Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Kanker Esofagus

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Kanker esofagus merupakan penyakit yang terjadi akibat pertumbuhan abnormal jaringan epitel pada kerongkongan (esofagus). Kanker esofagus dapat terjadi di bagian kerongkongan manapun, namun kondisi ini umumnya terjadi pada bagian bawah.

Terdapat dua jenis kanker esofagus, yaitu kanker sel skuamosa (squamous cell carcinoma) dan adenokarsinoma. Kanker sel skuamosa terjadi pada sel berbentuk pipih yang membentuk bagian permukaan esofagus, sedangkan adenokarsinoma terjadi pada sel yang menghasilkan mukus untuk melumasi makanan yang melewati esofagus.

Kanker sel skuamosa umumnya terjadi pada bagian atas esofagus sedangkan adenokarsinoma umumnya terjadi pada bagian bawah esofagus, terutama pada bagian dekat katup (sphincter) yang membatasi lambung dan esofagus.

Gejala Kanker Esofagus

Gejala kanker esofagus dapat diamati sebagai berikut:

  • Sulit menelan (disfagia). Gejala ini merupakan gejala pertama yang disebabkan oleh tumor pada esofagus. Tumor yang muncul menyebabkan penyempitan ruang esofagus sehingga makanan sulit ditelan. Pada kondisi yang sudah parah, penderita dapat mengalami kesulitan minum.
  • Penurunan berat badan tanpa melakukan diet dan kehilangan nafsu makan.
  • Nyeri dada yang terasa seperti tertekan atau terbakar.
  • Gangguan pencernaan.
  • Batuk dan suara parau.
  • Muntah atau muntah darah pada kondisi yang lebih parah.

Pada tahap awal, kanker esofagus biasanya tidak akan menunjukkan gejala apa pun, sehingga sulit untuk terdeteksi. Namun apabila Anda memiliki faktor risiko kuat untuk menderita kanker esofagus, seperti pernah terdiagnosis menderita penyakit esofagus Barrett, periksakan diri Anda ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan sedini mungkin. Selain itu, segera periksakan diri ke dokter apabila Anda mengalami satu atau lebih gejala di atas

Penyebab Kanker Esofagus

Penyebab kanker esofagus belum dapat dipastikan. Namun berdasarkan studi yang dilakukan, diduga penyebab utama terjadinya kanker esofagus adalah mutasi pada DNA jaringan epitel esofagus. Mutasi ini menyebabkan regenerasi sel epitel menjadi abnormal dan tidak terkontrol. Pertumbuhan sel epitel esofagus yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terbentuknya tumor pada esofagus dan menyebar ke jaringan lain. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker esofagus adalah sebagai berikut:

  • Minum alkohol. Kebiasaan ini dapat menyebabkan iritasi dan inflamasi pada jaringan epitel esofagus. Iritasi dan inflamasi pada jaringan epitel dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker esofagus.
  • Merokok. Kandungan toksin dan senyawa berbahaya pada rokok dapat menyebabkan iritasi pada jaringan epitel esofagus. Semakin lama kebiasaan merokok dijalani oleh seseorang, semakin tinggi risiko kanker esofagus pada orang tersebut.
  • Obesitas. Risiko kanker esofagus pada orang yang mengalami obesitas lebih besar dibanding orang normal dikarenakan penderita obesitas memiliki risiko terkena penyakit refluks gastro esofagus (GERD) dan esofagus Barrett lebih tinggi. Baik GERD maupun esofagus Barrett dapat meningkatkan risiko kanker esofagus.
  • Diet. Kurang memakan buah-buahan dan sayuran dapat meningkatkan risiko mengalami kanker esofagus.
  • Makanan atau minuman panas. Sering mengonsumsi makanan atau minuman panas dapat menyebabkan inflamasi dan iritasi pada esofagus, sehingga meningkatkan risiko kanker esofagus.
  • Terapi radiasi. Seseorang yang sedang menjalani terapi radiasi pada bagian dada atau abdomen bagian atas berisiko terkena kanker esofagus.
  • Refluks empedu.

Selain faktor-faktor risiko tersebut, terdapat beberapa penyakit yang berkaitan dengan kanker esofagus. Penyakit-penyakit di bawah ini dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker esofagus.

  • Penyakit refluks gastro esofagus (gastro esophagial reflux disease) atau GERD. Penyakit GERD merupakan kondisi pelemahan otot pada bagian atas perut yang menyebabkan asam lambung naik ke bagian esofagus. Asam lambung dapat menyebabkan iritasi pada dinding epitel esofagus sehingga meningkatkan risiko terjadinya kanker. Akan tetapi perlu jadi catatan bahwa tidak semua penderita GERD mengalami kanker esofagus.
  • Esofagus Barrett. Penyakit ini terjadi ketika bagian bawah esofagus mengalami perubahan struktur jaringan epitel akibat peradangan kronis yang disebabkan oleh refluks asam lambung. Perubahan struktur jaringan epitel dapat meningkatkan risiko kanker esofagus. Sekitar 1 dari 100 orang yang mengalami esofagus Barrett akan mengalami adenokarsinoma.
  • Achalasia. Suatu kondisi yang menyebabkan pelebaran bagian bawah esofagus
  • Sindrom Peterson-Brown-Kelly. Suatu sindrom yang langka yang disebabkan kekurangan zat besi dan perubahan struktur mulut serta esofagus.
  • Tylosis, suatu kondisi penyakit kulit yang ditimbulkan secara genetis

Diagnosis Kanker Esofagus

Dokter akan menegakkan diagnosis kanker esofagus melalui pertanyaan seputar riwayat gejala yang dialami pasien, serta serangkaian pemeriksaan tambahan seperti:

  • Endoskopi. Diagnosis via endoskopi dilakukan dengan cara melakukan pengamatan kondisi esofagus menggunakan tabung tipis lentur (scope) dengan kamera di bagian ujungnya. Pengamatan visual dilakukan untuk melihat adanya kanker atau iritasi pada esofagus.
  • Biopsi. Pengambilan sampel jaringan yang dilakukan bersamaan dengan prosedur endoskopi. Jaringan yang diambil ini kemudian dikirim ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut.
  • Gastroskopi. Jika pasien positif didiagnosis menderita kanker esofagus, dokter akan melakukan perkiraan derajat penyebaran kanker. Pengukuran ini dilakukan dengan menggunakan gastroskopi untuk melihat penyebaran kanker pada dinding esofagus. Diagnosis dapat dilakukan dengan metode lain seperti ultrasonografi, CT scan, atau PET scan.

Dari hasil pemeriksaan di atas, dapat ditentukan stadium kanker yang dialami oleh penderita, yakni:

  • Stadium in situ. Pada stadium ini, sel-sel kanker telah menempel di permukaan esofagus namun belum menempus lapisan dalam esofagus.
  • Stadium 1. Pada stadium ini, kanker telah menembus lapisan pertama esofagus, dan dapat menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya.
  • Stadium 2. Pada stadium ini, sel kanker sudah menyebar pada lapisan esofagus yang lebih dalam dan mungkin menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya.
  • Stadium 3. Pada stadium ini, sel kanker sudah menyebar pada lapisan esofagus paling dalam dan juga ke organ lain serta kelenjar getah bening sekitarnya.
  • Stadium 4. Pada stadium ini, sel kanker sudah menyebar ke berbagai organ di dalam tubuh (metastasis).

Komplikasi Kanker Esofagus

Pada kasus tertentu, kanker esofagus dapat menimbulkan komplikasi pada pasien. Beberapa komplikasi yang dapat muncul dari kanker esofagus antara lain:

  • Gangguan/sumbatan Kanker pada esofagus dapat menyebabkan diameter esofagus mengecil sehingga makanan dan minuman akan sulit melewati esofagus atau bahkan terhalang sama sekali.
  • Nyeri. Kanker esofagus yang sudah mencapai stadium lanjut dapat menyebabkan nyeri pada pasien.
  • Perdarahan esofagus. Kanker esofagus dapat menyebabkan perdarahan pada esofagus. Perdarahan biasanya muncul secara bertahap akan tetapi pada beberapa kasus, perdarahan dapat muncul secara tiba-tiba.

Pengobatan Kanker Esofagus

Pengobatan kanker esofagus akan disesuaikan dengan diagnosis dan stadium kanker yang diderita. Jenis-jenis pengobatan untuk kanker esofagus antara lain adalah:

  • Pembedahan. Dilakukan untuk menghilangkan jaringan kanker di esofagus dan dapat dilakukan dengan atau tanpa kombinasi pengobatan lain. Jenis pembedahan dibagi sebagai berikut:
    • Pembedahan untuk menghilangkan tumor kecil. Pembedahan jenis ini dilakukan untuk tumor yang sangat kecil dan hanya terdapat pada bagian permukaan dinding esofagus. Pembedahan jenis ini dilakukan pada kanker stadium awal dengan memotong bagian kanker beserta jaringan esofagus sehat pada sekeliling jaringan kanker tersebut
    • Pembedahan untuk memotong sebagian esofagus (esofagektomi). Pada esofagektomi, pembedahan dilakukan dengan memotong bagian kerongkongan yang mengandung jaringan kanker beserta kelenjar getah bening di sekitar jaringan kanker tersebut. Lambung dan sisa esofagus disambung kembali dengan menarik esofagus bagian bawah ke pangkal pemotongan.
    • Pembedahan untuk memotong sebagian esofagus dan bagian atas lambung (esofagogastrektomi). Pada pembedahan jenis ini, esofagus yang mengandung jaringan kanker, kelenjar getah bening di dekatnya, serta bagian atas lambung dipotong. Sisa dari lambung dan esofagus kemudian disambung kembali. Jika diperlukan, sebagian kecil usus besar dipotong untuk menyambung esofagus dan lambung yang masih sehat.

Pembedahan kanker esofagus memiliki beberapa risiko komplikasi serius yang perlu dipertimbangkan pasien seperti infeksi, perdarahan, dan kebocoran pada lokasi sambungan antara esofagus dan lambung. Dokter bedah yang bersangkutan akan melakukan penilaian kondisi pasien terlebih dahulu sebelum melakukan pembedahan.

  • EMR. Selain melalui esofagektomi, terdapat metode pemotongan jaringan yang dapat dilakukan untuk mengobati kanker esofagus yaitu mukus reseksi endoskopi atau EMR (endoscopic mucosal resection). Metode ini dilakukan dengan memotong sel kanker pada esofagus melalui endoskopi yang dimasukkan lewat mulut sehingga tidak perlu dilakukan pembedahan.
  • Kemoterapi.Untuk mengobati kanker dengan menggunakan senyawa kimia tertentu untuk membunuh sel kanker. Kemoterapi dapat dilakukan sebelum atau sesudah pembedahan atau dikombinasikan dengan terapi radiasi. Pada pasien dengan kanker stadium lanjut, kemoterapi dapat digunakan untuk menghilangkan gejala kanker. Efek samping yang umumnya muncul dari kemoterapiantara lain:
    • Tidak enak badan
    • Kehilangan nafsu makan
    • Penurunan berat badan
    • Diare
    • Lelah
    • Meningkatkan risiko infeksi
    • Mudah mengalami perdarahan atau memar
  • Terapi radiasiuntuk mengobati kanker esofagus menggunakan sinar berenergi tinggi. Radiasi yang digunakan adalah radiasi eksternal atau radiasi yang dilakukan di dalam tubuh dekat jaringan kanker (brakiterapi). Radiasi merupakan pengobatan kanker esofagus yang paling banyak digunakan, terutama pada kanker stadium lanjut yang dapat menghalangi makanan melewati esofagus. Efek samping dari terapi radiasi antara lain :
    • Lelah
    • Sakit atau mengalami kesulitan pada saat menelan.
    • Kerongkongan kering.
    • Tidak enak badan.
    • Kulit menjadi kemerahan.
    • Kerontokan rambut di area badan yang terkena terapi radiasi.

Radiasi umumnya dikombinasikan dengan kemoterapi sebelum atau tanpa pembedahan. Akan tetapi kombinasi dari radiasi dan kemoterapi meningkatkan efek samping dari keduanya bagi pasien.

  • Pengobatan komplikasi kanker esofagusdapat dilakukan melalui metode sebagai berikut:
    • Menghilangkan sumbatan esofagus. Jika kanker pada pasien menyempitkan diameter esofagus, dokter bedah dapat menggunakan tabung logam (stent) untuk membuka esofagus pada bagian menyempit, sehingga makanan tetap dapat melewati esofagus.
    • Tabung/selang makanan. Tabung atau selang makanan dipasang pada pasien untuk memasukan makanan langsung ke lambung atau usus tanpa melewati esofagus. Metode ini dapat digunakan untuk memberikan waktu bagi esofagus agar dapat pulih pasca terapi kanker.

Pencegahan Kanker Esofagus

Agar kanker esofagus bisa dicegah serta risiko munculnya kanker tersebut dapat diturunkan, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Berhenti merokok. Merokok dapat meningkatkan risiko kanker esofagus dengan kandungan senyawa toksin di dalam tembakau.
  • Mengurangi dan menghentikan konsumsi alkohol. Bagi peminum alkohol, hendaknya mengurangi jumlah alkohol yang dikonsumsi per hari. Sedangkan bagi yang tidak meminum, sebaiknya jangan mulai meminum alkohol.
  • Meningkatkan konsumsi buah dan sayur.
  • Menjaga berat badan agar tetap seimbang.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT