Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Migrain

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 20 kali

Migrain adalah nyeri kepala sedang hingga parah yang terasa berdenyut yang umumnya hanya mengenai sebelah sisi kepala saja.

Penyakit ini lebih sering diidap wanita dibandingkan pria. Menurut hasil penelitian WHO, dari total populasi manusia berusia 18-65 tahun yang melaporkan pernah mengalami sakit kepala, sekitar 30 persen merupakan sakit kepala migrain.

Pada sebagian orang, serangan migrain dapat muncul hanya beberapa kali dalam setahun. Akan tetapi, pada penderita lainnya, migrain dapat muncul hingga beberapa kali dalam seminggu. Pada kasus tertentu, nyeri dapat muncul di kedua sisi kepala dan bahkan menyerang leher penderita.

Mengidentifikasi Migrain

Tidak ada tes khusus untuk mendiagnosis migrain. Migrain dapat didiagnosis dengan mengidentifikasi pola sakit kepala yang sesuai dengan gejala pada migrain.

Selain sakit kepala, sebagian penderita turut merasakan mual, muntah, dan menjadi jauh lebih peka terhadap cahaya atau suara. Ada beberapa jenis migrain yang perlu Anda kenali, yaitu:

  • Migrain tanpa aura: sakit kepala migrain yang terjadi tanpa tanda-tanda atau gejala. Migrain tanpa aura didiagnosis setelah pasien diketahui memiliki sejarah serangan migrain sebanyak lima kali.
  • Migrain dengan aura: tanda-tanda yang mengawali sakit kepala migrain disebut aura. Tanda-tanda yang dirasakan sebelum terjadi migrain ini umumnya berupa masalah penglihatan (kilatan cahaya pada mata), kekakuan pada leher dan kesemutan pada anggota tubuh. Migrain dengan aura juga dikenal sebagai migrain klasik. Jenis ini dialami sekitar sepertiga dari pengidap migrain.
  • Aura migrain tanpa sakit kepala: migrain terjadi ketika pengidap merasakan aura atau gejala migrain yang lain, tapi tanpa diiringi sakit kepala.

Waspadai Kondisi Tertentu

Migrain tergolong penyakit yang umum terjadi sehingga kerap kali dianggap sebagai penyakit yang tidak perlu ditangani secara khusus. Meski begitu, Anda tetap disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter jika mengalami serangan migrain lebih dari lima hari dalam sebulan atau jika rasa sakit yang ditimbulkan sudah tidak dapat ditangani dengan obat-obatan yang dijual bebas di pasaran. Tidak disarankan untuk mengonsumsi terlalu banyak obat pereda rasa sakit secara terus-menerus karena nantinya dapat mempersulit penyembuhan sakit kepala.

Sakit kepala tertentu juga dapat merujuk kepada penyakit serius lainnya, seperti stroke atau meningitis. Gejala-gejala yang perlu diwaspadai, antara lain:

  • Sakit kepala sangat parah yang terjadi secara tiba-tiba dan belum pernah dirasakan sebelumnya.
  • Lengan dan/atau satu sisi wajah atau seluruh wajah, terasa lemas atau lumpuh.
  • Sakit kepala yang bersamaan dengan demam, leher kaku, kebingungan, kejang, penglihatan ganda, dan ruam kulit.
  • Bicara dan gerak bibir yang sulit dimengerti.

Jika Anda mengalami atau melihat seseorang mengalami gejala-gejala di atas, segera bawa ke rumah sakit atau hubungi ambulans.

Faktor-faktor yang Menjadi Penyebab Migrain

Penyebab migrain masih belum diketahui secara pasti, namun beberapa faktor berikut diduga berperan menjadi penyebabnya.

  • Faktor hormon. Perubahan hormon menyebabkan sebagian wanita merasakan migrain pada masa menstruasi.
  • Anak-anak yang memiliki berat badan berlebih memiliki risiko terkena serangan migrain lebih sering.
  • Faktor gen. Sekitar setengah pengidap migrain memiliki kerabat dekat yang juga mengalami migrain.
  • Perubahan sementara pada zat kimia, jaringan saraf, otak dan pembuluh darah.
  • Konsumsi makanan dan minuman tertentu. Kafein, coklat, keju bumbu penyedap msakan (misal: MSG), dan alkohol dapat memicu migrain.
  • Faktor pemicu lainnya, seperti stres dan kelelahan turut bisa memicu migrain pada sebagian pengidap.

Mengenali Pemicu Migrain

Kambuhnya migrain dapat dicegah dengan langkah-langkah berikut:

  • Menjalani gaya hidup sehat dengan tidur cukup dan teratur, olahraga teratur, pola makan sehat, batasi konsumsi minuman keras, dan kafein.
  • Mengenali dan menghindari pemicu migrain, seperti kurang istirahat, stres, dan konsumsi makanan serta minuman tertentu.
  • Menghindari konsumsi obat-obatan tertentu, seperti pada wanita yang mengidap migrain, disarankan untuk menghindari obat-obatan yang mengandung hormon estrogen, seperti pil KB.

Bagaimana Menangani Migrain

Migrain dapat berdampak besar bagi kehidupan pengidap. Anda kadang-kadang menjadi tidak bisa beraktivitas secara normal saat terserang penyakit ini dan membutuhkan waktu istirahat di tempat tidur selama beberapa hari saat dan setelah terserang migrain. Terdapat beberapa pengobatan dan metode yang secara efektif dapat membantu mencegah migrain sehingga tidak terjadi banyak gangguan dalam kehidupan pengidap.

Berbaring di dalam kamar gelap sering menjadi solusi yang paling mudah dilakukan ketika migrain menyerang. Salah satu pengobatan yang bisa membantu meringankan rasa sakit yang dirasakan adalah dengan cara mengonsumsi obat-obatan antimuntah untuk mengurangi rasa mual dan muntah. Beberapa obat-obatan lain juga umum digunakan untuk menangani migrain, yaitu obat pereda rasa sakit dan triptan.

Meski serangan migrain terkadang dapat memburuk dari waktu ke waktu, namun umumnya kondisi pengidap cenderung membaik dalam hitungan tahun.

Pengidap migrain merasakan sakit di kepala yang berdenyut-denyut dan memburuk tiap kali mereka bergerak. Sakit kepala umumnya terasa pada salah satu sisi kepala. Pada kasus tertentu. rasa sakit juga dapat terjadi pada kedua sisi kepala, wajah, atau leher. Denyutan yang dirasakan dapat begitu hebat sehingga membuat Anda tidak mampu beraktivitas secara normal.

Proses Terjadinya Migrain

Meski tidak semua pengidap migrain merasakan semuanya, tapi empat tahap berikut ini bersifat umum.

  1. Tahap sebelum sakit kepala atau disebut ‘prodormal’: perubahan tubuh satu atau dua hari sebelum migrain menyerang. Hal ini termasuk: suasana hati, nafsu makan,konstipasi, merasa haus dan sering berkemih.
  2. Aura: biasanya merupakan gangguan yang berkaitan dengan penglihatan, seperti kilatan cahaya pandangan yang kabur. Aura merupakan gejala dari sistem saraf. Oleh karena itu, pada sebagian kasus, penderita dapat mengalami gangguan di sistem organ lain seperti gangguan verbal, sensorik dan motorik. Proses ini dapat terjadi sebelum atau selama migrain. Walau demikian, kebanyakan penderita tidak mengalami proses ini.
  3. Sakit kepala: sakit kepala hebat pada salah satu atau kedua bagian kepala, biasanya diiringi sensitivitas terhadap cahaya dan suara, mual dan muntah. Tahap ini dapat berlangsung selama kurang lebih 4-72 jam.
  4. Resolusi atau post-drome: saat semua gejala berangsur mereda dan pengidap merasa lelah selama beberapa hari.

Gejala-gejala yang Menyertai Migrain

Gejala-gejala migrain memakan waktu dari empat jam hingga tiga hari untuk benar-benar menghilang. Ini bisa menyebabkan penderita merasa lelah selama sepekan setelah terserang migrain. Selain sakit kepala, berikut ini adalah gejala-gejala lain yang sering muncul bersamaan atau mendahului sakit kepala migrain:

  • Anda mungkin akan merasa mual, diikuti dengan muntah.
  • Kurang konsentrasi.
  • Merasa sangat kedinginan atau sangat kepanasan hingga berkeringat.
  • Sakit perut (kadang-kadang menyebabkan diare).
  • Sensitif terhadap cahaya dan suara yang menyebabkan pengidap migrain merasa lebih nyaman berada di tempat yang gelap dan tenang.

Tidak semua orang merasakan gejala-gejala di atas saat mereka terserang migrain. Gejala-gejala ini juga tidak selalu terjadi secara bersamaan. Dalam beberapa kasus, pengidap dapat merasakan gejala ini tanpa merasakan sakit kepala migrain.

Gejala-gejala Aura

Aura adalah gejala yang dirasakan menjelang terjadinya serangan migrain. Di beberapa literatur, gejala aura juga dapat disebut juga prodrome. Penelitian mendeteksi bahwa aura terjadi terutama karena perubahan zat kimia dalam otak. Sekitar 1 dari 3 penderita migrain mengalami aura sebelum sakit kepala muncul.

Sebelum sakit kepala mulai dirasakan, terjadi gejala aura yang biasanya berdurasi antara 5 menit hingga satu jam. Meski sakit kepala adalah gejala utama migrain yang paling umum terjadi, namun tidak semua penderita akan merasakannya. Sebagian penderita hanya merasakan sakit kepala ringan, sementara sebagian yang lain hanya mengalami gejala aura saja.

Berikut gejala-gejala aura yang mungkin dirasakan:

  • Rasa kebas atau mungkin kesemutan seperti ditusuk jarum biasa bermula pada satu tangan dan naik ke lengan sebelum terasa pada wajah, bibir, dan lidah.
  • Gangguan penglihatan. Anda seperti melihat kilatan cahaya, pola berliku atau titik-titik gelap.
  • Kehilangan keseimbangan dan koordinasi anggota tubuh. Penderita akan merasa hilang arah atau limbung.
  • Kesulitan bicara.
  • Pada kasus yang jarang terjadi, bisa mengalami pingsan.

Kapan Mencari Bantuan Medis?

Jika mengalami serangan migrain lebih dari lima hari dalam sebulan atau jika rasa sakit yang ditimbulkan sudah tidak dapat ditangani dengan obat-obatan yang dijual bebas di apotek, sebaiknya Anda segera berkonsultasi kepada dokter.

Selain itu, Anda perlu waspada karena sakit kepala tertentu dapat merujuk pada penyakit serius lain, seperti stroke atau meningitis, terutama dengan gejala sebagai berikut:

  • Sakit kepala tidak tertahankan yang terjadi secara tiba-tiba dan belum pernah dirasakan.
  • Lengan dan atau satu sisi wajah, atau seluruhnya, terasa lemas atau lumpuh.
  • Sakit kepala yang bersamaan dengan demam, kejang, leher kaku, kebingungan, penglihatan ganda, dan ruam kulit.
  • Bicara dan gerak bibir susah dimengerti.

Meski penyebab dasar migrain belum diketahui dengan pasti, ada beberapa faktor risiko yang dikira dapat memicu terjadinya serangan migrain. Kemunculan migrain diduga karena adanya aktivitas yang tidak normal di dalam otak yang berdampak pada pembuluh darah, sinyal saraf, dan zat kimia dalam otak. Serotonin merupakan zat kimia dalam otak yang mengelola rasa sakit dalam sistem saraf. Ketidakseimbangan serotonin juga diduga memicu terjadinya migrain. Faktor genetis dan lingkungan juga bisa membuat Anda lebih berisiko mengalami migrain.

Perubahan hormon pada wanita

Fluktuasi kadar hormon pada penderita wanita berkaitan erat dengan migrain. Sebagian wanita terserang migrain di masa menstruasi. Kondisi ini dikenal dengan migrain menstruasi. Kadar hormon estrogen yang menurun tepat sebelum penderita wanita menjalani masa menstruasi diduga menjadi penyebab migrain.

Wanita dapat mengalami migrain menstruasi sejak dua hari sebelum hari pertama menstruasi hingga tiga hari setelah hari pertama menstruasi atau pada periode lain yang masih berdekatan dengan masa-masa menstruasi.

Menopause juga bisa menjadi pemicu migrain, meski ada sebagian wanita pengidap migrain merasa penyakit ini justru membaik setelah mereka memasuki masa menopause.

Pemicu pola makan dan bahan makanan

Berikut hal-hal yang berhubungan dengan pola makan yang dapat memicu migrain, yaitu minuman keras, zat tiramin pada makanan, produk mengandung kafein (teh dan kopi), jadwal makan yang tidak teratur, dan kondisi dehidrasi. Makanan-makanan tertentu, seperti cokelat, buah jeruk, dan keju juga dapat memicu migrain.

Pemicu dari lingkungan sekitar

Beberapa faktor lingkungan juga dapat menjadi pemicu seseorang terserang penyakit ini, yaitu:

  • Merokok (atau ruangan yang penuh asap rokok)
  • Bau yang tajam
  • Cahaya yang terlalu terang
  • Udara pengap
  • Layar yang berkedip, seperti TV atau layar komputer
  • Bunyi-bunyi bising
  • Perubahan iklim, seperti perubahan kelembapan atau suhu sangat dingin

Pemicu emosional diri sendiri

Migrain dapat dipicu hal-hal emosional, seperti kecemasan, stres, ketegangan, terguncang, depresi, dan emosi yang meluap-luap.

Pemicu fisik dan kebiasaan

Kondisi fisik akibat beberapa pola hidup juga dapat menyebabkan migrain, seperti buruknya durasi dan kualitas tidur, ketegangan pada leher dan bahu, jet lag, kelelahan. Waktu kerja yang berubah-ubah, postur tubuh, melakukan latihan berat yang tidak biasa dilakukan dan gula darah rendah juga bisa memicu migrain.

Pengaruh dari obat-obatan

Beberapa obat tertentu juga dapat memicu migrain, seperti beberapa jenis tablet tidur, pil kontrasepsi, terapi penggantian hormon yang kadang-kadang digunakan untuk mencegah menopause.

Pemicu migrain berbeda pada tiap individual sehingga membuat buku harian migrain dapat membantu pengidap mendeteksi faktor risiko apa yang menjadi pemicu migrain.

Migrain dapat didiagnosis dengan mengidentifikasi pola sakit kepala yang sesuai dengan gejala pada migrain. Tidak ada tes khusus untuk mendiagnosis migrain. Diagnosis akurat penyakit ini sendiri membutuhkan waktu dikarenakan migrain dapat terjadi tanpa diiringi gejala-gejala yang mudah dikenali, serta tidak dapat ditebak. Untuk memudahkan diagnosis, Anda dapat mencatat serangan migrain yang Anda alami. Dalam catatan tersebut, Anda dapat menuliskan:

  • Tanggal dan waktu terjadinya migrain.
  • Apa yang sedang dikerjakan ketika serangan migrain terjadi.
  • Berapa lama serangan migrain terjadi.
  • Gejala-gejala apa saja yang dirasakan.
  • Jika ada, obat apa yang dikonsumsi.
  • Makanan apa saja yang dikonsumsi ketika atau sebelum terjadi serangan.
  • Apakah migrain terjadi pada saat atau dekat dengan waktu menstruasi (bagi pengidap wanita).

Saat pertama kali menemui dokter untuk mengidentifikasi kemungkinan migrain, dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mengeliminasi penyakit lain. Identifikasi dilakukan dengan cara memeriksa koordinasi antaranggota tubuh, refleks, kondisi penglihatan, dan indera peraba. Dokter akan mengonfirmasi apakah sakit kepala yang Anda rasakan:

  • Dirasakan pada satu sisi kepala
  • Membuat Anda tidak bisa beraktivitas karena terasa sangat parah.
  • Nyeri kepala berdenyut.
  • Terasa makin buruk ketika bergerak.
  • Diiringi dengan kepekaan terhadap cahaya dan bunyi.
  • Bersamaan dengan rasa mual dan muntah.

Memiliki catatan mengenai penggunaan obat-obatan pereda rasa sakit juga perlu dilakukan. Jenis dan frekuensi obat-obatan pereda rasa sakit yang terlalu banyak dan sering dikonsumsi berpengaruh terhadap kesembuhan migrain. Kondisi ini dapat mempersulit terapi migrain akibat penggunaan analgesik sakit kepala secara berlebihan. Obat pereda rasa sakit sebaiknya diminum tidak lebih dari 10 hari selama satu bulan untuk jangka waktu yang panjang.

Dokter mungkin akan merujuk Anda ke dokter spesialis saraf dan otak jika:

  • Diagnosis masih belum bisa dipastikan.
  • Anda mengidap migrain kronis (terjadi sebanyak 15 hari atau lebih per bulan).
  • Jika obat-obatan yang dikonsumsi tetap tidak bisa meredakan gejala.

Pilihan Menanggulangi Serangan Migrain

Migrain sebenarnya tidak dapat disembuhkan, namun meski penyakit ini tidak dapat disembuhkan, frekuensi dan rasa sakit yang dirasakan dapat diringankan. Terdapat cara-cara yang berbeda bagi tiap orang dalam menangani migrain. Beberapa merasa lebih baik dengan mengonsumsi obat tertentu, sementara yang lain memilih berbaring di dalam kamar gelap.

Anda barangkali perlu mencoba beberapa cara berbeda sebelum menemukan langkah paling tepat dalam menangani penyakit ini. Strategi penanganan tergantung pada frekuensi, tingkat keparahan migrain, dan kondisi kesehatan Anda secara umum, termasuk situasi khusus seperti pada wanita hamil dan menyusui.

Banyak orang merasa nyaman mengonsumsi kombinasi obat-obatan pereda rasa sakit dan antimual yang dijual bebas di pasaran, namun sebaiknya Anda mengonsultasikannya kepada dokter. Disarankan untuk mengonsumsi obat-obatan antimual dan pereda sakit secara terpisah agar Anda dapat membatasi dosis dari masing-masing obat.

Obat pereda rasa sakit

Rasa sakit pada migrain stadium menengah dapat diringankan dengan obat yang dijual bebas, seperti aspirin, paracetamol, atau obat-obatan antiinflamasi (NSAIDs), seperti ibuprofen. Acetaminofen juga dapat meringankan gejala pada beberapa orang. Selain itu, ada juga obat yang merupakan kombinasi dari acetaminophen, aspirin, dan kafein yang efektif dalam mengobati migrain.

Obat-obatan tersebut sebaiknya dikonsumsi saat gejala migrain pertama kali terasa agar memberi waktu yang cukup untuk obat terserap ke dalam pembuluh darah sehingga meredakan sakit. Jenis yang paling mudah diserap tubuh adalah yang berjenis tablet yang dilarutkan dalam air. Tablet larut tersebut juga tepat dikonsumsi pengidap yang merasa mual dan tidak bisa menelan pil. Pada kasus ini, penderita juga dapat menggunakan kapsul suppositoria yang dimasukkan ke anus.

Sebelum mengonsumsi obat-obatan tersebut, sebaiknya perhatikan beberapa hal berikut ini:

  • Aspirin dan ibuprofen tidak direkomendasikan untuk orang dewasa yang pernah memiliki gangguan perut, seperti sakit maag, gangguan ginjal, atau penyakit organ hati. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang, obat ini justru dapat memperburuk kondisi maag dan mengakibatkan pendarahan pada saluran pencernaan.
  • Aspirin dan ibuprofen juga tidak direkomendasikan bagi penderita yang berusia di bawah 16 tahun.
  • Pastikan Anda membaca petunjuk penggunaan tiap kali sebelum mengonsumsi obat-obatan yang dijual bebas.
  • Waspadai efek samping sakit kepala akibat mengonsumsi obat pereda sakit. Terlalu sering mengonsumsi obat-obatan ini justru dapat membuat kondisi migrain memburuk.
  • Jika obat-obatan yang dijual bebas dirasa tetap tidak efektif, atau jika Anda terus-menerus membutuhkan obat pereda rasa sakit, disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter.

Dokter akan menyarankan penghentian konsumsi obat jika dia memperkirakan bahwa penggunaannya justru membuat sakit kepala Anda memburuk. Jika tidak, dokter mungkin akan memberikan resep pereda rasa sakit dalam dosis lebih tinggi atau yang dikombinasikan dengan triptan dan obat antimual. Obat pereda rasa sakit dan obat antimual dapat dikonsumsi sekaligus atau secara terpisah, tergantung kepada kondisi dan kenyamanan pasien. Selengkapnya akan dijelaskan di bawah ini.

Triptan

Triptan adalah kelompok obat-obatan yang dapat meredam perubahan zat kimia dalam otak yang menjadi penyebab migrain. Triptan berfungsi memicu penyempitan pembuluh darah dan menghalangi penyaluran rasa sakit pada saraf otak. Fungsi triptan berbeda dengan pereda rasa sakit. Obat ini biasa direkomendasikan jika obat-obatan pereda rasa sakit tidak efektif.

Triptan tidak direkomendasikan untuk orang-orang yang berisiko mengidap stroke dan serangan jantung. Obat jenis ini juga dapat mengakibatkan beberapa efek samping sebagai berikut:

  • Rasa panas, ketegangan, kesemutan, wajah memerah, anggota tubuh terutama wajah dan dada terasa berat.
  • Mual, mulut kering dan rasa kantuk.
  • Pusing, lemah otot.

Obat-obatan anti-mual

Obat anti-mual diberikan karena migrain sering diiringi mual dan terkadang muntah. Obat ini umumnya diresepkan bersamaan dengan triptan atau pereda rasa sakit. Tapi meski Anda tidak merasa mual, pada beberapa orang, obat ini dideteksi dapat mengobati migrain.

Efek samping yang bisa ditimbulkan dari obat-obatan ini adalah diare dan rasa mengantuk.

Transcranial magnetic stimulation (TMS)

Konsultasikan kepada dokter jika pengobatan mandiri dirasa tidak efektif. Pengobatan dan pencegahan migrain di beberapa rumah sakit dapat dilakukan dengan transcranial magnetic stimulation (TMS).

TMS adalah sebuah perangkat listrik kecil yang diletakkan pada kepala untuk mengantarkan aliran magnetik melalui kulit. Penelitian menyatakan bahwa TMS berfungsi dengan baik dalam menangani migrain terutama ketika digunakan di awal serangan. Namun belum jelas bagaimana cara kerja TMS dalam meredakan gejala penyakit tersebut. Selain itu, bukti efektivitasnya tidak terlalu kuat.

Efek samping penggunaan alat ini dalam jangka panjang terbilang kecil, di antaranya: rasa kantuk dan kelelahan, kepala sedikit pening, otot bergetar sehingga sulit untuk berdiri, dan mudah marah.

Pengobatan Migrain untuk Wanita Hamil dan Menyusui

Mengidentifikasi dan menghindari faktor pemicu migrain adalah langkah yang paling disarankan bagi para ibu hamil dan menyusui. Kelompok wanita ini disarankan untuk membatasi konsumsi obat-obatan bebas.

Konsultasikan kepada dokter jika Anda membutuhkan obat-obatan pereda rasa sakit. Biasanya dokter akan memberikannya dalam dosis rendah. Obat antiinflamasi atau triptan adalah yang paling umum diresepkan.

Risiko Mengidap Stroke Iskemik bagi Penderita Migrain

Penderita migrain berisiko mengidap stroke iskemik, meski kaitannya masih dianggap tidak jelas. Namun penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan orang yang tidak mengidap migrain, para penderita penyakit ini, terutama migrain dengan aura, dua kali lebih berisiko mengidap stroke iskemik. Stroke istemik disebabkan oleh terhalangnya aliran darah ke otak akibat penggumpalan darah atau lemak di pembuluh darah.

Wanita pengidap migrain dengan aura sebaiknya berkonsultasi kepada dokter sebelum mengonsumsi pil KB. Risiko stroke istemik meningkat pada wanita pengguna kombinasi pil KB yang juga pengidap migrain dengan aura. Pada umumnya, dokter menyarankan kelompok wanita ini tidak mengonsumsi pil tersebut dan sebaliknya menggunakan kontrasepsi alternatif.

Sebaliknya, wanita pengidap migrain tanpa aura yang mengonsumsi pil KB tidak mengalami kenaikan risiko apa pun. Risiko baru muncul jika penderita wanita tersebut mengidap tekanan darah tinggi atau memiliki keluarga dengan riwayat penyakit jantung juga. Hubungi dokter jika Anda mengalami gejala migrain dengan aura selama mengonsumsi pil KB.

Masalah Terkait Kesehatan Mental Pasien

Selain stroke, migrain juga dikaitkan dengan adanya sedikit peningkatan risiko kesehatan mental seperti: depresi, gangguan rasa cemas, gangguan bipolar, serta serangan panik.

Migrain tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, tetapi Anda dapat mengurangi frekuensi terkena serangan migrain semaksimal mungkin. Caranya adalah dengan mengenali kondisi-kondisi yang dapat memicu terjadinya migrain. Selain itu, terdapat langkah-langkah pengobatan sebagai tindakan lebih lanjut dalam mengantisipasi kegagalan pada cara pertama.

Mencatat Pemicu Migrain

Jika Anda merasakan migrain saat mengalami stres atau setelah mengonsumsi makanan tertentu, berarti stres atau makanan tersebut adalah pemicu migrain Anda. Mengenali dan menghindari hal-hal yang dapat memicu penyakit ini adalah cara terbaik dalam menangani migrain.

Identifikasi akan lebih mudah dilakukan jika Anda mencatat tiap detail serangan migrain yang Anda alami, seperti jam dan tanggalnya, jika terdapat gejala aura sebelum sakit kepala, gejala apa saja yang terjadi seiring dengan sakit kepala, dan berapa lama migrain terjadi. Anda dapat menggunakan fasilitas buku rekam medis daring migrain.

Mengonsumsi Suplemen dan Obat-obatan

Jika dengan menghindari faktor-faktor pemicu migrain tetap kurang berhasil, ada obat-obatan yang dapat dikonsumsi untuk membantu mencegah terjadinya serangan migrain, antara lain topiramate, propranolol, gabapentin, riboflavin toksin botulinum tipe A (botox), atau transcranial magnetic stimulation (TMS). Disarankan, sebelum mengonsumsi obat-obatan ini untuk langkah pencegahan, konsultasikan kepada dokter terlebih dahulu.

Olahraga secara Teratur

Olahraga teratur dapat mencegah migrain. Obesitas yang juga diduga menjadi pemicu migrain, dapat dihindari dengan lebih banyak beraktivitas dan berolahraga.

Menjaga Pola Makan dan Gaya Hidup Sehat

Melakukan kegiatan fisik atau olahraga secara rutin, menjaga waktu makan dan tidur, serta menjalani pola makan yang seimbang dapat turut mencegah terjadinya serangan migrain. Batasi konsumsi minuman beralkohol dan kafein serta perbanyak asupan cairan agar terhindar dari kondisi dehidrasi sebagai pemicu migrain.

Akupuntur

Sesi akupuntur yang rutin sebanyak 10 kali untuk 1-2 bulan dapat mendatangkan manfaat dalam mengurangi gejala migrain.

Mencegah Migrain yang Terjadi Saat Menstruasi

Biasanya jenis migrain ini terjadi antara dua hari sebelum masa menstruasi hingga tiga hari setelah masa menstruasi. Sifatnya yang dapat diprediksi memungkinkan migrain jenis ini untuk bisa dicegah melalui perawatan hormon maupun tanpa hormon.

Pengobatan non-hormon

Obat-obatan ini dikonsumsi 2-4 kali sehari dalam bentuk tablet, sejak 1-2 hari sebelum hari pertama menstruasi hingga hari terakhir menstruasi. Setidaknya terdapat dua obat nonhormon yang direkomendasikan.

Yang pertama adalah triptan, yaitu obat yang meredam pelebaran pembuluh darah yang dianggap berkontribusi menyebabkan migrain. Dan obat-obatan antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs) sebagai obat pereda rasa sakit yang lazim digunakan.

Pengobatan menggunakan hormon

Pengobatan yang melibatkan hormon ini diberikan dengan cara berikut:

  • Gel estrogen yang digunakan tiga hari sebelum atau pada awal masa-masa menstruasi. Kemudian dilanjutkan selama tujuh hari berikutnya.
  • Kontrasepsi progesteron, yaitu pemberian progesteron dalam bentuk pil atau suntikan. Alat ini juga dapat ditanamkan dalam bentuk implan di dalam tubuh
  • Kontrasepsi kombinasi hormon.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT