Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Sakit Maag

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Sakit maag (indigestion) adalah istilah yang menggambarkan nyeri yang berasal dari lambung, usus halus, atau bahkan kerongkongan akibat sejumlah kondisi. Sebutan lain sakit maag adalah dispepsia.

Sakit maag bisa disebabkan oleh banyak hal, di antaranya akibat luka terbuka yang muncul di lapisan dalam lambung (tukak lambung), infeksi bakteri Helicobacter pylori, efek samping penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), dan stres.

Meskipun sebagian besar sakit maag bisa ditangani tanpa perlu berkonsultasi kepada dokter, namun pemeriksaan dokter medis tetap perlu dilakukan jika sakit maag disertai dengan Anda menjadi sering muntah, Anda menjadi sulit menelan dan mengalami penurunan berat badan, serta jika Anda dan telah menginjak berusia 55 tahun ke atas.

Jika Anda terbukti sakit maag, maka dokter akan meresepkan obat. Beberapa contoh obat yang bisa digunakan untuk mengatasi sakit maag adalah antasida, antagonis reseptor H2 (H2RA), penghambat pompa proton (PPI), alginat, antibiotik, prokinetik, dan obat antidepresan.

Sakit maag termasuk penyakit umum di Indonesia. Menurut data yang dilakukan di beberapa pusat endoskopi di Indonesia terdapat sekitar 7000 kasus maag dengan 86,4 persen dari jumlah tersebut merupakan dispepsia fungsional. Dispepsia fungsional merupakan kondisi sakit maag yang tidak diketahui penyebabnya.

Selain nyeri pada perut bagian atas (area antara pusar dan bawah tulang dada), gejala sakit maag bisa berupa:

  • Rasa panas pada perut bagian atas
  • Cepat merasa kenyang ketika makan dan rasa kenyang berkepanjangan setelah makan
  • Mual
  • Kembung pada perut bagian atas
  • Refluks (kembalinya makanan atau cairan dari lambung ke kerongkongan)
  • Sering bersen­dawa
  • Muntah
  • Nyeri ulu hati atau rasa panas dan nyeri di tengah dada (kadang-kadang terasa sampai punggung dan leher) yang muncul ketika atau setelah makan

Sakit maag yang disertai dengan gejala rasa panas di dalam dada akibat naiknya asam lambung ke kerongkongan, adalah kasus sakit maag yang seringkali terjadi.

Bagi penderita sakit maag, gejala biasanya akan menjadi lebih buruk jika dirinya juga mengalami stres. Selain stres, masuknya udara lewat mulut ketika mengonsumsi makanan juga bisa menyebabkan perut semakin kembung dan frekuensi sendawa meningkat.

Berikut ini beberapa kondisi yang bisa menyebabkan sakit maag, di antaranya:

  • Tukak lambung (luka terbuka yang muncul di lapisan dalam lambung)
  • Infeksi bakteri Helicobacter pylori
  • Efek samping penggunaan obat anti-inflamasi nonsteroid (misalnya ibuprofen dan aspirin) dan obat golongan nitrat
  • Masalah psikologi (misalnya cemas dan stres)
  • Penyakit refluks gastroesofagus (pergerakan balik asam lambung menuju kerongkongan)
  • Terlalu banyak makan
  • Obesitas
  • Makan terlalu cepat
  • Mengonsumsi makanan berminyak, berlemak, dan pedas
  • Merokok
  • Terlalu banyak mengonsumsi kafein, soda, atau minuman beralkohol
  • Terlalu banyak mengonsumsi cokelat
  • Konstipasi

Selain kondisi-kondisi di atas, sakit maag juga bisa terjadi akibat komplikasi suatu penyakit. Contoh-contoh penyakit yang bisa menyebabkan sakit maag adalah penyakit batu empedu, radang pankreas (pankreatitis), penyakit iskemia usus (berkurangnya aliran darah di usus), penyumbatan usus, penyakit celiac, penyakit hernia hiatus (bagian lambung menonjol ke dalam diafragma), dan kanker lambung.

Sebagian besar kasus sakit maag tidak membutuhkan pemeriksaan dokter, namun temuilah dokter jika sakit maag Anda sering kumat dan Anda:

  • Sudah berusia 55 tahun ke atas
  • Sering muntah
  • Mengalami disfagia atau sulit menelan
  • Mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
  • Mengeluarkan muntah atau tinja yang disertai darah

Selain itu, pemeriksaan dokter juga perlu dilakukan bagi penderita sakit maag persisten yang tengah menderita anemia defisiensi zat besi atau sakit maag persisten tersebut menyebabkan munculnya benjolan di area sekitar lambung.

Contoh-contoh pemeriksaan lanjutan yang mungkin diterapkan oleh dokter, di antaranya:

  • Pemeriksaan gangguan metabolisme dan gangguan tiroid yang dilakukan di laboratorium.
  • Endoskopi dan pengambilan sampel jaringan (biopsi) untuk mendeteksi adanya masalah pada saluran pencernaan bagian atas.
  • Pemeriksaan tinja dan napas untuk mendeteksi keberadaan bakteri Helicobacter pylori.
  • Pemindaian dengan CT scan atau X-ray untuk mendeteksi adanya obstruksi usus.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meredakan sakit maag, di antaranya:

  • Mengurangi atau menghentikan konsumsi zat kafein atau alkohol apabila sakit maag disebabkan oleh kedua zat tersebut.
  • Menghindari makanan-makanan yang bisa memicu sakit maag atau membagi porsi makan ke dalam jadwal makan yang baru (misalnya sebelumnya Anda makan tiga kali sehari, namun masing-masing dalam porsi besar, Anda bisa mengubahnya menjadi empat atau lima kali sehari dengan porsi masing-masing yang lebih sedikit).
  • Tidak membiarkan diri dikuasai oleh rasa cemas dan mengendalikan stres. Apabila Anda tidak mampu melakukannya, minta bantuan psikiater. Teknik relaksasi atau terapi perilaku kognitif merupakan contoh pengobatan yang mungkin disarankan.
  • Menghentikan konsumsi ibuprofen atau aspirin jika sakit maag disebabkan oleh obat-obat tersebut. Selanjutnya, konsultasikan kepada dokter untuk menentukan obat pengganti.

Obat-obatan

Pada kasus sakit maag persisten, penggunaan obat-obatan adalah pilihan utama untuk mengatasi kondisi ini. Beberapa contoh obat yang biasanya diresepkan dokter adalah:

  • Antasida. Obat ini mampu menetralkan asam lambung berlebih agar tidak mengiritasi dinding saluran pencernaan. Antasida dapat dibeli tanpa resep untuk mengatasi gejala sakit maag yang masih tergolong ringan atau menengah.
  • Obat antagonis reseptor H2 (H2RA). Obat ini mampu mengurangi jumlah asam lambung.
  • Obat penghambat pompa proton (PPI). Sama seperti H2RA, obat-obatan PPI bertujuan mengurangi kadar asam lambung. Selain itu, obat ini juga bisa diresepkan untuk penderita sakit maag yang mengalami gejala panas dan nyeri di tengah dada.
  • Alginat. Obat ini biasanya diresepkan pada kasus sakit maag yang disebabkan oleh refluks asam lambung.
  • Antibiotik. Obat ini akan diresepkan dokter jika sakit maag yang terdeteksi disebabkan oleh bakteri Helicobacter pylori.
  • Prokinetik. Obat ini mampu meredakan gejala sakit maag dengan cara mempercepat pencernaan makanan.
  • Obat antidepresan. Obat ini bisa saja diresepkan dokter guna mengurangi gejala nyeri saat sakit maag.

Beberapa contoh komplikasi yang berkaitan dengan sakit maag adalah:

  • Penyempitan esofagus. Penyempitan atau striktur esofagus bisa saja terjadi pada seseorang yang sering mengalami sakit maag akibat refluks asam. Asam lambung yang naik ke kerongkongan dapat menimbulkan jaringan parut di kerongkongan dan mempersempit saluran tersebut. Gejala yang bisa muncul berupa sulit menelan dan nyeri dada.
  • Esofagus Barrett. Serupa dengan penyempitan esofagus, esofagus Barrett disebabkan oleh paparan asam lambung di kerongkongan secara terus-menerus. Namun pada kasus ini, sel-sel yang terdapat di lapisan bagian bawah kerongkongan berubah menjadi sel kanker. Perubahan sel tersebut berisiko mengarah kepada kanker kerongkongan.
  • Stenosis pilorus. Kondisi ini disebabkan oleh paparan asam lambung pada area pilorus (bagian antara lambung dan usus halus) dalam jangka panjang. Paparan menimbulkan jaringan parut dan mempersempit pilorus. Akibatnya makanan menjadi tidak tercerna dengan baik. Selain itu, muntah-muntah juga bisa dialami oleh penderita stenosis pilorus.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT