Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Sariawan

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 23 kali

Sariawan yang dalam istilah medis disebut stomatitis aftosa (apthous stomatitis) atau canker sore adalah luka di dalam mulut yang dapat menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman. Luka tersebut bisa berbentuk oval atau bulat, dan berwarna putih atau kuning dengan tepiannya yang berwarna merah akibat peradangan. Lokasi sariawan dapat terjadi di bagian dalam pipi atau bibir, serta di permukaan gusi dan lidah. Sariawan yang tumbuh dapat berjumlah satu atau lebih.

Berdasarkan ukurannya, luka sariawan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu minor, mayor, dan herpatiformis. Luka sariawan minor memiliki diameter sekitar 1 cm dan merupakan jenis yang paling banyak diderita orang-orang. Sementara itu, luka sariawan mayor memiliki diameter 2-3 cm dan dapat tumbuh di langit-lagit mulut atau lidah. Luka ini lebih dalam dengan tepi yang tidak beraturan. Berbeda dari kedua jenis luka sariawan sebelumnya, herpatiformis merupakan jenis luka sariawan yang jarang sekali terjadi. Ukuran luka ini hanya berdiameter 1-2 milimeter dan cederung tumbuh secara berkelompok (terdiri dari 10 hingga 100 luka).

Sariawan umumnya bukan termasuk penyakit yang dapat menular. Namun pada beberapa kasus, luka sariawan bisa disebabkan oleh infeksi virus. Kondisi ini biasanya terjadi pada anak-anak, seperti pada kasus penyakit tangan, kaki, dan mulut. Penyakit sariawan kebanyakan dialami oleh remaja usia 10 hingga 19 tahun akibat kurang menjaga kebersihan mulut atau adanya kerusakan pada selaput lendir di rongga mulut. Gejala sariawan yang muncul biasanya tidak parah dan dapat pulih tanpa pengobatan medis dalam waktu satu hingga dua minggu.

Gejala Sariawan

Penyakit sariwan dapat ditandai dengan luka atau beberapa luka yang muncul di dalam mulut atau tepatnya pada gusi, lidah, pipi, bibir, dan langit-langit mulut. Luka tersebut berwarna putih, kuning, atau abu-abu dan dapat membengkak. Kondisi ini menyebabkan mulut menjadi sakit dan tidak nyaman, terutama pada saat penderitanya makan, minum, atau menggosok gigi.

Penyebab Sariawan

Sariawan dapat terjadi karena berbagai faktor, di antaranya :

  • Kondisi medis yang meliputi kekurangan zat besi atau vitamin B12, penyakit Crohn, penyakit celiac, artritis reaktif, sistem imunitas yang lemah (misalnya akibat HIV dan penyakit lupus), penyakit Behcet, dan infeksi virus (misalnya pilek, penyakit tangan, kaki, dan mulut, atau pilek).
  • Cedera atau kerusakan pada lapisan dalam mulut. Hal ini dapat terjadi karena bibir tergigit secara tidak sengaja, gigi yang terlalu tajam, memakai kawat gigi, atau mengunyah makanan yang keras.
  • Efek samping obat atau metode pengobatan, misalnya nicorandil, penghambat beta, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs), kemoterapi, dan radioterapi.
  • Perubahan hormon. Kondisi ini biasanya dialami wanita yang dapat mengalami sariawan selama masa menstruasi.
  • Mengonsumsi makanan atau minuman tertentu, seperti makanan pedas dan kopi.
  • Menggunakan pasta gigi yang mengandung natrium lauret sulfat.
  • Berhenti merokok. Sariawan bisa terjadi di masa-masa awal seseorang berhenti merokok.
  • Kondisi psikologis, misalnya gelisah atau stres.

Diagnosis dan Pengobatan Sariawan

Diagnosis sariawan dapat ditetapkan berdasarkan pemeriksaan fisik pasien, terutama pemeriksaan ukuran luka sariawan, dan peninjauan riwayat kesehatan pasien. Sariawan umumya dapat pulih dengan sendirinya dalam waktu satu hingga dua minggu. Kendati demikian, penanganan secara mandiri dapat dilakukan guna mengurangi rasa sakit atau ketidaknyamanan yang dialami, di antaranya berupa:

  • Menggunakan sedotan saat minum guna mengurangi rasa sakit.
  • Menggunakan pasta gigi yang tidak mengandung bahan-bahan yang memicu iritasi, seperti sodium laurel sulfat, serta memakai sikat gigi yang lembut untuk menggosok gigi.
  • Menghindari semua pemicu yang dapat memperparah luka sariawan.
  • Mengonsumsi makanan yang lembut dan menghindari makanan yang keras, pedas, asam, asin atau minuman panas hingga luka sariawan sembuh.

Jika rasa sakit tidak dapat tertangani dengan pengobatan mandiri atau luka bertambah banyak atau besar, maka dokter dapat menganjurkan pemberian obat-obatan di antaranya:

  • Obat pereda nyeri. Obat ini dapat membuat mulut kebas sehingga tidak terasa nyeri untuk sementara waktu. Obat pereda nyeri yang diberikan bisa dalam bentuk obat kumur, semprot, atau gel (misalnya krim benzoacaine dan lidocaine). Untuk penggunaan obat kumur, sebaiknya tidak lebih dari 7 hari dan tidak diberikan untuk anak-anak berusia di bawah 12 tahun. Selain itu, ada juga obat pereda nyeri yang dapat melindungi lapisan luka sehingga tingkat keparahan nyeri dapat ditekan. Obat yang termasuk golongan ini adalah sucralfate, bismuthsubsalicylate, dan bioadherent oral.
  • Obat kortikosteroid. Obat ini dapat meredakan nyeri dan mempercepat kesembuhan. Obat ini harus segera digunakan begitu luka muncul. Yang termasuk obat kortiosteroid adalah dexamethasone, triaciomonole, fluocinoide, dan clobetasol.
  • Obat antimikroba. Obat ini dapat mempercepat penyembuhan dan mencegah infeksi pada luka. Contoh obat ini adalah tetracycline, chlorhexidene gluconate dan hidrogen peroksida.
  • Obat immunosupresan. Obat ini dapat menghambat pembentukan luka pada mulut dan biasanya diperuntukkan penderita kasus sariawan yang parah. Yang termasuk obat golongan ini adalah cochcline, clofazimine, azathioprine, dan thalidomide.

Sariawan pada umumnya akan mereda dan hilang dalam waktu satu atau dua minggu. Pemeriksaan ke dokter baru diperlukan jika:

  • Anda menderita sariawan secara berkali-kali.
  • Luka sariawan bertambah sakit atau menjadi merah yang mengindikasikan infeksi bakteri.
  • Sariawan tidak kunjung sembuh dalam waktu tiga minggu.

Pada awalnya, gejala sariawan biasanya tidak langsung terasa, tapi berkembang secara perlahan-lahan. Sariawan dapat bertahan dalam hitungan hari, minggu, atau bahkan bulan. Sariawan juga bisa menyebabkan beberapa gejala yang sangat mengganggu, di antaranya:

  • Rasa tidak nyaman dalam mulut.
  • Luka berwarna putih yang biasa muncul di lidah atau dinding mulut.
  • Perdarahan ringan yang terjadi jika luka tersebut tergores.
  • Sensasi terbakar pada mulut.
  • Bagian dalam mulut dan tenggorokan memerah dan terasa perih sehingga sulit menelan saat makan.
  • Kulit di bagian sudut mulut pecah-pecah atau kemerahan (khususnya pada pengguna gigi palsu).
  • Demam saat sariawan menyebar hingga ke kerongkongan.

Jika dibiarkan tanpa pengobatan, jamur yang menyebabkan sariawan tersebut dapat menyebar ke organ tubuh lain, seperti paru-paru, hati, dan kulit. Kendati demikian, hal ini lebih banyak terjadi pada penderita kanker, HIV, atau kondisi lain yang menyebabkan sistem kekebalan menurun.

Oleh karena itu, jika sariawan Anda terasa sakit dan tidak kunjung sembuh, Anda sebaiknya memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan memeriksa mulut pasien dan menganjurkan tes darah untuk mengecek kemungkinan adanya penyakit lain yang menjadi penyebab sariawan tersebut.

Penyebab sariawan adalah jamur Candida albicans. Jamur ini biasanya memang berada di dalam mulut dalam jumlah kecil, tapi akan mengakibatkan sariawan jika pertumbuhannya menjadi tidak terkendali. Pertumbuhan jamur tidak terkendali tersebut disebabkan kegagalan sistem kekebalan tubuh mengusir mikroba yang buruk.

Beberapa kondisi yang memicu sariawan adalah:

  • Kebersihan mulut yang tidak terjaga dengan baik.
  • Sistem kekebalan tubuh yang menurun, misalnya pada penderita HIV atau pada orang yang sedang menjalani kemoterapi.
  • Penggunaan antibiotik dalam jangka waktu lama dan dosis tinggi, seta kortikosteroid untuk penderita asma.
  • Penggunaan gigi palsu dengan ukuran tidak pas atau yang tidak dibersihkan secara teratur.
  • Penggunaan obat-obatan yang dapat menurunkan produksi air liur.
  • Memiliki penyakit atau kondisi kesehatan yang rentan mengalami sariawan, seperti HIV/AIDS, kanker, diabetes, atau infeksi
  • Perubahan hormon saat hamil.
  • Kekurangan gizi, misalnya vitamin B 12 atau zat besi.
  • Merokok.
  • Menjalani kemoterapi dan radioterapi.
  • Mulut kering karena penggunaan obat atau kondisi memiliki penyakit tertentu.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemerikaan lesi. Jika sariawan hanya terjadi di area mulut dan penderitanya tidak memiliki riwayat penyakit lain, hasil pemeriksaan cukup dilengkapi dengan melihat sampel di bawah mikroskop. Sedangkan bagi penderita yang dicurigai memiliki kondisi rentah mengalami sariawan, khususnya penderita dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah, maka perlu dilakukan pemeriksaan darah untuk memastikan sumber penyebabnya.

Jika sariawan berada di saluran kerongkongan (esofagus), diagnosis perlu dibantu dengan tes kultur usap tenggorokan untuk menentukan jenis jamur yang menyebabkan sariawan. Selain itu, dilakukan juga uji endoskopi untuk memeriksa esofagus, perut dan bagian atas usus halus.

Tujuan utama dalam pengobatan sariawan adalah untuk menghambat perkembangan jamur. Penyakit ini biasanya dapat diatasi dengan obat-obatan anti-jamur yang digunakan selama 1-2 minggu. Beberapa jenis obat anti-jamur yang biasanya dianjurkan adalah miconazole, nystatin, fluconazole, clotrimazole, serta econazole. Anda juga dapat menggunakan obat anti-jamur dalam bentuk gel, krim, obat kumur, dan tablet atau kapsul.

Semua obat pasti memiliki efek samping, termasuk obat anti-jamur. Beberapa efek sampingnya adalah diare, mual, sakit perut, gangguan pencernaan, dan sakit kepala.

Sedangkan bagi penderita sariawan yang disebabkan oleh penggunaan antibiotik atau kortikosteroid, dokter biasanya akan menyarankan perubahan dosis atau metode pemakaian obat.

Kurangi kebiasaan merokok dan senantiasa jagalah kebersihan gigi dan mulut Anda. Langkah-langkah ini dapat mempercepat proses pemulihan sariawan.

Jika Anda memiliki kondisi tertentu hingga berisiko tinggi mengalami sariawan, dokter dapat menganjurkan obat antijamur sebagai tindakan pencegahan.

Sariawan dapat dicegah dengan langkah-langkah mudah. Di antaranya:

  • Menjaga kebersihan mulut (misalnya, rajin sikat gigi dan berkumur).
  • Merawat dan memeriksakan kondisi mulut serta gigi secara teratur ke dokter gigi.
  • Mengatasi masalah kesehatan kronis (misalnya HIV atau diabetes) yang dapat mengganggu kesiembangan bakteri sehingga menimbulkan sariawan.
  • Membatasi penggunaan obat kumur atau parfum mulut agar tidak merusak keseimbangan jumlah bakteri normal dalam mulut.
  • Membatasi konsumsi makanan dengan kadar gula yang tinggi dan makanan yang mengandung ragi.
  • Merawat serta menjaga kebersihan gigi palsu yang digunakan dengan melepaskan gigi palsu setiap malam, membersihkannya, serta meredamnya di dalam campuran air dengan tablet pembersih gigi palsu. .
  • Berhenti merokok.
  • Membersihkan sela-sela gigi dengan dental floss atau benang gigi secara teratur.

Khusus bagi penderita asma yang memakai obat kortikosteroid melalui inhaler, Anda dianjurkan untuk selalu berkumur setelah menggunakannya.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT