Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Tumor Otak

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Tumor otak adalah pertumbuhan sel-sel abnormal di dalam atau di sekitar organ otak. Tumor otak dapat menyerang siapa saja, namun sebagian besar kasusnya terjadi pada orang dewasa.

Ada bermacam-macam jenis tumor otak yang dibedakan ke dalam dua kelompok berdasarkan perkembangannya, yaitu tumor jinak (tidak bersifat kanker) dan tumor ganas (bersifat kanker). Tumor yang tumbuh di otak dikenal dengan istilah tumor otak primer, sedangkan tumor yang tumbuh di bagian lain dari tubuh dan menyebar hingga ke otak disebut dengan tumor otak sekunder atau metastatik.

Tingkatan tumor otak terbagi dari tingkat 1 hingga tingkat 4. Pengelompokan ini didasari oleh perilaku tumor itu sendiri, seperti lokasi tumbuhnya tumor, kecepatan pertumbuhan, dan cara penyebarannya. Tumor otak yang tergolong jinak dan tidak berpotensi ganas berada pada tingkat 1 dan 2. Sedangkan pada tingkat 3 dan 4, biasanya sudah berpotensi menjadi kanker dan sering disebut sebagai tumor otak ganas atau kanker otak.

Berikut ini adalah berbagai jenis tumor otak jinak menurut lokasi pertumbuhannya, yaitu:

  • Glioma. Tumor ini tumbuh pada jaringan glia (jaringan yang mengikat sel saraf dan serat) dan saraf tulang belakang. Sebagian besar kasus tumor otak yang terjadi adalah jenis glioma.
  • Meningioma. Tumor ini tumbuh pada selaput yang melindungi otak dan saraf tulang belakang. Sebagian besar dari tumor ini tidak bersifat kanker.
  • Hemangioblastoma. Tumor ini tumbuh pada pembuluh darah otak. Kondisi ini bisa menyebabkan lumpuh sebagian dan kejang-kejang.
  • Neuroma akustik. Tumor ini tumbuh pada saraf akustik (saraf yang berfungsi untuk membantu mengendalikan keseimbangan dan pendengaran).
  • Adenoma pituitari. Tumor ini tumbuh pada kelenjar pituitary (kelenjar kecil yang terletak di bawah otak). Sebagian besar tumor ini bersifat jinak, namun bisa memengaruhi hormon pituitary dengan efek ke seluruh tubuh.
  • Kraniofaringioma. Tumor yang kebanyakan dialami oleh anak-anak dan remaja ini tumbuh di dekat dasar otak. Walau jarang terjadi, tumor ini dapat mempengaruhi kelenjar pituitary dalam otak yang berfungsi melepaskan hormon pada tubuh, hingga struktur otak lainnya.
  • Medulloblastoma. Ini adalah jenis tumor yang bersifat kanker dan kebanyakan dialami oleh anak-anak. Tumor ini tumbuh dari bagian bawah di belakang otak dan cenderung menyebar hingga ke cairan saraf tulang belakang.
  • Tumor neuroektodermal primitif (PNETs). Ini adalah jenis tumor langka bersifat kanker. Tumor jenis ini bisa tumbuh di bagian otak mana saja dan berawal dari sel janin otak.
  • Tumor sel germinal. Tumor jenis ini biasanya berkembang di masa kanak-kanak ketika testikel atau ovarium mulai terbentuk. Tumor ini kadang-kadang bisa berpindah ke bagian tubuh lain, seperti otak.

Selain jenis-jenis tumor di atas, terdapat juga tumor yang terdiri dari gabungan beberapa jenis tumor, atau gabungan tumor dengan berbeda tingkatan. Penanganan yang dilakukan sangat bergantung pada keganasan tumor, lokasi tumor, serta kondisi kesehatan Anda.

Laman ini khusus membahas tentang tumor otak (jinak) stadium 1 dan 2. Silakan membaca kanker otak untuk tahu lebih banyak tentang tumor otak ganas.

Gejala Tumor Otak

Gejala tumor otak sangat berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Gejala yang muncul dipengaruhi oleh ukuran, kecepatan pertumbuhan, dan lokasi tumor. Tumor yang tumbuh secara perlahan-lahan mungkin awalnya tidak menimbulkan gejala apa pun. Setelah beberapa lama, tumor akan memberi tekanan pada otak yang menyebabkan munculnya gejala, seperti kejang-kejang dan sakit kepala. Tumor otak yang berada pada lokasi tertentu dapat mengganggu sistem kerja otak sehingga tidak berfungsi dengan benar.

Penyebab Tumor Otak

Hingga kini penyebab utama dari sebagian besar kasus tumor otak jinak masih belum diketahui. Terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena tumor otak. Faktor keturunan dan juga efek samping prosedur radioterapi adalah dua di antaranya.

Pengobatan Tumor Otak

Diagnosis dan pengobatan yang dilakukan sejak dini akan mempermudah penanganan pada tumor otak. Apabila tidak segera ditangani, kondisi ini bisa menjadi bertambah serius. Tumor otak biasanya tidak menyebar dan hanya diam di satu tempat saja. Meskipun begitu, tumor otak bisa memberikan tekanan dan merusak area di sekitarnya. Pengobatan yang dilakukan bergantung pada jenis, ukuran, dan lokasi tumor.

Prosedur operasi pengangkatan tumor biasanya memberikan hasil efektif dan tumor tidak muncul kembali.

Namun pada kasus tumor otak glioma stadium 2, seringkali kondisi tersebut muncul kembali setelah penderitanya menjalani pengobatan. Selain itu, tumor tersebut juga berpotensi berubah menjadi tumor otak ganas dengan penyebaran dan pertumbuhan yang lebih cepat.

Untuk membantu proses pemulihan, dokter akan menyarankan beberapa jenis terapi. Anda bisa membicarakan mengenai dampak emosional dari diagnosis dan pengobatan tumor dengan melakukan konseling.

Gejala tumor otak sangat beragam dan bergantung pada lokasi, ukuran, atau tingkat pertumbuhan tumor itu sendiri. Tumor yang tumbuh secara lambat pada awalnya mungkin tidak akan menimbulkan gejala apa pun. Setelah tumor otak mulai memberikan tekanan pada otak atau membuat sebagian fungsi otak tidak bisa berfungsi dengan baik, gejala akan mulai muncul.

Berikut ini adalah beberapa gejala tumor otak berdasarkan lokasi kemunculannya:

  • Otak kecil atau cerebellum. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan kehilangan fungsi koordinasi, kesulitan berjalan dan bicara, mata berkedip terus-menerus, leher kaku, dan muntah-muntah.
  • Batang otak. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan kesulitan berjalan, lumpuh pada otot wajah, pandangan berbayang, serta kesulitan bicara dan menelan.
  • Lobus frontal. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan perubahan sikap, kehilangan indera penciuman, dan lemah pada salah satu sisi tubuh.
  • Lobus parietal. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan kesulitan berbicara, memahami kata-kata, menulis, membaca, dan mengendalikan gerakan. Selain itu, salah satu bagian tubuh juga bisa mengalami mati rasa.
  • Lobus occipital. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan kehilangan penglihatan pada salah satu sisi.
  • Lobus temporal. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan kejang-kejang, pingsan, gangguan bicara atau ingatan, dan sensasi penciuman yang aneh.
  • Lobus frontal. Tumor pada bagian ini bisa mengakibatkan perubahan kepribadian, lemas pada satu sisi tubuh, dan kehilangan kemampuan mencium.

Terdapat beberapa gejala yang berpotensi muncul ketika tumor menekan bagian dalam tengkorak, di antaranya:

  • Pusing atau sakit kepala parah dan berkelanjutan (khususnya saat menunduk atau batuk).
  • Kejang-kejang.
  • Mudah mengantuk.
  • Linglung.
  • Berhalusinasi.
  • Perubahan karakter.
  • Gangguan pendengaran atau penglihatan.
  • Gangguan keseimbangan tubuh.
  • Sulit bicara.
  • Gangguan pergerakan tangan atau kaki.

Segera temui dokter jika mengalami gejala pusing atau sakit kepala parah dan berkelanjutan tanpa adanya penyebab yang jelas, terutama jika disertai dengan mual dan muntah-muntah.

Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan seseorang menderita tumor otak primer (tumor yang muncul pertama kali di otak atau jaringan sekitar otak). Diperkirakan bahwa tumor otak primer mulai muncul ketika sel normal mengalami kesalahan atau mutasi DNA. Mutasi inilah yang membuat sel-sel tumbuh dan berkembang biak dengan tingkat yang lebih cepat, serta tetap hidup ketika sel-sel sehat sudah mati. Akibatnya terjadi penumpukan sel-sel abnormal dan membentuk tumor.

Tumor otak primer lebih jarang terjadi dibandingkan tumor otak sekunder (tumor otak yang berasal dari kanker yang tumbuh di bagian tubuh lain lalu menyebar ke otak).

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami tumor otak, yaitu:

  • Usia. Risiko mengalami tumor otak akan meningkat saat usia Anda bertambah karena tumor otak lebih umum terjadi pada orang tua. Tapi perlu disadari bahwa tumor otak bisa muncul pada usia berapa pun. Ada beberapa jenis tumor yang hanya muncul pada anak-anak.
  • Faktor keturunan. Jika terdapat keluarga yang mengalami tumor otak, maka risiko seseorang untuk mengalami tumor otak lebih tinggi. Selain itu, ada beberapa penyakit keturunan yang bisa meningkatkan risiko mengalami tumor otak jinak, di antaranya adalah neurofibromatosis tipe 1 dan 2, sindrom Turcot, sindrom von Hippel-Lindau, sindrom Gorlin, sindrom kanker Li-Fraumeni, dan sklerosis tuberosa. Kondisi-kondisi tersebut cenderung menyebabkan kanker muncul pada masa kanak-kanak dan awal masa remaja.
  • Pajanan terhadap radiasi. Pajanan terhadap jenis radiasi yang dikenal dengan istilah radiasi ionisasi bisa meningkatkan risiko terkena tumor otak. Radiasi ionisasi bisa memengaruhi manusia ketika mereka menjalani terapi radiasi atau terkena radiasi dari ledakan bom atom. Sedangkan gelombang radiasi yang berasal dari menara listrik, ponsel, dan microwave belum terbukti terkait dengan tumor otak.

Tumor otak sekunder lebih umum terjadi. Kondisi ini berisiko terjadi pada orang yang memiliki riwayat penyakit kanker. Berikut ini beberapa jenis kanker yang bisa menyebabkan tumor otak sekunder:

  • Kanker usus.
  • Kanker payudara.
  • Kanker ginjal.
  • Melanoma.
  • Kanker paru-paru.

Meningkatnya tekanan pada tengkorak adalah salah satu pertanda tumor di otak. Jika Anda mengalami sakit kepala parah dan berkelanjutan, serta mencurigainya sebagai gejala tumor otak, segera temui dokter. Jika berdasarkan pemeriksaan didapati adanya potensi pertumbuhan tumor, Anda akan disarankan untuk menemui dokter spesialis otak dan saraf (neurolog).

Tumor otak didiagnosis berdasarkan gejala yang dirasakan, pemeriksaan fisik, dan hasil dari beberapa tes lanjutan. Pemeriksaan fisik meliputi:

  • Pendengaran dan penglihatan.
  • Reaksi dan refleks (misalnya menelan atau mengangkat lutut).
  • Otot-otot wajah (misalnya tersenyum dan menyeringai).
  • Kekuatan tubuh.
  • Keseimbangan dan koordinasi.
  • Kepekaan kulit.

Sedangkan tes-tes lanjutan yang mungkin disarankan adalah:

  • Computerized tomography (CT) scan. Pemindaian dengan bantuan sinar-X ini dilakukan guna mendapatkan gambaran bagian dalam otak secara jelas.
  • Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI) scan. Tujuannya sama seperti CT scan. Namun pada MRI scan, pemindaian dilakukan dengan menggunakan medan magnet yang kuat dan gelombang radio.
  • Elektroensefalogram (EEG). Aktivitas otak akan direkam dengan menggunakan elektroda.
  • Positron Emmision Tomography (PET). Pemindaian yang dilakukan untuk memeriksa fungsi jaringan dan organ tubuh.
  • Biopsi (pengambilan sampel jaringan). Ini dilakukan guna menentukan jenis tumor dan pengobatan yang cocok.

Pengobatan tumor otak sangat bergantung kepada jenis, ukuran, dan lokasi tumor. Kondisi kesehatan secara umum juga akan dipertimbangkan dalam hal ini.

Pada sebagian besar kasus tumor otak jinak, prosedur operasi biasanya sudah cukup untuk menghilangkan tumor. Namun tumor yang tumbuh secara perlahan biasanya akan tumbuh kembali setelah pengobatan dan berpotensi berubah menjadi ganas (kanker). Tumor ganas akan cenderung menyebar dan tumbuh dengan cepat. Jika Anda merupakan penderita tumor jinak, pastikan untuk tetap melakukan pemeriksaan secara rutin meski Anda sudah selesai menjalani pengobatan..

Berikut ini beberapa jenis pengobatan pada kasus tumor otak, di antaranya

  • Kemoterapi. Metode pengobatan ini dilakukan untuk menyusutkan tumor jinak. Kemoterapi dilakukan dengan menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel tumor dan diberikan dalam bentuk tablet, suntikan, atau infus.
  • Radioterapi. Sama seperti kemoterapi, radioterapi juga bertujuan untuk menyusutkan tumor jinak. Prosesnya menggunakan radiasi energi (biasanya X-ray) untuk membunuh sel-sel tumor.
  • Operasi pengangkatan tumor. Operasi bertujuan mengangkat tumor sebanyak mungkin tanpa merusak jaringan di sekitarnya. Tindakan ini memerlukan proses pencukuran rambut sebelum melubangi bagian yang memiliki tumor. Pembiusan akan dilakukan selama proses ini.
  • Radiosurgery. Terkadang tumor muncul di bagian yang sulit diangkat tanpa merusak jaringan di sekitarnya. Pada kondisi seperti ini, prosedur radiosurgery akan dipertimbangkan sebagai solusi. Selama radiosurgery dilakukan, Radiasi energi yang cukup tinggi diarahkan pada tumor untuk membunuh sel-selnya. Prosedur radiosurgery tidak memakan waktu lama dan pemulihannya pun sangat cepat. Meskipun begitu, tidak semua rumah sakit menyediakan prosedur
  • Obat. Anda akan diberikan obat-obatan untuk membantu mengatasi gejala yang disebabkan oleh tumor, baik sebelum dan sesudah operasi. Contoh obat yang akan diberikan adalah antikonvulsan untuk mencegah kejang-kejang, kortikosteroid untuk mengurangi pembengkakan di sekitar tumor, pereda nyeri untuk mengatasi pusing, dan antiemesis untuk mengurangi rasa mual.

Biasanya Anda akan didampingi oleh tim dokter spesialis guna menentukan pengobatan terbaik dalam menangani kondisi Anda. Anda juga bisa mendiskusikan tentang keuntungan dan kerugian yang didapatkan dari tiap metode pengobatan yang akan diambil.

Proses Pemulihan

Untuk membantu mempercepat proses pemulihan, Anda biasanya akan disarankan oleh dokter untuk mengikuti terapi lanjutan. Beberapa contoh terapi tersebut di antaranya adalah:

  • Fisioterapi, untuk membantu memulihkan kekuatan otot dan kemampuan-kemampuan motorik yang hilang akibat tumor.
  • Terapi okupasi, untuk membantu mengidentifikasi masalah-masalah yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari. Dalam hal ini, ahli terapi okupasi akan membantu memberikan saran tentang peralatan dan perlengkapan pengganti di rumah maupun di kantor dalam mempermudah menjalani kegiatan sehari-hari.
  • Terapi wicara, untuk membantu mengatasi gangguan dalam berbicara atau menelan.
  • Terapi untuk anak-anak usia sekolah Terapi ini dilakukan untuk memulihkan daya ingat atau kemampuan berpikir mereka yang terganggu akibat tumor

Setelah menjalani pembedahan tumor otak, Anda pun akan membutuhkan penyesuaian pada sebagian aktivitas kesehariannya, misalnya:

  • Mengemudi dan bepergian. Sebaiknya Anda berhenti mengemudi jika sedang atau pernah menderita tumor otak. Dengan melakukan konsultasi dengan dokter yang menangani, masih ada kemungkinan bagi Anda untuk bisa mengemudi kembali. Bepergian dengan pesawat biasanya baru akan diperbolehkan kembali setidaknya tiga bulan setelah pengobatan.
  • Kembali bekerja. Anda akan merasa lebih mudah lelah. Disarankan untuk bekerja paruh waktu terlebih dahulu, sebelum Anda merasa siap bekerja purna waktu.
  • Aktivitas seksual. Hubungan seks bisa dilakukan setelah dokter menyatakan hal itu aman untuk dilakukan. Khususnya bagi wanita, disarankan untuk terus memakai alat kontrasepsi selama 6 bulan hingga setahun setelah kemoterapi atau radioterapi.

Berolahraga. Sebaiknya hindari olahraga yang melibatkan kontak fisik secara langsung, seperti tinju. Anda membutuhkan persetujuan dari dokter jika ingin memulai kembali kegiatan berolahraga. Setidaknya selama satu tahun setelah pengobatan, Anda tidak disarankan untuk berenang tanpa ada pengawasan karena terdapat risiko mengalami kejang-kejang saat berada di dalam air.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT