Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Spondylolisthesis

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 18 kali

Spondylolisthesis adalah kondisi dimana salah satu tulang pada tulang belakang bergeser dari posisi normal dan condong ke depan menutupi tulang di bawahnya. Umumnya spondylolisthesis terjadi pada punggung bagian bawah.

Jika tidak ditangani, spondylolisthesis dapat menekan saraf tulang belakang atau akar saraf. Hal ini menyebabkan munculnya rasa nyeri, mati rasa atau lemas pada satu atau kedua tungkai kaki. Kadang, tertekannya saraf juga bisa membuat penderita spondylolisthesis tidak bisa mengontrol buang air kecil atau buang air besar.

Gejala Spondylolisthesis

Spondylolisthesis tidak selalu menimbulkan gejala. Sehingga banyak penderitanya yang tidak merasakan gejalanya. Beberapa gejala spondylolisthesis yang umumnya dirasakan penderita adalah:

  • Punggung terasa kaku dan sensitif.
  • Muncul sensasi mati rasa, kesemutan, atau nyeri yang menjalar dari punggung bawah ke tungkai kaki.
  • Otot-otot paha belakang (hamstring) menegang.
  • Tulang punggung terlalu melengkung.
  • Punggung bagian bawah terasa nyeri.
  • Kesulitan berjalan.
  • Kurang bisa mengontrol buang air kecil (inkontinensia urine) atau buang air besar (inkontinensia tinja).

Sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter, jika sudah muncul beberapa gejala berikut:

  • Nyeri terus-menerus pada paha atau panggul.
  • Tulang punggung menonjol keluar secara tidak normal.
  • Nyeri atau kaku yang berkelanjutan pada punggung.

Penyebab Spondylolisthesis

Berdasarkan penyebabnya, spondylolisthesis dibedakan menjadi lima jenis yaitu:

  • Spondylolisthesis isthmic, disebabkan oleh cedera berulang pada tulang belakang,
  • Spondylolisthesis bawaan. Kelainan tulang belakang sejak lahir dapat menyebabkan salah satu tulang bergeser ke depan.
  • Spondylolisthesis traumatik, yang muncul karena retaknya tulang belakang sehingga salah satu tulang bergeser maju.
  • Spondylolisthesis degeneratif, yang terjadi karena penuaan.
  • Spondylolisthesis patologis. Ketidaknormalan tulang yang salah satunya dapat disebabkan oleh tumor.

Diagnosis dan Pengobatan Spondylolisthesis

Untuk mendiagnosis pasien yang diduga terkena spondylolisthesis, umumnya dokter akan melakukan pencitraan dengan menggunakan foto Rontgen pada bagian punggung. Hasil pencitraan akan menunjukkan bagian tulang yang bergeser dari posisi normal atau yang mengalami keretakan.

Langkah yang dilakukan untuk mengobati spondylolisthesis tergantung dari gejala yang dirasakan penderita serta tingkat keparahannya. Ada dua jenis langkah penanganan spondylolisthesis, yaitu nonbedah dan pembedahan.

Contoh-contoh penanganan spondylolisthesis nonbedah yang dapat dilakukan dokter antara lain:

  • Fisioterapi. Gerakan peregangan sederhana dan latihan guna memperkuat kelenturan punggung bagian bawah dan otot-otot paha belakang.
  • Injeksi kortikosteroid di sekitar saraf yang tertekan dan pada kanal saraf tulang belakang. Hal ini bertujuan untuk mengurangi nyeri, sensasi mati rasa, dan kesemutan pada tungkai kaki pasien.
  • Memberikan obat pereda nyeri antiinflamasi.
  • Menyarankan pasien menghindari beberapa aktivitas fisik untuk sementara, seperti membungkuk, mengangkat, olahraga yang melibatkan kontak fisik, dan olahraga atletik.

Langkah pembedahan akan dilakukan jika gejala spondylolisthesis tergolong sudah parah, saraf tulang belakang mengalami tekanan, dan sudah tidak ada lagi metode penanganan nonbedah yang efektif mengobati spondylolisthesis. Melalui prosedur bedah, dokter akan mengangkat bagian tulang atau jaringan agar mengurangi tekanan pada saraf tulang belakang, atau mengembalikan tulang pada posisi normal.

Meski demikian, efek samping pembedahan tetap ada. Pasien spondylolisthesis yang menjalani prosedur bedah memiliki risiko terkena komplikasi seperti:

  • Trombosis vena dalam (deep vein thrombosis), yaitu penggumpalan darah pada pembuluh darah di tungkai.
  • Rusaknya saraf tulang belakang, yang mengakibatkan sensasi mati rasa dan lemasnya kedua tungkai kaki atau bahkan kelumpuhan.
  • Infeksi pada lokasi pembedahan.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT