Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Mononukleosis

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Mononukleosis atau demam kelenjar adalah sebuah infeksi yang terjadi karena tersebarnya virus Epstein-Barr (EBV) dalam tubuh melalui air liur. Penyakit yang kerap menyerang remaja ini akan menetap dalam tubuh selama kurang lebih dua bulan sebelum akhirnya menimbulkan gejala. Penyebaran utama virus ini adalah melalui air liur, sehingga beberapa aktivitas seperti berciuman, berbagi sikat gigi, berbagi peralatan makan atau minum dengan orang lain tanpa dicuci terlebih dahulu, serta batuk atau bersin akan dapat meningkatkan risiko terjangkit penyakit ini. Walau demikian, penularan penyakit ini tidak semudah infeksi lainnya (misalnya pilek).

Saat air liur yang terinfeksi virus EBV masuk ke tubuh manusia, virus dalam air liur ini akan mulai menginfeksi sel-sel di permukaan dinding tenggorokan. Tubuh akan mengeluarkan sel darah putih, yakni sel limfosit B, untuk melawan infeksi tersebut. Sel B yang berisi virus ini akan ditangkap oleh sistem kelenjar getah bening yang tersebar di berbagai bagian tubuh. Dengan cara inilah virus EBV tersebar dalam tubuh manusia.

Banyaknya jumlah limfosit-B yang dihasilkan tubuh untuk melawan virus EBV ini ditunjukkan dengan meningkatnya kadar limfosit pada saat dilakukan pemeriksaan darah. Selain itu, pelepasan limfosit-B oleh tubuh akan diikuti oleh pengeluaran protein-protein radang yang disebut dengan sitokin. Sitokin inilah yang menyebabkan penderita merasa demam.

Setelah proses infeksi terlewati, tubuh akan membentuk suatu sistem kekebalan permanen, sehingga kemungkinan untuk mengalami gejala ulangan sangatlah kecil. Namun pada beberapa orang, virus akan tetap tinggal dalam air liur dalam bentuk tidak aktif. Virus ini dapat ditularkan ke orang lain, atau mungkin dapat kembali aktif dalam kondisi-kondisi tertentu.

Dewasa muda berusia 15-30 tahun adalah yang paling sering terkena penyakit ini karena mereka melakukan kontak langsung dengan banyak orang secara terus-menerus, dan aktivitas seksual tercatat paling tinggi pada kelompok usia ini. Selain itu, para tenaga kesehatan, perawat, serta orang-orang yang mengonsumsi obat pelemah daya tahan tubuh juga lebih rentan untuk menderita mononuklesis dibandingkan dengan orang normal lainnya.

Gejala Mononukleosis

Penyakit mononukleosis atau yang disebut oleh sebagian besar orang sebagai “penyakit ciuman” memiliki gejala yang tidak jauh berbeda dari infeksi virus biasa lainnya (misalnya flu), sehingga kadang-kadang sulit untuk dikenali. Beberapa gejala yang paling sering dijumpai adalah:

  • Demam
  • Radang tenggorokan yang lebih nyeri daripada radang yang pernah dialami sebelumnya
  • Pembengkakan kelenjar, paling sering di leher namun bisa juga di bagian lain tubuh seperti di ketiak
  • Mudah lelah

Beberapa gejala lain yang mungkin dijumpai antara lain:

  • Rasa tidak enak badan
  • Otot terasa nyeri atau lemas
  • Menggigil
  • Pembengkakan limpa atau hati
  • Nafsu makan menurun
  • Pembengkakan amandel dan adenoid (suatu jaringan di hidung bagian belakang)
  • Rasa sakit hingga pembengkakan pada bagian mata
  • Munculnya bintik-bintik merah tua (kadang-kadang ungu) di langit-langit mulut.

Diagnosis Mononukleosis

Dokter akan mendiagnosa adanya kemungkinan mononukleosis melalui pemeriksaan fisik untuk melihat tanda dan gejala yang ada, misalnya pembengkakan pada amandel, kelenjar getah bening, limpa, atau bahkan hati. Selain itu, dokter mungkin akan menyarankan untuk dilakukannya pemeriksaan laboratorium seperti tes penghitungan sel darah putih dan tes antibodi.

Tes penghitungan sel darah putih dilakukan untuk mencari peningkatan kadar limfosit dalam tubuh (limfositosis). Hasil tes ini kerap menjadi acuan tambahan untuk mendukung diagnosa mononukleosis, namun bukan satu-satunya yang digunakan untuk menegakkan diagnosa.

Tes laboratorium berikutnya adalah tes monospot. Tes ini dilakukan untuk memeriksa kadar antibodi untuk melawan EBV dalam tubuh. Tes ini cukup cepat, di mana hasilnya dapat langsung dilihat pada hari itu juga. Namun, tes ini tidak dapat dilakukan pada satu minggu awal terjadinya infeksi, karena antibodi masih belum terbentuk secara sempurna.

Pengobatan Mononukleosis

Hingga saat ini, masih tidak ada pengobatan atau terapi untuk menyembuhkan mononukleosis. Mononukleosis dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu beberapa minggu, namun beberapa hal di bawah ini dapat dilakukan untuk meringankan gejala:

  • Cairan. Mengkonsumsi air putih yang banyak (termasuk jus buah segar) dapat membantu meredakan demam, mengatasi radang tenggorokan, serta mencegah dehidrasi. Selain itu, Anda juga dapat berkumur menggunakan air garam beberapa kali dalam sehari.
  • Obat antinyeri. Demam atau rasa nyeri dan pegal dapat dikurangi dengan mengonsumsi obat antinyeri yang aman (ibuprofen atau parasetamol) untuk meredakan demam dan nyeri.
  • Obat antiradang. Antiradang kortikosteroid mungkin diperlukan apabila terjadi pembengkakan amandel, anemia berat, ada masalah pada jantung, atau terjadi gangguan pada otak atau saraf. Konsultasikan pada dokter terlebih dahulu sebelum mengonsumsi obat ini.
  • Istirahat. Perbanyak istirahat serta hindari aktivitas fisik yang terlalu berat atau yang memerlukan kontak fisik keras seperti olahraga, karena pada saat menderita mononukleosis, bisa terjadi pembengkakan limpa. Benturan yang cukup keras bisa menyebabkan limpa tersebut pecah.

Dianjurkan untuk menemui dokter kembali apabila gejala penyakit mononukleosis tidak kunjung reda dalam waktu dua minggu setelah Anda menerapkan cara-cara di atas.

Rawat inap mungkin dibutuhkan bagi penderita mononukleosis dengan kondisi tertentu, seperti sesak napas, kesulitan menelan makanan atau cairan, atau mengalami nyeri perut yang hebat.

Komplikasi Mononukleosis

Mononukleosis bukan merupakan penyakit serius, namun tidak menutup kemungkinan terjadi komplikasi, walau hal tersebut jarang terjadi. Beberapa diantaranya adalah:

  • Rasa lelah berkepanjangan: Sepuluh persen penderita mononukleosis dapat merasakan kelelahan selama 6 bulan atau lebih. Hingga sekarang penyebab komplikasi ini belum diketahui.
  • Berkurangnya sel darah dalam tubuh: sel darah yang mengalami penurunan darah antara lain sel darah merah (anemia) yang dapat menyebabkan sesak napas dan kelelahan, sel darah putih (neutropenia) yang membuat penderita lebih rentan terserang infeksi sekunder, serta platelet yang menyebabkan seseorang lebih rentan untuk terjadi pendarahan.
  • Kerusakan limpa: Sekitar separuh penderita mononukleosis mengalami pembengkakan limpa. Benturan keras akibat aktivitas berat atau olahraga akan membuat limpah yang bengkak ini menjadi pecah. Kondisi ini mengancam nyawa karena akan terjadi perdarahan internal dalam perut.
  • Gangguan Persarafan: komplikasi persarafan yang mungkin terjadi antara lain sindroma Guillain-Barre (peradangan sistem saraf), Bell’s palsy (kelemahan/kelumpuhan separuh sisi otot wajah), radang selaput otak akibat virus, dan ensefalitis (radang otak).
  • Inflamasi hati: Meskipun jarang, hepatitis dan penyakit kuning dapat menyerang penderita mononukleosis.

Pencegahan Mononukleosis

Meskipun mononukleosis sulit untuk dicegah, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengurangi risiko tertular penyakit ini. Beberapa di antaranya adalah dengan menghindari berciuman dengan penderita, melindungi diri dari paparan air liur yang dikeluarkan orang lain melalui bersin atau batuk, serta tidak berbagi sikat gigi dan tidak berbagi peralatan makan atau minum dengan orang lain. Selain itu, jangan segan untuk menemui dokter jika merasakan gejala yang mengganggu agar penyakit ini dapat cepat ditangani.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT