Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Sakit Kepala

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 18 kali

Sakit kepala adalah rasa sakit yang muncul di sekitar kepala. Sebagian besar sakit kepala yang terjadi tidak serius dan bisa diatasi dengan mudah, seperti dengan meminum obat pereda sakit, minum air putih yang cukup, dan lebih banyak istirahat. Tapi ada beberapa jenis sakit kepala yang memerlukan penanganan lebih karena berkelanjutan atau bahkan ada yang bisa membahayakan nyawa.

Sakit kepala tidak memiliki jangka waktu tertentu, bisa berlangsung kurang dari satu jam atau bahkan selama beberapa hari, serta bisa muncul secara tiba-tiba atau perlahan-lahan.

Penyebab Sakit Kepala

Penyebab sakit kepala bisa diakibatkan oleh berbagai hal, namun secara umum sakit kepala bisa dikelompokkan berdasarkan penyebabnya, yaitu sakit kepala yang tidak terkait dengan penyakit lain atau disebut dengan sakit kepala primer dan sakit kepala yang diakibatkan oleh penyakit lain atau disebut juga sakit kepala sekunder.

Beberapa tipe sakit kepala primer yang paling sering terjadi adalah sebagai berikut:

  • Sakit kepala tegang
  • Migrain
  • Sakit kepala cluster

Selain itu, di bawah ini adalah beberapa penyebab sakit kepala sekunder yang umum terjadi:

  • Sakit kepala yang disebabkan oleh kondisi infeksi seperti meningitis. Infeksi juga dapat berasal dari bagian tubuh lain selain kepala, seperti yang terjadi pada kasus sinusitis, flu, infeksi telinga, serta infeksi pada gigi.
  • Trauma. Misalnya akibat terbentur atau setelah mengalami kecelakaan.
  • Adanya perdarahan atau sumbatan pembuluh darah di dalam otak.
  • Kanker otak.
  • Pengar (hangover).
  • Sakit kepala rebound. Sakit kepala ini disebabkan karena terlalu banyak mengonsumsi obat pereda sakit

Temui dokter untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan penanganan lebih lanjut karena sakit kepala yang diderita mungkin saja merupakan gejala dari penyakit yang lebih serius.

Pengobatan Sakit Kepala

Pengobatan sakit kepala yang dilakukan harus dilihat dari gejala yang dialami dan berdasarkan penyebabnya, karena tidak semua tipe sakit kepala bisa diatasi dengan meminum obat pereda sakit kepala saja. Temui dokter untuk mendiagnosis masalah kesehatan yang menyebabkan sakit kepala.

Jika Anda mengalami gejala-gejala berikut selain sakit kepala, segera ke rumah sakit terdekat:

  • Kesulitan berbicara
  • Gangguan pada penglihatan
  • Salah satu sisi tubuh menjadi lemah atau lumpuh
  • Leher kaku
  • Hilang kesadaran
  • Demam tinggi
  • Sulit berjalan

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu mencegah sakit kepala, seperti istirahat yang cukup, mengelola stres dengan baik, dan rutin berolahraga.

Selain itu, Anda juga harus mencari tahu apa yang menjadi pemicu sakit kepala yang Anda alami dan berusaha untuk menghindarinya.

Sakit kepala bisa disebabkan oleh berbagai hal. Dokter bisa menentukan penyebab serta perawatan yang tepat berdasarkan pemeriksaan yang lengkap.

Secara umum, sakit kepala bisa dikelompokkan berdasarkan penyebabnya, yaitu sakit kepala yang tidak terkait dengan penyakit lain atau disebut dengan sakit kepala primer dan sakit kepala yang diakibatkan oleh penyakit lain atau disebut juga sakit kepala sekunder. Berikut ini adalah penjelasannya.

Sakit Kepala Primer

Sakit kepala primer adalah sakit kepala yang disebabkan oleh gangguan pada struktur di kepala yang sensitif terhadap rasa sakit dan bukan merupakan gejala akibat penyakit lain.

Ada beberapa faktor yang berperan dalam sakit kepala primer, di antaranya adalah gangguan pada otot leher dan kepala, aktivitas kimia di otak, pembuluh darah atau/dan saraf. Pada sebagian orang, sakit kepala primer merupakan kondisi yang turun-temurun di keluarganya. Berikut ini adalah beberapa tipe sakit kepala primer yang paling sering terjadi.

  • Sakit kepala tegang. Ini adalah tipe sakit kepala yang paling sering terjadi. Biasanya orang yang mengalami sakit kepala tipe ini akan merasakan seakan ada pita karet yang melilit di sekeliling kepala dan kepala terasa ditekan terus-menerus. Beberapa hal yang bisa menjadi penyebabnya adalah depresi, kurang tidur, stres, dehidrasi, melewatkan waktu makan, dan terlalu banyak mengonsumsi minuman keras.
  • Migrain. Migrain lebih jarang terjadi jika dibandingkan dengan sakit kepala tegang. Orang yang mengalami migrain akan merasakan salah satu sisi atau kedua sisi kepala seakan-akan berdenyut. Sakit kepala ini bisa terus berulang dan membuat rutinitas keseharian terganggu. Migrain bisa diatasi dengan obat yang dijual bebas, namun jika migrain yang dialami parah, segera temui dokter untuk mendapatkan obat resep yang lebih kuat dan mendapatkan penanganan yang lebih lanjut.
  • Sakit kepala cluster. Serangan sakit kepala ini bisa terjadi selama satu atau dua bulan dalam setahun. Pasien sakit kepala cluster merasakan sakit yang luar biasa dan menyebar ke sekitar salah satu mata. Gejala sakit kepala cluster tidak bisa diredakan oleh obat-obat bebas, tapi Anda bisa berkonsultasi dengan dokter untuk meredakan rasa sakit melalui perawatan yang lebih spesifik seperti sumatriptan and lithium.

Gaya hidup juga menjadi salah satu faktor penyebab sakit kepala primer, seperti mengkonsumsi makanan yang diproses dengan kandungan senyawa garam asam (nitrat), perubahan waktu tidur, postur tubuh buruk, melewati jam makan hingga stres berlebih.

Sakit Kepala Sekunder

Sakit kepala sekunder adalah sakit kepala yang disebabkan oleh aktifnya saraf rasa sakit di kepala akibat suatu penyakit. Berikut ini adalah beberapa penyebab umum sakit kepala.

  • Sinusitis
  • Flu
  • Infeksi telinga
  • Pengar
  • Masalah gigi
  • Konsumsi monosodium glutamat (MSG) berlebihan
  • Mengonsumsi makanan atau minuman yang terlalu dingin secara tiba-tiba
  • Menggunakan penutup atau perlengkapan kepala yang terlalu ketat misalnya helm
  • Perubahan hormon pada wanita misalnya setelah mengonsumsi pil KB
  • Gangguan pada penglihatan misalnya glaukoma

Berikut ini adalah penyebab sakit kepala sekunder yang lebih jarang terjadi:

  • Penyumbatan pembuluh darah di otak
  • Radang pada otak
  • Gegar otak
  • Neuralgia trigeminal
  • Aneurisma otak
  • Keracunan karbon monoksida
  • Serangan panik
  • Meningitis

Selain itu, ada beberapa tipe sakit kepala sekunder yang spesifik seperti berikut ini.

  • Sakit kepala rebound yang disebabkan oleh seringnya menggunakan obat pereda nyeri.
  • Sakit kepala thunderclap yang membuat penderitanya mengalami sakit kepala yang parah, terjadi secara tiba-tiba dan dengan penyebab dasar berpotensi fatal seperti pendarahan di otak.
  • Sakit kepala spinal yang disebabkan oleh kurangnya cairan serebrospinal setelah anestesi atau trauma.

Temui dokter untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan penanganan lebih lanjut karena sakit kepala yang diderita mungkin saja merupakan gejala dari penyakit yang serius. Anda patut mewaspadai beberapa hal berikut ini dan disarankan untuk menemui dokter jika Anda mengalaminya.

  • Sakit kepala yang tidak kunjung reda setelah minum obat.
  • Sakit kepala yang sangat parah hingga mengganggu kegiatan sehari-hari.
  • Sakit kepala yang menyebabkan badan terasa tidak sehat di antara serangan sakit kepala.
  • Sakit kepala parah yang disertai gejala-gejala lain seperti leher kaku, merasa kebas, lumpuh di satu sisi tubuh, pingsan, sulit melihat, sulit berbicara dan mengerti perbincangan atau sulit berjalan.
  • Demam tinggi.

Sakit kepala yang sering muncul terkait dengan beberapa faktor risiko seperti di bawah ini:

  • Obesitas
  • Gelisah
  • Sering mengonsumsi obat pereda nyeri
  • Mendengkur
  • Depresi
  • Kegiatan fisik yang membuat leher atau kepala menjadi tegang
  • Terlalu banyak kafein
  • Gangguan tidur

Pengobatan sakit kepala yang dilakukan harus dilihat dari gejala yang dialami dan berdasarkan penyebabnya, karena tidak semua tipe sakit kepala bisa diatasi dengan meminum obat sakit kepala saja.

Pada awalnya, dokter akan menanyakan riwayat kesehatan pasien, dilanjutkan dengan tes fisik dan jika penyebabnya tidak terdeteksi, tes lanjutan mungkin akan dilakukan. Beberapa tes lanjutan yang dapat dilakukan adalah tes urine, tes darah, tes mata, X-ray sinus, CT scan, dan MRI scan. Selain itu, pemeriksaan dengan electroencephalogram (EEG) mungkin akan disarankan oleh dokter apabila sakit kepala yang Anda alami disertai oleh gejala lain seperti kejang. Dalam kasus yang parah, dokter mungkin akan melakukan tes spinal tapdengan mengambil sampel cairan dari kanal tulang belakang untuk memeriksa kemungkinan adanya infeksi tertentu.

Pengobatan Sakit Kepala Tegang

Pada umumnya obat-obatan yang dijual bebas, seperti ibuprofen, paracetamol, dan aspirin bisa mengatasi sakit kepala tegang sesaat. Selain itu, beberapa terapi alternatif juga bisa dilakukan untuk mengurangi stres, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Terapi perilaku kognitif yaitu terapi di mana pasien diajari untuk mengelola stres yang bisa memicu sakit kepala tegang.
  • Terapi air hangat.
  • Pijat.
  • Meditasi.
  • Latihan relaksasi.

Pengobatan Migrain

Secara garis besar, pengobatan migrain dibagi menjadi dua, yakni pengobatan untuk meredakan gejala (abortif) dan pengobatan pencegahan

  • Pengobatan abortif. Untuk meredakan gejala migrain, Anda dapat mengonsumsi beberapa jenis obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter seperti asteaminofen (parasetamol), ibuprofen, aspirin, obat-obatan golongan triptans, ergotamine, obat-obat anti mual, serta obat golongan glukokortikoid.
  • Pengobatan pencegahan. Tidak semua penderita migrain memerlukan pengobatan pencegahan. Anda mungkin akan disarankan untuk mengonsumsi obat pencegahan apabila Anda mengalami serangan setidaknya empat kali dalam 1 bulan, serangan berlangsung selama 12 jam atau lebih, apabila obat-obatan antinyeri tidak membantu meredakan gejala, atau apabila migrain menyebabkan kelumpuhan atau mati rasa. Pengobatan untuk mencegah serangan ini antara lain obat penghambat beta (beta-blocker), golongan antidepresan, obat antikejang, serta obat anti-inflamasi non-steroid terutama naproxen.

Sakit kepala akibat migrain memerlukan penanganan khusus, tidak seperti sakit kepala jenis lainnya. Penjelasan lebih rinci dapat anda baca di pengobatan migrain. Selalu konsultasikan dengan dokter Anda untuk mendapatkan pengobatan migrain yang paling tepat sesuai dengan kondisi Anda.

Pengobatan Sakit Kepala Cluster

Obat pereda nyeri yang dijual bebas tidak efektif untuk mengatasi sakit kepala cluster. Sakit kepala tipe ini muncul secara tiba-tiba dan bisa mereda dengan cepat. Ada beberapa langkah yang bisa membantu mengatasi sakit kepala cluster, yaitu:

  • Menggunakan triptan nasal spray yang diresepkan oleh dokter, seperti sumatriptan atau zolmitriptan. Obat ini disemprotkan ke dalam hidung.
  • Mengonsumsi obat pencegahan.
  • Menghirup oksigen 100 persen menggunakan masker.
  • Menggunakan obat suntik seperti sumatriptan untuk meredakannya dengan cepat saat serangan melanda.

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat membantu mencegah sakit kepala.

Istirahat yang cukup

Sangat disarankan untuk memiliki waktu istirahat yang cukup dan teratur. Tujuh hingga delapan jam per hari adalah waktu tidur rata-rata yang diperlukan oleh orang dewasa. Jangan menggantikan kekurangan waktu tidur pada hari kerja di hari libur, karena ini tidak efektif. Usahakan untuk tidur dan bangun di waktu yang sama.

Kurangi kafein

Usahakan untuk tidak mengonsumsi kafein atau menguranginya, karena walaupun beberapa pengobatan sakit kepala menggunakan kafein untuk meredakan gejalanya tapi bisa memperparah juga.

Hindari pemicu sakit kepala

Cari tahu pemicu yang bisa menyebabkan Anda mengalami sakit kepala agar bisa terhindar dari sakit kepala dengan cara mencatat secara rinci setiap Anda mengalami sakit kepala, seperti kapan dan apa yang baru Anda konsumsi sebelum terkena sakit kepala. Misalnya, beberapa orang perlu menghindari minuman dengan kandungan kafein karena dipercaya dapat memicu serangan migrain.

Kurangi stres

Dengan mengelola stres dan tekanan hidup dengan baik, seseorang bisa mengurangi risikonya mengalami sakit kepala. Anda bisa mencari cara untuk mengatur kegiatan sehari-hari dan menyusun waktu agar produktivitas Anda lebih maksimal.

Makan secara teratur

Jalani pola hidup sehat dengan makan secara teratur tiga kali sehari dan camilan di antaranya jika diperlukan. Disarankan untuk selalu makan di waktu yang sama setiap harinya dan mengawali hari dengan sarapan sehat.

Santai

Luangkan waktu untuk bersantai, seperti membaca buku, mandi dengan air hangat, dan mendengarkan musik. Selain itu, Anda juga bisa melakukan meditasi, latihan relaksasi, atau yoga.

Kurangi konsumsi obat

Konsultasikan dengan dokter jika Anda terlalu sering mengonsumsi obat pereda sakit, termasuk obat yang dijual secara bebas, karena mengonsumsi obat lebih dari dua kali dalam sepekan bisa membuat sakit kepala lebih sering kambuh.

Rutin berolahraga

Olahraga yang dilakukan secara rutin bisa membantu mengurangi stres. Mulailah berolahraga secara perlahan untuk mengurangi terjadinya cedera, dan pilihlah olahraga yang Anda gemari, seperti berenang, bersepeda, atau berjalan. Namun, pastikan Anda konsultasi dengan dokter untuk memastikan kondisi fisik Anda.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT