Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Stenosis Spinal

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 18 kali

Stenosis spinal adalah kondisi di mana terjadi penyempitan di bagian celah terbuka pada tulang belakang. Kondisi ini menyebabkan sumsum tulang belakang yang berisi saraf tertekan.

Tiga dari empat kasus stenosis spinal terjadi pada tulang belakang bagian bawah. Mayoritas penyempitan pada tulang belakang menyebabkan rasa nyeri pada bagian belakang kaki.

Pada beberapa orang, stenosis spinal tidak menyebabkan munculnya gejala atau tanda tertentu. Kebanyakan penderita stenosis spinal berusia lebih dari 50 tahun. Segera temui dokter jika merasakan gejala mati rasa, nyeri, dan lemas di bagian kaki, lengan atau punggung.

Gejala Stenosis Spinal

Kebanyakan penderita mengetahui jika dirinya terkena stenosis spinal setelah melakukan uji pencitraan. Gejala adalah sesuatu yang dirasakan dan diceritakan oleh penderita. Beberapa gejala umum stenosis spinal adalah rasa nyeri pada kaki dan pada punggung bagian bawah.

Berdasarkan area penyempitannya, stenosis spinal terdiri dari dua jenis yang menimbulkan gejala berbeda yaitu:

  • Pada bagian bawah (lumbar), dapat menimbulkan kram pada kaki saat berdiri dalam waktu lama atau berjalan. Kram tersebut akan hilang saat Anda membungkukkan badan ke depan atau duduk.
  • Pada leher (cervical), bisa menyebabkan lemas atau sensasi menggelitik pada betis, kaki, lengan atau tangan, serta mati rasa. Beberapa penderita juga merasakan gangguan berjalan dan keseimbangan. Saraf kandung kemih juga terganggu dan bisa mengakibatkan inkontinensia urine (ketidakmampuan menahan urine).

Penyebab Stenosis Spinal

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang mengalami stenosis spinal, yaitu:

  • Arthritis. Dua jenis arthritis yang bisa memengaruhi tulang belakang adalah osteoarthritis dan rheumatoid arthritis.
  • Cedera tulang belakang. Kecelakaan lalu lintas atau trauma mayor lainnya dapat menyebabkan terjadinya patah tulang belakang. Pecahan tulang dapat masuk ke saluran spinal, dimana terdapat saraf-saraf. Pembengkakan yang terjadi pada area dan setelah pembedahan tulang belakang bisa menekan saraf tulang belakang.
  • Rusaknya bantalan tulang belakang, kondisi ini biasanya disebabkan oleh faktor usia. Dari retakan bantalan ini, material lembut keluar dan bisa menekan saraf tulang belakang.
  • Ketidakstabilan dan pergeseran tulang belakang ke arah depan, bisa membuat kanal tulang belakang lebih sempit.
  • Tumor, yang bisa tumbuh di celah antara sumsum tulang dan tulang belakang, di membran yang melapisi saraf tulang belakang, atau di dalam sumsum tulang belakang itu sendiri.
  • Menebalnya ligamen. Saraf kuat yang menahan tulang belakang bisa menjadi kaku dan tebal. Ligamen yang menebal ini bisa menonjol ke arah kanal tulang belakang.
  • Genetis. Jika kanal tulang belakang terlalu kecil saat lahir, gejala-gejala stenosis spinal bisa muncul pada usia muda.

Diagnosis Stenosis Spinal

Stenosis spinal cukup sulit didiagnosis, karena memiliki gejala yang sama dengan kondisi para lansia. Biasanya pengidap stenosis spinal justru tidak pernah menderita gangguan ataupun cedera pada punggungnya.

Untuk mendiagnosis stenosis spinal, penderita harus menjalani uji pencitraan. Beberapa jenis uji pencitraan tersebut adalah:

  • CT myelogram. Uji pencitraan ini bisa memperlihatkan rusaknya bantalan tulang, taji pada tulang, dan tumor.
  • Sinar-X. Sinar-X dapat memperlihatkan perubahan struktur tulang yang bisa mempersempit celah kosong di kanal tulang belakang.
  • MRI. Selain perubahan struktur tulang, MRI juga dapat memperlihatkan tekanan pada saraf tulang belakang, kerusakan pada ligamen, dan bantalan tulang.

Pengobatan dan Komplikasi Stenosis Spinal

Ada beberapa cara yang bisa dtempuh untuk menangani stenosis spinal yaitu:

  • Pembedahan, untuk menurunkan tekanan pada saraf tulang belakang adalah dengan menciptakan celah kosong di antara kanal tulang belakang.
  • Mengubah postur tubuh. Dengan membungkukkan tubuh ke depan atau duduk dengan dada menempel di paha mampu meredakan gejala-gejala yang dirasakan penderita.
  • Obat-obatan. Untuk mengurangi rasa nyeri yang ditimbulkan stenosis spinal, dokter biasanya meresepkan relaksan otot, antidepresan, anti-kejang, opioid, dan anti inflamasi non-steroid (OAINS).
  • Steroid. Injeksi steroid bisa mengurangi pembengkakan serabut saraf yang terjepit, serta bisa menurunkan tekanan.
  • Terapi. Prosedur ini berfungsi untuk meningkatkan kekuatan dan daya tahan, meningkatkan keseimbangan, serta mempertahankan fleksibilitas dan stabilitas tulang belakang.

Jika tidak segera ditangani, penderita stenosis spinal bisa terkena beberapa komplikasi secara permanen. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah:

  • Kelumpuhan.
  • Inkontinensia urine.
  • Mati rasa permanen.
  • Gangguan keseimbangan.
  • Lemas terus menerus.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT