Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Skorbut

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 18 kali

Skorbut atau scurvy adalah suatu penyakit langka yang terjadi pada saat tubuh kekurangan vitamin C. Vitamin C atau asam askorbat tidak dapat diproduksi oleh tubuh sehingga perlu asupan secara rutin dan cukup dari makanan. Vitamin C sangat penting bagi tubuh karena berfungsi untuk membantu pembuatan kolagen. Kolagen merupakan protein yang terdapat pada berbagai jaringan tubuh, seperti kulit, tulang, dan pembuluh darah. Tanpa keberadaan vitamin C yang cukup, serat kolagen dalam tubuh tidak dapat diperbaiki sehingga dapat memicu kerusakan jaringan tubuh. Kerusakan jaringan inilah yang memicu munculnya skorbut pada seseorang.

Gejala Skorbut

Gejala skorbut tidak akan tampak secara jelas pada awal terjadinya kekurangan vitamin C. Gejala seringkali muncul setelah seseorang mengalami kekurangan vitamin C kronis selama 3 bulan. Pada orang dewasa, gejala skorbut yang dapat diamati adalah:

  • Merasa lelah dan letih sepanjang waktu.
  • Munculnya bintik biru kemerahan pada kulit. Bintik biru kemerahan yang muncul seringkali terjadi pada tempat munculnya rambut (folikel rambut pada kulit). Rambut yang tumbuh pada daerah tersebut seringkali berbentuk keriting dan mudah rontok. Jika tidak diobati, bintik ini dapat menyatu dan membesar.
  • Sering uring-uringan.
  • Nyeri pada anggota gerak badan, terutama pada tungkai.
  • Pembengkakan pada gusi serta mudah mengalami perdarahan.
  • Nyeri sendi parah akibat perdarahan pada sendi.
  • Sesak napas, terutama setelah melakukan aktivitas berat.
  • Kulit mudah lebam.
  • Bekas luka yang memerah dan membengkak.

Jika tidak ditangani dengan baik, skorbut dapat menyebabkan permasalahan lain seperti jaundice (ditandai dengan menguningnya kulit dan bagian putih bola mata), edema, dan penyakit jantung.

Pada anak-anak atau balita, gejala skorbut yang dapat diamati antara lain adalah:

  • Kurang nafsu makan.
  • Mudah tersinggung.
  • Penambahan berat badan lambat.
  • Diare.
  • Demam.

Jika gejala skorbut pada anak-anak sudah semakin parah, dapat muncul gejala tambahan sebagai berikut:

  • Nyeri dan pembengkakan pada kaki yang dapat terasa sangat sakit, terutama jika celana atau popok mereka sedang diganti.
  • Mata yang nampak menonjol k
  • Munculnya bintik biru kemerahan seperti gejala skorbut pada orang dewasa.

Penyebab Skorbut

Penyebab utama skorbut pada seseorang adalah kekurangan vitamin C kronis. Jika seseorang mengalami kekurangan vitamin C, maka regenerasi kolagen akan terganggu. Tanpa pembentukan serat kolagen, jaringan tubuh akan mengalami kerusakan secara perlahan. Terdapat beberapa hal yang dapat memicu seseorang mengalami skorbut sehingga terjadi kekurangan asupan vitamin C yaitu:

  • Ketergantungan obat.
  • Kebiasaan minum minuman beralkohol.
  • Mengalami gangguan mental kompleks, seperti skizofrenia dan depresi berat.
  • Menjalani kehamilan atau sedang menyususi sehingga membutuhkan asupan vitamin lebih banyak.
  • Menjalani fad diet, yaitu diet yang tidak sehat dan tidak seimbang dengan tujuan menurunkan berat badan secara instan.
  • Merokok.
  • Memiliki penyakit yang mengganggu penyerapan nutrisi, seperti kolitis ulseratif atau penyakit Crohn.
  • Menderita anoreksia nervosa, yaitu suatu kelainan mental pada seseorang yang menyebabkan dirinya selalu berpikir akan mengalami kenaikan berat badan pada saat makan sehingga hanya makan dengan jumlah sedikit.
  • Menjalani pengobatan yang dapat menimbulkan mual sehingga kehilangan nafsu makan. Contohnya adalah pengobatan kemoterapi.
  • Berusia lanjut. Lansia yang sulit menjaga pola makan sehat dan seimbang berisiko terkena skorbut.

Diagnosis Skorbut

Metode pemeriksaan paling mudah untuk mendiagnosis skorbut adalah melalui studi laboratorium terhadap kandungan vitamin C di dalam tubuh. Kandungan vitamin C yang dapat dianalisis adalah kandungan vitamin C pada plasma darah dan leukosit. Selain itu, studi radiologi juga dapat membantu mendiagnosis apakah seseorang terkena skorbut atau tidak.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendiagnosa skorbut:

  • Studi kandungan vitamin C plasma darah. Studi ini dilakukan dengan mempuasakan pasien, kemudian mengambil sampel darah dan menganalisis plasma darah untuk menentukan kandungan vitamin C. Perbedaan kandungan vitamin C dalam plasma darah dapat dijelaskan sebagai berikut:
    • Kandungan vitamin C kurang dari 0,1 mg/dL menunjukkan terjadinya skorbut pada pasien.
    • Kandungan vitamin C kurang dari 0,2 mg/dL menunjukkan terjadinya defisiensi vitamin C pada pasien.
    • Kandungan vitamin C 0,2-0,3 mg/dL menunjukkan kadar vitamin C yang rendah.
    • Kandungan vitamin C di atas 0,3 mg/dL menunjukkan pasien memiliki kadar vitamin C yang cukup.
  • Studi kandungan vitamin C leukosit. Studi kandungan vitamin C pada leukosit dapat memberikan hasil yang lebih akurat dikarenakan berhubungan langsung dengan kandungan vitamin C di jaringan. Selain itu, kandungan vitamin C di dalam leukosit tidak dipengaruhi oleh ritme tubuh harian ataupun perubahan asupan vitamin C dari makanan. Nilaikandungan vitamin C dalam leukosit dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
    • Kandungan vitamin C 0 mg/dL menunjukkan skorbut laten.
    • Kandungan vitamin C 0-7 mg/dL menunjukkan pasien mengalami defisiensi vitamin C.
    • Kandungan vitamin C 8-15 mg/dL menunjukkan kadar vitamin C yang rendah dalam jaringan.
    • Kandungan vitamin C di atas 15 mg/dL menunjukkan jaringan sudah mendapatkan vitamin C dalam jumlah cukup.
  • Studi radiologi. Studi radiologi dapat membantu diagnosis skorbut pada anak-anak, yaitu dengan melihat keadaan tulang dan sendi. Seringkali, pada tulang anak-anak yang menderita skorbut, muncul gejala sebagai berikut:
    • Pengangkatan tulang bagian subperiosteal.
    • Adanya dislokasi dan patah tulang.
    • Reabsorpsi pada rongga-rongga tulang yang menyebabkan pembesaran rongga.

Pengobatan Skorbut

Skorbut dapat diatasi dengan mudah dengan memberikan suplemen vitamin C kepada penderita. Vitamin C termasuk zat yang mudah diserap dan dapat meredakan gejala skorbut dengan cepat. Kebanyakan penderita skorbut dapat sembuh dari gejala skorbut dalam waktu sekitar dua minggu. Setelah gejala-gejala skorbut mereda, penderita skorbut harus selalu menjaga pola makannya agar asupan vitamin C tetap terjaga. Jika asupan vitamin C terjaga dengan baik, penderita skorbut tidak perlu lagi mengonsumsi suplemen vitamin C.

Penderita yang mengalami skorbut akibat suatu kelainan atau penyakit, perlu mendapatkan penanganan lain sesuai yang direkomendasikan oleh dokter spesialis di bidangnya, seperti:

  • Dokter spesialis gizi, jika dicurigai skorbut yang terjadi akibat pola makan yang tidak seimbang.
  • Dokter spesialis saluran pencernaan, jika dicurigai skorbut yang muncul karena adanya penyakit pada saluran pencernaan, seperti penyakit Crohn.
  • Psikolog, jika dicurigai skorbut yang muncul disebabkan faktor psikologis.

Untuk menjaga agar asupan vitamin C tetap cukup, berikut ini adalah kadar minimum konsumsi vitamin C yang disarankan oleh Food and Nutrition Board of the National Academy of Sciences:

  • Bayi usia 0-6 bulan: 40 mg. Usia 7-12 bulan: 50 mg.
  • Anak-anak usia 1-3 tahun: 15 mg. Usia 4-8 tahun: 25 mg.
  • Laki-laki usia 9-13 tahun: 45 mg. Usia 14-18 tahun: 75 mg. Usia 19-70 tahun: 90 mg.
  • Perempuan usia 9-13 tahun: 45 mg. Usia 14-18 tahun: 65 mg. Usia 19-70 tahun: 75 mg.
  • Wanita hamil dengan usia di bawah 18 tahun: 80 mg. Hamil dengan usia 19-50 tahun: 85 mg.
  • Wanita menyusui dengan usia di bawah 18 tahun: 115 mg. Menyusui dengan usia 19-50 tahun: 120 mg.

Pada pasien yang menderita gangguan absorpsi nutrisi, dokter akan memberikan vitamin C dalam bentuk suntikan dengan dosis 100 mg sekali pakai.

Pencegahan Skorbut

Metode pencegahan skorbut paling efektif adalah dengan menjaga asupan vitamin C sesuai dengan rekomendasi. Beberapa makanan yang kaya akan vitamin C adalah:

  • Jeruk.
  • Lemon.
  • Stroberi.
  • Jambu batu.
  • Buah kiwi.
  • Pepaya.
  • Tomat.
  • Wortel.
  • Brokoli.
  • Kentang.
  • Bayam.
  • Kol.

Vitamin C mudah rusak oleh suhu panas dan lamanya penyimpanan. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk mengonsumsi buah atau sayuran sumber vitamin C dalam keadaan yang masih segar agar kandungannya tetap terjaga.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT