Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Sindrom Horner

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Sindrom Horner adalah gabungan gejala dan tanda klinis yang disebabkan oleh gangguan di jalur saraf dari otak menuju ke wajah dan mata pada salah satu sisi tubuh seseorang. Selain Sindrom Horner, kondisi ini juga dikenal dengan nama Oculosympathetic Palsy atau Sindrom Horner-Bernard.

Umumnya sindrom Horner adalah hasil dari gangguan medis lain seperti stroke, tumor, atau cedera saraf tulang belakang. Gangguan pada penderita sindrom Horner terjadi di sekumpulan serabut saraf yang berpangkal dari bagian otak bernama hipotalamus, dan kemudian menjalar ke wajah dan mata. Meskipun jarang, sindrom Horner juga bisa menjangkiti pada bayi yang baru lahir (congenital).

Gejala Sindrom Horner

Gejala adalah sesuatu yang dirasakan dan diceritakan oleh penderita. Biasanya sindrom Horner hanya memengaruhi satu sisi wajah penderita saja. Beberapa gejala dan tanda klinis sindrom Horner adalah:

  • Kelopak mata bagian bawah yang sedikit naik (upside-down ptosis).
  • Sebagian wajah hanya sedikit mengeluarkan keringat atau tidak sama sekali.
  • Ukuran kedua pupil mata yang terlihat berbeda secara jelas.
  • Pupil mata mengecil terus menerus.
  • Keterlambatan pupil untuk melebar (dilatasi) ketika dalam kondisi rendah cahaya.
  • Kelopak mata bagian atas yang tampak menurun (ptosis).

Gejala yang ada pada penderita sindrom Horner dewasa dan anak sama. Namun, pada anak ada beberapa gejala tambahan yaitu:

  • Warna iris lebih pucat pada mata anak di bawah satu tahun.
  • Bagian wajah yang terkena sindrom Horner tidak tampak kemerahan (flushing) bila terkena panas terik matahari, sedang latihan fisik atau saat reaksi emosional.

Penyebab Sindrom Horner

Kondisi yang menyebabkan munculnya sindrom Horner adalah kerusakan beberapa jalur di sistem saraf simpatetik. Sistem saraf inilah yang mengatur detak jantung, ukuran pupil mata, keluarnya keringat, tekanan darah, dan fungsi lain yang membuat tubuh mampu merespons perubahan lingkungan dengan cepat.

Sel saraf (neuron) yang terpengaruh pada sindrom Horner dibagi menjadi tiga jenis yaitu:

  • Neuron tingkat pertama. Terdapat pada hipotalamus, batang otak, dan saraf tulang belakang bagian atas. Kondisi medis penyebab sindrom Horner yang terjadi pada sel saraf jenis ini biasanya stroke, tumor, penyakit yang menyebabkan hilangnya myelin (lapisan pelindung sel saraf), cedera leher, serta adanya kista atau rongga (cavity) di tulang belakang (spinal column).
  • Neuron tingkat kedua. Terdapat pada tulang belakang, dada bagian atas, dan leher bagian samping. Kondisi medis yang bisa menyebabkan kerusakan saraf pada bagian ini adalah kanker paru-paru, tumor pada lapisan myelin, kerusakan pada pembuluh darah utama dari jantung (aorta), pembedahan di rongga dada, dan cedera traumatik.
  • Neuron tingkat ketiga. Terdapat pada bagian samping leher yang menuju ke kulit wajah dan otot-otot dari kelopak mata dan iris. Kerusakan pada sel saraf jenis ini bisa berhubungan dengan kerusakan arteri di sepanjang leher, kerusakan pembuluh darah di sepanjang leher, tumor atau infeksi di bagian dasar tengkorak, migrain, sakit kepala berat sebelah mata (cluster headaches).

Pada anak-anak, penyebab umum terjadinya sindrom Horner adalah cedera pada leher dan bahu saat persalinan, kelainan aorta saat lahir, atau tumor yang terjadi pada sistem saraf dan hormon.

Ada beberapa kasus sindrom Horner yang tidak bisa diidentifikasi penyebabnya, disebut sebagai idiopatik sindrom Horner.

Diagnosis dan Pengobatan Sindrom Horner

Diagnosis merupakan langkah dokter untuk mengidentifikasi penyebab, penyakit atau kondisi berdasarkan gejala dan tanda klinis yang dialami oleh pasien. Diagnosis sindrom Horner dilakukan dengan meneteskan obat ke kedua mata pasien.

Obat tetes ini akan menyebabkan pupil mata mengecil atau melebar. Kemudian, dokter akan membandingkan reaksi pupil mata yang normal milik pasien dengan pupil mata pasien yang dicurigai mengalami sindrom Horner. Dokter akan menilai apakah kerusakan saraf menjadi penyebab gangguan pada mata.

Jika sindrom Horner disebabkan oleh kerusakan neuron tingkat ketiga, maka kemungkinan besar gangguan berada di leher atau bagian tubuh di atasnya. Untuk mengetahui lokasi gangguan secara tepat, maka dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani uji pencitraan seperti MRI, CT scan, atau Sinar X. Untuk pasien anak-anak, dokter mungkin juga akan meminta pasien menjalani tes darah dan urine.

Tidak ada pengobatan khusus untuk menangani sindrom Horner. Pada banyak kasus, jika penyebabnya telah ditangani, maka kondisi ini akan hilang dengan sendirinya.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT