Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Miom

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 20 kali

Miom adalah pertumbuhan sel tumor di dalam atau di sekitar uterus (rahim) yang tidak bersifat kanker atau ganas. Miom dikenal juga dengan nama mioma, uteri fibroid, atau leiomioma. Miom berasal dari sel otot rahim yang mulai tumbuh secara abnormal. Pertumbuhan inilah yang akhirnya membentuk tumor jinak.

Sebagian wanita pernah memiliki miom dalam hidup mereka. Namun terkadang kondisi ini tidak diketahui oleh sebagian wanita yang mengalami karena tidak muncul gejala. Jika ada, gejala yang mungkin muncul akibat miom adalah:

  • Masa menstruasi menyakitkan atau berlebih.
  • Rasa sakit atau nyeri pada bagian perut atau punggung bawah.
  • Rasa tidak nyaman, bahkan sakit, saat berhubungan seksual.
  • Sering buang air kecil.
  • Mengalami konstipasi.
  • Keguguran, mengalami kemandulan, atau bermasalah pada masa kehamilan (sangat jarang terjadi).

Ukuran miom sangat bervariasi, ada yang sekecil biji dan ada juga yang berukuran besar hingga mengakibatkan rahim membesar. Dalam satu periode, miom yang muncul mungkin hanya satu, namun bisa juga muncul beberapa secara sekaligus.

Jenis miom yang ada dibedakan berdasarkan lokasi tumbuhnya miom, terbagi seperti berikut ini:

  • Fibroid intramural. Miom jenis ini tumbuh di antara jaringan otot rahim. Lokasi ini merupakan tempat yang paling umum terbentuknya miom.
  • Fibroid subserous. Miom yang tumbuh di bagian luar dinding rahim, ke rongga panggul. Jenis ini bisa tumbuh menjadi sangat besar.
  • Fibroid submucous. Miom ini tumbuh di lapisan otot bagian dalam dari dinding rahim. Jika sampai tumbuh, miom ini bisa menyebabkan pendarahan parah saat menstruasi dan komplikasi serius lainnya.
  • Fibroid pedunculated. Miom jenis ini tumbuh di batang kecil di dalam atau di luar rahim.

Penyebab Munculnya Miom

Hingga kini, penyebab kemunculan miom masih belum diketahui. Kemunculan kondisi ini dikaitkan dengan hormon estrogen (hormon reproduksi yang dihasilkan oleh ovarium). Biasanya miom muncul pada usia sekitar 16-50 tahun, saat kadar estrogen dalam diri wanita sedang tinggi-tinggnya. Setelah mengalami menopause, miom akan menyusut karena penurunan kadar estrogen. Satu dari tiga wanita memiliki miom pada usia yang sama, yaitu di antara usia 30-50 tahun.

Miom lebih sering muncul pada wanita dengan berat badan berlebih atau yang mengalami obesitas. Dengan meningkatnya berat tubuh, hormon estrogen di dalam tubuh juga akan meningkat. Selain itu, faktor keturunan juga berperan dalam kasus miom. Wanita dengan ibu dan saudara perempuan yang pernah mendapatkan miom akan cenderung memiliki miom.

Beberapa faktor lain yang bisa meningkatkan risiko munculnya miom adalah menstruasi yang dimulai terlalu dini, banyak mengonsumsi daging merah dibandingkan sayur-sayuran dan buah-buahan, dan kebiasaan mengonsumsi alkohol.

Risiko seorang wanita mengalami miom akan menurun setelah melahirkan anak. Risiko itu akan semakin kecil jika memiliki lebih banyak anak.

Diagnosis Miom

Miom terkadang didiagnosis secara tidak disengaja ketika Anda melakukan pemeriksaan ginekologi, melakukan tes, atau pencitraan tertentu. Hal ini terjadi karena miom seringkali tidak menimbulkan gejala sama sekali.

Jika Anda mengalami beberapa gejala miom dan berlangsung cukup lama, segera cari tahu penyebabnya. Biasanya dokter akan menyarankan untuk menjalani pemindaian ultrasonografi (USG) untuk memastikan diagnosisnya atau mencari tahu penyebab kemunculan gejala yang Anda alami.

Pengobatan Miom

Miom yang tidak memunculkan gejala tertentu, biasanya tidak memerlukan pengobatan khusus. Biasanya setelah masa menopause, miom jenis ini akan menyusut atau bahkan menghilang tanpa menjalani pengobatan.

Pengobatan akan dilakukan pada miom yang menimbulkan gejala. Pengobatan ini berfungsi meringankan gejala yang muncul. Apabila pengobatan yang dilakukan tidak memiliki dampak yang efektif, pelaksanaan prosedur operasi perlu dilakukan.

Diagnosis terhadap miom bisa sulit untuk dilakukan mengingat beberapa kondisi tidak menimbulkan gejala sama sekali. Biasanya miom diketahui secara tidak sengaja ketika Anda menjalani pemeriksaan panggul.

Ketika gejala muncul dan dokter mencurigai adanya miom, pemeriksaan panggul akan dilakukan. Langkah ini berfungsi mencari tanda-tanda lain dari miom.

Berikut ini adalah beberapa tes atau pemeriksaan untuk memastikan diagnosis terhadap miom.

  • Ultrasonografi (USG). Alat yang memancarkan frekuensi gelombang suara untuk menghasilkan gambar dari bagian dalam tubuh Anda. Hasil gambar yang dihasilkan dari pemindaian ditampilkan melalui layar agar dokter bisa melihat apakah terdapat miom. Ada dua jenis USG yang digunakan untuk mendiagnosis miom, yaitu USG perut dan USG Vagina.
  • Magnetic resonance imaging (MRI). Hasil pencitraan ini bisa memperlihatkan ukuran dan lokasi miom di dalam tubuh Anda. Alat ini juga bisa mengenali berbagai jenis tumor dan membantu menentukan penanganan yang tepat.
  • Histeroskopi. Sebuah teleskop kecil (histeroskop) akan dimasukkan ke rahim melalui vagina dan serviks untuk melihat bagian dalam rahim Anda. Prosedur ini dilakukan untuk mencari miom yang berada di dalam rahim. Pasien akan menerima anastesi lokal atau total.
  • Laparoskopi. Pipa kecil dengan cahaya dan kamera di ujungnya dimasukkan untuk melihat bagian dalam perut atau panggul. Prosedur ini dilakukan untuk mencari miom yang terdapat pada bagian luar dari rahim atau otot-otot di sekitar rahim.
  • Biopsi. Sampel jaringan akan diangkat ketika melakukan prosedur histeroskopi atau laparoskopi untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium.

Pada kasus miom yang tidak menimbulkan gejala, kemungkinan tidak diperlukan pengobatan. Miom kecil biasanya akan menyusut dengan sendirinya. Pertumbuhan sel pada miom tidak bersifat kanker dan kondisi ini jarang sekali memengaruhi kehamilan. Miom biasanya tumbuh secara perlahan-lahan atau tidak sama sekali.

Obat-obatan untuk Mengatasi Miom

Pada miom yang memiliki gejala, terdapat beberapa obat-obatan yang bisa digunakan untuk meredakan gejala yang muncul, yaitu:

  • Kontrasepsi oral (pil KB). Obat ini berfungsi dengan cara menghambat sel telur agar tidak dilepaskan dari ovarium untuk mencegah kehamilan. Selain itu, pil KB bisa meringankan pendarahan berlebih dan membantu mengurangi rasa sakit saat menstruasi.
  • Levonorgestrel intrauterine system (LNG-IUS). LNG-IUS merupakan perangkat medis berbentuk plastik yang diletakkan di dalam rahim. Alat ini berfungsi mengeluarkan hormon progesteron yang bernama levonorgestrel secara perlahan. Alat ini akan memperlambat pertumbuhan dinding rahim agar lebih tipis dan pendarahan menjadi lebih sedikit. Alat ini juga berfungsi sebagai alat kontrasepsi dan akan berhenti setelah Anda tidak menggunakannya. Alat ini bisa menimbulkan efek samping seperti pendarahan yang tidak teratur pada vagina, muncul jerawat, sakit kepala, dan nyeri dada.
  • Asam traneksamat. Bagi yang masih menginginkan untuk bisa hamil, Anda bisa mengonsumsi obat asam traneksamat. Fungsi obat ini menyebabkan terjadinya penggumpalan darah di dalam rahim. Obat ini bukan alat kontrasepsi dan tidak bisa mencegah kehamilan. Penggunaan obat ini bisa menimbulkan efek samping berupa gangguan pencernaan dan diare.
  • Obat anti inflamasi non steroid (OAINS). Obat ini bisa dikonsumsi untuk menghentikan atau mengurangi pendarahan. Obat ini dapat menghalangi tubuh dalam menghasilkan senyawa prostaglandin, yang terkait dengan menstruasi berlebih. OAINS termasuk golongan obat pereda rasa sakit. Penggunaan obat ini bisa menimbulkan efek samping berupa gangguan pencernaan dan diare.
  • Progesteron oral. Obat ini adalah penghasil hormon progesteron buatan manusia untuk mengurangi menstruasi berlebih. Obat ini berfungsi mencegah dinding rahim tumbuh dengan cepat.
  • Progesteron suntik. Metode ini berfungsi menghambat dinding rahim agar tidak tumbuh dengan cepat dan mengatasi menstruasi berlebih. Obat ini juga berfungsi sebagai alat kontrasepsi. Metode ini bisa menimbulkan efek samping seperti pertambahan berat badan, pendarahan pada vagina, siklus menstruasi terganggu, dan muncul gejala-gejala pra menstruasi.
  • Gonadotropin releasing hormone (GnRH). Obat ini akan membuat tubuh menghasilkan lebih sedikit hormon estrogen, yang akhirnya akan menyusutkan miom yang ada di dalam tubuh. Obat ini juga membantu meredakan menstruasi berlebih serta mengurangi tekanan dan rasa nyeri pada perut. Selain itu, gejala sering buang air kecil dan konstipasi juga bisa diatasi dengan bantuan obat ini. Efek samping yang ditimbulkan obat ini berupa sensasi rasa panas, berkeringat, dan jantung berdebar (hot flushes), peningkatan produksi keringat, otot kaku, dan vagina menjadi kering.
  • Ulipristal acetate. Metode ini merupakan metode baru untuk mengatasi miom. Pengobatan jenis ini bisa dilakukan selama tiga bulan, yang dimulai saat minggu pertama menstruasi. Metode ini hanya direkomendasikan untuk perempuan di atas 18 tahun. Ulipristal acetate tidak bisa digunakan bersamaan dengan beberapa metode kontrasepsi hormonal seperti pil progestogen, intrauterine device (IUD), dan pil kb. Agar lebih jelas, lebih baik hubungi dokter.

Operasi pada Miom

Jika gejala yang muncul akibat miom cukup parah dan pengobatan yang dilakukan tidak berhasil, Anda akan disarankan menjalani operasi. Anda bisa menanyakan kepada dokter tentang manfaat dan risiko yang akan dihadapi ketika memilih prosedur operasi tertentu. Berikut ini beberapa operasi yang dilakukan untuk mengatasi miom.

  • Bedah histeroskopi. Prosedur bertujuan untuk mengangkat miom melalui vagina dengan menggunakan peralatan operasi kecil. Langkah ini tidak memerlukan adanya penyayatan, proses pengangkatan miom dilakukan melalui vagina. Cara ini cocok bagi wanita yang masih ingin memiliki anak di masa mendatang.
  • Miomektomi. Prosedur ini dilakukan untuk mengangkat miom yang berada pada dinding rahim. Operasi ini dilakukan apabila Anda masih ingin memiliki anak. Meski begitu, operasi ini sangat bergantung pada ukuran, jumlah, dan letak miom pada rahim. Operasi jenis ini tidak bisa diterapkan pada segala jenis miom. Cara ini cukup efektif mengatasi miom, meski ada kemungkinan miom dapat kembali dan akan diperlukan operasi lanjutan.
  • Histerektomi. Histerektomi adalah operasi pengangkatan seluruh rahim yang akan disarankan, antara lain jika miom yang ada cukup besar, terjadi pendarahan yang banyak, dan Anda tidak ingin memiliki anak lagi. Cara ini sangat efektif dalam mencegah kembalinya miom di masa mendatang.
  • Morcellation histeroskopi. Metode ini dilakukan dengan memasukkan histeroskop dan alat bernama morcellator ke dalam rahim melalui serviks untuk memotong dan membuang miom. Kelebihan metode ini adalah bisa meminimalisir risiko cedera pada rahim. Jika dibandingkan dengan metode lainnya, morcellation histeroskopi ini tergolong baru untuk mengatasi miom.

Selain prosedur operasi di atas, terdapat cara lain untuk mengatasi miom tanpa proses operasi. Metode itu terdiri dari:

  • Embolisasi arteri rahim. Langkah ini disarankan pada wanita yang memiliki miom berukuran sangat besar. Proses ini dilakukan oleh dokter ahli radiologi yang terlatih dalam memakai sinar X dan alat pemindaian. Prosedur ini akan menghambat pembuluh darah yang menyuplai miom dan sebagai akibatnya ukuran miom akan menyusut. Prosedur ini sebaiknya dilakukan setelah membahas manfaat, risiko, dan ketidakpastian yang mungkin terjadi. Hingga kini belum bisa dipastikan apakah prosedur ini akan berdampak kepada kesuburan atau proses kehamilan.
  • Ablasi endometrium. Ini adalah prosedur kecil untuk mengangkat dinding rahim. Langkah ini digunakan untuk mengurangi pendarahan berlebih saat menstruasi pada wanita yang mengidap miom. Selain itu, cara ini juga bisa mengatasi miom kecil yang berada di dinding rahim. Pengangkatan dinding rahim ini bisa dilakukan dengan memakai energi laser, energi panas microwave, lingkaran kabel yang panas, atau cairan panas.

Terkecuali histerektomi, semua proses yang dilakukan di atas masih memungkinkan munculnya kembali miom di masa mendatang. Masih ada kemungkinan miom kecil yang tidak terdeteksi oleh dokter dapat tumbuh dan mengakibatkan gejala yang memerlukan pengobatan.

Meski miom jarang menyebabkan komplikasi yang berat, terdapat kondisi yang disebabkan miom yang bisa mengganggu kesehatan Anda sebagai wanita. Komplikasi yang terjadi tergantung kepada gejala, letak dan ukuran miom yang ada pada tubuh Anda. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah:

  • Anemia defisiensi besi. Pendarahan berlebih yang diakibatkan oleh miom bisa menyebabkan anemia defisiensi besi. Suplemen zat besi bisa dikonsumsi untuk membantu menggantikan darah yang hilang ketika mengalami menstruasi.
  • Kemandulan. Jika miom yang ada sangat besar, akibatnya berpotensi menghalangi sel telur yang telah dibuahi untuk menempel pada dinding rahim atau menghalang sel sperma sehingga tidak bisa mencapai sel telur. Tapi kondisi ini jarang sekali terjadi.
  • Gangguan yang terjadi pada kehamilan. Miom bisa mengganggu perkembangan bayi dan mempersulit proses persalinan. Kelahiran prematur juga bisa terjadi. Selain itu, mungkin diperlukan operasi Caesar apabila miom besar menghalangi vagina. Meski jarang sekali, miom juga bisa menyebabkan keguguran. Tanyakan pada dokter tentang pilihan penanganan terbaik yang bisa dilakukan.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT