Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Kanker

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Kanker adalah penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel secara tidak terkendali, yang memiliki kemampuan untuk menyusup dan merusak sel-sel sehat di dalam tubuh.

Setiap sel tubuh memiliki pusat pengendali yang bernama nukleus. Nukleus terdiri serangkaian rantai DNA yang berfungsi sebagai pengatur sifat dan cara kerja masing-masing sel, termasuk untuk membelah diri.

Normalnya, sel akan membelah diri sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan dengan sifat genetik pada sel yang normal. Namun pada saat terjadi mutasi pada sel, informasi genetik sel dalam rantai DNA mengalami kerusakan, tercetak ganda atau bahkan hilang, pada saat proses pembelahan sel. Pada kanker, terjadi mutasi di mana sel-sel akan membelah diri terlalu banyak sehingga akan membentuk jaringan tumor.

Berdasarkan jenis sel yang terserang, kanker dapat dibagi menjadi 5 kelompok yaitu:

  • Karsinoma, kanker yang berasal dari jaringan kulit atau jaringan lapisan luar organ dalam. Karsinoma dibagi menjadi beberapa subtipe antara lain adenokarsinoma, kanker sel basal, kanker sel skuamosa, dan kanker sel transisi.
  • Sarkoma, kanker yang berasal dari jaringan ikat seperti jaringan tulang, jaringan tulang rawan, jaringan lemak, jaringan otot, dan jaringan pembuluh darah.
  • Leukemia, kanker yang berasal dari jaringan pembentuk darah seperti sumsum tulang. Kanker jenis ini menyebabkan produksi sel darah secara berlebihan yang akan kemudian dilepaskan ke aliran darah.
  • Limfoma dan Mieloma, kanker yang berasal dari sel-sel pada sistem kekebalan tubuh.
  • Kanker di otak dan sumsum tulang belakang, yaitu kanker yang berasal dari jaringan sistem saraf pusat.

Selain pegelompokan tersebut, kanker juga dibagi sesuai dengan organ tempat asal jaringan kanker berkembang seperti misalnya kanker paru-paru atau kanker payudara.

Penyebab Kanker

Penyebab utama kanker adalah mutasi DNA pada sel, sehingga sel memecah diri dengan kecepatan melebihi normal. Akhirnya, terjadi penumpukan sel-sel baru yang tidak dibutuhkan oleh tubuh. Sel baru ini akan terus tumbuh menjadi dewasa untuk kemudian membelah diri lagi, dan begitu seterusnya.

Selain itu, mutasi juga terjadi pada gen yang bertugas untuk memperbaiki kerusakan DNA. Normalnya, gen ini berfungsi untuk melihat kelainan apa saja yang terjadi di DNA sel, kemudian memperbaikinya. Karena gen tersebut mengalami mutasi, gen ini tidak mampu memperbaiki kelainan-kelainan yang ada dalam sel hingga akhirnya sel-sel tersebut menjadi bersifat ganas.

Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya mutasi pada sel normal, dan bisa berasal dari dalam maupun luar sel.

Mutasi yang berasal dari dalam sel umumnya didapat secara genetis dari orang tua. Sedangkan faktor penyebab dari luar sel, yang paling umum adalah paparan oleh zat-zat yang dapat memicu terjadinya mutasi (mutagen). Beberapa zat yang termasuk ke dalam golongan mutagen antara lain:

  • Rokok
  • Radiasi
  • Virus
  • Bahan kimia karsinogenik
  • Hormon

Mutasi karena faktor eksternal dapat juga disebaban oleh faktor lain seperti obesitas, inflamasi kronis dan kurangnya aktivitas fisik. Secara umum, faktor-faktor eksternal lebih berisiko untuk menyebabkan sel mengalami mutasi dibandingkan dengan faktor internal.

Faktor risiko yang dapat meningkatkan peluang seseorang terkena kanker adalah sebagai berikut:

  • Usia. Perkembangan kanker pada seseorang dapat terjadi dalam jangka waktu yang sangat lama, karena itu kebanyakan penderita kanker adalah para lansia di atas umur 65 tahun. Meskipun begitu, kanker juga dapat dialami oleh siapapun tanpa memandang usia.
  • Riwayat keluarga. Mutasi genetik dapat diwariskan dari orangtua. Jika seseorang memiliki anggota keluarga yang menjadi penderita kanker, ada kemungkinan orang tersebut memiliki risiko terkena kondisi yang sama. Dianjurkan bagi orang yang memiliki riwayat kanker dalam keluarga untuk menjalani tes genetik guna memeriksa adanya mutasi genetik turunan pada orang tersebut.
  • Kondisi kesehatan kronis. Beberapa penyakit kronis dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker. Seperti misalnya kolitis ulseratif dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker usus besar pada seseorang.
  • Lingkungan. Faktor lingkungan dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker pada seseorang. Contohnya adalah senyawa kimia berbahaya seperti asbestos atau benzena. Merokok juga meningkatkan risiko terjadinya kanker, terutama kanker paru-paru.
  • Infeksi. Beberapa virus dapat menjadi penyebab atau peningkat risiko terjadinya kanker. Contohnya adalah virus hepatitis B dan C yang dapat menyebabkan terjadinya kanker hati. Selain itu, infeksi virus HPV (human papilloma virus) pada wanita dapat menyebabkan terjadinya kanker serviks.
  • Gangguan sistem imun. Penderita gangguan sistem imun atau orang dengan sistem imun yang lemah lebih mudah terkena kanker dibanding orang sehat. Gangguan sistem imun dapat berasal dari infeksi seperti HIV/AIDS atau obat-obatan yang menekan daya tahan tubuh

Gejala Kanker

Gejala yang timbul akibat kanker sangat bervariasi bergantung kepada jenis kanker yang dialami serta organ tubuh yang terena kanker. Beberapa gejala yang umum yang dialami oleh penderita kanker adalah:

  • Kelelahan dan merasa lemas.
  • Perubahan berat badan tanpa dikehendaki, dapat berupa penurunan atau kenaikan berat badan.
  • Munculnya benjolan atau penebalan yang terasa di bawah kulit.
  • Perubahan pada kulit, seperti menguning, menggelap, atau memerah. Dapat juga berupa kelainan atau luka yang nyeri dan tidak kunjung sembuh.
  • Demam dan keringat malam dalam jangka waktu lama.
  • Perdarahan dan memar yang tidak jelas sebabnya.

Jika mengalami gejala-gejala tersebut, terutama gejala-gejala yang menetap dalam jangka waktu lama, dianjurkan untuk segera berkonsultasi ke doker. Faktor risiko dan riwayat kanker dalam keluarga juga perlu dikonsultasikan agar dapat dilakukan pemeriksaan skrining rutin, sehingga kanker dapat terdiagnosa sejak dini.

Diagnosis dan Pembagian Kanker

Semakin dini kanker terdiagnosis, maka semakin besar pula peluang sembuh bagi penderitanya. Karena itu sangat dianjurkan kepada orang yang memiliki risiko terkena kanker untuk berkonsultasi dengan dokter terkait faktor risiko yang dimiliki. Beberapa langkah diagnosis kanker yang umumnya dilakukan dokter adalah:

  • Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk menunjukkan tanda-tanda kanker bisa berupa pemeriksaan benjolan di bawah kulit, perubahan warna kulit, dan pembengkakan organ tubuh.
  • Tes laboratorium. Pemeriksaan darah dan urine dapat dilakukan untuk mengecek kondisi tubuh yang abnormal. Contohnya adalah pada kasus leukemia, dimana dokter dapat melakukan tes laboratorium berupa penghitungan jumlah sel darah lengkap untuk mendiagnosis jumlah sel leukosit yang meningkat secara tidak normal.
  • Tes pencitraan (imaging test). Tes ini berfungsi untuk memetakan organ dalam dan tulang tanpa melakukan pembedahan. Tes pencitraan yang dilakukan bisa berupa CT scan, scan tulang, MRI, PET scan, pemeriksaan ultrsound, foto Rontgen, dan lain-lain.
  • Biopsi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengambil sampel jaringan yang diduga mengalami kanker untuk diamati menggunakan mikroskop di laboratorium. Melalui mikroskop, struktur dari sampel jaringan tersebut dapat diamati secara lebih jelas. Sel-sel normal biasanya terlihat sebagai sel yang ukurannya seragam dan tersusun dengan rapi. Sedangkan pada sel-sel kanker, ukuran akan terlihat berbeda dan susunannya tidak rapi. Biopsi merupakan pemeriksaan yang paling akurat dalam menentukan apakah seseorang terkena kanker atau tidak.

Setelah dilakukan tes-tes tersebut dan pasien dipastikan menderita kanker, dokter akan menentukan tingkatan (stadium) kanker. Secara umum, pembagian stadium kanker adalah sebagai berikut:

  • Stadium 1. Menandakan bahwa kanker berukuran kecil dan masih tetap ada di dalam organ tempat kanker bermula.
  • Stadium 2. Menandakan bahwa kanker belum menyebar ke jaringan di sekitarnya, namun ukuran kanker sudah lebih besar dari stadium 1. Pada beberapa jenis kanker, stadium 2 berarti sel kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening yang paling dekat dengan organ kanker.
  • Stadium 3. Ukuran kanker sudah lebih besar dari stadium 2 dan sel kanker sudah mulai menyebar ke jaringan atau organ lain, serta ke kelenjar getah bening di sekitar kanker.
  • Stadium 4. Menandakan bahwa kanker sudah menyebar ke organ atau jaringan lain.

Selain sistem tingkatan stadium, dikenal pula dengan sistem tingkatan TNM yang rinciannya adalah sebagai berikut:

  • T (Tumor). Menggambarkan ukuran kanker dan penyebaran kanker ke jaringan sekitar. Untuk menggambarkan ukuran kanker digunakan nomor 1, 2, 3, 4, dengan nomor 1 yang menandakan ukuran terkecil dan 4 yang paling besar.
  • N (Nodus). Menggambarkan penyebaran kanker ke kelenjar getah bening (nodus limfa) di sekitar kanker. Untuk menggambarkan penyebaran kanker digunakan nomor 0, 1, 2, 3 dengan 0 menandakan kanker belum menyebar ke nodus limfa dan 3 menandakan sudah banyak nodus limfa yang terkena kanker.
  • M (Metastasis). Menggambarkan penyebaran kanker ke organ lain. Angka 0 menandakan kanker belum menyebar ke organ lain dan angka 1 menandakan kanker sudah menyebar ke organ lain.

Dalam kasus kanker yang terdiagnosis di stadium awal, dapat ditemukan suatu kondisi berupa kumpulan sel yang abnormal di dalam tubuh. Kumpulan sel tesebut dapat berkembang menjadi kanker di waktu yang akan datang, namun terlalu kecil untuk membentuk suatu tumor. Kondisi ini dinamakan displasia atau karsinoma in situyang dalam pembagian tingkatan kanker disebut kanker stadium 0.

Beberapa dokter menyebut kondisi ini sebagai kanker non-invasif. Karsinoma in situ umumnya sulit terdeteksi dikarenakan ukurannya yang sangat kecil, kecuali di tempat yang mudah terlihat (misalnya di kulit). Beberapa jenis pemeriksaan skrining juga dapat mendeteksi karsinoma in situ pada payudara atau leher rahim.

Penentuan tingkat keganasan dan penyebaran kanker merupakan bagian yang sangat penting di dalam diagnosis kanker karena akan menentukan jenis pengobatan yang paling efektif untuk pasien.

Pengobatan Kanker

Berbagai jenis pengobatan kanker sudah ditemukan dan digunakan untuk pasien penderita kanker. Jenis pengobatan yang akan diterapkan dokter tergantung kepada beberapa hal, seperti jenis kanker, stadium kanker, letak kanker, kondisi kesehatan pasien secara umum, serta permintaan pasien. Dokter akan memberikan pertimbangan terkait kelebihan dan risiko dari masing-masing pengobatan.

Tujuan utama pengobatan kanker adalah sebagai berikut:

  • Penyembuhan pasien. Penyembuhan merupakan tujuan utama berbagai pengobatan kanker yang dilakukan. Tercapainya tujuan ini atau tidak tergantung kepada banyak faktor-faktor, seperti jenis dan tingkat keganasan kanker serta keadaan umum pasien.
  • Pengobatan primer. Tujuan dari pengobatan primer adalah membuang atau membunuh jaringan kanker yang ada di dalam tubuh secara keseluruhan tanpa ada sel yang tertinggal. Berbagai jenis pengobatan dapat digunakan agar sel kanker dapat dihilangkan dari pasien, namun yang umumnya digunakan adalah pembedahan. Jika jenis kanker pasien memiliki sensitivitas terhadap radioterapi atau kemoterapi, kedua jenis pengobatan tersebut dapat digunakan sebagai pengobatan primer.
  • Pengobatan adjuvan/tambahan. Tujuan pengobatan adjuvan adalah untuk menghilangkan sisa-sisa sel kanker yang masih ada di dalam tubuh pasien pasca dilakukannya pengobatan primer. Pengobatan adjuvan juga dapat dilakukan untuk mencegah kanker muncul kembali pada pasien. Pengobatan adjuvan yang umumnya digunakan adalah pengobatan kemoterapi, radioterapi dan terapi hormon.
  • Pengobatan paliatif. Tujuan pengobatan paliatif adalah untuk meringankan gejala dan efek samping dari pengobatan primer dan adjuvant, bukan untuk menyembuhkan.

Terdapat berbagai metode pengobatan kanker, yang dipilih berdasarkan jenis dan tingkat keganasan kanker yang diderita pasien. Metode-metode yang umum digunakan adalah sebagai berikut:

  • Pembedahan. Tujuan pembedahan adalah untuk menghilangkan jaringan kanker yang ada pada tubuh semaksimal mungkin.
  • Kemoterapi. Merupakan pengobatan kanker menggunakan senyawa kimia dalam bentuk obat-obatan.
  • Radioterapi. Merupakan pengobatan kanker dengan menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker. Radioterapi dapat menggunakan sinar radiasi dari luar tubuh (radiasi siner eksternal) atau ditanam di dalam tubuh pasien (brakiterapi).
  • Transplantasi sel punca (stem cell). Transplantasi sel punca disebut juga cangkok sumsum tulang yang berperan memproduksi sel darah. Sel punca yang ditransplantasi dapat berasal dari pasien atau dari donor sel punca. Selain dilakukan untuk mengganti sumsum tulang yang mengalami kelainan atau keganasan, transplantasi sel punca dapat juga dilakukan untuk memberikan peluang bagi dokter menggunakan kemoterapi dengan dosis lebih tinggi pada jenis kanker lain.
  • Imunoterapi. Imunoterapi dikenal juga sebagai terapi biologis yang bertujuan untuk membantu sistem imun dalam mengenali sel kanker kemudian membunuhnya. Sel kanker apabila tidak diperangi oleh sistem imun dapat menyebar tanpa terkendali dan membahayakan pasien.
  • Terapi hormon. Beberapa jenis kanker dapat muncul dengan dipicu oleh hormon seperti kanker payudara dan prostat. Menurunkan atau menghilangkan kadar hormon ini di dalam tubuh dapat menghentikan pertumbuhan jaringan kanker.
  • Targeted drug therapy. Pemberian obat-abatan yang mampu mematikan sel-sel yang abnormal saja, tanpa menyerang sel yang sehat.

Baik kanker maupun pengobatan kanker dapat melemahkan daya tahan tubuh seseorang. Kanker dapat melemahkan sistem imun jika sel-sel kanker menyebar ke sumsum tulang tempat sel darah putih diproduksi. Umumnya kanker jenis leukemia dan limfomadapat melemahkan sistem imun namun beberapa jenis kanker lain juga dapat ikut melemahkan sistem imun.

Seperti pengobatan penyakit lainnya, pengobatan kanker memiliki efek samping terhadap tubuh. Salah satu efek sampingnya adalah menurunkan jumlah sel darah dalam tubuh dan memperlambat produksi darah. Pada awal pengobatan, jumlah sel darah putih akan mengalami penurunan. Dalam kondisi normal, sel darah putih yang mengalami kematian akan digantikan dengan sel darah putih yang baru selama seminggu atau dua minggu. Akan tetapi pengobatan kanker yang sedang dijalani dapat memperlambat proses regenerasi sel darah putih. Kondisi ini dapat melemahkan sistem imun pasien sehingga pasien lebih mudah terkena infeksi sekunder akibat lemahnya sistem imun.

Sel darah merah normalnya memiliki umur sekitar tiga bulan sehingga proses regenerasi sel darah merah lebih lambat dibanding sel darah putih. Pengobatan kanker terutama kemoterapi dapat menurunkan jumlah sel darah merah sehingga orang yang tidak memiliki risiko anemia dapat terkena anemia. Jika jumlah sel darah merah sangat sedikit, dapat dilakukan transfusi darah bagi pasien.

Trombosit (keping darah) juga dapat mengalami penurunan akibat pengobatan kanker. Gejala penurunan keping darah dapat diamati dari terjadinya mimisan, memar, atau ruam berwarna merah pada kulit. Efek samping ini dapat diatasi dengan memberikan transfusi trombosit kepada penderita. Umumnya setelah pasien menerima kemoterapi dalam jangka panjang, trombosit membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bertambah ke jumlah normal dibandingkan sel darah lainnya.

Bagaimana Kanker Bisa Muncul Kembali (Kambuh)

Kanker dapat muncul kembali pada seseorang setelah dilakukan pengobatan pada pasien kanker. Beberapa kejadian kambuhnya kanker dijelaskan sebagai berikut:

  • Kambuh pasca pembedahan.Kanker dapat muncul kembali pada pasien kanker yang sudah menjalani pengobatan melalui pembedahan disebabkan hal berikut:
    • Beberapa sel kanker masih tertinggal di dalam tubuh pasca pengangkatan jaringan kanker.
    • Sel kanker sudah menyebar dari organ asal kanker sebelum pembedahan dilakukan.

Dokter bedah yang melakukan pengangkatan kanker pada pasien akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghilangkan seluruh sel kanker. Namun masih terdapat kemungkinan sebagian kecil sel kanker tertinggal pada pasien sehingga dapat muncul kembali dan menyebabkan kambuh. Untuk mengatasi hal ini dokter akan merekomendasikan pengobatan tambahan pasca pembedahan agar seluruh sel kanker dapat dibunuh. Pengobatan tambahan yang dilakukan dapat berupa kemoterapi, radioterapi, imunoterapi, dan terapi hormon.

  • Kambuh pasca kemoterapi. Prinsip kerja dari pengobatan kemoterapi adalah membunuh sel yang sedang dalam fase pembelahan sel. Kemoterapi diberikan secara berkala dengan tujuan untuk membunuh seluruh sel kanker yang ada pada pasien meskipun memiliki waktu fase pembelahan yang berbeda-beda.

Meskipun demikian, seperti pengangkatan kanker melalui pembedahan, kemoterapi tidak dapat membunuh sel kanker secara menyeluruh. Sebagian kecil sel kanker akan tertinggal pasca kemoterapi terakhir sehingga ada kemungkinan kanker untuk kambuh. Untuk mengatasi kemungkinan ini dokter akan berusaha semaksimal mungkin agar sebagian sel kanker dapat dibunuh melalui kemoterapi. Sisa sel kanker akan dibunuh melalui sistem imun pasien atau akan mati dengan sendirinya.

  • Kambuh pasca radioterapi. Pada pelaksanaan radioterapi, sel-sel sehat di sekitar jaringan kanker juga akan mengalami kerusakan meskipun akan kembali sehat dengan sendirinya. Hal yang sama juga terjadi dengan sel kanker terutama jika terdapat beberapa sel yang tidak terbunuh melalui radioterapi.
  • Kambuh pasca terapi biologi. Beberapa jenis terapi biologi berfungsi untuk membunuh sel kanker namun sebagian lagi hanya menyusutkan ukuran kanker tanpa membunuhnya. Seperti terapi lain, terapi biologi juga dapat menyisakan sebagian kecil sel kanker pasca pengobatan yang dapat tumbuh dan muncul kembali pada waktu yang akan datang.

Agar pengobatan kanker yang diberikan kepada pasien dapat membunuh sel kanker semaksimal mungkin, pasien umumnya akan diberikan kombinasi dari beberapa terapi.

Pada beberapa kasus, sel-sel kanker dapat resisten terhadap pengobatan kanker sehingga lebih sulit untuk diobati. Resistensi sel kanker muncul akibat mutasi yang terjadi pada sel kanker secara terus-menerus sehingga sifat genetik sel berubah-ubah. Jika hal ini terjadi, dokter akan memberikan beberapa jenis kombinasi pengobatan kepada pasien. Akan tetap pada beberapa kasus yang lebih langka, setelah dilakukan kombinasi pengobatan pun kanker masih tetap memiliki resistensi. Kondisi tersebut dinamakan multi drug resistance.

Pencegahan Kanker

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah kanker adalah sebagai berikut:

  • Berhenti merokok. Merokok dapat meningkatkan risiko seseorang terkena berbagai jenis kanker, terutama kanker paru-paru.
  • Menghindari sengatan sinar matahai berlebihan. Sinar ultraviolet yang berbahaya dari matahari dapat meningkatkan risiko terkena kanker kulit. Hindari sengatan matahari dengan cara berdiam ditempat teduh, menggunakan pakaian tertutup, atau menggunakan tabir surya (sunscreen).
  • Mengatur pola makan yang sehat. Perbanyak makan buah-buahan, sayuran, biji-bijian (misalnya gandum), dan makanan yang kaya akan protein.
  • Berolahraga secara rutin setiap minggu. Olahraga rutin berpengaruh terhadap penurunan risiko kanker pada seseorang.
  • Menjaga berat badan. Mengalami kondisi obesitas atau kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko kanker pada diri seseorang. Untuk menjaga berat badan agar tetap ideal dapat melalui menjaga pola makan sehat serta olahraga rutin.
  • Mengurangi dan menghentikan minum alkohol. Jika Anda aktif mengonsumsi alkohol, batasilah jumlah konsumsi menjadi 1-2 kali setiap hari.
  • Menjadwalkan pemeriksaan skrining rutin kanker.
  • Konsultasi vaksinasi dengan dokter. Beberapa jenis kanker disebabkan oleh virus sehingga bisa dihindari dengan vaksinasi. Contoh kanker yang dapat dihindari dengan vaksinasi adalah kanker serviks yang disebabkan infeksi HPV dan kanker hati yang disebabkan infeksi virus hepatitis.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT