Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Tinea Capitis

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Tinea capitis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur pada kulit kepala.

Penyakit ini sangat menular dan kebanyakan diderita oleh anak-anak, mulai dari balita sampai usia sekolah. Komplikasi tinea capitis bisa berupa kerontokan rambut dan luka permanen di kulit kepala.

Gejala Tinea Capitis

Gejala penyakit ini dapat bervariasi pada tiap penderita. Tetapi umumnya kulit kepala seseorang yang terkena penyakit ini akan terasa sangat gatal. Selain itu, di kulit kepala akan tampak bagian bulat yang botak, bersisik, berwarna merah, dan kadang-kadang bengkak.

Kebotakan juga bisa terjadi pada area yang terinfeksi. Biasanya pada sisi kepala yang mengalami kebotakan tersebut akan tampak pola titik-titik hitam yang sebenarnya merupakan rambut yang telah patah. Pada kasus tinea capitis yang parah, terdapat luka di kulit kepala yang mengeluarkan nanah.

Selain gejala-gejala di atas, tinea capitis juga bisa disertai dengan pembengkakan kelenjar getah bening di leher dan demam ringan.

Penyebab Tinea Capitis

Tinea capitis merupakan penyakit menular. Serangan infeksi akibat jamur dermatofit pada lapisan luar kulit kepala dan batang rambut adalah penyebab utama penyakit ini.

Seseorang bisa tertular tinea capitis apabila bersentuhan langsung dengan kulit penderita. Kasus penularan seperti ini adalah yang paling sering terjadi. Selain itu, seseorang juga berisiko tertular tinea capitis jika menyentuh hewan-hewan pembawa penyakit ini. Contoh-contoh hewan pembawa penyakit tinea capitis adalah:

  • Kucing
  • Anjing
  • Kuda
  • Domba
  • Sapi
  • Babi

Selain penularan secara langsung, tinea capitis juga bisa menular secara tidak langsung, yaitu ketika kita menyentuh permukaan benda yang mengandung jamur dermatofit karena sebelumnya telah tersentuh oleh penderita atau hewan pembawa penyakit ini. Contoh-contoh benda perantara adalah:

  • Handuk
  • Baju
  • Sikat
  • Sisir
  • Seprai

Diagnosis Tinea Capitis

Temuilah dokter jika Anda mengalami gejala tinea capitis. Biasanya dokter akan bisa langsung mendiagnosis berdasarkan gejala yang diderita dan pengamatan terhadap kulit kepala penderita. Ketika mengamati tanda-tanda infeksi pada kulit kepala, dokter biasanya akan membutuhkan sebuah alat yang disebut lampu Wood.

Untuk memperkuat dugaan, dokter biasanya akan menyarankan tes lanjutan. Salah satu tes yang umum dilakukan dalam kasus tinea capitis adalah tes kultur jamur dengan menyeka bagian yang terinfeksi. Hasil dari tes ini biasanya sudah bisa didapat dalam waktu tiga minggu. Selain tes kultur jamur, tes lain yang bisa dilakukan adalah biopsi kulit kepala. Akan tetapi, tes ini jarang dilakukan. Pemeriksaan mikroskopik pada rambut atau goresan kulit kepala juga mungkin dilakukan.

Pengobatan Tinea Capitis

Dalam mengobati tinea capitis, dokter biasanya akan mengombinasikan sampo khusus dengan obat oral (obat yang diminum). Obat oral berfungsi membunuh jamur penyebab tinea capitis, sedangkan sampo berfungsi mencegah penyebaran infeksi dan membasmi spora jamur di kepala.

Contoh obat oral yang paling banyak diresepkan untuk kasus tinea capitis adalah terbinafine hydrochloride dan griseofulvin. Sedangkan sampo yang diresepkan biasanya mengandung selenium sulfide (minimal 2,5 persen) dan ketoconazole.

Agar pengobatan bisa berjalan efektif, penting bagi Anda untuk menggunakan obat-obatan tersebut selama jangka waktu yang ditetapkan. Biasanya dokter akan menganjurkan penggunaan terbinafine hydrochloride dan griseofulvin selama satu setengah bulan. Sedangkan untuk penggunaan sampo pada umumnya adalah beberapa kali dalam seminggu selama satu bulan. Ketika menggunakan sampo anti jamur, biarkan sampo di kepala selama 5 menit sebelum dibilas. Jika masih belum jelas, tanyakan ke dokter tentang cara menggunakan sampo antijamur yang benar.

Efek samping terbinafine hydrochloride dan griseofulvin

Sama seperti obat-obatan lainnya, penggunaan terbinafine hydrochloride dan griseofulvin juga berisiko menimbulkan efek samping.

Efek samping yang mungkin saja terjadi setelah mengonsumsi terbinafine hydrochloride adalah:

  • Sakit kepala
  • Sakit perut
  • Ruam atau biduran
  • Gatal
  • Reaksi alergi
  • Perubahan rasa atau hilangnya rasa di dalam mulut
  • Demam
  • Gangguan pada hati (ini jarang terjadi)

Sedangkan efek samping yang mungkin saja terjadi setelah mengonsumsi griseofulvin adalah:

  • Sakit kepala
  • Badan terasa lelah
  • Kulit menjadi sensitif terhadap sinar matahari
  • Ruam atau biduran
  • Muntah
  • Reaksi alergi
  • Pusing
  • Pingsan

Pencegahan Tinea Capitis

Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa diterapkan untuk meminimalkan penularan penyakit tinea capitis, di antaranya:

  • Selalu menjaga kebersihan tangan.
  • Mencuci rambut dan kulit kepala secara rutin dengan sampo.
  • Jangan berbagi penggunaan barang-barang, seperti sisir, handuk, dan baju, dengan orang lain, atau meminjamkan barang-barang tersebut dengan orang lain.
  • Menghindari hewan yang terinfeksi.
  • Berbagi informasi seputar tinea capitis dengan orang lain mengenai bagaimana cara agar tidak terinfeksi beserta cara pencegahannya.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT