Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Sleep Apnea

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Sleep apnea atau apnea tidur adalah gangguan serius pada pernapasan yang terjadi saat tidur di mana saluran udara terhambat karena dinding tenggorokan yang mengendur dan menyempit. Ketika kita tidur, otot-otot tenggorokan dapat mengendurdan lemas. Dalam keadaan normal, kondisi ini tidak mengganggu pernapasan. Namun pada penderita apnea tidur, otot menjadi terlalu lemas sehingga menyebabkan penyempitan atau hambatan pada saluran udara yang mengganggu pernapasan.

Terdapat dua macam gangguan pernapasan pada penderita apnea tidur, yaitu hipopnea dan apnea. Hipopnea terjadi ketika saluran udara menyusut hingga lebih dari 50 persen dan mengakibatkan napas menjadi pendek dan lambat. Hipnonea biasanya terjadi selama sekitar 10 detik. Sedangkan apnea terjadi ketika seluruh saluran udara terhambat selama sekitar 10 detik. Saat apnea, kadar oksigen dalam darah turun sehingga otak memerintahkan kita untuk bangun dan berusaha bernapas kembali. Sepanjang malam, penderita apnea tidur dapat mengalami apnea dan hipoponea secara berulang-ulang.

Tingkat keparahan apnea tidur dapat diukur melalui indeks apnea-hipoponea dengan mengukur kekerapan gangguan pernapasan saat tidur dalam waktu 1 jam. Untuk tingkat yang ringan, gangguan pernapasan terjadi 5-14 kali dalam waktu satu jam. Untuk tingkat sedang, gangguan pernapasan terjadi sebanyak 15 hingga 30 kali per jam. Sedangkan dalam kasus yang parah, gangguan pernapasan bisa tejadi lebih dari 30 kali dalam waktu satu jam.

Apnea tidur terbagi dalam tiga jenis, yaitu apnea tidur obstruktif, sentral, dan kompleks. Apnea tidur obstruktif adalah jenis yang paling umum terjadi, di mana otot tenggorokan mengendur. Sedangkan apnea tidur sentral terjadi ketika otak tidak mengirim sinyal dengan baik pada otot yang mengatur pernapasan. Sementara itu, apnea tidur kompleks merupakan kombinasi dari apnea tidur sentral dan obstruktif.

Gejala apnea tidur bisa dialami pada usia berapa pun, meski umumnya diderita Kondisi ini sering kali tidak disadari oleh penderitanya bahwa pernapasaannya terganggu saat tidur. Gangguan tidur yang berulang ini dapat mengakibatkan tubuh menjadi lelah dan mengantuk pada siang hari.

Gejala Sleep Apnea

Berikut ini adalah beberapa gejala yang dialami penderita apnea tidur:

  • Mendengkur dengan keras.
  • Sering mengalami henti napas dan kemudian terengah-engah.
  • Bernapas dengan berat dan berisik.
  • Kesulitan tidur nyenyak di malam hari atau insomnia.
  • Bangun dengan mulut kering atau tenggorokan serak.
  • Pusing saat pagi hari.
  • Mengantuk saat pagi hari.
  • Berkeringat secara berlebihan di malam hari.
  • Sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil.
  • Mudah marah.
  • Depresi.
  • Penurunan gairah seksual atau disfungsi ereksi pada pria.

Disarankan untuk segera menemui dokter apabila seseorang mengalami beberapa gejala di atas, terutama jika gejala tersebut sudah mengganggu rutinitas sehari-hari.

Penyebab Sleep Apnea

Saat tidur, otot di belakang tenggorokan yang menopang jaringan lunak dari langit-langit (uvula), tonsil, dinding samping tenggorokan dan lidah, mengendur. Hal ini menyebabkan saluran udara menyempit atau tertutup saat kita menarik napas sehingga tidak cukup mendapat pasokan oksigen. Situasi tersebut dirasakan otak yang bereaksi membangunkan kita agar saluran udara kembali terbuka. Gangguan tidur obstuktif ini biasanya berlangsung sangat singkat dan berulang dalam satu jam. Sedangkan gangguan tidur lain atau apnea tidur sentral membuat kita tidak bisa bernapas sesaat pada waktu otak tidak mengirimkan sinyal ke otot pernapasan. Akibatnya, kita merasa sulit untuk meneruskan tidur nyenyak atau terbangun dengan napas pendek.

Beberapa kondisi yang dapat memperparah penyempitan jalan napas di malam hari pada waktu tidur, meliputi:

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda mengalami apnea tidur:

  • Jenis kelamin. Apnea tidur lebih cenderung terjadi pada pria.
  • Memiliki leher yang besar. Ukuran leher yang lebih besar dari 43 cm lebih berisiko mengalami apnea tidur.
  • Obesitas atau berat badan berlebihan. Adanya lemak berlebihan di jaringan lunak leher dan perut bisa mengganggu Anda dalam bernapas.
  • Mengonsumsi obat penenang. Obat ini dapat membuat tenggorokan mengendur, contohnya obat bius dan obat tidur.
  • Berusia 40 tahun atau lebih. Apnea tidur lebih umum terjadi pada orang-orang di usia ini, meski bisa juga terjadi pada usia berapa pun.
  • Kelainan pada struktur leher bagian dalam. Misalnya amandel yang besar, saluran pernapasan kecil, rahang bawah kecil, dan adenoid yang besar.
  • Hidung tersumbat. Orang mengalami penyumbatan pada hidung lebih berisiko menderita apnea tidur, misalnya karena polip dan kelainan struktur tulang hidung.
  • Riwayat dalam keluarga. Jika terdapat keluarga Anda yang mengalami apnea tidur, risiko Anda menderita juga akan meningkat.
  • Merokok. Merokok dapat meningkatkan risiko inflamasi dan penumpukan cairan di saluran pernapasan atas.
  • Mengonsumsi minuman keras. Kebiasaan ini jika dilakukan sebelum tidur akan memperburuk apnea tidur dan juga dengkuran Anda.
  • Menopause pada wanita. Perubahan hormon selama menopause dapat membuat tenggorokan lebih mengendur dari biasanya sehingga risiko apnea tidur meningkat.
  • Kondisi medis. Orang yang menderita gangguan jantung dan stroke berisiko mengalami apnea tidur sentral.

Diagnosis Sleep Apnea

Diagnosis apnea tidur dapat dimulai dengan menanyakan gejala yang dialami penderita, pemeriksaan fisik, termasuk tekanan darah, mengukur tinggi badan, berat badan dan leher, serta pemeriksaan darah.

Jika penyebab apnea tidur masih belum jelas, dokter bisa melakukan observasi tidur malam hari pasien melalui tes yang disebut dengan polisomnografi. Dalam observasi ini, pola perpanapasan, detak jantung dan kadar oksigen tubuh, tingkat kekerapandengkuran, dan beberapa bagian tubuh lain akan dimonitor secara seksama. Polisomnografi terdiri dari kombinasi beberapa tes, yaitu:

  • Elektromiografi (EMG), untuk memeriksa dan merekam aktivitas sinyal otot.
  • Elektroensefalografi (EEG) untuk mengamati gelombang otak.
  • Elektrokardiografi (ECG) untuk mengamati jantung.
  • Rekaman gerakan otot dada dan perut.
  • Rekaman aliran udara melalui mulut dan hidung.
  • Rekaman detak jantung dan kadar oksigen dalam darah (pulse oximetry).
  • Rekaman suara dan video.

Selain observasi tidur di klinik, observasi ini juga bisa dilakukan di rumah dengan alat perekam untuk mengamati tidur pasien di rumah. Alat tersebut merekam kadar oksigen dalam darah, detak jantung, pola pernapasan, dan aliran udara. Jika pasien mengalami apnea tidur, hasil tes akan menunjukkan kadar oksigen yang rendah saat apnea, namun kembali meningkat saat bangun.

Pengobatan Sleep Apnea

Pengobatan apnea tidur dilakukan berdasarkan kondisi dan tingkat keparahan yang dialami. Untuk apnea tidur yang ringan, penanganan yang dianjurkan adalah dengan mengubah gaya hidup seperti:

  • Menghindari obat-obatan penenang dan obat tidur.
  • Menurunkan berat badan jika Anda mengalami kelebihan berat badan.
  • Menghindari tidur terlentang. Usahakan untuk tidur dengan posisi miring.
  • Berhenti merokok bagi yang memiliki kebiasaan merokok.
  • Membatasi konsumsi minuman keras atau alkohol, terutama pada waktu sebelum tidur.

Jika cara tersebut belum dapat mengatasi gejala atau ternyata apnea tidur yang dialami merupakan tingkat sedang hingga parah, maka diperlukan terapi dengan menggunakan beberapa alat, di antaranya:

  • CPAP (Continuous Positive Airway Pressure)CPAP adalah alat untuk meniupkan udara bertekanan positif ke dalam hidung saja atau ke dalam hidung dan mulut. Udara bertekanan positif ini akan mencegah tenggorokan menutup dan meredakan gejala-gejala yang muncul akibat apnea tidur. Beberapa efek samping dari teknik pengobatan ini meliputi:
    • Hidung tersumbat.
    • Hidung berair atau iritasi.
    • Sakit kepala.
    • Sakit telinga.
    • Sakit perut dan perut kembung.
    • Rasa tidak nyaman akibat pemakaian masker.
  • BiPAP (bilevel positive airway pressure). Alat ini membuat tekanan udara saat menarik napas menjadi lebih tinggi, lalu tekanan tersebut diturunkan saat napas dikeluarkan. Tujuannya adalah untuk membantu penderita apnea tidur sentral yang mengalami pola pernapasan yang lemah.
  • MAD (Mandibular Advancement Device). Alat ini didesain untuk menahan rahang dan lidah untuk mencegah penyempitan pada saluran pernapasan yang menyebabkan seseorang mendengkur. Alat ini dipakai di atas gigi saat penderita sedang tidur. Alat ini bisa digunakan bagi orang yang tidak bisa menggunakan alat CPAP, meski tidak dianjurkan untuk penderita apena tidur yang parah.
  • ASV (adaptive servio-ventrilation). Alat yang terkomputerisasi ini merekam pola pernapasan dan dapat membuat pernapasan menjadi normal ketika tidur dengan memberi tekanan pada saluran udara.
  • Pemakaian oksigen tambahan. Berbagai alat yang dapat menyalurkan oksigen ke paru-paru sudah banyak tersedia. Penggunaan alat ini dapat membantu penderita apnea tidur, khususnya apnea tidur sentral.

Sejumlah terapi untuk kondisi medis yang terkait dengan apnea tidur juga dapat dilakukan, misalnya untuk gagal jantung atau gangguan neuromuscular. Dengan mengobati gangguan medis tersebut, maka apnea tidur diharapkan dapat hilang.

Jika terapi dengan alat tidak juga membantu mengatasi gejala apnea tidur atau jika kondisi ini berisiko mengakibatkan komplikasi serius, maka dapat dilakukan operasi sesuai dengan kondisi yang menjadi penyebab. Tindakan operasi yang biasa dilakukan adalah:

  • Bedah bariatric, Operasi pengecilan ukuran lambung yang dilakukan untuk orang obesitas.
  • Trakeostomi, yaitu operasi dengan memasukkan pipa ke tenggorokan melalui leher agar penderita mudah bernapas, meski saluran udara terhalang.
  • Tonsilektomi, yaitu operasi pengangkatan amandel ketika amandel terlalu besar dan menghalangi saluran pernapasan saat sedang tidur.
  • Implantasi langit-langit lunak, yaitu operasi yang dilakukan dengan memasang langit-langit lunak buatan untuk mengurangi getaran dan gangguan dalam pernapasan saat tidur.
  • Adenoidektomi, yaitu operasi pengangkatan adenoid ketika adenoid terlalu besar dan menghalangi saluran pernapasan ketika tidur .
  • Uvulopalatopharyngoplasty, yaitu operasi pengangkatan jaringan di belakang mulut dan tenggorokan atas, termasuk tonsil dan adenoid. Operasi ini dilakukan untuk menghetikan dengkuran yang disebabkan getaran dari struktur tenggorokan. Sebenarnya operasi ini sudah jarang dilakukan. Untuk menghilangkan jaringan di tenggorokan belakang, dapat dilakukan juga ablasi dengan frekuensi radio, terutama bagi penderita apnea tidur yang tidak bisa menggunakan CPAP atau alat lainnya yang terpasang pada gigi.
  • Prosedur reposisi rahang. Dalam operasi ini, tulang rahang diposisikan lebih ke depan daripada tulang wajah, untuk memperluas ruang di belakang lidah dan langit-langit lunak.
  • Prosedur lain untuk menghilangkan dengkur, misalnya melalui operasi pengangkatan amandel atau polip hidung.

Komplikasi Sleep Apnea

Berikut ini adalah beberapa komplikasi yang mungkin terjadi, terutama pada penderita dengan gejala apnea tidur yang tidak bisa dikendalikan. Komplikasi tersebut berupa:

  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi. Komplikasi ini tidak menimbulkan gejala khusus, tapi meningkatkan risiko penderita untuk mengalami serangan jantung dan stroke. Hipertensi bisa diatasi dengan menjalani pola hidup sehat melalui olahraga secara rutin dan konsumsi makanan sehat.
  • Diabetes tipe 2. Penderita apnea tidur cenderung mengalami resistensi insulin sehingga akhirnya menderita diabetes tipe 2.
  • Gangguan hati. Hasil tes fungsi hari kerap menunjukkan kondisi yang tidak normal pada penderita apnea tidur.
  • Sindrom metabolik. Komplikasi ini dipicu oleh faktor risiko yang terkait dengan penyakit jantung, seperti kadar kolesterol tidak normal, kadar gula yang tinggi, serta tekanan darah tinggi.
  • Kecelakaan. Orang dengan apnea tidur yang cukup parah berisiko mengalami kecelakaan saat beraktivitas di siang hari karena rasa kantuk akibat terganggunya waktu tidur di malam hari. Hal ini terutama dapat terjadi pada orang yang harus mengemudikan kendaraan dan mengoperasikan alat berat.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT