Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Sepsis

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Sepsis adalah komplikasi yang jarang terjadi namun sangat berbahaya dari suatu penyakit. Pada saat terjadi infeksi, tubuh kita akan menghasilkan berbagai senyawa kimia untuk melawan infeksi tersebut. Senyawa-senyawa kimia yang dihasilkan ini akan mencetuskan suatu respon peradangan yang mengakibatkan serangkaian perubahan pada fungsi tubuh, sehingga terjadilah kerusakan berbagai sistem organ.

Pada tahap awal, sepsis biasanya ditangani dengan pemberian antibiotik dan cairan infus dalam jumlah banyak. Pada kondisi yang parah, suplai darah ke organ-organ vital seperti jantung dan ginjal akan terhenti, sehingga mengakibatkan kerusakan permanen atau bahkan kematian.

Sepsis dan Septikemia

Banyak orang yang mengira sepsis sama dengan infeksi darah atau septikemia. Anggapan ini kurang tepat karena sepsis tidak hanya akan menyerang darah, tapi juga seluruh bagian termasuk organ tubuh.

Sedangkan septikemia adalah kondisi yang muncul akibat masuknya bakteri ke aliran darah dan dapat memicu sepsis.

Faktor Pemicu dan Gejala Sepsis

Sepsis dapat diderita oleh siapa saja, namun anak-anak, lansia, pasien di rumah sakit yang mengidap penyakit serius, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami sepsis.

Berbagai macam infeksi yang tidak ditangani dengan benar bisa berujung pada sepsis. Misalnya, infeksi paru-paru atau pneumonia, penyakit usus buntu, infeksi saluran kemih, dan meningitis.

Mewaspadai perkembangan infeksi sangatlah penting agar tidak berlanjut pada tahap sepsis. Gejala-gejala yang mengindikasikan sepsis antara lain demam, menggigil, dan detak jantung serta napas yang cepat.

Komplikasi Sepsis

Sepsis dapat bertambah parah dan berkembang menjadi syok septik ketika tekanan darah pengidap turun drastis. Apabila penderita sepsis lanjut mengalami syok septik, gejala-gejala yang muncul umumnya meliputi:

  • Kulit yang pucat dan dingin.
  • Mual dan muntah.
  • Diare.
  • Nyeri otot yang parah.
  • Pingsan.

Tiap kasus sepsis membutuhkan penanganan medis secepatnya dan sebaiknya segera ditangani di rumah sakit. Jika dibiarkan, sepsis dapat berkembang dengan cepat dan bahkan berujung pada kematian.

Proses Diagnosis Sepsis

Sepsis termasuk kondisi yang sulit dideteksi karena gejala-gejalanya dapat disebabkan oleh kondisi kesehatan lain. Untuk memastikan diagnosis dan mencari tahu infeksi yang menyebabkan sepsis, serangkaian pemeriksaan akan perlu dilakukan.

Beberapa contoh pemeriksaan yang biasanya akan dijalani pasien adalah tes darah dan urine, biopsi luka (apabila ada luka), tes sampel tinja, tes dahak jika pasien mengalami batuk berdahak, rontgen dada, serta CT scan.

Langkah Pengobatan Sepsis

Pendeteksian dini berperan penting dalam penyembuhan sepsis. Orang yang terdiagnosis mengidap sepsis sebelum terjadi penyebaran pada organ-organ vital dapat pulih sepenuhnya dengan menjalani pengobatan antibiotik di rumah.

Sementara itu, pengidap sepsis yang parah dan syok septik harus menjalani penanganan di ruang perawatan intensif atau ICU karena organ-organ vitalnya membutuhkan bantuan peralatan medis selama infeksi ditangani. Penanganan medis untuk sepsis memiliki 3 langkah utama yang meliputi pemberian antibiotik, infus untuk menggantikan cairan tubuh, dan oksigen jika kadar oksigen dalam darah pasien termasuk rendah.

Gejala sepsis muncul setelah ada bagian tubuh yang mengalami infeksi atau luka. Seseorang dikatakan menderita sepsis apabila mengalami setidaknya dua dari gejala-gejala ini:

  • Suhu tubuh di atas 38.3°C atau di bawah 36°C.
  • Detak jantung/nadi lebih dari 90 kali per menit.
  • Laju pernafasan lebih dari 20 kali per menit.

Sepsis pada bayi serta balita sering sulit dikenali karena mereka belum lancar berbicara. Di samping gejala umum sepsis, beberapa indikasi yang sebaiknya diwaspadai meliputi:

  • Uring-uringan.
  • Tidak nasfu makan.
  • Muntah disertai darah atau berwarna hijau serta hitam.
  • Tidak buang air selama 12 jam.

Jika tidak segera ditangani, sepsis dapat berkembang dengan cepat dan bertambah parah serta berisiko menjadi syok septik dengan gejala-gejala yang mengindikasikan adanya kegagalan fungsi organ tubuh seperti:

  • Tekanan darah yang menurun drastis.
  • Kulit menjadi dingin dan pucat.
  • Nyeri otot yang parah.
  • Penurunan jumlah produksi urine dan frekuensi buang air kecil.
  • Linglung atau bingung.
  • Detak jantung yang abnormal.
  • Sakit perut
  • Mual dan muntah.
  • Pingsan.

Apabila Anda atau keluarga Anda diduga mengalami infeksi yang bertambah buruk atau sepsis, segera ke rumah sakit.

Sepsis merupakan kondisi mengancam jiwa yang dipicu oleh infeksi. Jenis infeksi yang biasanya menyebabkan adalah pneumonia, infeksi pada lapisan perut sebelah dalam atau peritonitis, penyakit usus buntu, infeksi saluran kemih, infeksi setelah operasi, meningitis, infeksi pada tulang, dan infeksi pada jantung.

Saat mengatasi infeksi, sistem kekebalan tubuh kita akan membatasi lokasi penyebaran infeksi dan memproduksi sel darah putih untuk memberantas mikroorganisme penyebab penyakit. Proses ini biasanya akan menyebabkan inflamasi pada bagian yang terinfeksi untuk mencegah penyebaran dan mengatasi infeksi.

Infeksi yang sangat parah atau sistem kekebalan tubuh yang lemah akan menyebabkan infeksi menyebar ke bagian-bagian lain tubuh. Penyebaran itu akan mengakibatkan sistem kekebalan tubuh lepas kendali dan memicu peradangan di seluruh tubuh. Inilah yang terjadi saat seseorang mengalami sepsis.

Inflamasi yang berlebihan akan menghambat aliran darah dan merusak jaringan sel-sel organ. Dengan aliran darah yang terhambat, tekanan darah pun menurun secara drastis.

Proses-proses tersebut akan mengurangi suplai oksigen ke organ-organ vital seperti ginjal dan otak sehingga dapat mengakibatkan kerusakan permanen. Apabila terjadi penggumpalan darah pada organ atau bagian tubuh (misalnya jari tangan atau kakidan bahkan kematian.

Faktor-faktor Risiko Sepsis

Sepsis dapat terjadi pada semua orang dan segala usia yang mengalami infeksi. Tetapi ada beberapa kelompok orang yang memiliki risiko lebih tinggi, yaitu:

  • Bayi, anak-anak, dan manula.
  • Pengidap penyakit jangka panjang, misalnya gagal ginjal dan diabetes.
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti pengidap kanker yang menjalani kemoterapi atau pengidap HIV.
  • Ibu hamil.
  • Pengidap penyakit parah yang sering dirawat di rumah sakit.
  • Orang yang memiliki luka, misalnya atau luka bekas operasi.
  • Orang yang menggunakan alat-alat medis, misalnya kateter atau alat bantu pernapasan.

Sepsis termasuk kondisi yang sulit dideteksi karena gejala-gejalanya cenderung mirip dengan penyakit lain. Namun, diagnosa sepsis biasanya bisa ditegakkan apabila pasien mengalami setidaknya 2 dari 3 gejala utama sepsis.

Untuk mencari infeksi penyebab sepsis dan memonitor organ tubuh, serangkaian pemeriksaan perlu dilakukan. Jenis-jenis pemeriksaan tersebut meliputi:

  • Tes darah, misalnya untuk mengonfirmasi infeksi dalam darah, mengevaluasi fungsi hati
  • Pemeriksaan tekanan darah.
  • Pemeriksaan sampel urin dan tinja.
  • Pemeriksaan cairan dari sistem pernapasan, misalnya dahak atau air liur.
  • Biopsi luka jika ada, yaitu pengambilan sampel jaringan atau cairan dari luka.
  • Rontgen, USG, CT scan, atau MRI scan.

Setelah terbukti mengidap sepsis, pengobatan akan dimulai secepatnya. Langkah pengobatan sepsis tergantung pada:

  • Lokasi dan penyebab infeksi.
  • Organ yang mengalami infeksi.
  • Tingkat kerusakan yang terjadi.

Makin cepat ditangani, kemungkinan pengidap untuk selamat dan sembuh juga makin tinggi. Kasus sepsis yang parah dan syok septik harus menjalani penanganan darurat di rumah sakit. Perawatan ini dibutuhkan guna mendukung organ-organ vital pasien selama infeksi berlangsung, misalnya untuk menstabilkan pernapasan dan fungsi jantung pengidap.

Langkah utama dalam menangani sepsis adalah antibiotik. Durasi penggunaan antibiotik yang dibutuhkan pun berbeda-beda dan tergantung pada kondisi pengidap dan tingkat keparahan sepsis.

Sepsis yang terdeteksi cukup awal dan belum menyebar umumnya bisa ditangani dengan tablet antibiotik tanpa harus mengidap di rumah sakit. Sedangkan infus antibiotik perlu diberikan secepatnya untuk menurunkan risiko komplikasi dan kematian pada pengidap sepsis yang parah serta syok septik.

Pengidap sepsis juga akan membutuhkan beberapa penanganan suportif untuk menangani gejala-gejala sepsis. Langkah-langkah tersebut meliputi:

  • Obat untuk meningkatkan tekanan darah. Obat ini akan mendorong otot-otot yang terkait untuk memompa darah ke seluruh tubuh dan mengencangkan pembuluh darah.
  • Pemberian oksigen. Jika kadar oksigen dalam darah pengidap terhitung rendah, dokter akan memberikan suplai oksigen melalui selang atau bahkan alat bantu pernapasan.
  • Infus untuk menggantikan cairan tubuh. Infus biasanya akan diberikan selama 1-2 hari pertama guna mencegah terjadinya dehidrasi dan menjaga fungsi ginjal. Dokter juga akan terus memantau kondisi ginjal dengan memeriksa volume urine.
  • Penanganan sumber infeksi, misalnya menguras nanah dari abses atau mengobati luka yang mengalami infeksi.

Pendeteksian dini untuk sepsis sangatlah penting agar pengidap dapat segera menjalani penanganan yang cepat dan tepat. Pengobatan yang dilakukan sejak dini dapat menurunkan risiko kerusakan jangka panjang pada organ-organ tubuh serta kematian. Jangan menunda untuk ke rumah sakit jika Anda atau keluarga Anda mengalami infeksi yang tidak membaik.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT