Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Toksoplasmosis

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Toksoplasmosis adalah infeksi pada manusia yang ditimbulkan oleh parasit Toxoplasma gondii (T. gondii), yang keberadaannya cukup umum di seluruh dunia. Orang dewasa dengan tingkat kesehatan baik mungkin tidak memerlukan perawatan medis apa pun untuk sembuh dari serangan toksoplasmosis.

Jika parasit tersebut menyerang orang dewasa, maka biasanya sistem kekebalan tubuhnya bisa mengatasi infeksi. Kebanyakan orang yang terjangkit toksoplasmosis tidak menunjukkan gejala-gejala tertentu, dan penyakit ini umumnya tidak menular dari satu orang ke orang lainnya. Sekali terinfeksi maka penderita akan memiliki kekebalan terhadap toksoplasmosis seumur hidup.

Ada beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko toksoplasmosis menjadi gangguan kesehatan serius, yaitu:

  • Sedang hamil.
  • Mengonsumsi obat steroid atau imunosupresan.
  • Mengidap HIV/AIDS.
  • Sedang menjalani kemoterapi.

Gejala Toksoplasmosis

Gejala adalah sesuatu yang dirasakan dan diceritakan oleh penderita. Toksoplasmosis memiliki beberapa gejala umum, yaitu:

  • Pada manusia sehat, yaitu demam tinggi, nyeri otot, kelelahan, radang tenggorokan, pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Pada ibu hamil, menyebabkan gangguan kehamilan seperti keguguran, kelahiran mati, atau toksoplasmosis kongenital yang menimbulkan kerusakan otak, hilang pendengaran, dan gangguan penglihatan pada bayi pada saat atau beberapa bulan atau tahun setelah dilahirkan.
  • Pada penderita gangguan sistem kekebalan tubuh, gejala infeksi toksoplasmosis adalah sakit kepala, kebingungan, kurangnya koordinasi tubuh, kejang, kesulitan bernapas, dan gangguan penglihatan.

Penyebab Toksoplasmosis

Infeksi toksoplasmosis disebabkan oleh parasit bernama Toxoplasma gondii (T. gondii). Parasit ini bisa menginfeksi mayoritas hewan dan burung. T. gondii bisa ditemukan pada kotoran kucing yang terinfeksi, serta daging binatang yang terinfeksi.

Karena parasit T.gondii hanya bisa berkembang biak pada kucing liar dan peliharaan, maka hewan tersebut menjadi inang utama darinya. Namun, kucing-kucing yang terinfeksi parasit T. gondii biasanya tidak menunjukkan gejala-gejala tertentu.

Parasit ini mampu bertahan sampai beberapa bulan hidup di tanah atau air. Ada beberapa cara parasit T. gondii masuk ke tubuh manusia, yaitu:

  • Mengonsumsi buah-buahan dan sayuran yang tidak dicuci atau minum air yang terkontaminasi kotoran kucing.
  • Memasukkan tangan yang terkontaminasi tanah atau kotoran kucing ke mulut.
  • Mengonsumsi daging mentah atau setengah matang.
  • Menggunakan peralatan yang telah terkontaminasi dengan daging yang terinfeksi, seperti pisau, gunting, dan talenan bekas daging mentah terinfeksi.
  • Meminum susu kambing mentah yang terinfeksi atau produk yang terbuat darinya.

Akan tetapi parasit T. gondii tidak bisa menular antar manusia, sehingga seseorang tidak bisa menularkan infeksi T. gondii pada anaknya, tertular T. gondii karena bersentuhan dengan penderita, serta menularkan parasit T. gondii melalui ASI. Kecuali dalam beberapa kasus seperti melalui prosedur transplantasi organ yang terinfeksi atau ibu hamil yang sedang terinfeksi fase akut dapat menularkan janinnya.

Diagnosis Toksoplasmosis

Diagnosis merupakan langkah dokter untuk mengidentifikasi penyakit atau kondisi yang menjelaskan gejala dan tanda-tanda yang dialami oleh pasien.

Untuk mendiagnosis toksoplasmosis, hal yang biasanya dilakukan dokter adalah

1. Tes darah.

Meskipun terinfeksi, tes darah penderita bisa saja menunjukkan hasil negatif. Ini berarti tubuh penderita belum mulai memproduksi antibodi untuk parasit T. gondii. Tes perlu diulang beberapa minggu kemudian karena antibodi baru terbentuk 3 minggu setelah terinfeksi. Tapi pada kebanyakan kasus, hasil negatif pada tes darah juga bisa berarti seseorang belum pernah terinfeksi sehingga belum kebal terhadap toksoplasmosis.

Hasil tes darah positif berarti seseorang dalam keadaan terinfeksi toksoplasmosis aktif, atau pernah terinfeksi sebelumnya, dan kebal terhadap toksoplasmosis. Tes tambahan diperlukan untuk menentukan sejak kapan infeksi berlangsung.

2. Tes pada ibu hamil.

Jika seseorang sedang mengandung dan hasil tes darah menunjukkan dirinya terkena infeksi toksoplasmosis positif, maka ada beberapa tes untuk memeriksa apakah infeksi juga menular pada janin. Beberapa tes tersebut adalah:

  • Amniosintesis. Pada prosedur ini, dokter akan mengambil sampel air ketuban penderita saat usia kehamilan di atas 15 minggu. Dengan tes ini bisa segera diketahui apakah janin terinfeksi atau tidak.
  • Uji Ultrasound. Pada pengujian ini, dokter akan melihat akibat infeksi pada janin seperti adanya kumpulan cairan pada otak (hidrosefalus). Bila ternyata janin tampak normal, maka perlu dilakukan beberapa pemeriksaan pada bayi setelah lahir.

Setelah proses melahirkan, bayi akan menjalani pemeriksaan untuk melihat adanya kerusakan dari infeksi, serta tes darah untuk memastikan apakah bayi masih mengidap infeksi.

3. Tes Pencitraan

Jika infeksi toksoplasmosis menyebabkan penderita terkena komplikasi yang cukup serius, maka dibutuhkan pemeriksaan tambahan untuk mengidentifikasi adanya kerusakan jaringan atau kista pada otak. Pemeriksaan tambahan yang diperlukan antara lain tes pencitraan MRI dan biopsi otak.

Pengobatan Toksoplasmosis

Kebanyakan kasus toksoplasmosis hanya digolongkan sebagai sakit ringan dan tidak memerlukan adanya perawatan medis. Penderita umumnya bisa pulih total tanpa komplikasi.

Untuk mengobati toksoplasmosis akut pada penderita yang mempunyai gangguan kekebalan tubuh, dokter akan meresepkan beberapa jenis obat yaitu pyrimethamine dan sulfadiazine. Perawatan medis dibutuhkan hanya pada kondisi seperti berikut:

  • Terkena komplikasi toksoplasmosis.
  • Sedang dalam masa kehamilan.
  • Bayi terbukti terinfeksi toksoplasmosis sebelum atau sesudah lahir.
  • Mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh.

Pada ibu hamil yang terinfeksi toksoplasmosis, jika janin belum terkena infeksi, maka dokter akan memberikan antibiotik spiramycin. Jika janin sudah tertular toksoplasmosis, maka dokter biasanya akan meresepkan pyrimethamine dan sulfadiazine.

Pyrimethamine dan sulfadiazine biasanya juga digunakan untuk menangani bayi dengan toksoplasmosis kongenital, sebab bisa mengurangi risiko gangguan kesehatan jangka panjang. Akan tetapi, pengobatan ini tidak bisa memperbaiki kerusakan akibat toksoplasmosis yang sudah terjadi. Jadi biasanya tetap akan ada gangguan yang bersifat jangka panjang dan kambuhan.

Untuk menangani infeksi toksoplasmosis pada penderita gangguan sistem kekebalan tubuh, umumnya dokter memberikan obat trimethoprim and sulfamethoxazole untuk mencegah berkembangnya gejala-gejala toksoplasmosis. Hal ini karena pada penderita yang bersifat karier, parasit tetap berada di dalam tubuh penderita dalam keadaan tidak aktif. Ketika kekebalan tubuh menurun, parasit akan aktif kembali dan menyebabkan gangguan kesehatan yang serius.

Jika sistem kekebalan tubuh sudah kembali normal, maka pengobatan bisa dihentikan.

Komplikasi Toksoplasmosis

Beberapa komplikasi yang bisa terjadi pada penderita toksoplasmosis adalah:

  • Toksoplasmosis okular. Peradangan dan luka pada mata yang diakibatkan oleh parasit. Penyakit ini bisa menyebabkan gangguan penglihatan, muncul floater (seperti ada benda kecil yang melayang-layang menghalangi pandangan) pada mata, hingga kebutaan.
  • Toksoplasmosis kongenital terjadi ketika janin yang dikandung ikut terinfeksi toksoplasmosis. Hal ini bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan pada janin. Misalnya hidrosefalus, epilepsi, kehilangan pendengaran, kerusakan otak, gangguan kemampuan belajar, penyakit kuning, toksoplasmosis okular, dan cerebral palsy.
  • Toksoplasmosis serebral. Jika penderita gangguan sistem kekebalan tubuh terinfeksi oleh toksoplasmosis, maka infeksi tersebut bisa menyebar ke otak dan bisa mengancam nyawa penderita. Beberapa gejalanya adalah sakit kepala, kebingungan, gangguan koordinasi, kejang-kejang, demam tinggi, bicara tidak jelas, toksoplasmosis okuler.

Pencegahan Toksoplasmosis

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terkena infeksi toksoplasmosis, yaitu:

  • Gunakan sarung tangan saat berkebun atau memegang tanah.
  • Hindari mengonsumsi daging mentah atau setengah matang.
  • Cucilah tangan sebelum dan sesudah memegang makanan.
  • Cucilah semua peralatan dapur dengan bersih setelah memasak daging mentah.
  • Selalu cuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi.
  • Hindari meminum susu kambing non-pasteurisasi atau produk-produk yang terbuat darinya.
  • Hindari kotoran kucing pada wadah kotoran kucing atau tanah, terutama bagi Anda yang memelihara kucing.
  • Berikan kucing makanan kering atau kalengan daripada daging mentah.
  • Tutuplah bak pasir tempat bermain anak-anak.

Bagi orang yang memelihara kucing, beberapa hal di bawah ini bisa mengurangi risiko terkena toksoplasmosis yaitu:

  • Jagalah kesehatan kucing peliharaan.
  • Hindari untuk memungut serta memelihara kucing liar.
  • Gunakan sarung tangan dan masker muka saat membersihkan wadah kotoran.

Di Indonesia, toksoplasmosis digolongkan sebagai salah satu jenis penyakit tular vektor dan binatang pembawa penyakit. Sesuai dengan Pasal 11 Peraturan Menteri Kesehatan No. 82 tahun 2014, untuk mencegah penularan toksoplasmosis ke janin, biasanya para dokter di Indonesia menganjurkan pemeriksaan bagi pria dan wanita yang sering berinteraksi dengan hewan peliharaan dan ingin memiliki anak.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT