Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Trikomoniasis

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 20 kali

Trikomoniasis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh parasit bernama Trichomonas vaginalis (TV). Penyakit ini dapat menyerang pria dan wanita, namun wanita muda yang aktif secara seksual lebih rentan tertular. Penyakit ini menular melalui hubungan intim.

Gejala Trikomoniasis

Jika terjadi pada wanita, trikomoniasis berdampak pada vagina dan saluran pembuangan urine atau uretra. Sedangkan pada pria, trikomoniasis menyerang uretra, area penis (misalnya kulup), dan kelenjar prostat.

Gejala pada wanita:

  • Bagian perut bawah terasa sakit.
  • Muncul rasa sakit atau tidak nyaman saat buang air kecil atau berhubungan seksual.
  • Keputihan menjadi kental, encer, berbusa, atau berwarna kekuningan dan kehijauan serta berbau amis.
  • Timbul rasa nyeri, bengkak dan gatal di area kewanitaan. Kadang rasa gatal juga muncul di paha bagian dalam.

Gejala pada pria:

  • Frekuensi buang air kecil lebih sering dari biasanya, dan disertai rasa sakit.
  • Muncul cairan putih dari penis.
  • Muncul rasa sakit, bengkak, dan kemerahan di area ujung penis. Rasa sakit ini juga bisa muncul saat buang air kecil atau saat ejakulasi.

Biasanya, gejala trikomoniasis akan muncul dalam waktu satu bulan sejak seseorang mulai terinfeksi. Namun, sekitar setengah dari pengidap trikomoniasis tidak mengalami gejala apa pun.

Penyebab Trikomoniasis

Trikomoniasis disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalisyang biasanya menyebar melalui hubungan seks tanpa kondom atau saling berbagi alat/mainan seks. Masa inkubasi parasit ini tidak diketahui secara pasti, namun umumnya terjadi dalam waktu 5 sampai 28 hari.

Tidak semua jenis hubungan seks bisa menularkan trikomoniasis. Penyakit ini tidak bisa menular dengan seks oral, seks anal, ciuman, dan berbagi pemakaian alat makan, dudukan toilet, atau handuk. Risiko trikomoniasis akan meningkat jika:

  • Berhubungan seks tanpa kondom.
  • Sering berganti-ganti pasangan.
  • Pernah mengalami trikomoniasis sebelumnya.
  • Memiliki riwayat penyakit menular seksual

Diagnosis Trikomoniasis

Diagnosis trikomoniasis bisa dipastikan dengan memeriksa sampel cairan vagina pada wanita atau urine pada pria di laboraturium. Pemeriksaan ini umumnya memakan waktu selama beberapa hari.

Sekarang telah tersedia metode tes baru yang lebih cepat, yakni rapid antigen test dan nucleic acid amplifcation. Namun keduanya memerlukan biaya yang lebih mahal dibandingkan pemeriksaan cairan secara manual di laboratorium.

Jika seseorang positif terinfeksi trikomoniasis, pengobatan harus segera dilakukan untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi.

Pengobatan Trikomoniasis

Trikomoniasis bisa diatasi secara efektif dengan obat antibiotik jenis metronidazoleatau tinidazole. Dokter akan meresepkan kedua obat ini dalam dosis tertentu untuk dikonsumsi selama 5-7 hari. Dalam kondisi tertentu, dokter hanya meresepkan salah satu dari kedua obat itu dalam dosis yang besar.

Selama masa pengobatan, pasien diminta untuk menghindari hubungan seksual sampai dinyatakan sembuh oleh dokter. Pasien juga wajib menghindari konsumsi alkohol selama 24 jam setelah mengonsumsi metronidazole atau 72 jam setelah mengosumsi tinidazole karena alkohol bisa menyebabkan mual dan muntah.

Komplikasi Trikomoniasis

Trikomoniasis bisa menimbulkan komplikasi jika dibiarkan tanpa pengobatan. Seorang ibu hamil yang terkena trikomoniasis bisa menularkan kondisi tersebut pada bayi yang dikandungnya. Selain itu, juga bisa meningkatkan risiko kelahiran prematurdan berat badan bayi kurang. Trikomoniasis pada wanita membuat penderitanya lebih rentan terhadap infeksi virus HIV penyebab AIDS.

Pencegahan Trikomoniasis

Beberapa langkah di bawah ini bisa dilakukan untuk mengurangi risiko infeksi trikomoniasis, di antaranya:

  • Setia kepada satu pasangan dan tidak berganti-ganti pasangan hubungan intim.
  • Gunakan kondom saat berhubungan intim.
  • Pastikan alat/mainan seks yang digunakan bersih dan terbungkus kondom. Hindari berbagi alat/mainan seks dengan orang lain.
  • Jika merasa telah terinfeksi, lebih baik tidak melakukan hubungan seksual dan segera menghubungi dokter untuk menjalani pemeriksaan.
  • Pasangan juga harus mendapatkan pengobatan, dan dianjurkan untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum Anda dan pasangan selesai menjalani pengobatan, serta tidak lagi menunjukkan gejala.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT