Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Mielitis Transversa

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 20 kali

Mielitis transversa adalah peradangan pada satu segmen atau satu tingkatan saraf tulang belakang, di mana kerusakan mengenai kedua sisinya dan umumnya terjadi pada selubung mielin. Selubung ini berfungsi untuk membungkus serabut saraf dan membantu mempercepat hantaran sinyal saraf. Adanya kelainan ini jelas akan menyebabkan gangguan pada hantaran saraf ke seluruh tubuh.

Gejala Mielitis Transversa

Gejala pada mielitis transversa tidak timbul secara mendadak. Gejala biasanya baru muncul beberapa jam hingga beberapa hari sejak terjadinya peradangan. Bahkan kadang gejala baru muncul setelah beberapa minggu.

Kelainan terjadi pada bagian tubuh yang letaknya di bawah segmen saraf tulang belakang yang meradang. Umumnya timbul pada kedua sisi tubuh, namun kadang kelainan bisa hanya tampak pada salah satu sisi tubuh. Gejala mielitis transversa antara lain adalah:

  • Gangguan pada usus dan kandung kemih, seperti konstipasi atau sulit berkemih. Dan mungkin juga sebaliknya, menjadi sering berkemih atau tidak mampu menahan kemih (inkontinensia urin).
  • Nyeri mendadak pada punggung bawah. Nyeri tersebut bisa menjalar ke dada, perut, lengan atau tungkai, tergantung bagian saraf tulang belakang yang terkena.
  • Adanya sensasi sensorik yang tidak normal, misalnya merasa terbakar, dingin, kesemutan, mati rasa, dan sangat sensitif terhadap sentuhan ringan dari pakaian.
  • Ada juga gangguan motorik, misalnya lemas pada lengan atau tungkai, dan kelumpuhan.
  • Demam, serta penurunan nafsu makan.

Penyebab Mielitis Transversa

Penyebab pasti mielitis transversa masih belum diketahui, namun beberapa kondisi diduga dapat memicu terjadinya peradangan pada selubung myelin. Di antaranya adalah:

  • Infeksi virus, pada saluran pernafasan atau saluran pencernaan.
  • Efek samping vaksinasi, seperti MMR (untuk campak, gondongan, dan campak Jerman), DT (untuk difteri dan tetanus), dan hepatitis B.
  • Multipel sclerosis. Kondisi autoimun dimana sistem kekebalan tubuh menyerang selubung mielin.
  • Neuromyelitis optica (penyakit Devic). Pada kondisi ini terjadi peradangan dan hilangnya lapisan mielin di sekitar saraf tulang belakang dan saraf sensorik mata.
  • Gangguan autoimun, seperti lupus dan sindrom Sjogren.

Diagnosis Mielitis Transversa

Diagnosa awal dibuat berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan fungsi saraf. Kemudian dilakukan pemeriksaan penunjang untuk dapat mendukung diagnosa, di antaranya:

  • Pemindaian, dengan MRI untuk menemukan adanya peradangan pada saraf tulang belakang.
  • Pungsi lumbal (lumbar puncture), yaitu pengambilan sampel cairan serebrospinalis (CSF) melalui tulang belakang untuk pemeriksaan laboratorium.
  • Pemeriksaan antibodi, misalnya pada penyakit Devic atau kelainan autoimun lain.

Pengobatan Mielitis Transversa

Pengobatan ditujukan untuk meringankan gejala-gejala yang dirasakan oleh penderita. Obat-obatan yang dapat diberikan antara lain:

  • Antivirus. Apabila ada infeksi virus pada saraf tulang belakang.
  • Pereda nyeri.
  • Steroid. Membantu mengurangi peradangan yang terjadi pada tulang belakang.
  • Terapi penggantian plasma. Bisa diberikan pada kelainan autoimun, dimana sel-sel imun tubuh menyerang dan merusak jaringan tubuh sendiri.
  • Obat-obatan lainnya. Untuk mengatasi komplikasi lain, seperti konstipasi, tidak bisa berkemih, kram orot, depresi, dan lainnya.

Untuk penanganan komplikasi jangka panjang, dapat diberikan terapi rehabilitasi medik, seperti:

  • Terapi okupasi. Mengajarkan kemampuan dasar agar penderita bisa beraktivitas sehari-hari secara normal.
  • Psikoterapi. Mengatasi kecemasan, depresi, disfungsi seksual, atau gangguan psikologis lainnya.
  • Terapi fisik. Membantu memperbaiki kekuatan dan kerja otot serta koordinasi tubuh.

Komplikasi Mielitis Transversa

Jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat, mielitis transversa dapat menyebabkan beberapa komplikasi sebagai berikut:

  • Kelumpuhan
  • Disfungsi seksual.
  • Otot menjadi kaku, kencang, atau nyeri.
  • Kecemasan atau depresi.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT