Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Syringomyelia

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 18 kali

Syringomyelia adalah tumbuhnya kista berisi cairan (syrinx) di dalam sumsum tulang belakang. Cairan ini terbentuk dari kumpulan cairan pelindung di otak dan sumsum tulang belakang, yang disebut dengan cairan serebrospinal. Seiring berjalannya waktu, kista ini dapat semakin membesar ataupun memanjang, sehingga akan menekan jaringan saraf di sumsum tulang belakang.

Penekanan saraf di sumsum tulang belakang ini akan memunculkan beberapa gejala seperti rasa kebas/mati rasa, nyeri, kaku, lemas, atau bahkan kelumpuhan. Selain itu, kepekaan terhadap suhu, terutama di bagian tangan, juga dapat terganggu.

Penanganan untuk kasus syringomyelia ditujukan untuk menurunkan tekanan pada sumsum tulang belakang. Jenis terapi yang akan disarankan oleh dokter pun bergantung dari penyebabnya.

Gejala Syringomyelia

Gejala syringomyelia biasanya bersifat lambat, dan biasanya baru akan menunjukkan gejala pada usia 20 hingga 30-an . Syringomyelia biasanya akan menyerang bagian belakang leher, bahu, lengan dan tangan terlebih dahulu, dengan gejala antara lain:

  • Kelemahan pada otot.
  • Penyusutan ukuran otot (atrofi).
  • Kehilangan refleks,
  • Kehilangan sensitivitas terhadap rasa sakit dan suhu.

Gejala lainnya yang ditimbulkan adalah:

  • Punggung, bahu, tangan, dan kaki terasa kaku.
  • Rasa sakit pada leher, tangan dan punggung.
  • Tulang belakang bengkok (skoliosis).
  • Kelemahan atau bahkan kaku pada tungkai bawah (kaki).
  • Gangguan fungsi pencernaan dan berkemih.

Jika pernah mengalami cedera sumsum tulang belakang, waspadai gejala-gejala di atas karena gejala bisa muncul beberapa bulan hingga tahun setelah terjadinya cedera. Konsultasikan pada dokter jika Anda mengalami satu atau lebih gejala di atas.

Penyebab Syringomyelia

Adanya hambatan pada aliran cairan serebrospinal merupakan penyebab syringomyelia yang paling utama. Hambatan aliran ini seringkali disebabkan oleh suatu kelainan yang disebut malformasi Chiari.

Dalam malformasi Chiari, otak kecil (cerebellum) yang terletak di belakang batang otak menonjol keluar dari tengkorak dan masuk ke dalam saluran tulang belakang. Selain itu, aliran cairan serebrospinal juga dapat terhambat oleh beberapa kondisi antara lain:

  • Tumor sumsum tulang belakang, yang akan mengganggu sirkulasi cairan serebrospinal.
  • Meningitis, yaitu inflamasi membran di sekitar otak dan sumsum tulang belakang.
  • Arachnoiditis yaitu gangguan inflamasi progresif yang memengaruhi membran tengah di sekitar otak dan sumsum tulang belakang.

Syringomyelia juga dapat disebabkan oleh kondisi-kondisi lain seperti:

  • Cedera sumsum tulang belakang, yang dapat terjadi akibat trauma, radiasi, perdarahan, atau infeksi.
  • Spinal dysraphism, merupakan kelainan bawaan sejak lahir di mana terjadi penutupan yang tidak sempurna pada tabung saraf (neural tube) sehingga terjadi kebocoran cairan serebrospinal.
  • Kelainan genetik, di mana gen yang diturunkan adalah gen autosomal resesif. Namun ini hanya terjadi pada dua persen kasus syringomyelia.

Diagnosis Syringomyelia

Jika dicurigai menderita syringomyelia, dokter kemungkinan akan merujuk Anda pada seorang dokter spesialis saraf. Setelah menanyakan riwayat kesehartan serta melakukan beberapa pemeriksaan fisik, dokter spesialis saraf mungkin akan menyarankan Anda untuk melakukan:

  • Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan alat pencitraan yang paling baik untuk mendiagnosa syringomyelia. MRI menggunakan pancaran gelombang magnet dan radio untuk melihat gambaran detail dari kondisi di sumsum tulang belakang.

Pada beberapa kasus, dokter mungkin akan menyuntikkan suatu pewarna ke pembuluh darah di daerah selangkangan. Pewarna ini akan larut dalam pembuluh darah dan memberikan gambaran jelas mengenai ada tidaknya tumor atau kelainan lainnya di sumsum tulang belakang.

  • Computerized Tomography Scan (CT scan) atau tomografi dengan komputer untuk memperlihatkan gambaran detail dari tulang belakang dan sumsum tulang belakang menggunakan sinar-X.

Pengobatan Syringomyelia

Pengobatan syringomyelia tergantung tingkat keparahan dan perkembangan dari gejala yang ada. Jika syringomyelia ditemukan namun tidak menunjukkan tanda atau gejalanya ringan, maka yang diperlukan hanyalah pemeriksaan saraf dan MRI secara berkala.

Beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi efek syringomyelia, yaitu:

  • Hindari aktivitas yang memperparah gejala, termasuk aktivitas berat, seperti mengangkat berat dan membuat beban tulang belakang bekerja terlalu berat.
  • Lakukan terapi fisik dengan ahli untuk mengatasi masalah saraf seperti kelemahan otot, rasa nyeri kronis, kelelahan dan terasa kaku. Seorang dokter spesialis rehabilitasi medik dapat membuat program yang bisa membantu meredakan gejala ini.

Jika gejala syringomyelia bertambah buruk atau mengganggu kegiatan sehari-hari, dokter mungkin akan menyarankan tindakan operasi. Tujuannya adalah menghilangkan tekanan pada sumsum tulang belakang dan mengembalikan aliran cairan serebrospinal menjadi normal. Jenis operasi berbeda, tergantung penyebab dari syringomyelia:

  • Operasi untuk mengobati malformasi Chiari. Operasi ini bertujuan melancarkan cairan serebrospinal dengan memperluas dasar tengkorak (kraniektomi suboksipital) dan memperluas lapisan penutup otak (dura mater) serta mengecilkan ukuran kista (syrinx).
  • Operasi untuk menghilangkan hambatan. Operasi ini dilakukan jika terdapat tumor atau pertumbuhan tulang abnormal dalam sumsum tulang belakang. Dengan menghilangkan tumor atau pertumbuhan tulang tersebut, maka cairan serebrospinal dapat kembali lancar.
  • Operasi untuk memperbaiki kelainan, contohnya pada kasus perlekatan tulang belakang. Operasi bertujuan untuk menghilangkan perlekatan sehingga cairan serebrospinal dapat mengalir dengan normal.
  • Operasi untuk drainase cairan syrinx. Untuk menampung cairan syrinx, dokter akan memasang sebuah sistem pengeluaran cairan yang disebut shunt. Satu ujung drainase ini dipasang di kista tulang belakang, dan ujung satunya dipasang di bagian tubuh lain, seperti perut. Setelah operasi dilakukan, pasien diberi obat antibiotik untuk mencegah komplikasi dari infeksi. Selain itu, terapi fisik juga diberikan untuk menguatkan otot tungkai yang semakin lemah.

Perawatan lanjutan pasca operasi menjadi penting karena syringomyelia dapat kambuh kembali dan berisiko menyebabkan kerusakan saraf dan sumsum tulang belakang secara permanen. Pemeriksaan secara berkala termasuk MRI perlu dilakukan guna mengukur keberhasilan operasi.

Komplikasi Syringomyelia

Beberapa komplikasi syringomyelia yang dapat terjadi antara lain:

  • Mielopati yaitu hilangnya fungsi saraf pada sumsum tulang belakang secara bertahap. Hal ini dapat menyebabkan pneumonia berulang, rasa nyeri karena tekanan, embolisme paru, paraplegia, lumpuh tangan dan kaki, serta gangguan pencernaan dan berkemih.
  • Gagal napas karena syrinx membesar hingga medulla (sumsum).
  • Rasa nyeri kronis akibat kerusakan sumsum tulang belakang.
  • Skoliosis atau tulang belakang melengkung secara tidak normal.
  • Kesulitan motorik, yaitu otot kaki lemah dan kaku hingga mempengaruhi gerakan berjalan.

Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter sedini mungkin guna mencegah risiko komplikasi dari syringomyelia.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT