Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Teknologi Kesehatan

Kamis, 03/08/2017

Mengapa Obat Pencegah HIV Sulit Didapat di Indonesia?

Mengapa Obat Pencegah HIV Sulit Didapat di Indonesia?

Rr. Anne Marie Heidija

Editor : Rr. Anne Marie Heidija


Dibaca 109 kali

Stanislaus Bondan Widjajanto yang merupakan dokter di bidang kesehatan reproduksi, HIV dan penyakit menular seksual dari Klinik Angsamerah di Jakarta Selatan mengungkapkan obat PrEP itu sebenarnya adalah obat antiretroviral (ARV).

ARV sebelumnya hanya digunakan pada pasien yang sudah positif terinfeksi virus HIV, untuk menekan perkembangan virus.

"Yang diberikan untuk PrEP itu adalah (ARV merk) Truvada. Kandungannya ada dua; tenofovir dan emtricitabine," kata dokter yang akrab disapa Bondan itu.

Bondan bercerita, ketika HIV masuk ke tubuh, virus tersebut "membutuhkan enzim". Tenofovir dan emtricitabine bekerja "menghambat produksi enzim itu sehingga virus tidak dapat menjalani proses pembelahan diri."

Meskipun begitu, metode ini hanya direkomendasikan bagi mereka yang berisiko tinggi terinfeksi HIV, misalnya pekerja seks komersial, pengguna jarum suntik, heteroseksual atau homoseksual yang bergonta-ganti pasangan, dan pasangan serodiscordant atau yang salah satunya positif HIV.

"Bagi pasangan serodiscordant, kalau yang HIV negatif itu si istri (suami HIV positif) dan mereka ingin punya anak, maka si istri bisa dikasih PrEP dulu, setelah itu mereka boleh berhubungan seks tanpa kontrasepsi," tutur Bondan.

Lebih jauh lagi, Bondan mengungkapkan PrEP bisa menjadi jawaban atas masih rendahnya kesadaran penggunaan kondom di Indonesia.

"Tidak semua orang bisa pakai kondom. Ada beberapa orang yang mengeluhkan, kalau pakai kondom, langsung disfungsi ereksi. Kan nggak mungkin memaksa mereka pakai kondom. Harus ada jalan keluar bagi mereka."

Sulit didapat di Indonesia

Dengan segala keefektivannya, obat PrEP ternyata sulit diakses di Indonesia. Ini karena PrEP belum masuk dalam program pencegahan HIV pemerintah.

"ARV hanya tersedia untuk mereka yang positif HIV. Artinya jika (yang negatif HIV) ingin beli PrEP di dalam negeri, prosesnya tidak mudah," tutur Setia.

Setia bercerita pernah mengunjungi beberapa klinik di Jakarta dan Bali yang menyediakan ARV untuk PrEP, "tetapi mereka kesulitan menjaga supply. Padahal obat PrEP harus diminum setiap hari supaya efektif."

Setelah melakukan riset, ia pun menemukan bahwa sejumlah klinik pemerintah dan swasta di Bangkok, Thailand, telah menyediakan obat PrEP. Obat yang dijual adalah versi generik dari Truvada, yaitu Teno-Em, yang juga mengandung tenofovir dan emtricitabine.

"Harganya (Teno-Em) cukup terjangkau, hanya sekitar Rp250.000, per botol untuk satu bulan. Dari studi, efektivitasnya ternyata sama dengan versi paten (Truvada)."

Alhasil, setiap tiga bulan sekali Setia harus terbang ke Bangkok untuk membeli obat PrEP, "karena maksimal saya bisa dapat untuk tiga bulan sekaligus."



BACA JUGA



BERITA TERKAIT