Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Obat

Ranitidin

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 52 kali

Ranitidin adalah obat yang dapat digunakan untuk menangani gejala atau penyakit yang berkaitan dengan produksi asam berlebih di dalam lambung.

Kelebihan asam lambung dapat membuat dinding sistem pencernaan mengalami iritasi dan peradangan. Peradangan ini kemudian dapat berujung pada beberapa penyakit, seperti tukak lambung, tukak duodenum, sakit maag, nyeri ulu hati, serta gangguan pencernaan.

Ranitidin bekerja dengan cara menghambat sekresi asam lambung berlebih, sehingga rasa sakit dapat reda dan luka pada lambung perlahan-lahan akan sembuh.

Selain mengobati, ranitidin juga dapat digunakan untuk mencegah munculnya gejala-gejala gangguan pencernaan akibat mengonsumsi makanan tertentu. Ranitidin tidak akan menghambat sekresi enzim pepsin dan serum gastrin, sehingga tidak mengganggu pencernaan.

Merek dagang: Acran, Conranin, Fordin, Radin, Rancus, Ranivel, Rantin, Ratinal, Renatac, Tyran, Ulceranin, Wiacid, Zantac, Zantifar

Peringatan:

  • Bagi wanita hamil dan menyusui, sesuaikan dosis dengan anjuran dokter.
  • Konsultasikan dosis ranitidin untuk anak-anak dengan dokter.
  • Harap berhati-hati bagi penderita gangguan ginjal.
  • Harap waspada bagi yang memiliki riwayat perdarahan, sulit menelan, muntah, dan penurunan berat badan tanpa alasan jelas.
  • Penderita yang memiliki riwayat porfiria akut tidak boleh menggunakan ranitidin.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

Dosis Ranitidin parenteral (infus), khususnya untuk pencegahan sekresi asam lambung selama pembiusan umum adalah 50 mg yang diberikan 45-60 menit sebelum prosedur anestesi umum dilakukan.

Mengonsumsi Ranitidin dengan Benar

Ranitidin dapat dikonsumsi sebelum atau sesudah makan. Usahakan untuk mengonsumsinya pada jam yang sama tiap hari.

Selama menggunakan obat ini, hindarilah konsumsi makanan atau minuman yang dapat memperparah gejala Anda agar keefektifan obat menjadi maksimal. Makanan atau minuman yang harus dihindari tersebut di antaranya adalah makanan pedas, cokelat, tomat, minuman keras, atau minuman panas, khususnya kopi. Selain itu, Anda juga dianjurkan untuk berhenti merokok karena dapat memicu produksi asam lambung, serta dianjurkan untuk mengurangi berat badan yang berlebihan guna membantu mengurangi gejala.

Jika Anda lupa mengonsumsi ranitidin, disarankan untuk segera melakukannya jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya tidak terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.

Interaksi Obat

Berikut ini adalah interaksi ranitidin dengan obat-obatan lain:

  • Meningkatkan konsentrasi serum dan memperlambat absorpsi ranitidin oleh saluran pencernaan apabila digunakan bersama dengan propantheline bromide.
  • Ranitidin dapat menghambat metabolisme antikoagulan coumarin, teofilin, diazepam, dan propanolol di dalam organ hati.
  • Ranitidin dapat mengganggu absorpsi obat-obatan yang tingkat absorpsinya dipengaruhi oleh pH, seperti ketoconazol, midazolam, dan glipizida.
  • Bioavailabilitas ranitidin akan menurun jika digunakan bersama dengan antasida.

Kenali Efek Samping dan Bahaya Ranitidin

Beberapa efek samping yang mungkin saja dapat terjadi setelah menggunakan ranitidin adalah:

  • Diare.
  • Muntah-muntah.
  • Sakit kepala.
  • Insomnia.
  • Vertigo.
  • Ruam.
  • Konstipasi.
  • Sakit perut.
  • Sulit menelan.
  • Urine tampak keruh.
  • Bingung.
  • Berhalusinasi.

Informasi Obat



BACA JUGA



BERITA TERKAIT