilang 1-2 minggu setelahnya.

Selain itu, ada juga beberapa komplikasi kemoembolisasi yang lebih jarang terjadi:

  • Peradangan pada hati.
  • Memburuknya fungsi hati. Biasanya bersifat sementara.
  • Pembengkakan perut akibat penumpukan cairan.
  • Kerusakan pada saluran atau kantong empedu.

Pilihan suntikan alkohol

Suntikan alkohol bertujuan membuat sel-sel kanker mengalami dehidrasi dan menghentikan aliran darah ke tumor. Pengobatan ini hanya dapat dilakukan jika Anda hanya mengidap beberapa tumor kecil.

Sorafenib

Sorafenib adalah tablet yang digunakan untuk mengobati kanker hati pada kasus tertentu. Tidak semua kasus kanker hati dapat diobati dengan sorafenib. Pada kasus kanker hati stadium lanjut, penggunaan sorafenib mungkin tidak disarankan karena manfaatnya yang terbatas. Tim medis akan memeriksa apakah obat ini cenderung mendatangkan manfaat atau kerugian, dan tepat atau tidak jika digunakan kepada Anda.

Pembekuan Sel Kanker (Cryoablation)

Proses penghancuran sel juga bisa dilakukan dengan menggunakan tabung berisi nitrogen cair yang akan membekukan jaringan kanker terlebih dahulu sebelum dimusnahkan. Prosedur ini dilakukan dengan bantuan gambar yang dihasilkan oleh ultrasound sebagai panduan saat memonitor dan menghancurkan sel kanker. Alat yang digunakan untuk prosedur pengobatan ini adalah cryoprobe.

Pertumbuhan kanker hati dapat dicegah. Kunci utamanya adalah dengan gaya hidup sehat dan disiplin dalam menjaga kesehatan. Langkah-langkah pencegahan kanker hati meliputi:

  • Menghindari diri dari faktor-faktor risiko kanker hati seperti hepatitis C dan hepatitis B.
  • Pola makan sehat.
  • Menghindari diri dari obesitas dengan olahraga teratur.
  • Membatasi konsumsi minuman keras.
  • Lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin terutama deteksi dini atau skrining kanker hati. Khususnya pada penderita hepatitis B atau C, sirosis hati, primary biliary sirosis, dan orang yang memiliki sejarah kanker hati atau penyakit hati lainnya dalam keluarga.

Vaksin hepatitis B

Anda dapat menghindarkan risiko hepatitis B dengan vaksin. Di Indonesia, vaksin hepatitis B ini telah menjadi bagian imunisasi yang wajib diambil saat bayi lahir dan pada usia dua, empat, dan enam bulan. Walau demikian, orang dewasa pada umur berapa pun boleh menerima vaksin ini.

Vaksin hepatitis B juga direkomendasikan untuk kelompok orang berisiko tinggi sebagai berikut:

  • Pengidap gagal ginjal kronis dan penyakit hati kronis.
  • Orang yang sering berganti pasangan seksual.
  • Petugas medis dan pasien pengguna obat-obatan suntik.
  • Keluarga dekat dari pengidap hepatitis B kronis.
  • Orang yang menerima donor darah secara berkala.
  • Narapidana dan petugas lembaga pemasyarakatan.

Mengurangi risiko penularan hepatitis C

Virus hepatitis C seringnya tertular melalui darah orang yang terinfeksi ke yang lain. Hal ini menyebabkan umumnya hepatitis C terjadi di antara para pemakai narkotika, terutama mereka yang berbagi alat pemakaian obat seperti jarum dengan sembarangan. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko:

  • Menghindari penggunaan barang pribadi bersama-sama. Hindari pertukaran benda yang terkontaminasi darah orang lain seperti anting-anting, alat cukur atau sikat gigi.
  • Disarankan untuk menggunakan alat kontrasepsi kondom saat berhubungan seks, karena hepatitis C juga bisa menular melalui cairan tubuh lainnya seperti air mani.

Akan lebih baik jika Anda lebih berwaspada dengan mengasumsikan bahwa siapa pun mungkin telah terinfeksi hepatitis C. Banyak penderita hepatitis C sendiri tidak menyadari bahwa dirinya terjangkit penyakit tersebut, sehingga mereka tidak menjaga diri. Ini dapat disebabkan karena hepatitis C dapat muncul tanpa diiringi gejala berarti dalam bertahun-tahun.

Batasi atau hindari konsumsi minuman keras

Jika Anda mengonsumsi minuman keras, sebaiknya jangan melebihi batas konsumsi per hari. Konsumsi alkohol adalah 3-4 unit sehari untuk pria dan 2-3 unit sehari untuk wanita. Satu unit alkohol kira-kira setara dengan 284 ml bir ringan dengan kadar normal-kuat, setengah gelas anggur (87.5 ml), atau 25 ml minuman mengandung etanol tinggi yang dihasilkan dari fermentasi (spirit). Meski begitu, keputusan untuk berhenti mengonsumsi minuman keras adalah langkah yang disarankan paling efektif dalam mengurangi risiko berkembangnya kanker hati.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT