Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Meningitis

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 20 kali

Meningitis adalah infeksi pada meninges (selaput pelindung) yang menyelimuti otak dan saraf tulang belakang. Ketika meradang, meninges membengkak karena infeksi yang terjadi. Sistem saraf dan otak bisa rusak pada beberapa kasus. Tiga gejala meningitis yang patut diwaspadai adalah demam, sakit kepala, dan leher yang terasa kaku.

Meningitis di Indonesia

Data meningitis di seluruh Indonesia belum ada yang tepat karena kasus meningitis sering kali disangka sebagai penyakit atau infeksi lain. Dilihat dari tingkat fatal penyakit meningitis, penyakit ini patut diwaspadai dan tidak boleh dianggap enteng.

Data penderita meningitis di Indonesia yang terbaru berasal dari kedokteran anak. Menurut data di rumah sakit rujukan nasional (RSCM), dalam satu tahun (Oktober 2003 hingga Oktober 2004) jumlah bayi penderita meningitis bakterialis berjumlah 18 jiwa dari total 3289 kelahiran dengan memenuhi kriteria positif pada pemeriksaan kultur cairan sumsum tulang belakang dan gambaran pleiositosis (peningkatan jumlah sel darah putih pada cairan sumsum tulang belakang).

Sejak tahun 2002, merupakan suatu kewajiban bagi mereka yang ingin menunaikan ibadah haji untuk terlebih dahulu menerima vaksinasi meningitis. Langkah ini diwajibkan oleh pemerintah Arab Saudi untuk meminimalisasi terjangkitnya penyakit meningitis di antara para calon haji. Vaksinasi biasanya dilakukan satu bulan sebelum jadwal penerbangan.

Gejala Meningitis yang Terjadi pada Anak-anak

Penyakit ini sering diderita oleh bayi dan anak-anak, tapi semua orang di segala usia bisa mengidap meningitis juga. Tanda-tanda yang terjadi pada anak-anak adalah:

  • Mereka mungkin merasa gelisah, tapi tidak ingin disentuh
  • Demam tinggi dengan tangan dan kaki terasa dingin
  • Menangis seperti melengking (high pitched cry) secara terus menerus
  • Terlihat bingung, lemas, dan kurang responsif
  • Beberapa anak akan mudah mengantuk dan sulit dibangunkan
  • Mungkin ada ruam merah yang tidak hilang ketika gelas digulirkan dengan sedikit ditekan di atasnya
  • Menolak menyusu atau makan disertai muntah
  • Kejang-kejang

Adapun gejala meningitis yang terjadi pada anak-anak yang lebih besar, remaja, dan orang dewasa, meliputi:

  • Muntah-muntah
  • Sakit kepala parah
  • Leher kaku
  • Demam dengan tinggi suhu 38°C atau lebih dengan kaki dan tangan terasa dingin
  • Napas cepat
  • Sensitif terhadap cahaya atau fotofobia
  • Ruam kulit berupa bintik-bintik merah yang tersebar (tidak terjadi pada semua orang)
  • Kejang-kejang

Terdapat kemungkinan bahwa tidak semua orang akan mengalami semua gejala-gejala di atas. Cari bantuan medis secepatnya jika Anda melihat beberapa gejala meningitis terjadi pada anak-anak.

Secara umum, terdapat lima jenis meningitis:

Meningitis bakterialis

Meningitis jenis ini disebabkan bakteri dan menyebar melalui kontak jarak dekat. Jika tidak ditangani, bisa menyebabkan kerusakan otak parah, kehilangan indera pendengaran dan menimbulkan infeksi pada darah (septikemia). Penderita meningitis bakterialis kebanyakan bayi berusia di bawah satu tahun.

Meningitis virus

Sedangkan penyebab meningitis virus adalah virus yang bisa menyebar melalui batuk, bersin dan lingkungan yang tidak higienis. Meningitis virus memiliki kesamaan gejala dengan flu. Anak berusia di bawah lima tahun dan seseorang dengan sistem kekebalan tubuh lemah memiliki risiko lebih besar untuk tertular meningitis virus.

Meningitis jamur

Meningitis jamur biasanya merupakan hasil dari menyebarnya jamur di sumsum tulang belakang melalui aliran darah. Resiko seseorang terkena meningitis jamur akan meningkat ketika sistem kekebalan tubuhnya terganggu, seperti pada penderita HIV dan kanker. Beberapa gejala meningitis jamur adalah penderita akan sensitif terhadap cahaya dan merasa kebingungan.

Meningitis parasit

Meningitis jenis ini disebabkan oleh parasit yang biasanya masuk ke dalam tubuh melalui hidung. Amuba yang menyebabkan meningitis parasit umumnya adalah Naegleria fowleri. Amuba ini biasanya ditemukan pada danau, sungai air tawar yang bersuhu hangat, sumber air panas bumi, kolam renang yang tidak dirawat, pemanas air dan tanah.

Meningitis Non-infeksi

Ada lebih dari satu faktor penyebab meningitis non-infeksi. Meningitis jenis ini tidak menular dan memiliki gejala umum yang sama seperti meningitis jenis lainnya.

Penanganan Darurat dan Diagnosis Meningitis

Penderita yang dicurigai mengidap meningitis harus ditangani secepatnya, bahkan sebelum diagnosis dilakukan. Sangat berbahaya untuk menunda penanganan bagi penderita meningitis. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda-tanda meningitis atau septikemia (infeksi darah) bahkan tanda luka yang terinfeksi di sekitar kepala, telinga, tenggorokan, dan kulit di sepanjang tulang belakang.

Diagnosis meningitis sulit dilakukan karena gejalanya muncul secara tiba-tiba dan mirip dengan gejala flu. Disarankan untuk segera mencari bantuan medis jika melihat gejala meningitis, terutama jika terjadi pada anak-anak. Anda mungkin harus pergi ke IGD (Instalasi Gawat Darurat) rumah sakit terdekat kapan pun gejala tersebut muncul. Jangan menunggu munculnya ruam berwarna ungu karena tidak semua pengidap meningitis mengalami ruam pada tubuhnya.

Langkah-langkah Pengobatan Meningitis

Kondisi pasien meningitis virus biasanya akan membaik dalam beberapa minggu. Penanganan meningitis virus bisa dilakukan dengan banyak istirahat dan minum obat pereda rasa sakit untuk sakit kepala. Sedangkan pengobatan meningitis pada pasien meningitis bakterialis, bisa dirawat dengan antibiotik atau obat-obatan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan bakteri. Perawatan perlu dilakukan di rumah sakit. Untuk kasus yang lebih parah, disarankan dirawat di Unit Perawatan Intensif (ICU) agar fungsi vital tubuh bisa dipantau dengan saksama.

Vaksinasi Penyakit Meningitis

Di Indonesia, terdapat dua jenis vaksin meningitis, yaitu vaksin meningokokus polysakarida dan vaksin meningokokus konjugat. Vaksin meningokokus polysakarida bisa diberikan untuk usia berapa pun dan mampu memberi perlindungan sebesar 90-95 persen. Untuk anak di bawah usia 5 tahun, vaksin ini bisa bertahan 1-3 tahun. Sedangkan untuk dewasa akan melindungi selama 3-5 tahun. Untuk vaksin mengingokokus konjugat hanya untuk usia 11-55 tahun, biasanya diberikan pada jamaah haji dan tidak dianjurkan dijadikan sebagai imunisasi rutin.

Cara terbaik untuk mencegah meningitis adalah dengan menerima vaksinasi yang tersedia. Tetapi karena penyakit ini bisa dibilang jarang, vaksinasi meningitis belum termasuk dalam jadwal vaksin wajib di Indonesia.

Kasus meningitis harus ditangani secepatnya karena dianggap sebagai kondisi medis darurat. Meningitis bisa menyebabkan septikemia dan ini bisa berujung pada kematian.

Gejala Meningitis Bakterialis Pada Remaja dan Orang Dewasa

Jika Anda dicurigai mengidap meningitis bakterialis, Anda harus segera menghubungi rumah sakit terdekat atau segera menuju ke rumah sakit secepatnya. Ada tanda-tanda awal yang mungkin Anda lihat sebelum gejala-gejala yang lain muncul. Meningitis bakterialis memiliki gejala yang muncul secara tiba-tiba dan bisa memburuk dengan cepat.

Jika terjadi demam tinggi disertai dengan pertanda awal di bawah ini, harap segera menghubungi dokter atau langsung menuju rumah sakit terdekat. Sekali lagi, ini merupakan kondisi medis darurat. Tanda-tanda awalnya adalah:

  • Nyeri pada otot dan persendian, misalnya pada tangan dan kaki
  • Tangan dan kaki akan kedinginan atau bahkan menggigil
  • Kulit pucat atau muncul bintik-bintik merah yang tersebar
  • Bibir terlihat biru

Gejala awal dari meningitis bakterialis sangat umum dan mirip dengan penyakit lain, di antaranya sakit kepala parah, badan merasa tidak enak, mual, muntah-muntah.

Demam berarti suhu tubuh mencapai 38° Celcius atau lebih, hal ini bisa terjadi pada orang dewasa dan anak-anak. Tanda demam lainnya adalah wajah akan terasa panas saat disentuh dan kulit akan terlihat memerah.

Saat meningitis bakterialis bertambah parah, kondisi ini bisa menyebabkan beberapa hal seperti berikut ini:

  • Bernapas cepat
  • Bingung
  • Mengantuk
  • Leher kaku, meski hal ini jarang terjadi pada anak kecil
  • Ruam merah terang yang tidak memudar atau berubah warna saat gelas ditekan di atas ruam itu. Tapi gejala ini tidak selalu ada pada setiap orang
  • Sensitif terhadap cahaya (fotofobia)
  • Kejang-kejang

Perlu diingat bahwa tanda dan gejala di penderita meningitis bisa berbeda-beda. Sebagian besar hanya mengalami sebagian gejala-gejala di atas.

Gejala Meningitis Bakterialis Pada Anak Kecil dan Bayi

Anak kecil dan bayi memiliki gejala-gejala meningitis bakterialis berbeda. Ada kemungkinan terjadi pembengkakan pada bagian ubun-ubun pada sebagian bayi yang mengidap meningitis. Gejala-gejala yang mungkin terjadi di antaranya:

  • Terus menerus menangis tanpa alasan
  • Rewel dan tidak mau digendong
  • Kehilangan selera makan
  • Muntah-muntah
  • Pucat dan muncul bintik-bintik merah
  • Sangat mengantuk dan tidak ingin bangun
  • Lunglai dan tidak responsif. Pergerakan yang kaku dan patah-patah
  • Tatapan kosong
  • Muncul benjolan pada fontanel (bagian lunak pada bagian atas dan belakang dari kepala bayi)
  • Refleks tidak normal

Gejala Meningitis Virus

Gejala-gejala flu ringan akan muncul pada kebanyakan orang yang mengidap meningitis virus seperti demam, sakit kepala serta badan merasa tidak sehat. Sedangkan gejala lain meningitis virus pada bayi selain gejala di atas adalah hilangnya nafsu makan, mengantuk dan kesulitan untuk bangun tidur, lesu, serta rewel.

Meningitis virus biasanya tidak berlanjut menjadi septikemia atau infeksi darah, berbeda halnya dengan meningitis bakterialis yang berpotensi terjadi komplikasi. Tapi pada kasus yang lebih parah, gejala-gejala meningitis virus dapat berupa:

  • Diare
  • Mual dan muntah-muntah
  • Leher kaku
  • Nyeri otot atau persendian
  • Mata menjadi sensitif terhadap cahaya (fotofobia)

Gejala Meningitis Jamur

Para penderita meningitis jamur bisa mengidap beberapa gejala umum sebagai berikut:

  • Demam.
  • Sakit kepala.
  • Mual dan muntah.
  • Leher kaku.
  • Sensitif terhadap cahaya.
  • Kebingungan.

Gejala Meningitis Parasit

Pada fase awal, penderita meningitis parasit akan menunjukkan gejala yang sama seperti meningitis jenis lainnya. Beberapa gejala meningitis parasit ketika sudah memasuki fase lanjut adalah:

  • Berkurangnya perhatian terhadap lingkungan sekitar.
  • Gangguan keseimbangan.
  • Kejang-kejang.
  • Halusinasi.

Setelah gejala-gejala terlihat, meningitis parasit akan berkembang dengan cepat dan biasanya menyebabkan kematian dalam waktu lima hari.

Gejala Meningitis Non-Infeksi

Gejala-gejala meningitis non-infeksi sering dirasakan secara mendadak oleh penderita. Beberapa gejala yang biasa muncul mendadak tersebut adalah:

  • Demam.
  • Sakit kepala.
  • Leher kaku.
  • Mual dan muntah.
  • Sensitif terhadap cahaya.
  • Kebingungan.

Seseorang terkena meningitis ketika terjadi peradangan pada meninges yang berfungsi sebagai pelindung otak dan saraf tulang belakang. Meningitis disebabkan oleh lima faktor utama, yaitu bakteri, virus, jamur, amuba dan beberapa penyakit serta kondisi.

Meningitis Akibat Bakteri

Jika dibagi berdasarkan usia penderita, maka bakteri penyebab meningitis bakterialis adalah:

  • Bayi: Streptococcus grup B, Escherichia coli, Listeria monocytogenes.
  • Balita dan anak-anak: Streptococcus pneumoniae, Neisseria meningitidis, Haemophilus influenzae tipe B.
  • Remaja dan dewasa: Neisseria meningitidis, Streptococcus pneumoniae.
  • Paruh baya dan lansia: Streptococcus pneumoniae, Neisseria meningitidis, Listeria monocytogenes.

Neisseria meningitidis adalah penyebab paling umum meningitis bakterialis. Bakteri ini bisa hidup di dalam hidung dan tenggorokan tanpa menyebabkan infeksi. Tapi, ada waktu di mana bakteri ini bisa melawan dan mengalahkan sistem kekebalan tubuh manusia sehingga mengakibatkan meningitis.

Pada umumnya, orang dewasa memiliki kekebalan terhadap Neisseria meningitidis. Bakteri ini tidak bisa hidup lama di luar tubuh manusia. Bakteri ini biasanya menyebar melalui kontak langsung atau dari jarak dekat, misalnya melalui batuk, bersin, atau berciuman.

Streptococcus pneumoniae juga bisa hidup di hidung dan tenggorokan manusia tanpa menimbulkan infeksi. Tapi ketika sistem kekebalan tubuh manusia turun, bakteri ini bisa menyerang dan menyebabkan meningitis. Bakteri ini lebih sering menyebabkan meningitis pada bayi, yaitu pada saat sistem kekebalan tubuh mereka belum sepenuhnya berkembang.

Penyebab lainnya adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini biasanya pertama kali menginfeksi organ pernapasan paru-paru yang kemudian masuk ke aliran darah dan menginfeksi selaput pelindung otak.

Meningitis Akibat Virus

Virus dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui aliran darah dan bergerak menuju meninges atau selaput pelindung otak dan saraf tulang belakang. Ketika telah sampai di meninges, virus pun dapat menyebabkan radang atau meningitis.

Berikut ini adalah beberapa contoh virus yang dikenal bisa menyebabkan meningitis:

  • Enteroviruses: biasanya menyebabkan infeksi perut
  • Virus herpes simplex: menyebabkan herpes genital
  • Virus cacar air
  • Virus campak
  • Virus influenza
  • Virus penyakit gondong (Mumps)

Meningitis akibat Jamur

Meningitis jamur termasuk penyakit yang langka. Penyebab umum meningitis jamur adalah Cryptococcus. Jamur tersebut akan menyebar dalam aliran darah dan masuk ke sumsum tulang belakang.

Meningitis akibat Parasit

Meningitis parasit atau primary amebic meningoencephalitis yang biasanya disebabkan amuba dan mematikan. Naegleria fowleri merupakan jenis amuba yang umumnya menjadi penyebab meningitis parasit

Meningitis Non-Infeksi

Meningitis jenis ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

  • Kanker.
  • Penyakit Lupus.
  • Beberapa obat.
  • Cedera kepala.
  • Pembedahan otak.

Beberapa faktor bisa meningkatkan risiko seseorang terkena meningitis yaitu:

  • Faktor keturunan.
  • Tidak menerima vaksin meningitis atau imunisasi dasar saat masa kanak-kanak.
  • Usia. Kebanyakan penderita meningitis virus adalah anak berusia di bawah lima tahun. Sedangkan meningitis bakterialis umumnya menyerang seseorang berusia di bawah 20 tahun.
  • Hidup dalam sebuah komunitas buatan, seperti asrama siswa atau mahasiswa dan pangkalan militer, bisa meningkatkan risiko terinfeksi meningokokus.
  • Kehamilan, bisa meningkatkan risiko terinfeksi bakteri listeria yang bisa menyebabkan meningitis.
  • Menderita gangguan sistem kekebalan tubuh.
  • Pria, lebih sering terjangkit meningitis dibandingkan wanita.
  • Rentan terekspos serangga atau hewan pengerat.
  • Bepergian atau tinggal di kawasan rawan meningitis, seperti kawasan sub-sahara Afrika, Asia tenggara, dan Amerika Latin.

Karena kemunculannya secara tiba-tiba dan gejalanya yang mirip seperti flu, meningitis sulit untuk didiagnosis. Diagnosis meningitis dilakukan berdasarkan sejarah kesehatan keluarga, tes fisik, dan beberapa tes diagnosis lainnya.

Tes Menguji Meningitis Akibat Bakterialis atau Virus

Meningitis adalah penyakit yang sangat serius, jadi untuk anak kecil bisa pulih sepenuhnya, penyakit ini perlu ditangani secepatnya. Untuk menentukan apakah meningitis disebabkan oleh bakteri atau virus, tes klinis perlu dilakukan. Diagnosis tidak mungkin dilakukan hanya berdasarkan gejala-gejala yang ada. Meningitis berpotensi mematikan karena bisa berubah menjadi septikemia (infeksi darah) karena itu meningitis harus diperlakukan sebagai kondisi medis darurat.

Pertolongan Medis

Segera hubungi dokter atau langsung menuju ke rumah sakit terdekat jika Anda mencurigai meningitis dari gejala-gejala yang ada, terutama yang muncul pada anak-anak.

Kapan pun gejala itu muncul, Anda harus segera menuju IGD (Instalasi Gawat Darurat) di rumah sakit terdekat. Meningitis adalah kondisi yang serius dan gawat, jadi pastikan penanganan terjadi secepatnya. Jangan menunggu ruam berwarna ungu untuk muncul. Tidak semua penderita meningitis akan memiliki gejala ini. Jika Anda tidak yakin, lebih baik untuk segera hubungi dokter atau datang langsung ke klinik atau rumah sakit terdekat.

Cara-cara Untuk Memastikan Diagnosis

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda-tanda meningitis dan septikemia atau infeksi darah, misalnya ruam. Diagnosis juga akan dipastikan melalui tes, antara lain:

  • Tes laboratorium. Dilakukan untuk mencari bakteri, parasit, atau virus yang menyebabkan meningitis pada sampel darah, cairan dubur, tinja, atau serum dari tubuh penderita. Tes khusus untuk mendeteksi jenis jamur tertendu dapat dilakukan juga.
  • Lumbar puncture atau pungsi lumbal. Sampel dari cairan serebrospinal diambil dari dasar tulang belakang dan diperiksa apakah terdapat bakteri, jamur, parasit, atau virus.
  • Pindai X-ray dada. Untuk mencari tanda-tanda infeksi.
  • CT scan
  • Tes urine, untuk memeriksa infeksi pada saluran urine.
  • Biopsi. Pengambilan sampel jaringan dari ruam pada kulit.

Orang yang dicurigai mengidap meningitis atau septikemia harus dibawa ke rumah sakit secepatnya. Ini adalah kondisi serius dan darurat. Penanganannya tergantung kepada tipe meningitis yang dimiliki.

Meningitis Akibat Bakteri

Perawatan di rumah sakit secepatnya diperlukan bagi pasien meningitis bakterialis. Bagi pasien dengan meningitis yang sudah parah, penanganan mungkin dilakukan di Ruang Perawatan Intensif atau ICU.

Infeksi bakteri ditangani dengan antibiotik. Obat ini diberikan melalui infus ke dalam pembuluh darah di tangan. Jika antibiotik berhasil mengatasinya, maka hanya perlu menghabiskan waktu sekitar seminggu di rumah sakit. Tapi jika kondisi yang terjadi sudah parah, mungkin harus dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan.

Penanganan mungkin juga akan meliputi pemberian oksigen, cairan infus dan steroid, atau obat lain. Steroid diberikan untuk mengurangi inflamasi atau radang di otak. Dan perlu diingat bahwa penyakit meningokokus (kombinasi meningitis dan septikemia) bisa menyebabkan komplikasi jangka panjang.

Meningitis Akibat Virus

Kasus-kasus meningitis virus bisa terbagi menjadi dua, parah dan ringan. Di bawah ini adalah bentuk-bentuk dari pengobatannya.

Pengobatan meningitis virus ringan

Kebanyakan penderita meningitis virus tidak perlu dirawat di rumah sakit. Penanganan di rumah sendiri untuk mengatasi meningitis virus, antara lain:

  • Obat pereda rasa sakit untuk sakit kepala
  • Obat anti emetik atau anti mual, agar tidak muntah-muntah
  • Banyak istirahat
  • Minum banyak cairan

Dengan penanganan di atas, kebanyakan penderita dapat pulih dalam 1-2 minggu.

Pengobatan meningitis virus parah

Jika gejala meningitis virus cukup parah dan perlu dirawat di rumah sakit, maka akan diperlakukan sama seperti penanganan meningitis bakterialis, yaitu dengan memakai antibiotik. Antibiotik akan ditarik jika diagnosis meningitis virus sudah dipastikan, tapi cairan infus akan terus diberikan untuk membantu proses pemulihan tubuh.

Obat anti virus mungkin akan diberikan. Ini terjadi ketika kasus meningitis virus bertambah parah pada seseorang yang dirawat di rumah sakit.

Cara Mengendalikan Infeksi Yang Terjadi

Risiko penyebaran kasus meningitis cukup rendah karena kebanyakan kasus meningitis terisolasi. Untuk pencegahan agar tidak terinfeksi, satu dosis antibiotik bisa diberikan. Misalnya antibiotik diberikan pada anak yang bermain dengan anak lain yang mengidap meningitis bakterialis.

Meningitis Akibat Jamur

Meningitis jamur biasa diobati dengan pemberian obat-obatan anti jamur dosis tinggi. Biasanya obat-obatan anti jamur tersebut diberikan pada penderita melalui infus. Lamanya pengobatan biasanya tergantung dari kondisi sistem kekebalan tubuh penderita dan tipe jamur yang menyebabkan infeksi.

Meningitis Akibat Parasit

Beberapa jenis obat-obatan terlihat efektif membasmi amuba Naegleria fowleri pada pengujian di laboratorium. Namun keefektifan tersebut masih belum jelas, karena hampir semua infeksi meningitis parasit berakhir fatal, bahkan bagi penderita yang sudah mendapatkan perawatan medis.

Meningitis Non-Infeksi

Untuk menyembuhkan meningitis non-infeksi, dokter biasanya harus menentukan dulu kondisi medis yang menyebabkan muncul meningitis. Kemudian baru diambil langkah-langkah untuk menyembuhkan penyebab meningitis non-infeksi.

Menurut sebuah penelitian, lebih dari 50% remaja yang bertahan dari infeksi meningitis alami komplikasi setelahnya. Risiko komplikasi makin tinggi jika infeksi meningitis makin parah. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada kasus meningitis bakterialis daripada kasus meningitis virus. Berikut ini adalah beberapa komplikasi yang bisa terjadi:

  • Kehilangan pendengaran, bisa parsial atau total. Ini adalah salah satu komplikasi paling umum dari meningitis. Pengidap meningitis biasanya disarankan untuk lakukan tes pendengaran untuk memeriksa apa terjadi masalah.
  • Masalah ingatan atau konsentrasi.
  • Rasa lelah bisa muncul beberapa bulan atau beberapa tahun setelah terjadinya infeksi.
  • Kesulitan belajar, bisa bersifat sementara atau permanen
  • Masalah dengan koordinasi dan keseimbangan
  • Masalah dalam berbicara
  • Penglihatan hilang, bisa sebagian atau total
  • Munculnya gangren. Gangren adalah jaringan rusak yang akan mati. Jaringan ini dirusak oleh racun yang dihasilkan bakteri yang masuk ke dalam darah. Jika kerusakan jaringan sangat parah, maka mungkin diperlukan prosedur amputasi.
  • Epilepsi
  • Lumpuh otak atau cerebral palsy, istilah umum untuk kondisi yang memengaruhi gerakan dan koordinasi tubuh
  • Syok dan bahkan kematian.

Efek Psikologis yang Ditimbulkan

Terutama pada anak-anak, mengidap meningitis bisa menjadi pengalaman yang traumatis. Banyak pola pikir dan juga perilaku yang bisa berubah. Efek psikologis yang mungkin terjadi adalah:

  • Mengompol
  • Tidur terganggu
  • Suasana hati labil
  • Mimpi buruk
  • Haus perhatian dan ingin selalu dekat dengan orang tersayang – misalnya, anak-anak merasa cemas saat tidak bersama orang tuanya.
  • Mengembangkan rasa takut pada rumah sakit dan dokter
  • Merasa tidak punya harapan dan murung
  • Mudah marah atau agresif
  • Marah secara tiba-tiba

Jika mengalami komplikasi psikologis atau mencemaskan soal perilaku anak Anda, konsultasikan dengan dokter. Selama proses pemulihan, efek ini akan berkembang pada Anda atau anak Anda seiring waktu. Bagi beberapa orang, mungkin perlu terapi tambahan untuk mengatasinya.

Layanan kesehatan mental atau perawatan seperti konseling atau terapi wicara, mungkin akan disarankan dokter Anda atau mereka akan memberi rujukan pada psikolog anak-anak.

Komplikasi juga bisa terjadi jika Anda dirawat secara intensif selama beberapa minggu. Setelah meninggalkan perawatan intesif, beberapa masalah yang biasanya terjadi adalah memiliki suara yang pelan, badan lemah, letih dan merasa depresi.

Meningitis adalah hasil dari infeksi yang menjalar. Bakteri atau virus yang menyebabkan meningitis bisa tersebar melalui batuk, bersin, ciuman, atau berbagi peralatan. Beberapa langkah awal untuk mencegah terjangkit meningitis adalah:

  • Mencuci tangan
  • Berlatih hidup higienis
  • Pola hidup sehat
  • Menutup mulut saat bersin atau batuk
  • Jika sedang hamil, berhati-hati dalam memilih makanan

Banyak kasus meningitis virus dan bakteri bisa dicegah dengan berbagai macam vaksin. Bicarakan dengan dokter jika Anda tidak yakin apakah vaksinasi Anda yang terbaru atau tidak. Vaksin yang sudah tersedia antara lain:

  • Vaksin MMR (campak, gondongan dan campak Jerman): Dapat diberikan pada umur 12 bulan, vaksin ulangan umur 5-7 tahun
  • Vaksin pneumokokus (PCV): Usia di bawah 1 tahun diberikan setiap dua bulan sekali, di atas dua tahun cukup diberikan sekali
  • Vaksinasi DTaP/IPV/Hib: Perlindungan pada bakteri Hib, difteri, batuk, tetanus dan virus polio

Vaksin meningitis belum termasuk dalam jadwal imunisasi anak, tetapi vaksin ini bisa didapatkan di Indonesia. Konsultasikanlah dengan dokter Anda jika menginginkan vaksin tersebut.

Penerapan Vaksin Meningitis Untuk Perjalanan

Bakteri Neisseria meningitidis (meningokokus) jarang ditemukan di Indonesia. Sehingga, banyak orang Indonesia yang tidak memiliki kekebalan terhadap bakteri tersebut. Vaksinasi sangat dianjurkan bagi orang Indonesia yang bepergian ke wilayah berisiko tinggi. Daerah yang berisiko tinggi atau daerah asal bakteri ini adalah Arab Saudi dan sebagian Negara-negara di Afrika. Calon peserta Umroh maupun ibadah Haji diwajibkan untuk menerima vaksin meningitis sebelum berangkat untuk mencegah terkena meningitis.

Mengunjungi tempat dengan risiko tinggi terjangkit meningitis

Sangat disarankan untuk melakukan vaksinasi terhadap meningitis grup A, C, Y dan W135, jika bepergian ke daerah berisiko tinggi. Terutama jika Anda membuat rencana seperti di bawah ini:

  • Tinggal dengan warga setempat di area padat untuk mengikuti ibadah Haji atau Umroh di Arab Saudi.
  • Melakukan aktivitas berlebih di area Haji di Arab Saudi, menjadi pekerja musiman atau sebagai TKI.
  • Tinggal lebih lama dari sebulan sebagai wisatawan beransel.

Vaksin meningokokus ACYW135 harus diberikan setidaknya dua hingga empat minggu sebelum Anda bepergian.

Pemberian Vaksinasi

Untuk bayi yang berusia antara dua bulan hingga dua tahun, dosis awal vaksin harus diikuti dengan dosis kedua tiga bulan berikutnya. Vaksin meningitis tidak cocok untuk bayi yang berusia kurang dari dua bulan.

Saat mereka pertama kali melakukan vaksinasi untuk anak berusia di bawah lima tahun, vaksin bisa memberi perlindungan selama dua hingga tiga tahun. Satu dosis vaksin akan memberi perlindungan sekitar lima tahun bagi orang dewasa dan anak-anak berusia di atas lima tahun.

Antibodi orang dewasa dan remaja yang telah diberi vaksin antimeningokokus dapat bertahan selama 10 tahun. Namun, apabila orang tersebut terus-menerus terpapar bakteri, maka dalam lima tahun perlu divaksin ulang.

Efek Samping dari vaksinasi

Satu dari sepuluh orang yang disuntik vaksin ACWY akan mendapatkan rasa sakit dan ruam di sekitar luka suntikan. Biasanya efek samping ini akan bertahan selama satu sampai dua hari. Reaksi yang gawat jarang sekali terjadi, tapi demam ringan bisa muncul. Kondisi ini lebih sering dijumpai pada anak-anak daripada orang dewasa.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT