Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Solar Keratosis

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 18 kali

Solar keratosis atau aktinik keratosis adalah perubahan kondisi kulit menjadi kasar dan bersisik dikarenakan paparan sinar matahari berlebih selama bertahun-tahun. Kondisi ini umumnya menyerang bagian kulit kepala, wajah, bibir, telinga, leher, lengan, sisi belakang tangan, dan tungkai.

Solar keratosis umumnya dialami oleh laki-laki berusia 40 tahun ke atas atau siapa pun yang kerap beraktivitas di bawah sinar matahari untuk jangka waktu yang lama. Tidak semua kondisi akan diawali dengan gejala atau mungkin gejala yang muncul tidak mudah dikenali penderita. Walau jarang, kondisi ini berpotensi menyebabkan kanker kulit.

Penyebab Solar Keratosis

Penyebab utama solar keratosis adalah paparan terhadap sinar matahari, atau tepatnya sinar ultraviolet (UV) secara berlebih. Kondisi ini biasanya terjadi di negara dengan cuaca terik seperti Indonesia dan Australia, atau di negara-negara yang penduduknya kerap menggunakan alat tanning.

Secara umum, kulit memiliki kemampuan untuk memperbaiki kerusakan minor tanpa pengobatan apa pun. Namun bagi seseorang yang sering terpapar sinar matahari dalam jangka waktu yang lama, seperti kuli bangunan atau petani, kemampuan kulit menahan paparan tersebut akan menurun dan mengakibatkan solar keratosis terjadi. Kondisi ini juga bisa terjadi pada siapa pun yang sering berjemur di bawah panas terik.

Adapun juga beberapa faktor yang dapat memicu solar keratosis terjadi, walaupun paparan sinar UV mereka sangat rendah, di antaranya adalah:

  • Memiliki keluarga dengan riwayat solar keratosis atau kanker kulit.
  • Memiliki sedikit pigmen kulit, yaitu orang yang berkulit putih.
  • Penderita HIV/AIDS, leukemia, atau yang memiliki sistem imun rendah.
  • Sedang mengonsumsi obat-obatan yang menekan kemampuan sistem imun tubuh, seperti pada penderita rheumatoid arthirtis atau skleroderma.
  • Sedang menjalankan kemoterapi kanker.
  • Baru menjalankan transplantasi organ dikarenakan pengobatan lainnya tidak bekerja dengan optimal.

Gejala Solar Keratosis

Gejala solar keratosis umumnya bermunculan pada bagian kulit yang sering terpapar sinar matahari atau UV. Walau tidak semua kondisi solar keratosis akan disertai gejala, berikut ini adalah tanda klinis yang umum ditemukan pada solar keratosis:

  • Kulit kasar dan mengeras.
  • Terdapat sisik yang timbul di atas permukaan kulit.
  • Kulit berubah warna menjadi kemerahan atau kecokelatan.
  • Area kelainan berdiameter 2,5 cm atau kurang.
  • Terasa gatal atau panas di sekitar area kulit yang mengalami kelainan.

Segera temui dokter jika Anda mengalami gejala lanjutan seperti:

  • Pertumbuhan yang tidak biasa pada permukaan kulit.
  • Benjolan atau sisik yang terus tumbuh dan menusuk permukaan kulit.
  • Pernah mengalami solar keratosis sebelumnya dan terlihat ada bintik yang baru.

Diagnosis Solar Keratosis

Tidak mudah untuk membedakan solar keratosis dengan gejala kanker kulit. Langkah awal dalam menentukan diagnosa adalah memeriksa kondisi kulit pasien dan menanyakan riwayat penyakit serta jenis aktivitas sehari-hari. Pada pemeriksaan fisik untuk melihat kondisi kulit, digunakan dermatoskopi, yaitu suatu alat berupa kaca pembesar khusus yang dilengkapi lampu. Untuk penegakan diagnosa, dapat dilakukan biopsi kulit.

Pengobatan Solar Keratosis

Secara umum, solar keratosis dapat pulih dengan sendirinya tanpa obat-obatan, tetapi berisiko kambuh kembali. Mengingat kondisi ini terkadang sulit dibedakan dengan gejala kanker kulit, pengobatan sangat disarankan.

Terdapat 3 cara yang dapat dilakukan untuk mengobati solar keratosis, yaitu menggunakan obat-obatan, terapi, dan tindakan operasi. Hal ini ditentukan berdasarkan banyaknya solar keratosis yang dialami, lokasi, ketebalannya, dan kondisi kesehatan penderita secara keseluruhan.

Obat-obatan

Solar keratosis umumnya diobati dengan menggunakan obat topikal (oles), baik dalam bentuk krim ataupun gel. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Gel antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs) seperti diclofenac. Obat ini umumnya dioleskan selama 3 bulan, namun dengan risiko efek samping seperti gatal-gatal atau ruam.
  • Krim fluorouracil yang umumnya digunakan untuk membunuh sel abnormal dan melahirkan kulit yang baru. Krim ini dapat digunakan selama 3-4 minggu, namun dengan risiko efek samping seperti inflamasi sementara, pembengkakan, atau melepuh.
  • Obat oles asam salisilat yang dapat digunakan bersama dengan krim fluorouracil jika diperlukan.
  • Krim imiquimod yang dapat digunakan sebagai alternatif. Obat ini dapat dioleskan sesuai dengan kebutuhan, mulai dari tiga kali sehari selama sebulan atau hanya dua kali dalam seminggu, dengan jeda selama 2 hingga 4 minggu. Obat ini berpotensi menimbulkan efek samping seperti peradangan, iritasi, atau ruam pada kulit yang diolesi.
  • Gel igenol mebutate adalah pilihan obat topikal untuk pengobatan singkat. Frekuensi pemakaian yang umumnya disarankan adalah selama 3 hari untuk pengobatan bagian kulit kepala dan wajah, dan 2 hari untuk anggota tubuh lainnya.

Temui dokter jika timbul efek samping yang berkepanjangan. Umumnya, efek samping dapat terjadi selama beberapa minggu saat penggunaan.

Terapi Photodynamic (PDT)

Terapi ini mengkombinasinkan penggunaan obat topikal dan terapi cahaya untuk membunuh sel abnormal pada kulit. Dalam terapi ini, dokter akan mengoleskan krim methyl-5-aminolevulinate pada bagian kulit yang mengalami kelainan, dan dipancarkan cahaya khusus agar sel abnormal yang memicu solar keratosis mati. Mengingat krim tersebut sangat sensitif terhadap cahaya, terapi ini juga dapat dilakukan di bawah sinar matahari secara langsung.

Konsultasikan dengan dokter sebelum melakukan terapi ini dikarenakan berpotensi menimbulkan efek samping seperti ruam, pembengkakan, dan sensasi terbakar saat terapi dilakukan.

Krioterapi

Terapi ini dilakukan dengan membekukkan bagian yang terinfeksi menggunakan cairan nitrogen, dan diangkat saat sudah membeku secara keseluruhan. Proses krioterapi biasanya hanya memakan waktu singkat.

Efek samping yang mungkin timbul pada area yang ditangani adalah kulit melepuh, perubahan pada tekstur kulit, warna kulit menggelap, muncul jaringan parut atau infeksi.

Tindakan Operasi

Untuk kasus yang parah, tindakan operasi bernama scraping mungkin akan disarankan dokter sebagai solusi untuk mengangkat sel-sel yang rusak.

Pada awalnya, dokter akan memberikan suntikan anestesi lokal pada pasien untuk membekukan bagian yang akan ditangani dan dilanjutkan dengan mengikis sel-sel yang rusak pada permukaan kulit menggunakan kuret. Proses akan dilanjutkan dengan tindakan electrosurgery yang bertujuan untuk membunuh jaringan dalam tubuh yang terinfeksi menggunakan aliran listrik. Tindakan operasi ini memerlukan waktu yang cukup lama.

Efek samping yang mungkin dialami tidak berbeda jauh dengan krioterapi, yaitu berupa kulit melepuh, infeksi, dan perubahan struktur kulit pada area yang ditangani.

Komplikasi Solar Keratosis

Secara umum, solar keratosis jarang menimbulkan komplikasi lebih lanjut, khususnya jika pengobatan telah dilakukan dengan benar. Namun, bagi penderita yang mengalami solar keratosis secara berulang, mengalami perkembangan gejala yang cepat, perdarahan, merasa nyeri atau memiliki kulit bersisik untuk jangka waktu yang lama, disarankan untuk segera menemui dokter karena dikhawatirkan berkembang menjadi komplikasi serius berupa kanker sel skuamosa (SCC).

Kanker sel skuamosa adalah kanker kulit yang menyerang bagian dalam dan di pertengahan permukaan kulit. Kanker ini umumnya tidak membahayakan nyawa, namun jika tidak diobati, dapat menyebar ke bagian tubuh lain dan memicu komplikasi serius lainnya.

Pencegahan Solar Keratosis

Bagi Anda yang sering beraktivitas di bawah sinar matahari, sangat disarankan untuk melakukan langkah pencegahan sebagai berikut:

  • Menggunakan lotion tabir surya yang tahan air dan mengandung SPF 30 di seluruh tubuh secara merata. Jangan lupa untuk mengolesi pelembab bibir dengan kandungan tabir surya. Ulangi setiap 2 jam, khususnya jika Anda berkeringat atau setelah berenang.
  • Usahakan untuk tidak beraktivitas di bawah sinar matahari secara langsung pada pukul 11 siang hingga 3 sore karena sinar ultraviolet yang dipancarkan pada jam tersebut sangat tinggi.
  • Selalu lindungi kulit Anda dengan menggunakan pakaian lengan panjang, celana panjang, kaos kaki, sepatu tertutup, jaket, dan topi. Usahakan untuk menggunakan bahan yang dapat menjaga kulit dari paparan sinar matahari.
  • Sangat disarankan untuk menghindari penggunaan sunbed dikarenakan dapat memancarkan sinar UV dan radiasi yang dapat merusak kulit.
  • Lakukan pemeriksaan kulit secara rutin agar bisa dilakukan penanganan secara langsung ketika gejala-gejala solar keratosis terdeteksi.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT