Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Tetanus

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Tetanus adalah kejang bersifat spasme (kaku otot) yang dimulai pada rahang dan leher. Kondisi ini disebabkan oleh racun berbahaya bakteri Clostridium tetani, yang masuk menyerang saraf tubuh melalui luka kotor.

Clostridium tetani bisa bertahan hidup di luar tubuh dalam bentuk spora untuk waktu yang sangat lama. Mislanya, dalam debu, tanah, serta kotoran hewan maupun manusia. Spora Clostridium tetani umumnya masuk ke tubuh melalui luka yang kotor, contohnya luka akibat cedera, digigit hewan, paku berkarat, atau luka bakar.

Gejala-gejala Tetanus

Apabila berhasil memasuki tubuh, spora Clostridium tetani akan menjadi bakteri tetanus yang aktif. Spora tersebut kemudian akan berkembang biak untuk melepaskan neurotoksin atau racun yang menyerang sistem saraf.

Neurotoksin yang mengacaukan kinerja saraf itu berpotensi menyebabkan pengidap mengalami kejang yang menyerupai kekakuan otot. Inilah gejala utama tetanus yang bisa menyebabkan rahang pengidap mengatup rapat dan tidak bisa dibuka atau biasa disebut dengan istilah rahang terkunci (lockjaw). Selain itu, masalah sukar menelan juga bisa dialami oleh pengidap tetanus.

Jenis-jenis Tetanus

Ada beberapa tipe tetanus, yaitu tetanus umum, terlokalisir, cephalic, dan neonatorum. Tipe terlokalisir dan cephalic termasuk jenis yang jarang terjadi.

Tetanus dikatakan terlokalisir bila mengenai bagian tubuh tertentu yang akan mengalami kejang lokal. Ini terjadi ketika tubuh hanya memiliki kekebalan parsial terhadap racun tetanus dan bisa menjadi tetanus umum yang menyebar ke bagian tubuh lain.

Tetanus cephalic terjadi akibat infeksi telinga tengah. Sama seperti tetanus terlokalisir, tetanus ini juga berpotensi menjadi tetanus umum.

Sementara tetanus neonatorum adalah tetanus yang dialami oleh bayi baru lahir karena proses penanganan persalinan yang tercemar spora bakteri tetanus. Jenis tetanus ini dapat terjadi karena kekebalan tubuh sang bayi terhadap tetanus masih lemah.

Jenis tetanus yang akan dibahas dalam artikel ini adalah tetanus umum.

Diagnosis dan Pengobatan Tetanus

Untuk mendiagnosis tetanus, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik. Termasuk pemeriksaan luka sambil menanyakan riwayat penyakit, vaksinasi yang pernah diterima, serta gejala dan tanda klinis yang dialami pasien.

Sementara langkah pengobatan tetanus bertujuan untuk memberikan terapi suportif; memusnahkan spora, dan menghentikan perkembangan bakteri. Caranya bisa dengan membersihkan luka yang kotor, menghentikan produksi neurotoksin, menetralkan neurotoksin yang belum menyerang saraf tubuh, mencegah komplikasi, serta menangani komplikasi bila sudah terjadi.

Dokter juga akan menganjurkan vaksinasi tetanus jika pasien:

  • Belum pernah divaksinasi.
  • Belum menerima vaksinasi yang lengkap.
  • Tidak yakin apakah sudah divaksinasi atau belum.

Penyembuhan tetanus umumnya membutuhkan waktu selama beberapa minggu hingga beberapa bulan.

Tetanus bukanlah penyakit menular, tapi berpotensi mematikan. Terutama bila luka berada di kepala atau wajah, dialami oleh bayi yang baru lahir, serta pada penderita yang tidak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Pencegahan dan Komplikasi Tetanus

Langkah utama untuk mencegah tetanus adalah dengan vaksinasi. Di Indonesia, vaksin tetanus termasuk dalam daftar imunisasi wajib untuk anak.

Imunisasi ini diberikan sebagai bagian dari vaksin DTP (difteri, tetanus, pertusis). Proses vaksinasi ini harus dijalani dalam 5 tahap, yaitu pada usia 2, 4, 6, 18 bulan, dan 5 tahun. Vaksin ini kemudian akan diulangi pada saat anak berusia 12 tahun yang berupa imunisasi Td. Namun, DTP termasuk imunisasi yang tidak dilisensikan bagi anak berusia 7 tahun ke atas, remaja, serta dewasa.

Untuk wanita, imunisasi TT (tetanus toksoid) sebaiknya diberikan 1 kali saat sebelum menikah dan 1 kali pada saat hamil. Tujuan imunisasi ini adalah untuk mencegah tetanus pada bayi yang baru lahir.

Di samping vaksinasi, pencegahan tetanus juga dapat dilakukan dengan selalu menjaga kebersihan. Terutama saat merawat luka agar tidak terkena infeksi.

Infeksi tetanus yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan komplikasi dan berakibat fatal. Beberapa komplikasi tetanus yang dapat terjadi meliputi jantung yang tiba-tiba berhenti, emboli paru, serta pneumonia.

Tetanus merupakan infeksi yang tergolong serius dan disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani. Bakteri ini dapat hidup lebih dari 40 tahun di luar tubuh manusia dalam bentuk spora. Spora tersebut umumnya terdapat dalam debu, tanah, kotoran hewan dan manusia, besi berkarat, kawat duri, serta ujung jarum yang tidak steril.

Apabila spora itu berada dalam luka kotor yang bersifat anaerob (tidak ada oksigen), ia akan menjadi bakteri yang aktif, berkembang biak, dan melepaskan neurotoksin bernama tetanospasmin.

Faktor-faktor Risiko Tetanus

Terdapat sejumlah faktor dan kondisi di balik tetanus. Kondisi-kondisi berikut dipercaya dapat mempertinggi risiko seseorang untuk terinfeksi tetanus:

  • Belum menerima vaksinasi atau prosesnya tidak lengkap.
  • Keberadaan benda asing pada luka, misalnya serpihan kayu, karat, atau kuku.
  • Luka yang terpapar debu, kotoran hewan, atau tanah.
  • Luka penetrasi yang dalam, misalnya akibat tertusuk paku berkarat atau kotor.
  • Orang-orang yang menindik atau menato tubuh dengan peralatan yang kurang steril.
  • Pengguna narkoba yang memakai alat-alat suntik yang tidak steril.
  • Tali pusar pada bayi baru lahir yang mengalami infeksi karena sang ibu tidak divaksinasi tetanus secara memadai.

Gejala-gejala Tetanus

Durasi sejak seseorang terpapar spora bakteri tetanus hingga muncul gejala (masa inkubasi) umumnya membutuhkan waktu antara 4 hingga 14 hari. Gejala-gejala tetanus bisa berupa:

  • Kejang yang menyerupai kekakuan otot, terutama pada rahang dan leher sehingga pengidap sulit membuka mulut. Wajah penderita juga tampak menyeringai, disebut dengan istilah risus sardonicus.
  • Kesulitan menelan jika kejang otot menyebar hingga ke leher.
  • Otot di sekitar perut yang kaku.
  • Kejang yang menyakitkan di seluruh tubuh dan berlangsung selama beberapa menit. Gejala ini biasanya dipicu oleh hal-hal kecil, seperti suara nyaring, sentuhan, serta cahaya.
  • Kejang hebat yang terjadi di seluruh tubuh. Gejala ini akan menyebabkan bagian punggung bawah tubuh melengkung ke atas.
  • Demam dan berkeringat.
  • Tekanan darah yang naik.
  • Detak jantung yang cepat.

Tetanus yang tidak diobati bisa bertambah parah dan bahkan mengancam jiwa pengidapnya. Karena itu, Anda sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter jika Anda memiliki luka dan mengalami gejala-gejala tersebut.

Diagnosis tetanus tidak ditentukan oleh tes laboratorium, tapi berdasarkan manifestasi klinis.

Pada tahap awal, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik sambil menanyakan riwayat penyakit dan vaksinasi penderita. Jenis vaksinasi yang pernah diterima serta gejala-gejala yang dialami juga akan ditanyakan secara mendetail.

Penderita yang ke dokter dalam keadaan kejang akan diberi pertolongan pertama dan langsung dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. metode Penanganan intensif tersebut umumnya meliputi:

  • Meredakan kejang dan menenangkan pasien dengan memberi obat pelemas otot dan obat penenang.
  • Membersihkan luka, misalnya menyingkirkan kotoran atau jaringan mati serta mengangkat benda tajam yang tersisa pada luka. Proses ini dilakukan untuk memusnahkan spora dan bakteri tetanus.
  • Menetralisasi neurotoksin yang masih bebas. Cara ini dilakukan melalui pemberian tetanus imunoglobulin.
  • Memberikan obat-obatan untuk menghentikan produksi neurotoksin dengan memberi antimikroba dan antibiotik guna mematikan bakteri Clostridium tetani.
  • Penggunaan alat bantu pernapasan atau ventilator jika tetanus berdampak pada otot-otot pernapasan.
  • Memberikan nutrisi melalui selang atau infus agar pengidap tidak dehidrasi dan mengalami kekurangan nutrisi.
  • Melakukan tirah baring (bedrest) dalam ruang gelap dan tenang. Stimulus fisik sekecil apa pun berpotensi menyebabkan kambuhnya siklus kejang.
  • Memberikan vaksinasi Tetanus. Perlu diingat bahwa pernah mengidap tetanus bukan berarti Anda akan kebal sesudahnya. Karena itu, pasien yang belum pernah menerima vaksinasi, memiliki riwayat vaksinasi yang tidak lengkap, atau tidak yakin pernah divaksinasi, sebaiknya menjalani vaksinasi tetanus.

Langkah Pencegahan Tetanus

Langkah utama untuk mencegah tetanus adalah melalui vaksinasi. Di Indonesia sendiri, vaksinasi tetanus termasuk salah satu dari 5 imunisasi wajib untuk anak.

Imunisasi tetanus diberikan sebagai bagian dari vaksin DTP (Difteri, Tetanus, Pertusis). Proses vaksinasi ini harus diberikan dalam 5 tahap, yaitu pada usia 2, 4, 6, 18 bulan, dan 4-6 tahun.

Bagi anak berusia di atas 7 tahun, tersedia vaksin Td yang juga berfungsi memberikan perlindungan terhadap tetanus sekaligus difteri. Proses vaksinasi Td perlu diulang tiap 10 tahun untuk mempertahankan kekebalan tubuh terhadap tetanus serta difteri.

Selain vaksin, pencegahan tetanus juga dapat dilakukan dengan selalu menjaga kebersihan luka agar tidak mengalami infeksi dan cepat sembuh. Pemberian tetanus toksoid juga biasanya dianjurkan oleh dokter untuk mencegah terjadinya infeksi tetanus pada luka.

Risiko Komplikasi Tetanus

Infeksi tetanus yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan komplikasi dan berakibat fatal, terutama bagi pengidap yang belum menjalani vaksinasi. Sejumlah komplikasi serius yang dapat dialami pengidap adalah:

  • Pneumonia aspirasi karena pengidap menghirup objek asing masuk ke paru-paru, misalnya ludah, muntah, makanan, atau minuman.
  • Emboli paru, terutama pada lansia dan pengguna obat-obatan terlarang. Komplikasi ini terjadi saat ada penyumbatan pada pembuluh darah di paru-paru.
  • Napas yang tiba-tiba berhenti. Kondisi ini disebabkan oleh kekakuan otot di sekitar pita suara sehingga penderita tidak bisa bernapas dan tercekik. Komplikasi ini umumnya terjadi pada pengidap tetanus dengan tingkat keparahan tinggi dan bisa berujung pada kematian karena kinerja jantung yang mendadak terhenti akibat kekurangan oksigen.
  • Patah tulang akibat kejang dan kontraksi yang berkepanjangan.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT