Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Obat

Antiinflamasi Nonsteroid

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 61 kali

Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) atau nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) adalah kelompok obat yang digunakan untuk meredakan nyeri, serta mengurangi peradangan yang ditandai dengan kulit kemerahan, terasa hangat, dan bengkak. Selain itu, obat ini juga dapat digunakan untuk menurunkan demam. NSAIDs sering dikonsumsi untuk mengatasi sakit kepala, nyeri menstuasi, flu, radang sendi, cedera sendi, atau keseleo.

NSAIDs bekerja dengan cara menghambat enzim siklooksigenase (COX 1 dan 2) untuk menghentikan stimulasi hormon prostalglandin, karena hormon tersebut yang memicu peradangan dan menguatkan impuls listrik yang terkirim dari saraf ke otak sehingga meningkatkan rasa nyeri. Dengan menggunakan obat ini, peradangan, nyeri, atau demam yang sedang terjadi dapat berkurang.

Obat antiinfamasi nonsteroid tersedia dalam bentuk kapsul, tablet, krim, atau suppositoria (obat padat berbentuk peluru yang dipakai dengan cara dimasukkan ke dalam anus), dan suntik.

Peringatan:

Konsultasikan pada dokter sebelum mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid jika:

  • Pemberian obat yang mengandung aspirin tidak dianjurkan untuk anak-anak di bawah 16 tahun.
  • Penderita yang berusia di atas 65 tahun.
  • Obat antiinflamasi nonsteroid meningkatkan risiko perdarahan, karena itu konsultasikan pada dokter sebelum mengonsumsi obat ini atau akan menjalani prosedur tertentu, seperti operasi.
  • Memiliki riwayat alergi terhadap obat antiinflamasi nonsteroid.
  • Menderita penyakit asma, tukak lambung, penyakit asam lambung, usus, jantung, ginjal, hati, sirkulasi tekanan darah, atau usus besar.
  • Kategori kehamilan untuk sebagian obat antiinflamasi nonsteroid adalah kategori C, yaitu obat-obatan yang berdasarkan efek farmakologisnya telah atau diduga mampu memberikan dampak buruk bagi janin, namun tidak sampai menyebabkan suatu kecacatan yang sifatnya permanen. Sedangkan sebagian lagi masuk ke dalam kategori D, yaitu obat-obatan yang telah atau diduga mampu meningkatkan risiko terjadinya kecacatan janin yang sifatnya permanen.
  • Mengonsumsi obat-obatan lain, seperti warfarin, obat antipsikosis, serta obat untuk arthritis atau diabetes.

Informasi Obat



BACA JUGA



BERITA TERKAIT