Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Sakit Pinggang

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Sakit pinggang atau lumbago adalah nyeri yang dirasakan di sekitar tulang lumbar, di antara cakram, jaringan, otot dan saraf tulang punggung hingga organ tubuh di sekitar panggul dan perut. Kondisi ini dialami 80 persen penderita dewasa berusia 30-50 tahun dengan intensitas nyeri ringan hingga berat.

Sebagian besar penderita mengalami sakit pinggang dikarenakan alasan mekanis seperti gaya hidup yang menuntut mereka duduk untuk waktu yang lama tanpa diseimbangi dengan olahraga cukup, mengangkat barang berat, atau mengalami kecelakaan yang mencederai pinggang dan sekitarnya.

Terdapat 3 tahap sakit pinggang, yaitu sakit pinggang akut yang umumnya dirasakan selama beberapa hari, sakit pinggang sub-akut selama 4-12 minggu, dan sakit pinggang kronis yang bisa melebihi 12 minggu. Lamanya rasa sakit ditentukan dengan intensitas cedera atau penyebabnya.

Pada umumnya, gejala seperti nyeri, rasa yang menusuk, hingga mati rasa dialami penderita sakit pinggang secara mendadak atau setelah melakukan aktivitas tertentu. Kondisi ini dapat pulih dengan perawatan di rumah. Konsultasi pada dokter sangat disarankan apabila seseorang merasakan gejala selama lebih dari 72 jam, atau mengalami kondisi seperti diare, tidak dapat menahan kemih, demam, rasa lemas pada kaki, dan merasakan nyeri saat batuk atau berkemih.

Penyebab Sakit Pinggang

Penyebab sakit pinggang dibagi menjadi dua, yaitu mekanis dan medis. Penyebab mekanis dipicu oleh pengikisan struktur dan daya tahan pinggang yang meliputi sendi, cakram, otot, saraf dan tulang dengan usia sebagai faktor utama. Berikut adalah beberapa kondisi yang termasuk dalam penyebab mekanis:

  • Keseleo. Cedera yang mengakibatkan tekanan pada tendon atau otot seperti saat terpeleset, salah posisi duduk, mengangkat beban berat, atau meregangkan otot berlebih. Dalam kondisi parah, ligamen bisa mengalami perobekan.
  • Pengikisan cakram tulang belakang. Penurunan kekuatan cakram tulang belakang dalam menahan beban, menunduk, dan aktivitas lainnya.
  • Perubahan struktur tulang. Kondisi ini umumnya terjadi saat usia mulai senja dan mengakibatkan postur tubuh yang buruk. Skoliosis, kyphosis, dan lordosis adalah beberapa contoh pemicu perubahan struktur tulang.
  • Cedera cakram tulang belakang. Perobekan atau penyelipan cakram saat penderita jatuh atau terpelintir. Dalam situasi tertentu, cakram dapat menekan saraf tulang belakang, menimbulkan rasa sakit seperti tertusuk atau terbakar pada bagian pinggang hingga kaki (sciatica).
  • Radikulopati. Inflamasi atau penekanan pada saraf tulang belakang yang terjadi saat cakram yang terselip menekan saraf tulang belakang secara berlebih. Bagian tubuh yang dipersarafi oleh saraf yang tertekan akan mengalami rasa sakit, kesemutan, hingga mati rasa.
  • Stenosis spinal. Penekanan pada saraf sumsum tulang dikarenakan penyempitan pada saluran saraf di tulang belakang, mengakibatkan penderita merasa sakit seperti kram, lemas, atau mati rasa, khususnya saat berdiri atau berjalan.
  • Spondylolisthesis. Salah satu atau beberapa ruas tulang belakang bergeser dan menekan saraf tulang belakang.

Kondisi medis tertentu juga dapat memicu sakit pinggang, seperti batu ginjal, osteoporosis, peradangan sendi, fibromyalgia, penyebaran kanker dari organ tubuh lainnya, tumor, aneurisma aorta, hingga endometriosis.

Selain umur, faktor seperti genetik, gaya hidup sedentari, minim aktivitas fisik, berat badan berlebih, kondisi mental, pekerjaan, dan kehamilan dapat meningkatkan seseorang mengalami sakit pinggang.

Dalam beberapa kasus sakit pinggang, penyebabnya mungkin tidak bisa diketahui secara langsung. Ada juga beberapa gejala yang terasa seperti sakit pinggang namun mengindikasikan penyakit lain.

Jenis-jenis Sakit Pinggang

Secara umum, terdapat tiga jenis sakit pinggang yang menentukan penyebab, yaitu:

  • Sakit pinggang nonspesifik

Dalam jenis ini, penderita mengalami rasa sakit tanpa penyebab yang jelas. Sakit pinggang akut termasuk dalam jenis ini, dengan intensitas nyeri mulai dari ringan hingga berat.

  • Sciatica

Dua puluh persen penderita mengalami sciatica atau sakit pinggang yang disebabkan oleh saraf tulang belakang yang rusak atau terjepit. Cakram yang lepas atau slip disc adalah salah satunya, dengan tahap intensitas sub-akut hingga kronis. Rasa nyeri seperti ditusuk atau mati rasa biasanya dirasakan dari pinggang hingga kaki.

  • Sindrom cauda equina

Sindrom cauda equina adalah kondisi jarang namun sangat membahayakan. Kelainan ini dapat menyebabkan saraf tulang punggung paling bawah tertekan, mengakibatkan rasa sakit pinggang hebat, gangguan pada sistem kemih, anus mati rasa hingga melemahkan fungsi salah satu atau kedua kaki.

Diagnosis Sakit Pinggang

Pada tahap awal, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik sambil menanyakan mengenai aktivitas sehari-hari dan riwayat kesehatan untuk mencari pemicunya. Pemeriksaan fisik yang akan dilakukan meliputi kemampuan gerak (motorik), refleks, dan sensasi (sensorik).

Pemeriksaan lanjutan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa dan menentukan penyebab, antara lain:

  • Pemindaian, seperti foto Rontgen, CT scan, dan MRI untuk memeriksa struktur tulang, otot, dan ligamen, serta mencari tahu jika ada kondisi pemicu lainnya.
  • Pemeriksaan myelogram, untuk memperdalam hasil pemindaian dengan cara menyuntikkan cairan berwarna khusus melalui saluran tulang belakang sebelum pemeriksaan radiologi. Untuk memeriksa kondisi cakram, dapat dilakukan pemeriksaan diskografi.
  • Pemeriksaan kepadatan tulang, untuk memeriksa kepadatan struktur tulang, kelainan sendi, dan metabolisme tulang.
  • Pemeriksaan ultrasonografi, untuk memeriksa kondisi ligamen, otot ,dan tendon secara rinci melalui gelombang suara.
  • Pemeriksaan darah, untuk memeriksa adanya peradangan, infeksi hingga kondisi tertentu seperti arthritis. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan darah lengkap, laju endap darah (LED) dan protein C-reaktif.
  • Elektrodiagnostik, mendiagnosa aktivitas otot dan saraf melalui aliran listrik elektroda, meliputi tes elektromiografi (EMG), nerve conduction study (NCS), dan evoked potential test (EP).

Pengobatan Sakit Pinggang

Sebagian besar kasus sakit pinggang dapat pulih dengan sendirinya tanpa penanganan dokter, khususnya dalam jangka waktu 72 jam. Beberapa cara seperti mengompresnya dengan air hangat dan dingin secara bergantian, mengistirahatkan pinggang dengan alas bantal atau handuk baik secara lurus atau menyamping, mandi dengan air hangat, hingga mengonsumsi obat seperti ibuprofen atau paracetamol dapat dilakukan untuk mempercepat pemulihan.

Jika Anda ingin melakukan olahraga, terapi pijat, akupuntur, atau cara tradisional lainnya, disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter terlebih dahulu. Jika rasa sakit tidak kunjung reda setelah 72 jam, disarankan untuk menemui dokter agar dapat diberikan pengobatan lebih lanjut.

Obat-obatan yang biasa diberikan oleh dokter untuk mengatasi sakit pinggang, yaitu analgesik, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs), antikejang, antidepresan, hingga obat pereda nyeri dalam bentuk oles atau semprotan. Dalam kondisi kronis, dapat juga diberikan suntikan kortikosteroid.

Bersama dengan pemberian obat-obatan, berikut ini adalah beberapa terapi yang biasa dilakukan untuk sakit pinggang:

  • Terapi fisik, untuk menguatkan otot, meningkatkan kemampuan pergerakan dan kelenturan, serta memperbaiki postur tubuh.
  • Manipulasi tulang belakang, untuk mengatur dan menstimulasi tulang belakang dengan jaringan disekelilingnya. Terapi ini hanya dapat dilakukan oleh dokter yang bersertifikasi.
  • Traksi (traction), dengan menggunakan beban untuk menarik struktur tulang belakang hingga seimbang.
  • Biofeedback, dengan menggunakan elektroda untuk memantau pernapasan, kekuatan otot, denyut jantung, dan suhu kulit agar dapat menyesuaikannya dengan kondisi tubuh.
  • Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS), dengan menanamkan elektroda bertenaga baterai pada bagian pinggang yang sakit untuk memblokir sinyal listrik yang bermasalah dari sistem saraf tepi.
  • Nerve block. Terapi ini dilakukan dengan cara menekan hingga mematikan stimulasi saraf yang bermasalah menggunakan suntikan bius lokal, botulinum toxin, atau steroid pada bagian yang nyeri.
  • Suntikan steroid epidural, yaitu terapi jangka pendek untuk meredakan peradangan pada pinggang.

Jika obat-obatan dan terapi tidak membuahkan hasil, dokter mungkin akan menyarankan operasi. Operasi juga mungkin akan disarankan jika pasien mengalami kondisi-kondisi seperti ketidakmampuan menahan kemih atau penurunan fungsi saraf. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan meliputi:

  • Disektomi, untuk meredakan tekanan pada saraf tulang belakang yang disebabkan oleh cakram yang terselip dengan mengangkat bagian kecil dari kanal tulang belakang atau lamina.
  • Nukleoplasti, untuk mengangkat bagian dalam cakram dengan menggunakan alat khusus menyerupai tongkat yang dipasang melalui jarum. Alat tersebut juga dilengkapi gelombang radio untuk menghangatkan dan mengecilkan jaringan tulang belakang.
  • Ablasi atau radiofrequency lesioning, untuk menginterupsi komunikasi saraf melalui gelombang radio dengan cara menanamkan jarum khusus yang dipanaskan.
  • Foraminotomi, untuk memperbesar atau membersihkan bagian foramen atau titik akhir saraf pada kanal tulang belakang dengan cara mengangkat sebagian kecil tulang di sekitar saraf yang terhambat dan tertekan.
  • Terapi elektrotermik intradiskal (IDET), untuk menguatkan serat kolagen pada cakram dan meredakan iritasi saraf tulang belakang melalui penanaman kateter dan kawat khusus yang dipanaskan.
  • Vertebroplasti dan kyphoplasty, untuk memperbaiki patahan tulang belakang yang terjadi karena osteoporosis dengan cara memasukan jarum dan menyuntikan semen khusus untuk menguatkan tulang.
  • Spinal fusion, untuk menguatkan tulang belakang dan meredakan rasa sakit saat bergerak dengan cara mengangkat beberapa bagian tulang belakang dan digabungkan dengan alat besi khusus melalui perut (lumbar interbody fusion) atau punggung (posterior fusion).
  • Pemasangan cakram buatan. Ini merupakan tindakan alternatif mengangkat cakram yang rusak secara parah dan menggantinya dengan cakram buatan di antara tulang belakang.

Sebelum mengonsumsi obat-obatan, melakukan terapi atau operasi, pastikan Anda menanyakan dokter mengenai potensi efek samping dan risiko komplikasi yang mungkin terjadi.

Komplikasi Sakit Pinggang

Meskipun jarang, berikut adalah komplikasi yang dapat menyerang penderita sakit pinggang, seperti:

  • Sindrom Cauda Equina

Komplikasi ini umumnya terjadi saat kondisi cakram terdorong pada kanal tulang punggung, menekan lumbar dan sistem saraf, mengakibatkan penderita tidak mampu menahan kemih dan tinja. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi kerusakan fungsi saraf yang permanen.

  • Depresi

Penderita yang beristirahat di tempat tidur untuk waktu yang lama (tirah baring/bedrest) saat sakit pinggang dapat mengalami depresi dikarenakan minimnya pergerakan dan kemampuan melakukan aktivitas seperti biasanya. Selain depresi, tirah baring juga dapat menyebabkan kondisi medis lainnya seperti penurunan tonus otot hingga terbentuknya gumpalan darah pada pembuluh darah kaki.

Pencegahan Sakit Pinggang

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah sakit pinggang, seperti:

  • Melakukan olahraga peregangan otot setidaknya 30 menit sehari.
  • Menjaga berat badan ideal.
  • Menjaga postur tubuh dengan menghindari posisi bungkuk saat duduk dan berdiri.
  • Mengangkat beban dengan kekuatan lutut dan kaki, tanpa memelintirkan tubuh.
  • Menghindari mengangkat beban melebihi kemampuan tubuh.
  • Berhenti merokok untuk menjaga kesehatan tulang.
  • Mengonsumsi asupan nutrisi yang tepat.
  • Selalu meregangkan tubuh secara berkala, khususnya bagi orang dengan pola hidup sedentari.
  • Tidur dengan posisi menyamping dan lutut melipat keatas untuk mengurangi penekanan pada pinggang. Gunakanlah alas tidur yang kuat dan sesuai dengan postur tubuh.
  • Memilih perabotan sesuai dengan tinggi badan.
  • Menghindari penggunaan sepatu hak tinggi untuk waktu yang lama.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT