Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Syok Anafilaktik

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 18 kali

Syok anafilaktik atau anafilaksis adalah reaksi alergi yang tergolong berat karena dapat mengancam nyawa penderitanya. Reaksi alergi ini dapat berkembang dengan cepat. Kondisi ini diawali dengan gejala-gejala umum, seperti mual, muntah, dan rasa sakit di daerah perut.

Syok anafilaktik umumnya muncul dalam beberapa menit setelah penderita terpapar oleh alergen, namun juga dapat muncul setelah beberapa jam sehingga penyebab berikut gejalanya perlu dikenali.

Penyebab Syok Anafilaktik

Alergen adalah apa pun benda yang menjadi penyebab terjadinya syok anafilaktik. Reaksi alergi berlebih ini adalah bagaimana sistem imun tubuh merespons zat-zat yang dianggap berbahaya oleh tubuh secara alamiah. Beberapa alergen yang dapat memicu reaksi syok anafilaktik di antaranya:

  • Makanan, seperti hidangan laut, telur, susu, atau buah-buahan.
  • Sengatan serangga, seperti lebah atau tawon.
  • Kacang-kacangan, seperti kacang tanah, kacang mede, kacang almond, dan lain-lain.
  • Obat-obatan tertentu, seperti antibiotik,
  • Lain-lain, seperti karet lateks.

Penderita penyakit asma atau orang yang memiliki kelainan kulit menahun, seperti atopik dermatitis, lebih berisiko terkena syok anafilaktik. Terdapat juga kasus anafilaktik idiopati, yaitu reaksi alergi yang tidak dapat diketahui penyebabnya.

Gejala Syok Anafilaktik

Saat tubuh terpapar alergen, sistem imun tubuh Anda akan mengeluarkan berbagai zat kimia, seperti histamin. Inilah yang menyebabkan munculnya reaksi syok anafilaktik. Gejala syok anafilaktik lain yang patut diperhatikan selain yang sudah disebutkan di atas adalah:

  • Ruam merah pada kulit
  • Bentol yang gatal
  • Pembengkakan pada mata, bibir, tangan, dan kaki
  • Pembengkakan pada mulut, lidah, atau tenggorokan
  • Pusing atau pingsan
  • Mengi

Temui dokter jika Anda mengalami gejala-gejala ini setelah mengonsumsi atau terpapar substansi penyebab reaksi alergi.

Diagnosis dan Klasifikasi Syok Anafilaktik

Syok anafilaktik memiliki beberapa klasifikasi yang terbagi berdasarkan alergen, reaksi yang ditimbulkan, serta periode munculnya reaksi alergi. Tiga klasifikasi utama syok anafilaktik adalah:

  • Syok anafilaktik yang berhubungan dengan sistem vasodilatasi. Reaksi ini menyebabkan rendahnya tekanan darah hingga 30 persen dari batas bawah tekanan darah normal penderitanya.
  • Anafilaktik bifasik adalah reaksi alergi yang muncul kembali setelah reaksi alergi pertama muncul pada penderita tanpa melalui paparan dari alergen. Reaksi kedua umumnya muncul dalam periode waktu 72 jam setelah reaksi pertama.
  • Pseudo anafilaktik atau reaksi anafilaktoid atau nonimun anafilaktik adalah jenis anafilaksis yang tidak melibatkan reaksi alergi melainkan degranulasi pada sel mast penghasil zat kimia seperti histamin.

Diagnosis syok anafilaktik diperoleh berdasarkan gejala dan riwayat alergi pada penderitanya. Dokter juga akan melakukan beberapa tes alergi pada penderita sebelum menentukan diagnosis syok anafilaktik. Beberapa tes yang mungkin dilakukan adalah tes alergi pada kulit dengan menggunakan alat uji tempel, menyerupai sebuah koyo, untuk mengetahui jenis alergen penyebab reaksi alergi. Alat uji tempel umumnya digunakan untuk mengetahui jenis makanan, racun, dan antibiotik apa yang menimbulkan reaksi alergi. Pemeriksaan alergi juga bisa dilakukan dengan cara tes darah.

Pengobatan Syok Anafilaktik

Salah satu pengobatan yang diberikan pada pasien syok anafilaktik adalah suntikan adrenalin. Suntikan adrenalin harus segera diberikan jika reaksi alergi disertai gejala seperti kesulitan bernapas dan kehilangan kesadaran. Pastikan untuk memindahkan sumber alergi, seperti sengat lebah, sebelum memberikan pertolongan lanjutan kepada penderita. Alat suntik hendaknya didiamkan selama 5-10 detik setelah suntikan adrenalin diberikan. Berikan dosis suntikan adrenalin kedua jika kondisi pasien tidak tampak membaik setelah 5-10 menit pertama. Pelajari dan baca instruksi pemberian suntikan adrenalin sebagai tindakan pertolongan pertama sebelum memberikan tindakan. Suntikan adrenalin dapat membantu mengurangi pembengkakan, melancarkan saluran udara sehingga memudahkan pernapasan, serta meningkatkan tekanan darah pasien. Pada pasien dengan henti nafas dan henti jantung, petugas kesehatan akan melakukan resusitasi jantung paru (CPR).

Beberapa posisi juga dapat diterapkan untuk membantu meningkatkan kondisi pasien paska pemberian suntikan adrenalin. Posisi telentang dengan kaki terangkat dapat membantu melancarkan aliran darah ke kepala dan jantung. Pada perempuan hamil, pasien dapat berbaring dengan bertumpu pada tubuh bagian kiri untuk menjaga kelancaran aliran darah. Segera hubungi rumah sakit setelah suntikan adrenalin diberikan untuk mendapatkan penanganan medis selanjutnya.

Obat-obatan seperti kortikosteroid dan antihistamin dapat diberikan setelah pasien menyelesaikan perawatan di rumah sakit untuk mengurangi serta mencegah kembalinya gejala syok anafilaktik. Pasien juga dapat diberikan suntikan adrenalin sebagai tindakan pengamanan darurat selama menjadi pasien rawat jalan pasca perawatan.

Pencegahan Syok Anafilaktik

Syok anafilaktik dapat berujung kepada kematian yang disebabkan oleh terhentinya detak jantung dan pernapasan. Pengenalan gejala dan mempelajari tindakan pencegahan dapat membantu pasien terhindar dari risiko kematian akibat syok anafilaktik. Kenali alergen Anda dengan melakukan tes alergi di rumah sakit atau klinik terdekat. Buat dan bawalah selalu obat-obatan serta catatan kecil berisi daftar alergen Anda dan apa yang harus dilakukan oleh orang di sekitar Anda, termasuk dokter Anda, jika serangan syok anafilaktik terjadi. Selalu perbarui persediaan obat-obatan Anda agar terhindar dari kekurangan obat saat situasi darurat terjadi.

Hindari juga makanan atau pemicu alergi lain yang dapat menimbulkan reaksi alergi dengan cara membaca label keterangan pada kemasan makanan, menggunakan losion antiserangga, dan mengonsumsi antibiotik jenis lain yang tidak menyebabkan alergi.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT