Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Sindrom Cushing

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Sindrom Cushing adalah kumpulan gejala yang muncul akibat paparan hormon kortisol dengan kadar tinggi. Kondisi ini pada sebagian kasus berkembang secara lambat dan gejalanya ringan. Namun, dapat pula berkembang dengan cepat dan lebih berat

Gejala-gejala pada sindrom Cushing antara lain kenaikan berat badan, wajah tampak bulat (moon face), penumpukan lemak di area antara leher dan bahu (buffalo hump), penurunan gairah seksual, dan melemahnya struktur tulang.

Selain itu, penderita sindrom Cushing juga bisa mengalami penipisan kulit sehingga kulit menjadi mudah memar. Munculnya guratan-guratan (stretch mark) berwarna ungu kemerahan pada bagian lengan, dada, perut, paha, dan kaki bagian bawah juga bisa terjadi.

Penyebab Sindrom Cushing

Penyebab utama sindrom Cushing adalah jumlah hormon kortisol yang berlebihan di dalam tubuh. Salah satu pemicu hal ini adalah efek samping dari penggunaan obat-obatan kortikosteroid, misalnya prednisone dan glucocorticoid, secara jangka panjang. Risiko tinggi terjadi pada penderita lupus, rheumatoid arthritis, dan asma karena kortikosteroid kerap diresepkan dokter sebagai bagian dari penanganan kondisi-kondisi tersebut. Selain itu, kortikosteroid juga umum digunakan untuk pemulihan pascaoperasi transplantasi atau pencangkokan organ.

Selain efek samping kortikosteroid, tingginya kadar hormon kortisol pada sindrom Cushing juga bisa diakibatkan komplikasi penyakit tumor adrenal dan tumor kelenjar hipofisis yang terdapat di dasar otak. Kedua jenis tumor yang tergolong sangat langka ini memicu tubuh untuk memproduksi hormon kortisol dalam jumlah yang sangat banyak.

Diagnosis Sindrom Cushing

Diagnosis sindrom Cushing tidak cukup hanya dengan melihat gejala-gejala secara fisik, seperti penipisan kulit yang menyebabkan munculnya guratan (stretch mark)atau memar, penumpukan lemak pada area antara leher dan bahu, serta wajah yang membulat. Akan lebih mudah bagi dokter untuk menarik kesimpulan bahwa seseorang menderita sindrom Cushing apabila dia juga mengonsumsi kortikosteroid sejak lama, di samping kemunculan tanda-tanda fisik yang terlihat kasat mata.

Namun jika pasien bukanlah pengguna obat-obatan kortikosteroid, maka dokter perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui adanya kaitan gejala dengan tingginya kadar hormon kortisol di dalam tubuh. Pengukuran hormon kortisol ini bisa dilakukan dengan tes darah, urine, dan air liur. Pemeriksaan seperti CT scan dan MRI scan dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya tumor pada kelenjar adrenal atau hipofisis.

Pengobatan Sindrom Cushing

Pengobatan sindrom Cushing dilakukan dengan cara menangani faktor yang mendasarinya. Apabila lonjakan jumlah hormon kortisol secara tidak wajar di dalam tubuh disebabkan oleh efek samping penggunaan kortikosteroid, maka dokter dapat menurunkan dosis atau bahkan menghentikan penggunaan dan menggantinya dengan obat lain.

Namun jika hasil tes laboratorium menunjukkan bahwa sindrom Cushing disebabkan oleh tumor yang bersarang di dalam kelenjar adrenal atau hipofisis, maka salah satu penanganan yang mungkin dilakukan adalah prosedur operasi untuk mengangkat tumor tersebut atau pengobatan lainnya untuk menyusutkannya, misalnya radiasi atau pemberian obat-obatan.

Selama menjalani pengobatan, pasien bisa mengurangi tingkat keparahan gejala dan mencegah perburukan melalui menu makanan sehari-hari. Jika Anda menderita sindrom Cushing, dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang kaya akan vitamin D dan kalsium untuk membantu memproteksi tulang. Selain itu, konsumsilah makanan rendah lemak agar gejala kenaikan berat badan pada kondisi ini bisa dikontrol.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT