Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Spina Bifida

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 18 kali

Spina bifida adalah cacat lahir yang ditandai dengan terbentuknya celah atau defek pada tulang belakang dan sumsum tulang belakang bayi. Kelainan ini dipicu oleh pembentukan sumsum tulang belakang yang tidak sempurna pada bayi selama dalam kandungan.

Pada kondisi normal, embrio akan membentuk tabung saraf yang kemudian berkembang menjadi tulang belakang dan sistem saraf. Jika proses ini tidak berjalan dengan lancar, beberapa ruas tulang belakang tidak bisa menutup dengan sempurna sehingga menciptakan celah.

Struktur Tulang Belakang

Tulang belakang melindungi kanal spinal yang berisi cairan otak dan sumsum tulang belakang. Sumsum tulang belakang berisi kumpulan serabut saraf yang menghubungkan otak dengan berbagai organ di tubuh. Di dalam kanal spinal, saraf dilapisi oleh selaput yang dinamakan meningen. Di luar dari tulang belakang, terdapat jaringan kulit.

Bila celah mencapai sebagian jaringan kulit, misalnya pada kulit di bagian punggung bawah, cairan otak yang mengelilingi sumsum tulang belakang dapat mendorongnya sehingga terbentuk kantung yang dapat terlihat di punggung bawah.

Jenis-jenis Spina Bifida

Spina bifida dapat dibagi dalam 3 kelompok, berdasakan lokasi serta ukuran celah yang terbentuk. Ketiga jenis tersebut meliputi:

  • Spina bifida okulta. Jenis ini termasuk yang paling ringan dan umum karena hanya mengakibatkan terbentuknya celah kecil di antara ruas tulang punggung. Spina bifida okulta umumnya tidak memengaruhi saraf sehingga penderitanya cenderung mengalami gejala ringan atau bahkan tanpa gejala.
  • Meningokel. Pada jenis ini, pembukaan yang terbentuk berukuran cukup besar sehingga selaput pelindung sumsum tulang belakang mencuat keluar dari beberapa celah di tulang punggung dan membentuk kantung. Meningokel merupakan jenis spina bifida yang paling jarang terjadi.
  • Mielomeningokel. Ini merupakan jenis spina bifida yang paling serius, di mana kanal spinal bayi terbuka sepanjang beberapa ruas tulang belakang sehingga membentuk kantung berisi selaput dan sumsum tulang belakang yang menonjol keluar pada daerah punggung. Pada kasus yang sangat berat, kantung ini bahkan tidak memiliki kulit. Akibatnya, bayi rentan mengalami infeksi yang bisa mengancam jiwa.

Penyebab dan Faktor Risiko Spina Bifida

Penyebab di balik spina bifida belum diketahui secara pasti, namun diduga ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kecacatan ini. Di antaranya adalah:

  • Kekurangan asam folat. Memiliki kadar asam folat yang cukup terutama sebelum dan selama masa kehamilan sangat penting untuk menurunkan risiko bayi lahir dengan spina bifida. Sebaliknya, defisiensi asam folat merupakan faktor pemicu yang paling signifikan dalam kasus spina bifida serta jenis kecacatan tabung saraf lainnya.
  • Faktor keturunan. Orang tua yang pernah memiliki anak dengan spina bifida mempunyai risiko lebih tinggi untuk kembali memiliki bayi dengan kelainan yang sama.
  • Jenis kelamin. Kondisi ini lebih sering dialami oleh bayi perempuan.
  • Obat-obatan tertentu, khususnya asam valproat dan carbamazepine yang digunakan untuk epilepsi atau gangguan mental, seperti gangguan bipolar.
  • Diabetes. Wanita yang mengidap diabetes memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan bayi dengan spina bifida.
  • Obesitas. Obesitas pada masa sebelum kehamilan akan meningkatkan risiko seorang wanita untuk memiliki bayi dengan kecacatan tabung saraf, termasuk spina bifida.

Wanita yang memiliki faktor-faktor risiko tersebut dianjurkan untuk mendiskusikannya dengan dokter agar langkah pencegahan dapat dilakukan, terutama bagi wanita yang sedang merencanakan kehamilan.

Gejala dan Komplikasi Spina Bifida

Tingkat keparahan gejala yang dialami tiap penderita spina bifida bisa bermacam-macam, tergantung lokasi celah yang terbentuk pada tulang belakang. Selain lokasi, tingkat keparahan bergantung juga pada bagian apa saja yang tidak menutup dengan sempurna.

Terdapat beragam gejala yang mungkin disebabkan oleh spina bifida. Secara umum, gejala yang dapat timbul adalah:

  • Gangguan mobilitas. Kondisi ini ditandai dengan tubuh bagian bawah yang mengalami kelemahan otot atau bahkan lumpuh.
  • Gangguan saluran kemih dan pencernaan. Penderita spina bifida umumnya mengalami inkontinensia urine atau inkontinensia tinja karena adanya gangguan pada saraf yang mengatur saluran kemih dan pencernaan.
  • Hidrosefalus. Kondisi di mana terjadi penumpukan cairan otak sehingga dapat menyebabkan kejang dan gangguan penglihatan.

Penderita spina bifida juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami meningitisserta gangguan dalam belajar di kemudian hari. Contoh gangguan dalam proses belajar yang mungkin terjadi meliputi gangguan bahasa, menghitung, serta sulit konsentrasi.

Diagnosis Spina Bifida

Untuk mendeteksi adanya spina bifida, jenis pemeriksaan yang biasanya dilakukan oleh dokter adalah tes darah serta USG.

Melalui tes darah, dokter akan memeriksa kadar alfa-fetoprotein yang terkandung dalam darah ibu hamil. Kadar alfa-fetoprotein yang tinggi bisa menandakan janin berkemungkinan mengidap kecacatan tabung saraf, terutama spina bifida.

Setelah itu, dokter akan menganjurkan pemeriksaan melalui USG untuk memastikan diagnosis. Kelainan spina bifida umumnya dapat terdeteksi pada pemeriksaan USG, misalnya terlihat kelainan struktur tertentu pada otak bayi yang mengindikasikan spina bifida.

Tes lebih lanjut yang juga mungkin disarankan adalah amniosentesis, yaitu prosedur pengambilan sampel cairan ketuban. Cairan tersebut kemudian akan diperiksa di laboratorium. Sebelum menjalani tes ini, ibu hamil dianjurkan untuk mendiskusikan risikonya terlebih dahulu dengan dokter karena tes ini berpotensi membahayakan janin.

Pemeriksaan lain yang mungkin diperlukan adalah pemeriksaan pada bayi pasca kelahiran. Bayi yang terlahir dengan spina bifida harus menjalani beberapa tes seperti USG, CT scan, atau MRI untuk menentukan tingkat keparahan dan membantu menentukan prosedur penanganan yang paling tepat.

Pengobatan Spina Bifida

Spina bifida membutuhkan penanganan yang berbeda-beda, tergantung pada jenis spina bifida yang dialami, tingkat keparahan gejala, serta kondisi pasien.

Operasi merupakan pilihan utama dalam menangani kondisi spina bifida. Tindakan operasi umumnya dilakukan segera setelah sang bayi lahir, dalam waktu 1-2 hari. Tujuannya adalah untuk menutup celah yang terbentuk sekaligus menangani hidrosefalus.

Setelah operasi, penderita spina bifida juga biasanya akan menjalani beberapa perawatan lanjutan, yang meliputi:

  • Terapi untuk membantu pasien beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari, contohnya terapi okupasi atau terapi fisik.
  • Penggunaan alat bantu, misalnya tongkat atau kursi roda.
  • Penanganan untuk gangguan saluran kemih dan pencernaan dengan obat-obatan maupun operasi.

Pencegahan Spina Bifida

Langkah utama untuk menghindari terjadinya spina bifida adalah dengan mencukupi kebutuhan asam folat, terutama selama masa kehamilan. Konsumsi zat ini umumnya dianjurkan sejak sebelum masa kehamilan. Dosis asam folat yang disarankan adalah sebanyak 400 mikrogram per hari.

Selain ibu hamil dan wanita yang sedang merencanakan kehamilan, wanita pada usia subur juga diajurkan untuk mengonsumsi suplemen asam folat. Zat ini juga dapat diperoleh secara alami dari makanan, seperti bayam, kuning telur, kacang-kacangan, serta brokoli.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT