Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Sakit Kepala Cluster

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Sakit kepala cluster (cluster headache) adalah nyeri pada kepala yang terjadi secara berulang dalam suatu siklus atau pola tertentu. Dikarenakan sakit kepala cluster muncul secara rutin pada periode tertentu, kebanyakan orang menyangka sakit kepala cluster sebagai gejala alergi musiman atau depresi akibat pekerjaan.

Sakit kepala cluster yang terjadi pada malam hari sering kali membangunkan penderita dengan nyeri yang berat pada bagian sekeliling sebelah mata. Suatu siklus sakit kepala cluster dapat terjadi setiap minggu hingga setiap bulan, yang diikuti dengan periode pengurangan atau penghilangan nyeri pada saat sakit kepala sudah berhenti. Periode yang dikenal dengan nama periode remisi ini dapat berlangsung selama beberapa bulan hingga beberapa tahun.

Sakit kepala cluster dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu sakit kepala episodik dan sakit kepala kronis. Sakit kepala cluster episodik terjadi 1-2 kali dalam jangka waktu 7 hari hingga satu tahun, dengan periode remisi (bebas sakit kepala) minimal 1 bulan. Sakit kepala cluster kronis terjadi lebih sering dibanding cluster episodik, dan tanpa periode remisi atau periode remisi kurang dari 1 bulan.

Sakit kepala cluster jarang terjadi pada orang yang tidak memiliki faktor risiko. Selain itu, sakit kepala cluster tidak bersifat fatal. Pengobatan yang dilakukan bertujuan untuk menurunkan intesitas nyeri, memperpendek lamanya nyeri tersebut berlangsung, serta menurunkan frekuensi munculnya sakit kepala cluster.

Penyebab Sakit Kepala Cluster

Penyebab utama sakit kepala cluster sampai saat ini belum bisa dipastikan. Berdasarkan siklus munculnya sakit kepala cluster, diduga penyebab utamanya adalah gangguan jam biologis yang diatur oleh hipotalamus. Hipotalamus yang terganggu akan mengaktifkan rangsangan kepada saraf trigeminus yang menyebabkan munculnya rasa panas dan nyeri di bagian wajah dan sekitar mata.

Sejumlah faktor yang diduga turut memicu terjadinya sakit kepala cluster adalah:

  • Cuaca panas
  • Penggunaan nitrogliserin
  • Stres
  • Relaksasi
  • Suhu ekstrim
  • Rhinitis alergi
  • Aktivitas seksual

Sedangkan beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena sakit kepala cluster adalah:

  • Jenis kelamin pria. Laki-laki lebih sering terkena sakit kepala cluster dibandingkan perempuan.
  • Usia. Meskipun sakit kepala cluster dapat terjadi pada usia berapa pun, kondisi ini umumnya muncul pada usia 20-50 tahun.
  • Kebiasaan merokok. Kebanyakan penderita sakit kepala cluster adalah orang yang memiliki kebiasaan merokok. Walaupun demikian, menghentikan kebiasaan merokok juga tidak menjamin dapat menurunkan risiko munculnya sakit kepala clsuter.
  • Konsumsi minuman beralkohol. Alkohol dapat memicu terjadinya serangan sakit kepala pada orang-orang yang memang berisiko terhadap kondisi ini.
  • Riwayat keluarga. Seseorang berisiko mengalami sakit kepala cluster apabila memiliki anggota keluarga dengan riwayat tersebut.

Sakit kepala cluster umumnya akan menjadi permasalahan sepanjang hidup penderitanya. Meskipun demikian, tidak ada kasus kematian yang disebabkan langsung oleh kondisi ini. Namun perlu diperhatikan bahwa dengan kondisi sakit kepala yang berat, penderita memiliki risiko untuk mencederai diri sendiri, menjadi perokok atau meningkatkan frekuensi merokok, meningkatkan konsumsi alkohol, atau bahkan mencoba melakukan bunuh diri.

Gejala Sakit Kepala Cluster

Sakit kepala cluster sering kali muncul tiba-tiba dan tanpa ada gejala yang mendahului. Peningkatan rasa nyeri akibat sakit kepala cluster hingga mencapai puncak nyerinya berlangsung sekitar 5-10 menit. Akan tetapi pada beberapa orang, kadang-kadang kemunculan sakit kepala cluster didahului oleh rasa mual dan sakit kepala seperti migrain. Gejala sakit kepala cluster yang seringkali muncul adalah sebagai berikut:

  • Sakit yang menyiksa yang umumnya muncul di daerah sekitar mata dan dapat menyebar ke daerah leher, kepala, bahu, atau wajah.
  • Tidak dapat beristirahat atau tidur.
  • Pengeluaran air mata secara berlebihan.
  • Nyeri di sebelah tubuh.
  • Salah satu mata menjadi merah atau bengkak, tergantung kepada sisi kepala yang mengalami nyeri.
  • Salah satu lubang hidung menjadi pilek atau tersumbat, tergantung kepada sisi kepala yang mengalami nyeri.
  • Muncul keringat di bagian dahi dan wajah.
  • Kulit sekitar wajah menjadi pucat.
  • Kelopak mata turun.
  • Pupil mengecil.

Meskipun sakit kepala cluster sering kali menyerang secara tiba-tiba, beberapa dari gejala tersebut dapat muncul sebelum serangan nyeri meningkat. Munculnya gejala di atas, merupakan peringatan bagi penderita sebelum sakit kepala cluster mencapai puncak nyerinya.

Selama periode cluster, penderita dapat mengalami hal-hal sebagai berikut:

  • Sakit kepala yang terjadi hampir setiap hari, dengan durasi 15 menit hingga 3 jam.
  • Sakit kepala dapat muncul beberapa kali dalam sehari.
  • Sakit kepala sering muncul pada malam hari, biasanya sekitar 1-2 jam setelah tidur.
  • Sakit kepala dapat muncul dan menghilang secara tiba-tiba. Setelah serangan sakit kepala berakhir, kebanyakan orang tidak akan merasakan nyeri kembali, namun akan mengalami kelelahan.
  • Menjadi gelisah dan tidak tenang.
  • Tidak mau beristirahat dan lebih memilih untuk bergerak di sekeliling.
  • Menjerit kesakitan.

Segera cari pertolongan medis jika seseorang mengalami hal-hal sebagai berikut:

  • Sakit kepala berat yang muncul tiba-tiba.
  • Sakit kepala berat disertai dengan mual, muntah, nyeri leher, gangguan mental, kejang, kaku, atau kesulitan berbicara yang menunjukkan gejala penyakit tertentu seperti stroke atau meningitis.
  • Sakit kepala yang muncul setelah mengalami cedera, terutama jika sakit kepala memburuk.
  • Sakit kepala yang memburuk setelah berhari-hari dan memiliki pola yang berubah-ubah.

Diagnosis Sakit Kepala Cluster

Sakit kepala cluster memiliki karakteristik dan pola khusus yang membedakannya dari sakit kepala lain. Beberapa faktor yang harus diketahui dokter untuk memudahkan diagnosis sakit kepala cluster adalah:

  • Deskripsi dan ciri-ciri sakit kepala.
  • Lokasi sakit kepala.
  • Tingkat keparahan sakit kepala.
  • Frekuensi sakit kepala.
  • Durasi sakit kepala.

Setelah dokter mendapatkan informasi tersebut, dokter akan melakukan metode diagnosis berikutnya, yaitu:

  • Pemeriksaan neurologis. Prosedur diagnosis ini dilakukan dengan mengecek fungsi otak, kemampuan indera, refleks pasien, dan kemampuan saraf pasien secara umum. Prosedur ini berfungsi untuk menemukan gejala fisik dari sakit kepala cluster.
  • Pemindaian. Jika pasien menderita sakit kepala berat yang tidak biasa dan hasil diagnosis pemeriksaan neurologis menunjukkan adanya kelainan, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan dengan pemindaian, yang bertujuan untuk menemukan penyebab munculnya sakit kepala tersebut, seperti tumor atau aneurisme. Pemindaian yang dapat digunakan adalah:
    • MRI. Metode ini dilakukan dengan menggunakan gelombang magnetik untuk menampilkan gambaran organ dalam tubuh secara detail.
    • CT Scan. Metode pemindaian organ dalam ini dilakukan dengan menggunakan sinar-X.

Pengobatan Sakit Kepala Cluster

Tujuan utama pengobatan sakit kepala cluster adalah untuk mengurangi rasa sakit, mengurangi durasi munculnya sakit kepala, dan mencegah munculnya sakit kepala. Berdasarkan tujuan tersebut, jenis-jenis pengobatan yang dapat diberikan kepada pasien sakit kepala cluster adalah sebagai berikut:

  • Pengobatan cepat (akut). Pengobatan cepat diterapkan untuk menghilangkan dan mengurangi sakit kepala cluster yang muncul secara tiba-tiba dengan menggunakan:
    • Pemberian oksigen. Pemberian oksigen murni sebanyak 12 liter per menit kepada pasien dapat menurunkan tingkat keparahan nyeri akibat sakit kepala cluster. Selain murah, cara ini efektif untuk meredakan sakit kepala yang muncul mendadak dan dapat digunakan langsung pada pasien.
    • Triptan. Triptan merupakan jenis obat sumatriptan yang diberikan melalui suntikan. Triptan umumnya diberikan pada penderita sakit kepala migrain, namun juga dapat diberikan untuk penderita sakit kepala cluster. Selain diberikan melalui suntikan, triptan juga dapat diberikan dalam bentuk semprotan hidung/nasal spray (contohnya adalah spray zolmitriptan). Triptan tidak boleh diberikan kepada pasien yang sedang mengalami masalah tekanan darah tinggi atau penyakit jantung.
    • Okreotida. Oktreotida merupakan obat sintetis dari hormon somatostatin yang dapat meredakan nyeri dari sakit kepala cluster.
    • Anestesi lokal. Pemberian anestesi lokal melalui intranasal dapat meredakan nyeri akibat sakit kepala cluster.
    • Dihidroergotamin. Dihidroergotamin dapat membantu menurunkan nyeri sakit kepala cluster baik diberikan dengan cara injeksi maupun intranasal.
  • Pengobatan preventif. Pengobatan preventif dilakukan untuk mengurangi dan menghilangkan nyeri akibat sakit kepala cluster. Namun setelah nyeri hilang, obat tetap dilanjutkan dengan dosis yang lebih kecil. Jenis obat-obatan tersebut adalah:
    • Penghambat pompa kalsium. Obat peghambat pompa kalsium seperti verapamil sering kali digunakan sebagai pilihan pertama dalam mengobati sakit kepala cluster. Untuk mengobati sakit kepala cluster kronis, verapamil dapat digunakan dalam jangka panjang. Efek samping dari verapamil bisa berupa sembelit, mual, kelelahan, pembengkakan pada pergelangan kaki, dan tekanan darah rendah.
    • Kortikosteroid. Obat-obatan antiinflamasi golongan kortikosteroid seperti prednison dapat bekerja untuk mengobati sakit kepala cluster yang muncul sesekali dengan periode remisi yang cukup lama. Akan tetapi perlu diperhatikan efek samping dari penggunaan kortikosteroid jangka panjang, seperti diabetes, hipertensi, dan katarak.
    • Litium Karbonat. Litium karbonat yang sering digunakan untuk mengobati kelainan bipolar dapat digunakan untuk mencegah munculnya sakit kepala cluster. Efek samping yang mungkin muncul dari penggunan obat ini adalah tremor, meningkatnya rasa haus, dan diare. Selain itu, litium karbonat dapat menyebabkan gagal ginjal pada beberapa kasus.
    • Penghambat saraf. Penghambat saraf seperti anestesi jika dikombinasikan dengan obat kortikosteroid dapat digunakan untuk meredakan sakit kepala cluster kronis. Kedua kombinasi obat tersebut dapat diinjeksikan ke lobus oksipital (bagian belakang otak) jika pengobatan cepat lain untuk sakit kepala cluster belum bisa digunakan.
  • Pembedahan. Pengobatan sakit kepala cluster melalui pembedahan sangat jarang direkomendasikan oleh dokter. Metode pembedahan untuk meredakan sakit kepala cluster adalah dengan merangsang satu sisi atau kedua sisi lobus oksipital. Prosedurnya dilakukan dengan menanam elektroda pada salah satu atau kedua bagian lobus oksipital. Metode pembedahan lainnya adalah dengan stimulasi otak bagian dalam atau dengan merusak urat saraf yang mengatur area di sekitar mata. Mengingat komplikasi dari kedua metode tersebut yang cukup berat bagi penderita, pertimbangan untuk memilih kedua metode pembedahan harus dilakukan dengan baik.
  • Implan stimulan. Pada penderita sakit kepala cluter kronis yang tidak bisa ditangani dengan metode pengobatan lain, pemasangan alat stimulan untuk meredakan nyeri akibat sakit kepala cluster bisa dilakukan. Alat stimulan yang ditanam berfungsi untuk menstimulasi saraf parasimpatetk dan meredakan sakit kepala cluster. Alat tersebut ditanam di kepala bagian samping. Pada saat muncul serangan sakit kepala cluster, penderita dapat mengaktifkan alat ini untuk mengalirkan impuls listrik pada saraf sehingga meredakan sakit kepala cluster.

Manajemen Pola Hidup Bagi Penderita Sakit Kepala Cluster

Penderita sakit kepala cluster akan memiliki masalah pada saat sakit kepala cluster menyerang sewaktu-waktu. Serangan sakit kepala cluster terkadang tidak akan tertahan oleh penderita dan dapat menimbulkan perasaan deperesi serta cemas. Selain itu, kondisi fisik dan mental yang terganggu akibat serangan sakit kepala cluster dapat memengaruhi kehidupan pribadi dan sosial penderita. Oleh karena itu, konsultasi dengan terapis atau konselor akan sangat membantu penderita sakit kepala cluster dalam menghadapi masalah-masalah yang muncul. Dokter dapat merekomendasikan terapis atau grup konseling untuk membantu penderita sakit kepala cluster.

Penderita sakit kepala cluster sangat dianjurkan untuk menghindari konsumsi minuman beralkohol karena memicu munculnya serangan sakit kepala. Menjaga jam dan pola tidur yang teratur juga penting bagi penderia sakit kepala cluster.

Pencegahan Sakit Kepala Cluster

Meskipun sakit kepala cluster dapat terjadi pada periode tertentu, ada sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk menghindari munculnya nyeri secara mendadak, yaitu:

  • Menghindari pemicu sakit kepala, seperti minuman beralkohol, parfum, senyawa kimia berbau, cat, atau bensin.
  • Tidak melakukan olahraga pada saat cuaca panas.
  • Mengonsumsi obat-obatan pereda nyeri yang khusus untuk sakit kepala cluster pada saat periode serangan sakit kepala cluster dimulai. Konsumsi obat-obatan tetap dilakukan hingga serangan sakit kepala diperkirakan sudah selesai.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT