Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Sindrom Klinefelter

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Sindrom Klinefelter merupakan salah satu jenis penyakit gangguan genetika. Kondisi ini diderita oleh laki-laki yang dilahirkan dengan kromosom X tambahan.

Kromosom berfungsi untuk menentukan jenis kelamin bayi, di mana bayi laki-laki memiliki susunan kromosom XY, sedangkan bayi perempuan XX. Pada penderita sindrom Klinefelter, susunan kromosom yang terbentuk di tubuh mereka adalah XXY, dengan kata lain mereka memiliki duplikat kromosom X.

Akibat duplikasi kromosom X ini, penderita sindrom klinefelter akan memiliki beberapa karakteristik yang tidak biasa ditemukan pada laki-laki sejati (hanya ada pada karakteristik perempuan).

Sindrom Klinefelter bukan merupakan penyakit turunan. Kondisi yang diidap oleh satu dari enam ratus bayi laki-laki ini terjadi secara acak sejak pembentukan sperma atau telur pada orang tua, atau saat bayi dalam kandungan.

Gejala Sindrom Klinefelter

Bayi yang dilahirkan dengan sindrom klinefelter mungkin akan memiliki gejala seperti pasif dan pendiam, kekuatan ototnya rendah, serta lambat untuk bisa duduk, merangkak, berjalan, atau bicara dibandingkan bayi normal lainnya. Selain itu, testis bayi dengan sindrom ini juga terlihat tidak turun dari perut (kriptokismus/undescended testicles).

Pada masa remaja, khususnya ketika memasuki masa puber, testis penderita sindrom klinefelter tidak tumbuh dan membesar secara normal. Akibat ukuran testis yang kecil ini produksi hormon testosteron menjadi kurang dan perkembangan seksual di masa pubertas menjadi terhambat. Kondisi ini juga dapat menyebabkan massa otot tubuh menjadi rendah sehingga tubuh menjadi lembek.

Selain itu, kurangnya produksi testosteron dapat membuat remaja penderita sindrom Klinefelter memiliki penis berukuran kecil, tidak banyak memiliki bulu-bulu di wajah atau tubuh, dan kekurangan kalsium di tulangnya. Bahkan dua pertiga dari mereka seperti mengalami pembesaran payudara dan pinggul layaknya perempuan.

Kendati kekurangan kalsium, perkembangan tinggi badan anak-anak dan remaja penderita sindrom Klinefelter biasanya tumbuh secara pesat di atas tingkat pertumbuhan rata-rata.

Gejala lainnya adalah:

  • Kurang percaya diri dan pemalu sehingga sulit mengekspresikan perasaan dan sulit bersosialisasi.
  • Mengalami dispraksia dan disleksia ringan. Biasanya kondisi yang mengganggu kemampuan belajar ini dialami dua pertiga anak-anak dan remaja sindrom Klinefelter. Mereka akan sulit berkonsentrasi pada pelajaran di sekolah dan kemampuan membaca, mengeja, serta menulis mereka juga rendah.

Gejala sindrom Klinefelter pada masa dewasa sama seperti gejala yang ada di masa remaja atau merupakan kelanjutan dari gejala di masa pubertas yang tidak segera diperiksakan ke dokter untuk didiagnosis dan ditangani.

Pada masa dewasa, selain ukuran testis dan penis yang kecil, dorongan seksual penderita juga rendah. Bahkan umumnya penderita sindrom Klinefelter sulit memiliki keturunan akibat produksi sperma yang minim atau tidak ada sama sekali. Saat dewasa, penderita juga kerap mengalami depresi dan gangguan kecemasan.

Meskipun begitu, sebagian besar penderita sindrom ini bisa menjalani hidup seperti normal saat dewasa. Gangguan belajar yang dialami biasanya tidak akan memengaruhi intelegensi sehingga mereka bisa mendapatkan pekerjaan, membangun hubungan, dan hidup secara mandiri. Untuk masalah dalam memiliki keturunan pun sama. Hal ini bisa ditangan dengan mengadopsi anak atau pun ditangani secara medis. Saat ini sedang dikembangkan metode pembuahan buatan baru dengan cara mengekstrak sperma dari testis si penderita.

Diagnosis Sindrom Klinefelter

Penting memeriksakan kondisi sejak dini (terutama sejak masa kanak-kanak dan remaja) jika Anda mencurigai anak Anda terkena sindrom Klinefelter. Meskipun beberapa gejala sulit dikenali sejak dini (salah satunya masalah fertilitas), Anda bisa menaruh kecurigaan pada gejala lainnya, misalnya gangguan belajar yang berdampak pada prestasi di sekolah atau pertumbuhan tinggi badan yang pesat dan berbeda dengan tinggi rata-rata di dalam keluarga.

Sedangkan secara medis, diagnosis sindrom klinefelter bisa dilakukan dengan cara:

  • Pemeriksaan fisik untuk mengetahui adanya ketidaknormalan pada ukuran testis, penis, atau payudara.
  • Pemeriksaan urin dan darah untuk mengetahui adanya gangguan hormon.
  • Pemeriksaan genetik melalui sampel darah untuk mengetahui adanya kromosom X tambahan.

Untuk pemeriksaan gangguan hormon bisa ditangani oleh dokter spesialis anak atau spesialis endokrinologi. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan saat umur 12 tahun atau masa pubertas. Jika dibutuhkan, pemeriksaan ulangan pada pertengahan akhir masa remaja bisa dilakukan.

Pengobatan Sindrom Klinefelter

Metode pengobatan sindrom Klinefelter yang paling umum adalah dengan terapi obat pengganti hormon testosteron. Meskipun dapat mencegah atau mengobati banyak gejala, salah satunya menurunkan risiko patah tulang dan meningkatkan kepadatan tulang, metode ini tidak dapat membantu pertumbuhan testis dan memulihkan kemandulan.

Selain itu terapi obat pengganti hormon testosteron dapat dianjurkan oleh dokter bila diperlukan untuk membantu menormalkan perkembangan pubertas, seperti massa otot, pertumbuhan bulu-bulu di badan dan wajah, serta suara berat.

Selain terapi obat pengganti hormon testosteron, jenis-jenis pengobatan sindrom Klinefelter lainnya adalah:

  • Pengobatan infertilitas
  • Operasi untuk membuang kelebihan jaringan pada payudara.
  • Fisioterapi.
  • Terapi untuk memberikan edukasi serta dukungan secara perilaku maupun emosi.
  • Terapi bicara dan bahasa
  • Konsultasi untuk membantu psikologis pasien menghadapi gejala kemandulan.

Komplikasi Sindrom Klinefelter

Ada beberapa risiko komplikasi yang kemungkinan bisa dialami oleh pria dewasa penderita sindrom Klinefelter, salah satunya adalah gangguan autoimun atau kondisi di mana sistem kekebalan tubuh berbalik menyerang jaringan tubuh. Contoh penyakit gangguan autoimun adalah lupus dan diabetes tipe 1.

Selain gangguan autoimun, komplikasi yang bisa dialami sindrom ini adalah penyakit paru-paru, varises, dan masalah pembuluh darah lainnya.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT