Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Sarkoidosis

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Sarkoidosis adalah munculnya kumpulan sel-sel inflamasi atau granuloma yang tersebar di bagian tubuh yang berbeda-beda. Umumnya muncul di daerah mata, kulit, kelenjar getah bening, dan paru-paru. Sarkoidosis dapat muncul hingga bertahun-tahun dan menyebabkan kerusakan pada organ tubuh terkait.

Kondisi ini diduga sebagai respons alami dari sistem kekebalan tubuh terhadap benda atau zat asing yang memasuki tubuh, diduga berasal dari udara yang dihirup. Pada sebagian kasus yang pernah terjadi, sarkoidosis dapat hilang dengan sendirinya, namun umumnya adalah kondisi yang tidak bisa diobati.

Penyebab Sarkoidosis

Sarkoidosis dapat dipicu oleh beberapa faktor, namun penyebab pastinya masih belum diketahui hingga saat ini. Seseorang diduga terkena sarkoidosis akibat organisme penyebab infeksi, faktor debu, zat kimia, atau sumber-sumber infeksi lainnya. Reaksi ini memicu sel imun untuk berkumpul dan membentuk pola peradangan sehingga membentuk granuloma pada organ yang terinfeksi tersebut. Seiring bertambahnya tumpukan granuloma pada organ yang terinfeksi, maka fungsi organ tersebut akan ikut terganggu.

Hingga saat ini, belum diketahui apa yang menjadi penyebab tubuh menyerang jaringannya sendiri. Kondisi yang berhubungan dengan sistem kekebalan ini, termasuk sarkoidosis, dikenal dengan kondisi autoimun dan bukan termasuk kondisi yang menular.

Beberapa faktor lain bisa meningkatkan risiko seseorang menderita sarkoidosis, antara lain:

  • Etnis – Sarkoidosis lebih rentan dialami dan terjadi secara berulang pada etnis Afrika-Amerika. Etnis ini juga memiliki risiko mengalami sarkoidosis yang lebih parah dan timbul kembali dibandingkan kelompok etnis lainnya.
  • Usia dan jenis kelamin – Penyakit ini banyak dialami oleh perempuan serta yang berada di kelompok usia 20-40 tahun.
  • Sejarah penyakit sarkoidosis di dalam keluarga.
  • Memiliki riwayat penyakit gangguan autoimun lainnya.

Gejala Sarkoidosis

Sarkoidosis memiliki gejala yang muncul secara perlahan-lahan dengan pola yang berbeda-beda pula, tergantung kepada organ tubuh yang terkena dampak penyakit ini. Pada kasus lain, gejala hanya muncul sesaat, lalu menghilang. Ada juga yang gejalanya berlangsung hingga bertahun-tahun atau sebaliknya, tidak menampakkan gejala sama sekali. Gejala sarkoidosis pada umumnya, antara lain demam, pembengkakan kelenjar getah bening, penurunan berat badan, dan kelelahan secara berlebihan. Organ-organ yang bisa terkena dampak gejala sarkoidosis meliputi kulit, paru-paru, dan mata.

Kulit

Kulit penderita sarkoidosis pada umumnya akan mengalami ruam yang berwarna kemerahan atau benjolan berwarna merah keunguan yang biasanya muncul di area pergelangan atau tulang kering. Area tersebut akan terasa hangat atau lembut ketika disentuh. Penderita juga memiliki area kulit yang berwarna lebih gelap atau lebih terang. Disertai pula dengan munculnya bintil atau bengkak di bawah kulit, khususnya di area kulit yang terdapat luka atau tato. Kemunculan cacat atau noda bekas luka di pipi, hidung, dan telinga juga bisa menandai sarkodosis.

Paru-paru

Penderita sarkoidosis cenderung bernapas tersendat-sendat disertai mengi atau mengeluarkan suara seperti bersiul dari dada. Selain itu, penderita mengalami batuk-batuk kering menetap dan sakit dada.

Mata

Mata penderita sarkoidosis akan terasa sakit yang tidak tertahankan dan sensitif terhadap cahaya. Selain mata merah yang jelas terlihat dari luar, pandangan penderita penyakit ini juga akan menjadi samar.

Sarkoidosis yang menyerang mata juga bisa tidak menunjukkan gejala sama sekali, sehingga penting untuk memeriksakan mata secara rutin.

Selain organ-organ di atas, sarkoidosis juga dapat muncul di tulang, sendi, dan otot namun kasusnya jarang ditemukan.

Diagnosis Sarkoidosis

Sarkoidosis umumnya baru diketahui ketika penderita menjalani pemeriksaan X-ray di dada untuk kondisi yang lain. Dengan kata lain, dokter akan mengetahuinya tanpa disengaja. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya gejala yang muncul, bahkan beberapa orang tidak memiliki gejala-gejala sarkoidosis.

Pemeriksaan biasanya akan dimulai dengan pemeriksaan kulit, khususnya pada area kulit yang mengalami luka. Dokter juga akan memeriksa paru-paru dan jantung, serta kelenjar getah bening untuk mendeteksi adanya pembengkakan.

Setelah itu, pemeriksaan penunjang akan dilakukan untuk memastikan diagnosis sarkoidosis dan mencari area mana yang terkena dampak kondisi ini. Pemeriksaan ini terdiri dari:

  • Tes darah untuk memeriksa kesehatan tubuh secara keseluruhan, khususnya memeriksa fungsi organ hati dan ginjal.
  • Tes fungsi paru-paru untuk mengukur volume dan seberapa banyak oksigen yang dialirkan paru-paru ke dalam darah.
  • X-ray dada untuk memeriksa jika terdapat kerusakan pada paru-paru atau terjadi pembesaran kelenjar getah bening.
  • Tes mata untuk memeriksa jika terdapat gangguan yang mungkin disebabkan oleh penyakit ini.
  • Pindai tomografi terkomputerisasi atau CT scan untuk mendeteksi komplikasi lain.
  • Pindai PET atau MRI untuk mengetahui apakah sarkoidosis telah berdampak kepada jantung atau sistem saraf pusat.
  • Biopsi, yaitu mengambil sebagian kecil jaringan dari bagian tubuh yang terkena dampak sarkoidosis untuk mencari granuloma yang menjadi penyebab Jaringan dapat juga diambil dari luka yang terdapat pada kulit, paru-paru, atau kelenjar getah bening.

Mengingat sarkoidosis dapat berkembang tanpa disertai kemunculan gejala-gejala secara spesifik, maka pemeriksaan kesehatan rutin pada mata, kulit, maupun tubuh secara keseluruhan akan sangat membantu proses diagnosis.

Pengobatan Sarkoidosis

Setengah dari kasus sarkoidosis dapat hilang dengan sendirinya dan tidak memerlukan pengobatan jika tidak ditemukan gejala yang signifikan.

Pengobatan akan diperlukan jika gejala yang dirasakan turut mengganggu atau mengancam fungsi organ tubuh lain. Beberapa jenis perawatan yang biasanya dilakukan, yaitu:

  • Pemberian obat kortisteroid, yaitu obat antiradang yang biasanya jadi terapi lini pertama untuk kondisi ini. Obat ini juga bisa dioleskan secara langsung pada kulit atau diteteskan pada mata.
  • Pemberian hydroxychloroquine untuk mengatasi gangguan kulit dan meningkatkan level kalsium di dalam darah.
  • Pemberian obat penekan sistem kekebalan untuk mengurangi peradangan.
  • Pemberian obat penghambat TNF-alpha untuk mengobati sarkoidosis yang tidak memberikan respons terhadap pengobatan lain
  • Langkah pembedahan mungkin dipilih untuk transplantasi jika kondisi ini telah merusak paru-paru, hati, atau jantung.

Sarkoidosis umumnya akan menghilang dalam kurun waktu dua tahun, namun penderita mungkin memerlukan bantuan dari tenaga konseling profesional untuk menjalani hidup akibat penyakit ini. Diskusikan kepada dokter jika penderita membutuhkan bantuan konseling atau rujukan kelompok dukungan penderita sarkoidosis.

Selain langkah pengobatan, melakukan perubahan gaya hidup yang disarankan di bawah ini dapat memudahkan penderita dalam menjalani kehidupan sehari-hari

  • Hindari terlalu sering terpapar zat kimia, debu, serta uap dan gas yang beracun.
  • Berhenti merokok.
  • Memulai diet dan pola makan seimbang yang direkomendasikan dokter.
  • Memenuhi asupan air putih yang proporsional.
  • Pastikan tubuh beristirahat dan olahraga yang cukup.

Komplikasi Sarkoidosis

Sarkoidosis umumnya bisa sembuh dengan sendirinya. Walau demikian, sebagian kasus bisa berkembang menjadi gangguan lain pada area atau organ yang terkena dampaknya, yaitu:

  • Gangguan sistem saraf utama yang terjadi akibat terbentuknya granuloma di dalam otak dan saraf tulang belakang, misalnya kelumpuhan pada saraf wajah.
  • Jaringan parut permanen pada paru-paru yang mengakibatkan kesulitan bernapas.
  • Peradangan pada mata yang dapat berujung kepada katarak, glaukoma, hingga kebutaan permanen.
  • Granuloma yang terbentuk pada jantung akan menyebabkan abnormalitas pada detak jantung maupun gangguan lain. Pada kasus yang jarang terjadi dapat berujung kepada kematian.
  • Sarkoidosis dapat berujung kepada gagal ginjal karena kondisi ini turut berdampak kepada kendali tubuh terhadap kalsium.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT